LOGINAku sengaja menggantung kalimat itu untuk melihat reaksinya. Karina langsung mendongak, wajahnya mengeras seketika.
"Maksud kamu apa? Aku pergi untuk bekerja demi masa depan kita!" sahutnya tinggi.
Aku menatap mata istriku dalam-dalam, mencari celah kebohongan di sana. Bayangan foto wanita bergaun merah marun itu kembali berputar di kepalaku.
Lelaki berperut buncit yang merangkulnya semalam membuat dadaku terasa terbakar.
Aku ingin sekali merampas ponsel, lalu menunjukkan bukti jahanam itu. Namun, melihat sikapnya yang begitu dingin, lidahku mendadak kelu. Aku benar-benar kehabisan kata-kata untuk mendebatnya lagi.
"Oh ya, aku hampir lupa," kata Karina memecah keheningan.
Dia menyampirkan tas branding mahal miliknya di bahu kanan. "Tolong jaga Bianca dan Elena baik-baik selama aku tidak di rumah."
"Kenapa mereka harus menginap di sini saat kamu pergi, Rin?" protesku.
"Aku merasa tidak nyaman jika harus tinggal bersama mereka."
Karina langsung menggelengkan kepala mendengar penolakanku.
"Kamu dengar sendiri kan semalam, rumah mereka sedang renovasi, Jul. Kasihan kalau mereka harus cari hotel dalam kondisi darurat begini,” kilahnya.
Aku langsung memberikan alasan logis lain yang lebih masuk akal.
"Tapi aku ini laki-laki sendirian di rumah, Rin. Rasanya tidak pantas."
"Mereka itu keluargaku, Jul, jadi otomatis mereka keluargamu juga," potong Karina cepat. "Sudahlah, aku sudah telat, sopir kantor sudah menunggu di bawah."
Dia melangkah mendekat, lalu mengecup pipiku sekilas tanpa kehangatan. Karina berjalan terburu-buru menarik kopernya keluar dari kamar tidur utama kami.
Pintu apartemen tertutup dengan dentuman keras yang menggema di ruangan. Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti seluruh sudut apartemen pagi ini. Pamitnya yang mendadak ini terasa sangat mencurigakan dan juga janggal.
Aku hanya diam melongo seperti orang linglung di dalam kamar. “Sialan… aku benar-benar ditinggal sendiri dengan sejuta pertanyaan di kepala!” umpatku dalam hati.
Aku ingin menyeduh kopi hitam pekat untuk menenangkan pikiran jenuhku.
Namun, begitu melewati ruang tengah, langkah kaki aku langsung tertahan mendadak. Pemandangan di atas sofa ruang tamu sukses mengunci pandangan mataku.
Bianca sedang duduk santai di sana sambil meluruskan kedua kakinya. Kaki jenjangnya yang polos diletakkan begitu saja di atas meja kaca.
"Pagi, Mas Julian. Karina sudah jalan ya?" sapa Bianca manja.
Suaranya terdengar serak, khas orang yang baru saja terbangun dari tidur. "Iya, baru saja," jawabku pendek tanpa menghentikan langkah kaki.
Aku terus berjalan lurus menuju area pantry di sudut ruangan.
Pagi ini sepupu tiri istriku itu sengaja mengenakan pakaian minim. Celana pendek yang dipakainya luar biasa ketat mencetak bentuk tubuhnya.
Kaus oblong tipis miliknya bahkan tidak mampu menyembunyikan lekuk sensualnya. Penampilan seronoknya di pagi buta seperti ini terus-menerus menyiksa akal sehatku. Hal itu seketika memancing kembali ingatan panas kejadian ruang tamu semalam.
Aku buru-buru menyalakan mesin kopi dengan tangan yang sedikit gemetar. Aku mencoba mengalihkan seluruh konsentrasi pada aroma bubuk kopi hitam.
Namun, usaha menjauh itu gagal saat mendengar langkah kaki halus mendekat.
"Mas Julian lagi bikin kopi ya? Wangi banget sih," suara Elena tiba-tiba terdengar.
Aku refleks berbalik dan mendapati Elena sudah berdiri sangat dekat denganku.
Wanita muda itu mengenakan pakaian olahraga super minim yang melekat ketat. Kulit eksotisnya terlihat jelas di bawah sorotan lampu neon dapur.
Kali ini dia tidak langsung menyerang seperti semalam. Dia cuma berdiri sambil memegangi paha kanannya yang mulus.
Wajahnya tampak sedikit meringis kesakitan dengan ekspresi yang sangat memelas.
"Kamu kenapa, El?" tanyaku datar.
Aku tetap menjaga jarak aman di balik meja bar dapur ini. Elena menatapku sayu, lalu menggeser posisinya menjadi lebih dekat lagi.
"Paha bagian dalamku mendadak kram banget setelah peregangan yoga barusan, Mas," ujarnya.
