ホーム / Fantasi / Ayah, Jangan Bunuh Aku! / Chapter 15 - Panggilan

共有

Chapter 15 - Panggilan

作者: Nyx
last update 公開日: 2026-04-06 23:49:22

Ketika mendengar nama ini, Ning Xueqin sama sekali tidak bereaksi terhadap nama nama yang disebutkan oleh Mei Qian.

“Apa itu Jenderal Qilin? “ Tanya Ning Xueqin dengan bingung.

“Di Kekaisaran Ning ini ada dua orang Jenderal penjaga yang memiliki berbagai macam prestasi yang tak terhingga jumlahnya sehingga diangkat menjadi pilar negara. “ Jawab Mei Qian.

“Sebagai pilar negara, Kaisar memberikan mereka julukan hewan keberuntungan dalam legenda seperti Qilin dengan Naga. “lanjut Mei Qian menjel
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 157 - Gertakan

    Nyonya Jing menatap Ning Xueqin dari atas sampai bawah dengan wajah yang memucat sementara Ning Xueqin melepaskan pegangannya pada Yue Long. Lalu maju ke depan dan merapihkan gaunnya dan mengangkat kepalanya dengan sombong. “Sekarang, apakah kamu sudah tahu bahwa aku bukanlah seseorang yang bisa kamu singgung ? “ Tanya Ning Xueqin dengan acuh tak acuh. Nyonya Jing berlutut pada Ning Xueqin dan mencengkram kakinya namun Ning Xueqin menendangnya dengan ringan. Tidak kuat… hanya sampai dilepaskan oleh Nyonya Jing saja. Murni karena dia merasa jijik dengan setiap anggota Keluarga Jing ini. Melihat ketidak adilan namun tidak membela, Ning Xueqin bisa paham bahwa dirinya merasa takut untuk melawan suaminya. Namun Nyonya Jing ini sudah tahu bahwa suaminya melakukan kesalahan yang tak termaafkan pun masih memohon atas nama suaminya. Belum lagi sikap Nyonya Jing sebelumnya membuatnya muak. Seandainya yang ada di sini adalah Chenyun dan bukan dirinya maka takutnya Chenyun bahkan akan men

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 156 - Akting

    “Wah, mereka sangat cantik! Kali ini Nyonya benar benar tidak mengecewakan harapan ku. “ Gumam Jing Yuan dengan antusias melihat Ning Xueqin dan Zilan. Keduanya digendong oleh pelayan dan segera dibawa ke kamar Jing Yuan yang sudah didekorasi dengan hiasan pengantin. Seolah olah Jing Yuan baru saja menikah lagi. Membayangkannya saja sudah bisa dibayangkan se menjijikkan apa karakter dari Jing Yuan ini. Ketika Ning Xueqin dan Zilan sudah diantar ke dalam kamar Jing Yuan, Jing Yuan dengan tidak sabar masuk ke dalam kamar. Baru saja ingin menyentuh Ning Xueqin, tiba tiba Ning Xueqin bangkit berdiri dengan mata yang terbuka lebar. Sebuah belati muncul di tangannya dan dia menyerang Jing Yuan, Jing Yuan ini ternyata cukup tangguh. “Ternyata kamu, gadis kecil memiliki sedikit kemampuan. Tapi tidak apa apa, aku semakin menyukaimu. “Ucap Jing Yuan dengan cabul. Ning Xueqin bukannya marah justru terkekeh. Dia mengayunkan kakinya dan menendang Jing Yuan, sesuai dengan dugaannya, Jing Yua

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 155 - Jing Yuan

    “Tenanglah, aku tahu dengan apa yang aku lakukan. Kamu cukup lakukan seperti yang aku katakan namun dengan dua syarat, apakah kamu bisa memenuhinya? “Tanya Ning Xueqin. Dia tidak akan membantu seseorang secara sia sia, dia akan membuat kesepakatan terlebih dahulu. Dengan begitu maka usaha kerasnya tidak akan berakhir sia sia, apalagi sampai menyerang kembali kepada dirinya. Hal itu tidak akan menguntungkannya jika benar benar terjadi dan Ning Xueqin tidak ingin mengalaminya. “ Silakan Nona katakan, jika bisa maka Chenyun pasti akan berusaha keras untuk memenuhinya. “Ucap Chenyun dengan patuh. “Pertama, kamu harus bekerja sama sepenuhnya. Tidak boleh membocorkan masalah ini kepada orang lain dan aku akan membantumu lolos dari Rumah bordil ini. “ Ucap Ning Xueqin. Chenyun menganggukkan kepalanya dengan keras dan memegang tangan Ning Xueqin dengan penuh harap. “Aku pasti akan melakukannya, aku lebih baik mati dibandingkan mengatakan sesuatu tentang Nona. “ Janji Chenyun dengan teg

