Home / Fantasi / Ayah, Jangan Bunuh Aku! / Chapter 52 - Hampir Mati

Share

Chapter 52 - Hampir Mati

Author: Nyx
last update publish date: 2026-04-26 23:32:52

“Bisakah kamu melepaskan dulu? Lukaku terasa sangat sakit. “Ringis Ning Xueqin hampir saja menangis saat ini.

Mei Qian langsung menyadari bahwa Tuan Putrinya memiliki luka terbuka yang cukup besar di bagian punggungnya dan darah pun masih mengalir hingga saat ini.

“Tuan Putri, Mei Qian akan segera memanggil tabib untuk memeriksa luka Tuan Putri! “Seru Mei Qian dengan panik.

Namun Ning Xueqin menggunakan sisa sisa kesadarannya untuk menahan lengan Mei Qian dan menggelengkan kepalanya dengan p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 243 - Kurungan

    Ning Xueqin yang sedang sibuk dengan burung barunya tiba-tiba mendengarkan kata-kata yang membuat seluruh bulu kuduknya ini merinding.Dia tahu itu adalah suara Kasim Yu, sehingga dirinya dengan cepat bangkit dan menoleh ke belakang.Dirinya memasang senyuman palsu dan menyambut Kasim Yu dengan ramah, sembari meletakkan burung itu ke dalam genggaman Mei Qian.Lalu Ning Xueqin pun berlutut untuk menerima titah yang diberikan oleh Kaisar Ning, entah kenapa dia merasakan firasat buruk mengenai hal ini.“Putriku, Ning Xueqin, sebelumnya bekerja keras untuk mendapatkan hewan spiritual, berlatih dengan tekun dan tanpa lelah. Karena itu aku memerintahkan mu untuk beristirahat selama satu tahun penuh!”Kasim Yu membacakan titah ini dalam satu tarikan napas, namun Ning Xueqin merasa bahwa titah ini sangat panjang dan lambat.Kepalanya terasa agak pusing, dirinya merasa agak mual pada saat ini. Istirahat? Merasa kasihan? Omong kosong!Itu hanya upaya untuk mengurungnya di dalam Istana yang ding

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 242 - Titah Kaisar

    Ning Chuan tentu saja tahu bahwa yang dimaksud oleh Chu Xinling tadi adalah kejahatannya beberapa tahun yang lalu, lebih tepatnya sepuluh tahun yang lalu.Ning Xueqin dan Ning Chuan sama-sama tahu bahwa hubungan mereka berdua tidak rukun seperti yang dikatakan oleh orang-orang.Hubungan mereka berdua juga didasari pada tipu muslihat dan penuh kekejaman, saling membunuh tidak akan terhindarkan.Jadi kata-kata Ning Chuan di awal tadi hanya untuk menggertak, tidak menyangka bahwa Adiknya ini bukan hanya tidak merasa takut justru mampu menggertak balik.“Kakak, aku sarankan kamu untuk lebih tenang dan sabar. Jika aku secara tidak senang mengungkit ini di hadapan Ayahanda, maka takutnya…. Kamu juga tidak akan tenang,”ejek Ning Xueqin.Ning Chuan mendengus dingin dan mengabaikan Ning Xueqin sepenuhnya, sementara Ning Xueqin menyandarkan kepalanya di lengan Ning Chuan sambil berjalan santai.“Lepaskan tanganku!” seru Ning Chuan dengan suara tertahan.“Kenapa? Bukankah kita Kakak Adik? Wajar

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 241 - Saling Mengancam

    Bukan Ning Xueqin namanya jika tidak menyiapkan jalan keluar untuk dirinya sendiri di saat terdesak.Dia sudah tahu bahwa Paman Ketiganya, Chu Xinling bukanlah orang yang bisa dipercaya, jadi tentu saja dia tidak akan mengikat mati hubungannya dengan Paman Ketiganya.Untunglah Paman Ketiganya ini bodoh dan mempercayai kata-katanya sebelumnya, sehingga dia bisa membangun hubungan di dua belah pihak.Sekarang Paman Pertamanya sudah meninggal, tidak akan ada lagi yang bisa bersaksi untuk Paman Ketiganya yang bodoh ini.Keluarga Chu ditakdirkan untuk menemui jalan kehancuran, ditambah lagi kaki Chu Xingjun sudah dipatahkan sepenuhnya dan menjadi cacat.Di masa depan tabib mengatakan bahwa dia memerlukan bantuan tongkat dan tidak bisa menunggang kuda lagi.Anggaplah jika Keluarga Chu kehilangan Keluarga Paman Ketiganya, maka hanya tersisa keluarga Paman Pertamanya.Paman Pertamanya, Chu Xincheng memiliki dua orang anak, yang pertama adalah Chu Xingjun dan yang kedua Chu Xingqi.Chu Xingqi

