Início / Male Adult / Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau! / Bab 2: Pagi yang Menguji Kewarasan

Compartilhar

Bab 2: Pagi yang Menguji Kewarasan

last update Data de publicação: 2026-09-05 13:53:44

Namun, tepat sebelum bibir kami benar-benar bertaut untuk melewati batas terlarang, sebuah suara keras memecah keheningan ruang tengah itu.

Brak! 

Elena sepertinya sengaja menjatuhkan tas kecilnya ke lantai dari ambang pintu kamar tamu, membuat suara benturan yang cukup keras untuk mengejutkanku.

"Aduh, maaf. Tanganku licin banget gara-gara basah," ujarnya dengan nada datar yang terkesan disengaja sambil menatap kami berdua.

Suara itu seperti air hujan di luar yang diguyurkan langsung ke kepalaku, memaksaku bergerak mundur dan melepaskan dekapan pada tubuh Bianca dengan amat canggung.

Hmm…!

Aku berdehem kecil, mencoba mengatur napas yang memburu sambil memalingkan wajah dari tatapan tajam kedua wanita yang kini mengawasiku.

Dengan tangan gemetar, aku meraih kembali koper di lantai dan buru-buru melangkah pergi untuk menyembunyikan hasrat liar yang baru saja menguasai diriku.

Tenggorokanku terasa sangat kering, gara-gara keteganganku yang sudah di semakin di ujung.

Aku memutuskan berjalan ke arah pantry untuk mengambil segelas air dingin, berharap kesegaran air bisa menenangkan kepalaku.

Setelah meneguknya setengah, aku duduk sendirian di kursi meja makan, membuka ponsel foto Karina dengan lelaki yang aku duga selingkuhannya.

Kepalaku terasa mau pecah diombang-ambingkan antara foto itu dan tubuh Bianca yang baru saja menempel erat di dadaku.

"Haus banget ya, Mas? Bagi dong airnya," sebuah suara berbisik pelan, tepat di samping telingaku.

Aku tersentak saat mendapati Elena sudah berdiri sangat dekat, bahkan sebelum aku sempat menyadari langkah kakinya. Wanita muda itu bersandar pada tepian meja makan tepat di sebelahku, mengenakan pakaian tidur super minim yang sangat mengekspos lekuk tubuhnya.

Sebelum aku sempat menjawab, tangannya yang halus perlahan merebut gelas dari genggamanku, membuat kulit kami yang bersentuhan.

Elena meminum sisa airku tanpa melepas pandangannya dariku, lalu meletakkan kembali gelas itu dengan sengaja hingga beradu dengan kulit lenganku.

Gesekan kulit yang dalam keheningan pantry malam itu seketika meledakkan kembali berahiku yang sudah berada di ambang batas.

Detik berikutnya, Elena sengaja mencondongkan tubuhnya lebih maju, "Pernikahan yang gersang itu pasti menyiksa ya, Mas Julian?" bisiknya pelan, sementara ujung jarinya mulai berani meraba dada pakaian tidurku.

“Eh… Ah, Elena. E-enggak kok… Aku balik ke kamar dulu ya…”

Melihat aku panik, Elena justru hanya tertawa sambil meloloskan desahan dari mulutnya, menatapku dengan aneh.

Buru-buru aku mengambil langkah seribu, menjauh dari godaan mematikan yang bisa saja melahapku saat itu juga!

***

Kepalaku rasanya mau pecah gara-gara aku hampir terjaga sepanjang malam, akibat rentetan kejadian gila dari jam dua pagi.

Pikiranku terus berputar di antara foto buram istriku. Aku juga terus terbayang aroma parfum Bianca dan gesekan kulit Elena di pantry semalam.

Pagi ini, aku menoleh ke samping ranjang yang sudah kosong melongpong.

Kain seprai yang kusut berantakan menyisakan rasa dingin yang hampa.

Suara pancuran air dari kamar mandi menandakan Karina sudah bangun dan sedang bersiap.

Aku duduk di tepi kasur sambil memijat pelipis, mencoba mengumpulkan sisa kewarasan.

Begitu pintu kamar mandi terbuka, Karina keluar dengan pakaian rapi. Koper miliknya sudah siap di dekat pintu kamar utama.

Dadaku langsung bergemuruh hebat melihat wajah cantiknya yang tampak tanpa dosa itu.

