LOGIN"Pak Leo naik pesawat ini juga?" Velia sudah siap di bandara pagi itu karena ia sudah tahu jadwal keberangkatan Leo. Velia sendiri secara kebetulan mendapatkan undangan yang sama dengan Leo. Leo diundang oleh pemilik perusahaan untuk acara ulang tahun perusahaan, sedangkan Velia diundang oleh anaknya yang merupakan temannya. Velia awalnya tidak berniat datang, tapi setelah tahu Leo akan berangkat, Velia segera membeli tiket dengan jam yang sama. "Pak Leo sudah menunggu di lounge, Bu," sahut asisten Velia. "Bagus!" Saat akhirnya waktu penerbangan tiba, Leo pun segera naik dan duduk tenang di pesawat. Ia langsung menelepon istrinya untuk memberitahu kalau ia akan terbang. "Aku sudah duduk di pesawat, Sayang. Sebentar lagi aku akan mematikan ponselku." "Baiklah, sampai jumpa, hati-hati dan jangan lupa meneleponku begitu kau tiba di sana." "Baik, Sayang. Aku mencintaimu." "Aku juga, Leo!" Leo dan Elisa saling menutup teleponnya dan Leo pun kembali duduk dengan tenang. Sampai ti
Leo mengernyit menatap ponsel Elisa dan mencoba mengingat nomor tidak dikenal yang meneleponnya itu, tapi ia tidak ingat. "Aku tidak mengingat nomor siapa ini, jadi mungkin hanya nomor iseng." Elisa pun meraih ponselnya kembali dan ikut menatap nomor itu. "Aku juga tidak ingat nomor siapa ini, tapi mengapa rasanya aku ingin mengangkat teleponnya tadi, apa aku perlu meneleponnya kembali?" "Tidak perlu, Sayang." "Tapi bagaimana kalau penting, Leo?""Kalau penting, dia akan menelepon kembali atau mengirim pesan. Itu lebih masuk akal karena kita sudah biasa tidak mengangkat telepon yang tidak dikenal." "Itu benar, Bu Elisa!" Gary menimpali. "Tidak ada yang penting saat semua orang penting sudah ada di sini." Elisa menoleh menatap Alden yang masih bermain dengan gembira bersama para pelayan. Dan Gary benar, semua orang penting ada di sini bersamanya, jadi Elisa tidak perlu mencemaskan apa pun. Sementara itu, Susan masih terdiam begitu teleponnya dimatikan oleh Leo. Jantungnya memacu
Setelah Velia dipulangkan, suasana di Bali menjadi lebih lega untuk Elisa. Ia lebih tenang membiarkan suaminya bekerja dengan Liandro. Liandro sendiri adalah pria tua yang sangat sopan, bijak, dan ramah. Elisa menyukai pria itu, apalagi pria itu mengingatkan Elisa pada Darmawan, tentunya dalam versi yang lebih baik. "Anda mengingatkan aku pada Grandpa-ku, Pak. Anda pasti sudah mendengar tentangnya, dia bukan pengusaha yang baik, tapi dia pernah menjadi Grandpa yang baik untukku. Setidaknya ingatan masa kecilku banyak dipenuhi olehnya," ucap Elisa malam itu saat mereka lagi-lagi ada dalam makan malam bersama. Liandro yang mendengarnya langsung melirik Leo, ia sudah mendengar semua ceritanya dan ia masih takjub dengan bersatunya Leo dan Elisa. "Yang namanya keluarga tetap keluarga, walaupun pada akhirnya tercerai berai dengan alasan apa pun. Walaupun menjadi keluarga saja belum cukup untuk bertahan selamanya, tapi memori itu pasti tetap ada. Aku ikut berduka untuk kehilangan itu, Bu
Dua hari berlalu dan Velia akhirnya diijinkan keluar dari rumah sakit. Liandro memintanya pulang duluan karena sudah ada dirinya, tapi Velia menolak pulang. "Sudah ada Grandpa di sini dan kau sedang sakit, jadi pulang saja duluan untuk mengurus kantor." "Tidak, Grandpa, aku tidak bisa pulang duluan. Bagaimanapun ini proyekku, walau Grandpa masih tetap terlibat di dalamnya, aku tetap harus tahu semua detailnya." Liandro mengangguk. "Wah, wah, bagus, ini baru cucu Grandpa. Ternyata kau punya tanggung jawab lebih daripada yang Grandpa pikir." Liandro memujinya, tapi Velia sama sekali tidak tertarik dengan pujian itu. Karena tujuannya tetap tinggal bukan untuk mengamati proyek, melainkan untuk mencari kesempatan mendekati Leo lagi. Dengan kondisinya yang seperti ini, Velia yakin kesempatan itu akan tetap datang. Namun, kesempatan itu malah makin tertutup karena sejak Liandro muncul, Leo malah bersama Liandro terus. Tidak mungkin Velia menggoda Leo di dekat Liandro. "Mari bersulang
Saat Leo mengatakan untuk percaya, itu berarti percaya sepenuhnya. Kesungguhan Leo tidak hanya diucapkan, tapi dilakukan dengan sepenuh hati. Bahkan keesokan harinya, Leo langsung menelepon Liandro. Entah apa yang mereka bicarakan di telepon, tapi Liandro mendadak akan berangkat ke Bali hari itu juga. "Apa yang kau katakan pada Pak Liandro, Leo? Bagaimana Pak Liandro bisa berangkat ke Bali hari ini?" Elisa panik. "Memang kami berencana bertemu di sini untuk melihat jalannya pembangunan, Sayang. Untuk proyek sebesar ini, tidak mungkin Pak Liandro tidak turun tangan sendiri kan?" "Tapi kemarin aku tidak dengar dia akan datang." "Dia akan datang, Sayang. Hanya memang dia tidak memberitahukan pada siapa pun." "Benarkah itu, Leo? Bukan karena aku kan?" Leo tergelak. "Tidak, Sayang. Aku dan Pak Liandro sangat dekat dan kami sudah terbiasa bersama. Dan tentang Velia, dengan datangnya Pak Liandro, aku bisa lebih banyak berinteraksi dengan Pak Liandro dibanding Velia. Itu bagus untukku
"Jangan halu, Velia!" Velia sudah melepaskan topengnya dan mengatakan yang sejujurnya pada Elisa. Karena itu, Elisa juga tidak harus menjaga kesopanannya lagi. Sejak dulu, hubungannya dengan Velia tidak pernah bagus karena Velia selalu mengikuti Susan. Velia menyindirnya, itu sudah biasa, Velia ketus padanya juga sudah biasa. Justru Velia yang berpura-pura manis selalu terasa aneh bagi Elisa. Dan Velia yang sekarang baru terasa benar. "Yang bersama Leo itu aku, bukan keluargaku, jadi tidak perlu melihat keluargaku. Dan aku sudah bilang aku tidak peduli apa pun yang kau katakan kan? Yang tahu bagaimana rumah tanggaku dengan Leo adalah aku, jadi aku tidak akan mendengarkanmu sedikit pun. Kalau tidak ada hal lain, aku permisi!" Elisa baru saja akan berbalik, tapi suara Velia sudah terdengar lagi. "Kau mau kabur? Kau kabur karena takut mendengar ucapanku lagi? Atau karena kau mulai berpikir kalau ucapanku benar? Kau takut Leo tidak mencintaimu kan? Ini hanya tanggung jawab semata da
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr