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 240 - Tuduhan

    Jika tidak sedang menyamar maka Ning Xueqin pasti akan tertawa sinis di hadapan Chu Xinling.Seperti yang diharapkan dari seorang Tuan muda yang dimanjakan di dalam kediaman dan mencoba untuk mengisi keserakahan nya sendiri.Serakah namun bodoh, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sikap dan perilaku Chu Xinling saat ini.Ning Xueqin tidak tahu harus mengatakan apa lagi terhadap Chu Xinling ini, hanya saja dia tidak terkejut bahwa Chu Xinling ini mengaku hanya karena sedikit tekanan yang diberikan oleh Ayahnya.Seperti yang diharapkan dari mentalitas pecundang Paman Ketiganya, namun dia harus berterima kasih atas mentalitas pecundang ini.Karena itu rencananya berhasil dan berjalan dengan lancar. Paman Pertamanya memang lebih cerdik dan cerdas, namun tidak dapat dipercaya.Dia layak untuk menerima hukuman itu karena mengkhianati Ning Xueqin dan berusaha untuk menjual Ning Xueqin demi bersekutu dengan Ning Chuan.Sebenarnya hal ini tidak aneh juga, hanya saja membayangkannya saja

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 239 - Pembunuhan di Istana

    Kaisar Ning merasa bahwa putrinya agak menggemaskan murni karena melihat putrinya yang sangat bersemangat untuk meminum arak pertamanya setelah acara kedewasaannya.Hanya saja minum empat cangkir sekaligus memang terlalu banyak, tapi Kaisar Ning pada akhirnya memaklumi nya.Tidak apa-apa, anak-anak memang terkadang cukup impulsif terutama pada benda baru yang baru bisa mereka rasakan atau miliki.Hanya ada satu orang yang tetap tenang melihat sikap impulsif milik Ning Xueqin, yaitu Xie Guang.Murni karena Xie Guang tahu bahwa ini bukan pertama kalinya Ning Xueqin meminum arak, kadang-kadang saat sedih atau suasana hati memburuk dia akan menghabiskan beberapa cangkir sendirian atau bahkan setengah kendi!Tentunya hal ini dilakukan diam-diam, atau lebih tepatnya Ning Xueqin membuat araknya sendiri dengan fermentasi buah-buahan.Dia selalu membuat araknya terasa manis dengan sedikit pahit, tentunya tidak dengan kadar yang terlalu kuat.Jika tidak tubuh kecil ini akan dengan mudah tumbang

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 238 - Petunjuk Lagi?

    Ketika memikirkan nama ini, Ning Xueqin terdiam dan diam-diam memandang ke arah orang yang dia pikirkan. Ning Xueqin melihat ke arah pandang Xie Guang yang menuju ke arah seorang gadis yang duduk di seberangnya.“Itu adalah Nona Zhu, tidak disangka-sangka bahwa dia memilih masuk ke dalam Kediaman Perdana Menteri Meng dan menjadi Selir bagi orang tua busuk itu,” bisik Mei Qian.“Jaga perkataanmu, kamu sedang di Istana saat ini,” tegur Ning Xueqin.Mei Qian menganggukkan kepalanya dan tidak berkomentar lagi hanya untuk melihat Ning Xueqin yang menatap dengan tatapan kosong ke arah Xie Guang dan Zhu Yuezhi.Zhu Yuezhi memilih masuk ke Kediaman Meng dan menjadi Selir Meng Long yang bahkan lebih tua daripada Ayahnya.Meninggalkan Xie Guang sendirian, tidak tahu bagaimana perasaan Xie Guang saat ini. Ning Xueqin menghela napas dan tidak memikirkannya lagi.Karena hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat Ning Xueqin merasa bahwa sebagian nyawanya terkuras habis.Kemudian makanan pun di

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 75 - Qingxian

    Ning Xueqin pun melangkah keluar dan memandang Kasim Yu yang menunggu di luar dengan senyum miring lalu menyeka air matanya dengan mudah. Seperti yang dikatakan, beberapa orang terkadang tidak bisa ditundukkan dengan cara lembut dan membutuhkan cara yang lebih keras. Kebetulan Kaisar Ning ini

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 62 - Mandul?

    Zhen Lingyu ini jelas sekali dengan sengaja mempermainkannya dengan menggantung kata katanya tapi anehnya, Ning Xueqin justru tidak merasa marah sedikitpun. “Namun? “ Tanya Ning Xueqin mendesak Zhen Lingyu. “Namun… jawabanmu benar. Yang Mulia juga telah mengetahui hal ini sejak awal, pernikahan k

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 45 - Gelisah

    Ning Xueqin lupa bahwa di tempat tinggalnya yang baru ini, hidup dan mati seorang budak sama sekali tidak berharga. Wei Luo juga tampaknya sudah tahu bahwa dirinya akan dihukum mati sejak awal sehingga tidak memberontak dan menurut saja saat dipukuli. Pada saat itu seluruh Aula Kekaisaran pun men

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 41 - Umpan

    “Lumayan.” Ucap Kaisar Ning pada akhirnya. Ning Xueqin menganggukkan kepalanya dan lumayan senang, lumayan berarti tidak buruk hal ini menandakan bahwa Kaisar Ning cukup senang dengan pemberiannya. Jadi Ning Xueqin pun menundukkan kepalanya dan ingin kembali ke tempat duduknya sebelum akhirnya Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status