Ada canggung yang luar biasa besar saat mata kami saling berbenturan. Rasanya ada kerikil menyumbat tenggorokanku. Aku kesulitan bahkan hanya untuk sekadar menyapa istriku sendiri.

"Jul, aku harus berangkat ke bandara sekarang," kata Karina, nadanya terdengar ketus.

Dia memakai jam tangannya dengan gerakan yang terburu-buru. Aku berdiri dari ranjang, mengambil dua langkah lebar untuk memangkas jarak.

"Berangkat? Bukannya jadwal dinas luar negerimu baru minggu depan, Rin?" tanyaku.

Aku berusaha menahan getaran di suaraku agar tidak terdengar emosional. Karina menghentikan aktivitasnya, lalu membalikkan badan dan menatapku dengan jengkel.

"Jadwalnya dimajukan mendadak oleh kantor pusat, Jul," jawabnya datar.

"Ada pertemuan darurat dengan investor VVIP di Singapura yang tidak bisa diwakilkan." Dia kembali merapikan blusnya di depan cermin tanpa menoleh lagi.

"Rin, apa tidak bisa ditunda beberapa jam saja?" bujukku serak.

"Ada hal sangat penting yang perlu kita bicarakan sekarang juga." Karina mendesah jengkel mendengar permintaanku.

"Julian, tolong jangan kekanak-kanakan sekarang," potong Karina tajam.

"Kamu tahu sendiri proyek Singapura ini taruhannya besar untuk karierku." Matanya menatapku dengan kilatan penuh tekanan.

"Karier atau ada alasan lain di luar sana, Rin?"

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 10: Perjalanan Mencekam

    Semalaman aku tidak bisa memejamkan mata sedikit pun setelah rentetan teror video Karina itu. Bayangan punggung istriku dengan tanda lahir lingkaran kecil di kamar hotel mewah terus berputar di otakku. Pukul dua siang, sebuah pesan singkat masuk dari Nyonya Raline yang memintaku segera turun ke lobi.Sebuah limosin hitam panjang yang sangat mewah sudah terparkir megah di depan pintu lobi apartemen. Pintunya terbuka otomatis begitu langkah kakiku yang lemas dan berantakan mendekat ke arah mobil tersebut. Nyonya Raline sudah duduk manis di dalam dengan setelan blazer formal sewarna marun yang sangat elegan. Senyuman tipis terpancar dari bibirnya yang merah menyala, seolah dia tahu persis kondisi mentalku yang hancur."Mas…,, masuklah. Kita harus segera berangkat sekarang juga," ujar Nyonya Raline dengan nada suara yang penuh wibawa."Baik, Nyonya. Ke mana tujuan kita siang ini?" tanyaku sambil mendudukkan diri di kursi kulit yang empuk."Kita akan meninjau lokasi proyek resor baru kit

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 9: Hati yang Terasa Mulai Mati

    "Kau mau menghiburku, Bianca? Benar-benar mau melayaniku?" tanyaku sambil mencengkeram kedua bahunya dengan kasar."Iya, Mas... lakukan apa saja yang Mas mau padaku malam ini," desah Bianca sambil memejamkan matanya pasrah.Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung menyambar permukaan bibirnya dengan ciuman yang sangat kasar. Rasa sakit hati yang diberikan Karina kini kuubah menjadi gairah liar yang menuntut pelampiasan seketika. Aku mendorong tubuh Bianca hingga kami berdua ambruk bersamaan di atas kasur yang empuk. Tanganku bergerak agresif, melucuti sisa pakaian yang menghalangi kulit kami hingga tubuh mulusnya terekspos sempurna.Milikku yang sejak sore di dapur dan di atas matras yoga Elena sudah menegang, kini semakin berdenyut hebat. Bianca merespons dengan sangat liar, melilitkan kedua kaki jenjangnya ke pinggangku untuk mengunci pergerakan kami. Dia menuntun milikku yang mengeras kokoh untuk bersiap melakukan eksekusi akhir di atas ranjang pernikahanku dengan Karina. Jarak d

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 8: Bukti Video di Kamar Hotel

