แชร์

Bab 5 Ceraikan Aku

ผู้เขียน: Fei Adhista
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-08-11 23:00:53

Barak komando Mandalajati berdiri tegap di tengah benteng batu yang dingin. Lampu minyak di dinding memantulkan cahaya kekuningan, menyoroti meja besar yang penuh peta perang dan gulungan perintah. Aroma logam pedang bercampur dengan harum kayu pinus yang terbakar di tungku.

Pintu kayu berat itu terbuka dengan hentakan.

Raras berdiri di ambang, gaunnya yang kusut berkibar pelan. Wajahnya memerah bukan karena malu, tapi karena amarah yang mendidih.

Rakai Indradipa berdiri di dekat meja. Tatapannya dingin seperti baja.

Tanpa kata, Raras menghampiri. Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri sang pangeran. Suaranya menggema di ruang besar, membuat dua prajurit di luar pintu menegakkan tubuh dan menahan napas.

Rakai tak bergerak. Ia hanya mengangkat kepala perlahan, menatap Raras dengan sorot menusuk, lalu menyentuh pipinya yang memerah. Senyum tipis, sinis, terlukis di bibirnya.

“Raras… kau berani menampar suamimu? Sopan santun macam apa yang kau pelajari di Wanasari?”

Raras mendengus, dagunya terangkat.

“Sopan santun? Seorang suami yang menikahkan istrinya dengan keris di pelaminan, lalu menghilang seminggu tanpa kabar… Dan saat mereka bertemu justru orang yang di sebut suami itu membuat malu istrinya di hadapan prajurit. pantaskah bicara sopan santun?”

Suara Raras meninggi, matanya berkilat.

“Bagi seorang perempuan, itu penghinaan! Aku bukan pusaka yang kau selipkan di pinggang lalu kau simpan di lemari!”

Rakai menahan napas, matanya semakin tajam, tapi Raras tak memberi celah.

“Kau pikir aku mau menikah? Tidak! Aku sudah menolak sejak awal. Tapi kerajaan memaksaku. Dan yang lebih membuatku muak, saat aku sudah berusaha menolak, aku justru diserahkan kepada lelaki yang bahkan tak hadir di pelaminan! Dan sekarang malah menipuku di sini."

Suaranya pecah di ujung kalimat, tapi air mata itu bukan tanda lemah, ia tetap tegak, penuh harga diri.

“Jika pernikahan ini sama-sama tak kita kehendaki…” Raras menarik napas panjang. “Ceraikan aku.”

Rakai menatapnya lama. Api di tungku berderak, seolah ikut menunggu jawabannya.

Pangeran itu melangkah mendekat. Suaranya rendah, berat, dan penuh tekanan.

“Kau pikir… aku akan melepaskanmu hanya karena kau meminta? Meskipun pernikahan ini tidak aku inginkan. Bagaimana pun juga kamu sudah jadi Istriku."

Raras membalas tatapan itu tanpa gentar.

“Aku pikir… kau cukup bijak untuk tak memenjarakan seseorang yang tak ingin tinggal.”

Untuk pertama kalinya, senyum sinis Rakai meredup. Tapi ia tak menjawab. Ia hanya berbalik, mengambil cangkir dari meja, lalu duduk tenang—seolah tamparan dan tuntutan cerai itu hanyalah percakapan biasa.

Namun di matanya… ada sesuatu yang berubah.

Raras menghela napas panjang, menahan diri agar tak kembali menampar lelaki itu. Ia berbalik menuju pintu barak.

“Di mana Alin? Dan dua pengawal yang mengantarku?” tanyanya ketus.

Rakai, masih di kursinya, meneguk minuman dari cangkir perunggu. Suaranya datar, tapi terasa seperti sindiran.

“Mereka sudah kembali ke Mandalajati sebelum matahari tenggelam. Tak ada gunanya menunggu.”

Raras berhenti di ambang pintu, menoleh tajam.

“Bagus sekali. Jadi kau sengaja membuatku terjebak di sini?”

Senyum tipis itu kembali.

“Kau bisa menyebutnya… pengamanan.”

“Pengurungan, maksudmu.”

“Terserah.”