"Rasanya sakit sekali kalau dipakai jalan dari kamar tamu ke sini. Boleh tolong bantu pijat sebentar tidak, Mas Julian?" tanyanya tanpa ragu, menatapku dengan pipi merona.
Aku menelan ludah dengan susah payah melihat posisi jari tangannya. Area paha atas yang dia tunjuk membuat perasaan aku tidak karuan.
"Kamu bisa minta tolong Bianca saja di depan, El," jawabku menolak. "Aku sedang tanggung membuat kopi hitam untuk sarapan pagi ini."
"Bianca sedang asyik teleponan dengan pacarnya di sofa depan, Mas," sahutnya cepat.
"Dia dari tadi sama sekali tidak mau diganggu oleh siapa pun. Tolonglah Mas Julian, sebentar saja, cuma perlu ditekan sedikit ototnya."
Elena melangkah satu tapak lagi hingga jarak kami benar-benar mengikis habis. Aroma tubuhnya yang segar setelah mandi langsung mengunci penciumanku.
Tatapannya yang sayu membuat pertahananku yang rapuh mulai runtuh total.
Harga diriku yang diinjak-injak oleh Karina mendadak bikin aku gelap mata. Aku cuma butuh pelampiasan sekarang juga.
Dengan tangan gemetar, aku melangkah mendekat lalu berlutut di hadapannya.
"Di bagian sebelah sini, Mas... agak naik sedikit lagi," bisik Elena.
Suaranya mendadak berubah menjadi lebih rendah dan sarat akan godaan. Begitu telapak tanganku menyentuh kulit mulus pahanya, sebuah sensasi hangat menyengat.
Saraf tubuhku langsung menegang sempurna merasakan kelembutan kulit wanita muda itu.
Elena merespons sentuhanku dengan melebarkan kedua kakinya secara perlahan dan sengaja. Dia membiarkan jari-jariku bergerak naik mendekati area yang jauh lebih sensitif.
Darahku mendidih seketika oleh kombinasi gairah liar yang memuncak tinggi. Pikiranku benar-benar gelap tanpa menyisakan pikiran waras sebagai seorang suami.
Aku berdiri dengan gerakan cepat, mencengkeram pinggang Elena dengan sangat kuat. Aku mendorong tubuhnya hingga bersandar penuh ke tepi meja dapur.
“Aw, pelan-pelan… Kalau Bianca dengar, gimana?” ucapnya lembut seraya menggigit bibir bawahnya.
Elena tidak menolak sama sekali tindakan kasarku yang penuh dengan hasrat. Dia justru langsung mengalungkan kedua lengannya yang hangat ke leherku dengan erat.
Dia menarikku masuk ke dalam dekapannya yang terasa sangat membakar dada.
Napasku memburu hebat di ceruk lehernya yang wangi parfum bunga segar. Aku sudah siap menuntaskan seluruh haskat jahanam yang tertahan berbulan-bulan ini.
Semalaman aku tidak bisa memejamkan mata sedikit pun setelah rentetan teror video Karina itu. Bayangan punggung istriku dengan tanda lahir lingkaran kecil di kamar hotel mewah terus berputar di otakku. Pukul dua siang, sebuah pesan singkat masuk dari Nyonya Raline yang memintaku segera turun ke lobi.Sebuah limosin hitam panjang yang sangat mewah sudah terparkir megah di depan pintu lobi apartemen. Pintunya terbuka otomatis begitu langkah kakiku yang lemas dan berantakan mendekat ke arah mobil tersebut. Nyonya Raline sudah duduk manis di dalam dengan setelan blazer formal sewarna marun yang sangat elegan. Senyuman tipis terpancar dari bibirnya yang merah menyala, seolah dia tahu persis kondisi mentalku yang hancur."Mas…,, masuklah. Kita harus segera berangkat sekarang juga," ujar Nyonya Raline dengan nada suara yang penuh wibawa."Baik, Nyonya. Ke mana tujuan kita siang ini?" tanyaku sambil mendudukkan diri di kursi kulit yang empuk."Kita akan meninjau lokasi proyek resor baru kit
"Kau mau menghiburku, Bianca? Benar-benar mau melayaniku?" tanyaku sambil mencengkeram kedua bahunya dengan kasar."Iya, Mas... lakukan apa saja yang Mas mau padaku malam ini," desah Bianca sambil memejamkan matanya pasrah.Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung menyambar permukaan bibirnya dengan ciuman yang sangat kasar. Rasa sakit hati yang diberikan Karina kini kuubah menjadi gairah liar yang menuntut pelampiasan seketika. Aku mendorong tubuh Bianca hingga kami berdua ambruk bersamaan di atas kasur yang empuk. Tanganku bergerak agresif, melucuti sisa pakaian yang menghalangi kulit kami hingga tubuh mulusnya terekspos sempurna.Milikku yang sejak sore di dapur dan di atas matras yoga Elena sudah menegang, kini semakin berdenyut hebat. Bianca merespons dengan sangat liar, melilitkan kedua kaki jenjangnya ke pinggangku untuk mengunci pergerakan kami. Dia menuntun milikku yang mengeras kokoh untuk bersiap melakukan eksekusi akhir di atas ranjang pernikahanku dengan Karina. Jarak d