    Malam kian larut, namun gemuruh di dalam dadaku tidak kunjung reda. Hawa dingin dari pendingin ruangan sama sekali tidak mampu mendinginkan otakku yang rasanya mau meledak. Aku duduk di tepi ranjang dengan napas yang masih berat. Pandanganku menatap nanar ke arah pintu kamar yang sudah kukunci sejak sore tadi.Bayangan kode genit dari Bianca di dapur dan desahan sensual Elena di pantry masih terus berputar-putar. Semuanya merusak sisa kesadaran yang kupertahankan mati-matian seharian ini. Mengapa rumah tanggaku yang semula tenang kini berubah menjadi penuh jebakan hasrat? Aku memijat pelipis yang berdenyut kencang, mencoba mengusir bayangan sensual yang terus menggerogoti pikiranku.Drrrt… Drrrt…! Ponselku di atas meja mendadak bergetar keras, memutus keheningan. Jantungku seketika tersentak, mengira itu adalah pesan atau kabar penting dari Karina. Dengan tangan yang agak gemetar, aku meraih ponsel itu. Namun, bukan nama Karina yang muncul di layar, melainkan sebuah nomor asing.No

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 7: Terus Digoda, HasratKu Kian Menggila

    Posisi kami sudah sangat intim dan mengunci satu sama lain, siap untuk melakukan eksekusi gairah yang brutal di atas lantai ruang tengah apartemenku sendiri.Aku membuka kancing kemejaku sendiri hingga terlepas semua, lalu tanganku bergerak agresif menyingkirkan pembatas pakaian terakhir yang menutupi tubuh Elena sore hingga miliknya yang terbuka terlihat basah dan menuntut untuk dijelajahi. Kutanggalkan celana secepat kilat, milikku yang sudah menegang sempurna kini menjuntai panjang, lalu kuarahkan dengan tidak sabar ke arah milik Elena dan bergesekan langsung dengan titik paling sensitifnya itu.Aku memejamkan mata, memajukan pinggulku untuk melakukan satu dorongan bertenaga yang akan menghancurkan kesetiaanku pada Karina untuk selama-lamanya.Kehancuran rumah tanggaku rasanya sudah berada di ujung tanduk dan tinggal hitungan milidetik saja sebelum segalanya menjadi sah di atas matras ini."AAARRGGHH…. TOLOOONG….!!!" sebuah jeritan histeris yang sangat melengking mendadak meleda

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 6: Kelas Privat Elena

    Sentuhan itu seketika memicu reaksi instan tubuhku. Milikku yang sudah gersang berbulan-bulan perlahan menegang, mengeras hingga menekan ketat kain celana dalam yang kukenakan.Aku terpaksa memejamkan mata. Sensasi panas yang menjalar dari sentuhannya membuat kebekuan dan beban berat di kepalaku perlahan mulai mencair. Rasa frustrasi karena foto Karina mendadak luruh, berganti menjadi sensasi tenang dan relaks yang memabukkan.“Ahhh…!” Sebuah desahan kecil tanpa sadar lolos dari bibirku."Enak kan, Julian...?" bisik Raline, suaranya terdengar sangat dekat saat mendengar desahanku.Aku tidak mampu lagi berkata-kata. Dalam kepungan gairah yang pekat itu, aku hanya bisa mengangguk pasrah, mengiyakan permintaannya."Sialan... Karin saja bisa selingkuh, kenapa aku tidak?!" umpatku lagi dalam hati, sepenuhnya menyerah pada takdir yang menjebakku.Harga diriku yang sempat hancur lebur karena dikhianati Karin, mendadak melambung tinggi dalam sekejap. Ego kelelakianku terpenuhi.Milikku yang

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 5: Godaan Sang Investor

    Aroma wangi tubuh Bianca yang habis mandi langsung memenuhi seluruh indra penciumanku, menghancurkan akal sehatku tanpa sisa.Aku menindih tubuhnya, menatap wajahnya yang sudah pasrah menunggu sentuhan kasarku yang penuh dengan dendam pada Karina.Tanganku bergerak perlahan di atas kulit pahanya yang halus, naik menuju ke titik paling sensitif miliknya yang bisa kurasakan tidak mengenakan celana dalam.Jantungku berdegup hebat, siap meneteskan noda di dalam lembaran putih rumah tanggaku sendiri.Hubungan terlarang ini rasanya tinggal berjarak beberapa sentimeter saja sebelum segalanya benar-benar terhenti seketika….Drrrt… Drrrt…! Ponselku yang tergeletak di atas nakas mendadak berdering dengan sangat nyaring, memecah keheningan kamar yang pekat oleh gairah.Layar ponsel yang menyala terang itu menampilkan sebuah nama yang membuat dahiku mengernyit seketika: Nyonya Raline."Sialan!" kutukku dalam hati dengan amarah yang mendadak meluap karena interupsi jahanam di detik-detik kritis in

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status