Raras mendengus. “Kalau begitu aku akan pulang sendiri.”

Baru saja ia melangkah keluar, suara seorang pelayan pria terdengar.

“Gusti Pangeran… hidangan sudah siap.”

Beberapa pelayan masuk membawa baki besar: nasi panas mengepulkan uap, sup ayam bening beraroma daun jeruk, sate kambing berbalut bumbu kacang, dan semangkuk sambal mangga muda. Harum rempah memenuhi ruangan, menusuk hidung Raras yang sejak tadi belum makan.

Rakai berkata santai tanpa menoleh.

“Makan dulu… baru pulang.”

Raras memutar bola mata. “Aku tidak—” perutnya berbunyi pelan, memotong kalimatnya. Sial.

Senyum tipis Rakai semakin jelas. “Duduk.”

Dengan langkah berat, Raras berbalik, menarik kursi di sampingnya. Mereka makan dalam diam, namun bukan diam damai, melainkan senyap penuh tegangan.

“Lumayan juga…” kata Raras akhirnya sambil mengunyah.

Rakai menoleh sekilas. “Apa?”

“Makanannya. Kupikir kau hanya pandai memeram istri di istana, ternyata di sini kau bisa memeram kambing jadi sate juga.”

“Lebih baik memeram kambing,” balas Rakai tenang, “daripada memelihara istri yang hobinya melawan.”

Raras tersenyum tipis. “Kalau istrinya diperlakukan seperti pusaka museum, wajar kalau berdebu… dan melawan.”

Piring Raras tinggal setengah. Rakai berkata datar, “Hari sudah malam. Menginaplah di sini. Besok aku akan mengantarmu pulang.”

“Kenapa tidak sekarang?”

“Karena aku tak mau memungut istriku di jalan dalam keadaan beku seperti ikan asin.”

Sebelum Raras sempat membalas, pintu barak terbuka. Seorang pria bertubuh besar dengan perut bundar masuk—Komandan Jaladri Wangsana. Wajahnya bulat, pipinya kemerahan, napasnya sedikit memburu.

“Gusti Pangeran, maaf mengganggu… Ada laporan mendesak dari pos utara. Kita harus bergerak sekarang.”

“Siapkan kuda. Aku menyusul.”

Jaladri memberi hormat dan keluar cepat.

Rakai bangkit, mengenakan mantel tebalnya.

“Makanlah yang kenyang. Setelah itu tidur. Jangan keluyuran.”

Raras menyandarkan punggung ke kursi, menatapnya santai.

“Aku tidak berjanji.”

Rakai menatapnya sejenak, nyaris seperti ingin mengatakan sesuatu, lalu menghela napas, berbalik, dan meninggalkan ruangan.

Begitu pintu barak menutup, Raras hanya duduk diam menatap piringnya. Api di tungku bergemeretak pelan, melemparkan bayangan panjang ke dinding.

Sendoknya ia letakkan perlahan.

Hatinya mendidih lagi.

“Dasar lelaki sombong… seenaknya mengurung orang,” gumamnya sambil meneguk air hangat dari cangkir.

Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di dalam barak. Ruangan itu memang luas dan nyaman, tapi baginya terasa seperti sangkar emas. Mata Raras menelusuri setiap sudut rak senjata, peta perang, hingga meja penuh surat perintah yang tadi dikerjakan Rakai.

Tiba-tiba ia melirik ke pintu. Dua prajurit berjaga di luar. Tidak ada celah untuk keluar tanpa diketahui.

Raras menghela napas panjang, lalu menyeringai tipis.

Kalau tidak bisa keluar… dia bisa mencari tahu.

Ia menghampiri meja kerja Rakai, jarinya menyapu gulungan peta. Beberapa tertulis laporan patroli dan catatan logistik. Tapi yang menarik perhatiannya adalah sebuah surat terlipat rapi di atas tumpukan—disegel dengan lilin merah. Capnya bukan milik Mandalajati… melainkan lambang daerah pesisir selatan.

Raras memutar mata.

“Jadi ini yang dimaksud ‘urusan mendesak’? Atau… selir dari selatan yang katanya mau diambil?”