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 154 - Penyamaran

    Zilan menganggukkan kepalanya dan mengerti dengan pengajaran dan niat baik dari Ning Xueqin. Ning Xueqin bisa saja langsung mengakhiri hidup pria itu dalam sekali tusukan, sama seperti nasib pria yang pertama kali mati. Namun, Ning Xueqin ingin mengajari Zilan bahwa di dalam kondisi hidup dan mati, tidak boleh ada keraguan. Pengajaran ini tidak bisa diajarkan hanya melalui lisan melainkan harus dengan tindak langsung. Dengan begitu Zilan baru mengerti dengan arti sesungguhnya melindungi diri sendiri dan orang lain. Kadang kadang beberapa hal terutama hal semacam ini mudah untuk dikatakan namun sulit untuk dipraktekkan. Jika ingin cepat belajar hanya dengan pengalaman baru bisa menjadi ahli. Ning Xueqin awalnya bahkan tidak berani melihat banyak darah. Dia bukanlah pembunuh, apalagi terlahir sebagai seorang pembunuh. Hatinya merasa takut saat pertama kali melakukan pembunuhan. Namun dia masih ingat dengan kondisi mencekam malam itu, jika dia tidak membunuh dan melawan maka buk

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 153 - Kakak Adik

    Bagi orang biasa, hal ini bukan hal yang aneh apalagi harus menjadi cita cita seseorang. Orang orang pasti akan menganggapnya sebagai orang yang aneh. Namun bagi orang orang yang terbiasa hidup di dalam penderitaan dan intrik Istana, kehidupan semacam itu benar benar cita citanya. “Zilan, nanti kamu jangan panggil aku Tuan Putri. Panggil aku adik dan aku akan memanggilmu kakak, kemudian sisanya ikuti kata kataku saja. “ Ucap Ning Xueqin. “Baik, Tuan- eh, adik. “ Balas Zilan dengan canggung. Ning Xueqin merasa bahwa Zilan ini agak menggemaskan, namun kemudian kembali fokus dengan tujuan utama mereka. Ning Xueqin meraba sesuatu dari saku pakaiannya lalu mengeluarkannya dan memberikannya kepada Zilan. “Zilan ini untukmu. Gunakan ini untuk melindungi diri dan melindungi orang lain, jangan takut. “ Ucap Ning Xueqin. Zilan menerima benda yang diberikan oleh Ning Xueqin dan menyimpannya dengan hati hati. Benda yang diberikan oleh Ning Xueqin adalah belati. Sebuah belati pasangan, sa

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 152 - Pasangan?

    “Mei Qian yakin Zilan bisa, Zilan sangat gigih setiap harinya dan bertekad bisa melindungi Tuan Putri. Dia pasti bisa dan mewakili Mei Qian untuk melindungi Tuan Putri. “Hibur Mei Qian. “Sejak kapan ucapanmu menjadi begitu manis? Kenapa aku, Tuanmu, ini baru mengetahuinya sekarang ? “ Tanya Ning Xueqin bercanda. Mei Qian terkekeh dan memegang tangannya dengan erat, Ning Xueqin menghela napas dengan lega untuk sesaat. Bersama dengan Mei Qian sangat menenangkan dirinya. Mei Qian sudah seperti kakaknya. Begitu hangat dan perhatian padanya, tidak takut menghadapi bahaya meski tahu bahwa melayani dirinya, itu berarti menentang banyak orang. Ning Xueqin juga tidak akan melupakan jasa Mei Qian yang sudah beberapa kali menyelamatkan nyawanya. Ini adalah budi besar yang harus dibalas dengan nyawa. Pemikiran Ning Xueqin buyar setelah sebuah anak panah dilepaskan oleh Zilan dan menembus kerimbunan pohon apel di seberang. “Cheng Xu, kamu pergilah dan periksa. Apakah menusuk apel atau tida

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 7 - Papan Target

    Ning Xueqin pun memanggil Meiqian untuk membawakannya kertas dan alat tulis lalu menatap barang barang itu dengan agak terperangah. Ning Xueqin bahkan agak merasa terpukul ketika melihat barang barang ini, sebenarnya dia sudah menyiapkan dirinya sendiri bahwa benda benda aneh ini memang akan menem

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 19 - Setitik Kelembutan

    Ning Xueqin agak tertegun ketika mendengarkan keputusan besar ini karena Ning Xueqin sedikit tahu tentang posisi pangkat Selir. Dari budak penghangat ranjang, menjadi Selir lalu menjadi Selir Mulia dan terakhir adalah Selir Agung. Selir Su sendiri adalah pemimpin para Selir lain karena tidak memi

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 6 - Pelayan

    “Apakah kamu ingin pergi sendiri atau ingin aku menambah waktu kurungannya? “Tanya Kaisar Ning. Ning Xueqin berpikir sejenak dan tentu saja tidak ingin hukuman ditambah, tidak apa apa jika satu tahun dibandingkan lebih lama lagi. Jadi Ning Xueqin berlutut dan bersujud di belakang Kaisar Ning deng

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 17 - Istana Selir Su

    “Apakah Tuan Putri yakin dengan rencana ini? “Tanya Mei Qian dengan ragu ragu dan jelas ada ketakutan di wajahnya. “Bagaimana jika-” Ucapan Mei Qian terpotong oleh Ning Xueqin yang menggelengkan kepalanya. “Berhasil atau tidak tergantung kerja sama kita berdua. Kamu harus berusaha sekuat tenaga,

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status