Malam kian larut, namun gemuruh di dalam dadaku tidak kunjung reda. Hawa dingin dari pendingin ruangan sama sekali tidak mampu mendinginkan otakku yang rasanya mau meledak. Aku duduk di tepi ranjang dengan napas yang masih berat. Pandanganku menatap nanar ke arah pintu kamar yang sudah kukunci sejak sore tadi.Bayangan kode genit dari Bianca di dapur dan desahan sensual Elena di pantry masih terus berputar-putar. Semuanya merusak sisa kesadaran yang kupertahankan mati-matian seharian ini. Mengapa rumah tanggaku yang semula tenang kini berubah menjadi penuh jebakan hasrat? Aku memijat pelipis yang berdenyut kencang, mencoba mengusir bayangan sensual yang terus menggerogoti pikiranku.Drrrt… Drrrt…! Ponselku di atas meja mendadak bergetar keras, memutus keheningan. Jantungku seketika tersentak, mengira itu adalah pesan atau kabar penting dari Karina. Dengan tangan yang agak gemetar, aku meraih ponsel itu. Namun, bukan nama Karina yang muncul di layar, melainkan sebuah nomor asing.No
Posisi kami sudah sangat intim dan mengunci satu sama lain, siap untuk melakukan eksekusi gairah yang brutal di atas lantai ruang tengah apartemenku sendiri.Aku membuka kancing kemejaku sendiri hingga terlepas semua, lalu tanganku bergerak agresif menyingkirkan pembatas pakaian terakhir yang menutupi tubuh Elena sore hingga miliknya yang terbuka terlihat basah dan menuntut untuk dijelajahi. Kutanggalkan celana secepat kilat, milikku yang sudah menegang sempurna kini menjuntai panjang, lalu kuarahkan dengan tidak sabar ke arah milik Elena dan bergesekan langsung dengan titik paling sensitifnya itu.Aku memejamkan mata, memajukan pinggulku untuk melakukan satu dorongan bertenaga yang akan menghancurkan kesetiaanku pada Karina untuk selama-lamanya.Kehancuran rumah tanggaku rasanya sudah berada di ujung tanduk dan tinggal hitungan milidetik saja sebelum segalanya menjadi sah di atas matras ini."AAARRGGHH…. TOLOOONG….!!!" sebuah jeritan histeris yang sangat melengking mendadak meleda
Sentuhan itu seketika memicu reaksi instan tubuhku. Milikku yang sudah gersang berbulan-bulan perlahan menegang, mengeras hingga menekan ketat kain celana dalam yang kukenakan.Aku terpaksa memejamkan mata. Sensasi panas yang menjalar dari sentuhannya membuat kebekuan dan beban berat di kepalaku perlahan mulai mencair. Rasa frustrasi karena foto Karina mendadak luruh, berganti menjadi sensasi tenang dan relaks yang memabukkan.“Ahhh…!” Sebuah desahan kecil tanpa sadar lolos dari bibirku."Enak kan, Julian...?" bisik Raline, suaranya terdengar sangat dekat saat mendengar desahanku.Aku tidak mampu lagi berkata-kata. Dalam kepungan gairah yang pekat itu, aku hanya bisa mengangguk pasrah, mengiyakan permintaannya."Sialan... Karin saja bisa selingkuh, kenapa aku tidak?!" umpatku lagi dalam hati, sepenuhnya menyerah pada takdir yang menjebakku.Harga diriku yang sempat hancur lebur karena dikhianati Karin, mendadak melambung tinggi dalam sekejap. Ego kelelakianku terpenuhi.Milikku yang
Aroma wangi tubuh Bianca yang habis mandi langsung memenuhi seluruh indra penciumanku, menghancurkan akal sehatku tanpa sisa.Aku menindih tubuhnya, menatap wajahnya yang sudah pasrah menunggu sentuhan kasarku yang penuh dengan dendam pada Karina.Tanganku bergerak perlahan di atas kulit pahanya yang halus, naik menuju ke titik paling sensitif miliknya yang bisa kurasakan tidak mengenakan celana dalam.Jantungku berdegup hebat, siap meneteskan noda di dalam lembaran putih rumah tanggaku sendiri.Hubungan terlarang ini rasanya tinggal berjarak beberapa sentimeter saja sebelum segalanya benar-benar terhenti seketika….Drrrt… Drrrt…! Ponselku yang tergeletak di atas nakas mendadak berdering dengan sangat nyaring, memecah keheningan kamar yang pekat oleh gairah.Layar ponsel yang menyala terang itu menampilkan sebuah nama yang membuat dahiku mengernyit seketika: Nyonya Raline."Sialan!" kutukku dalam hati dengan amarah yang mendadak meluap karena interupsi jahanam di detik-detik kritis in