Senyumnya melebar nakal. Ia menaruh kembali surat itu tanpa membukanya, lalu duduk santai sambil menyangga dagu.

Dari luar terdengar samar-samar derap kuda menjauh. Rakai benar-benar sudah pergi.

Raras menggigit bibir, pikirannya berputar cepat.

Jika benar Rakai sedang sibuk di luar… ini waktu yang tepat untuk memulai “balas dendam” kecil.

Ia menatap pintu, lalu memanggil pelan, “Kakang prajurit… boleh minta sedikit madu untuk teh? Perutku belum kenyang…”

Dua prajurit di luar saling pandang, salah satu buru-buru masuk.

Raras tersenyum manis senyum yang biasanya menandakan seseorang akan kena jebakan halus darinya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 144

    Kereta kuda berhenti di halaman dalam Mandalajati saat senja hampir runtuh. Batu-batu pelataran memantulkan cahaya obor, membuat bayangan para pengawal memanjang seperti jeruji. Rakai turun lebih dulu, lalu membantu Raras turun dengan hati-hati. Tangannya tidak pernah lepas, seolah dunia bisa runtuh jika ia melepas satu detik saja.Pintu aula utama terbuka.Pangeran Haryo berdiri di sana, jubahnya rapi, mahkota tipis bertengger di kepalanya. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Mata itu menatap Rakai lama, lalu turun ke Raras, singgah sepersekian detik di perutnya yang disembunyikan kain longgar.“Adikku akhirnya pulang,” kata Haryo pelan.Kata itu jatuh seperti batu ke air diam.Raras menegang. Rakai tidak. Rahangnya mengeras, matanya menyala tertahan.“Jangan panggil aku begitu di depan orang-orangmu,” jawab Rakai datar.Haryo tersenyum kecil. “Darah tidak berubah hanya karena kau pergi. Kita saudara tiri. Putra ayah yang sama. Hanya ibu yang berbeda.”Pengawal di sekeliling mereka sali

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 143

    Kabut pagi masih menempel di dermaga Mandalajati. Rakai, Raras, Arya, dan Alin menapaki kayu yang basah, perasaan mereka tegang. Belum sempat menyesuaikan diri, beberapa pengawal berseragam Mandalajati muncul dari sisi gudang, pedang dan tombak terangkat.“Berhenti! Siapa kalian? Apa maksud kalian masuk ke Mandalajati?” teriak seorang pengawal bertubuh besar. Suaranya tegas, tidak memberi ruang untuk berdebat.Arya menatap Rakai. Ia ingin menjawab, tapi Rakai mengangkat tangan, menahannya. “Jangan bicara,” katanya singkat.Pengawal itu melangkah maju, lebih agresif. “Kalian harus ikut ke markas! Perintah Pangeran Haryo!”Alin hendak menanggapi, tapi Rakai menatapnya tajam. “Diam. Ikuti arahanku.”Raras, yang berjalan di samping Rakai, menunduk. Tubuhnya lemas, perutnya menonjol karena kehamilan, tapi matanya tetap waspada.Rakai menatap pengawal itu, suaranya tenang tapi tegas. “Kami pedagang lintas kerajaan yang sedang mengalami musibah. Kami diserang dalam perjalanan, dan satu orang

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 142

    Ruang bawah istana Majakirana tidak lembap.Ia terlalu bersih untuk disebut penjara.Obor-obor perunggu berjajar rapi, cahaya mereka memantul pada lantai batu hitam yang licin. Bau dupa tipis menggantikan bau darah, cara Majakirana menyembunyikan kekejamannya.Arum berlutut di tengah ruangan.Tangannya terikat ke belakang, namun punggungnya tetap tegak. Wajahnya lebam, bibirnya pecah, tapi matanya masih berani menatap lurus.Langkah sepatu bergema.Pangeran Haryo Wirabumi masuk tanpa pengawal.Jubahnya rapi, Wajahnya tampan, tenang terlalu tenang untuk seseorang yang memegang nyawa orang lain.“Arum,” katanya pelan.“Sebutkan namamu, dan katakan pada siapa kau bekerja.”Arum tersenyum tipis, darah mengering di sudut bibirnya.“Aku hanya pengelola penginapan,” jawabnya lirih. “Salahkah perempuan tua mencari makan?”Haryo berhenti tepat di hadapannya.Ia berjongkok, menyamakan tinggi mata mereka.“Kau terlalu cerdas untuk berbohong buruk seperti itu,” katanya lembut. “Dan terlalu berhar

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 141

    Langkah kaki tergesa terdengar di lorong penginapan.Rakai dan Raras serempak menoleh ketika Arya muncul di ambang pintu. Napasnya masih tersengal, wajahnya tegang, mata yang biasanya ringan kini dipenuhi bayang cemas.“Rakai,” katanya cepat. “Raras.”Raras langsung berdiri. “Alin mana?”“Aman,” potong Arya. “Alin bersama Reyas. Tapi… Arum.”Satu kata itu cukup membuat udara di ruangan berubah berat.“Apa yang terjadi?” tanya Rakai, nada suaranya rendah tapi tajam.Arya mengusap wajahnya sebentar, seolah menyusun ulang pikirannya. “Penginapan itu kosong. Terlalu kosong. Tidak ada tanda perkelahian besar, tapi jelas ditinggalkan terburu-buru. Barang-barang Arum masih ada pisau kecilnya, tas obat, tapi dia tidak ada.”Raras menutup mulutnya, jantungnya berdebar keras. “Mungkin dia pergi sendiri?”Arya menggeleng. “Tidak. Ada jejak. Seseorang menariknya. Dan penjaga sekitar penginapan… seolah tidak pernah mengenalnya. Mereka diam tak mau bersuara."Rakai berdiri. Gerakannya tenang, tapi

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 140

    Tabib itu menutup kelopak mata Reyas perlahan. Tangannya berhenti terlalu lama di dada pria itu, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan.“Racunnya sudah menjalar,” katanya akhirnya. Suaranya datar, terlalu tenang untuk kabar seburuk itu. “Bukan cepat. Tapi pasti.”Rakai menegang. “Berapa lama?”Tabib itu menghela napas. “Hari, mungkin minggu. Tergantung tubuhnya. Racun ini tidak membunuh dengan tergesa. Ia mematikan harapan pelan-pelan.”Raras yang berdiri di sisi ranjang Reyas membeku. Tangannya masih menggenggam kain basah di dahi sepupunya itu. Wajahnya yang sejak tadi pucat kini benar-benar kehilangan warna.“Tidak,” bisiknya. “Tidak mungkin…”Kepalanya berdenyut keras. Ruangan terasa berputar. Bau ramuan yang tadinya pahit kini menusuk. Raras terhuyung satu langkah.“Raras,” Rakai cepat menangkapnya.Namun lututnya sudah melemah. Pandangannya mengabur, suara Rakai terdengar jauh, seperti tenggelam di air. Dunia menghitam sesaat tidak sepenuhnya pingsan, tapi

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 139

    Kabut Pasren tidak seperti kabut perbatasan.Ia tipis, dingin, dan berbau logam serta rempah, belum lagi bau dagangan, bukan bau perang.Perahu mereka merapat pelan di dermaga kayu. Begitu kaki pertama menginjak tanah Pasren, sesuatu langsung berubah.Bukan suasana, melainkan tatapan.Para pedagang menghentikan timbangannya. Kuli angkut menahan karung di bahu. Penjaja kain menurunkan suara tawarnya.Semua mata tertuju pada satu hal, pria pingsan yang dipanggul di antara mereka.Reyas.Wajahnya pucat, napasnya dangkal, kain di dadanya basah oleh keringat dingin. Di Pasren, orang datang membawa emas, rempah, dan perjanjian, bukan tubuh hampir mati.Langkah mereka terhenti saat dua penjaga Pasren menghadang di gerbang kayu bercat hitam. Tidak berseragam kerajaan. Tidak pula membawa lambang. Hanya tombak pendek dan mata yang terlatih membaca kebohongan.“Berhenti,” ujar salah satu penjaga. Suaranya datar.“Pasren tidak menerima konflik.”Rakai melangkah setengah ke depan, tubuhnya otomati

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status