LOGIN"Besok kau ke dokter kandungan." ucap Dirga tanpa membuka matanya.
Aruna terkejut menoleh ke samping. Menatap pria yang sangat tampan di sampingnya. Pria yang telah merenggut kesuciannya. "Untuk apa?." tanya Aruna polos. Dirga membuka mata dan menatap Aruna. Baru ia sadari Aruna secantik ini. Apalagi jika ingat desahan manja Aruna saat berada di bawah kungkungannya. "Kau pasang alat kontrasepsi. Saya ingin mengeluarkan di dalam agar lebih nikmat." ucap Dirga. Aruna mengangguk patuh. Menolak juga tak ada bedanya. Dirga yang memegang kendali penuh. "Bagus Aruna. Saya suka dengan kau yang patuh seperti ini." Dirga membelai rambut Aruna. "Tentang imbalan yang tuan janjikan, bisakah aku meminta?." tanya Aruna. "Ya silahkan saja. Katakan, kau mau minta uang berapa banyak." tawar Dirga. "Aku ingin tuan mendaftarkanku kuliah online. Karena aku ingin mendapatkan gelar sarjana. Jadi sewaktu waktu tuan bosan padaku, aku memiliki bekal untuk kehidupanku sendiri." Dirga langsung mengangguk. "Tentu saja. Hal itu mudah bagiku. Hanya itu saja??." Aruna menggeleng. Ia tidak boleh menyia nyiakan semua ini. Ia harus tamak, ia harus mengumpulkan sebanyak banyaknya. Namun ia tak boleh terburu buru. Bertahap namun pasti. "Setiap bulan tuan harus memberiku uang. Aku minta 50 juta perbulan tuan." Kali ini Aruna nampak takut takut berucap. Ia takut Dirga tak terima dan langsung membuangnya. Toh, Dirga sudah menikmati tubuhnya. "Jumlah itu bukan masalah besar untukku. Kau yakin cukup?." Dirga nampak sekali jumawa. Ia tahu Aruna sedang bermain taktik dengannya. Jangan sampai Aruna tahu, jika Dirga sudah tercandu candu dengan tubuh Aruna. Lubang yang sempit dan hangat memanjakan milik Dirga. "Ya hanya itu tuan. Aku tidak mau menjadi orang yang tak tahu diri." jawab Aruna. Dirga tersenyum senang. Aruna nampak polos dan penurut. Ia merasa menjadi pria sejati. Berbeda dengan Maya, yang independen dan mampu mengeluarkan argumentasinya. "Kau harus berjanji Aruna. Kau akan tetap disisiku sampai saya bosan denganmu. Jika kau berani kabur, maka saya akan memberikanmu pelajaran yang tak bisa kau bayangkan." ucap Dirga mengintimidasi. Aruna meneguk ludahnya kasar. Ia benar benar terjebak di mulut harimau. "Baik Tuan." jawab Aruna lagi. Tiba tiba ponsel Dirga berdering. Nama Maya tertera disana. Lekas Dirga bangkit menjawab panggilan Maya. "Halo sayang." sapa Dirga sembari bangkit. Ia belum mengenakan sehelai benang pun. Namun ia nampak santai berjalan menuju ke jendela. Sementara Aruna merasa malu melihatnya. Aruna memutuskan untuk ke kamar mandi membersihkan diri. Saat ia berusaha bangkit. Ia merasakan perih pada intinya. Aruna meringis menahan sakit. Namun dipaksakannya, ia sudah tak tahan dengan tubuh nya yang lengket. Ia juga tak tahan mendengar pria yang baru saja berc1nta dengannya kini nampak berkata mesra dengan istri sahnya. Di dalam kamar mandi, Aruna berdiri di bawah shower. Mengguyur seluruh tubuhnya. Dingin menyengat karena ia tidak menstel showernya ke mode air hangat. Aruna memeluk tubuhnya yang menggigil. Ia sudah ternoda dan rusak. Bahkan ia masuk ke kehidupan rumah tangga suami istri yang nampak bahagia. Airmata tak terasa menetes. Aruna menggosok kuat tubuhnya. Mencoba menghilangkan jejak jejak percintaan barusan. Ia melihat dadanya. Nampak banyak tanda cinta disana. Saat Aruna menikmati kepedihannya, tiba tiba pintu diketuk dari luar. Aruna terkesiap dan mengusap airmatanya. Mau apa apalagi tuan majikan mesum itu. Bathin Aruna. "Sebentar tuan. Saya sebentar lagi selesai." Jawab Aruna. Ia mengira, Dirga ingin membersihkan diri seperti dirinya. "Buka pintunya sekarang." suara berat Dirga terdengar dari luar. "Iya tuan, ini saya sudah selesai." Lekas Aruna mengambil handuk. Dan membuka pintu. Aruna memalingkan wajahnya saat melihat Dirga berdiri di depan pintu tanpa mengenakan apapun. Wajah Aruna memerah seperti udang rebus. Dirga mengukir senyum, melihat wajah Aruna yang nampak malu. Padahal baru saja mereka bertukar peluh, kini Aruna masih nampak malu malu. "Silahkan tuan, saya sudah selesai." ucap Aruna ingin keluar dari kamar mandi. Namun langkahbya terhenti saat Dirga mencekal tangannya. "Ada apa tuan?." tanya Aruna bingung. "Ayo masuk. Kita mandi berdua. Kenapa kau berani beraninya mandi duluan." Aruna kembali meneguk ludahnya kasar. Daerah intinya masih terasa sangat perih. Apakah Tuan Majikannya akan kembali meminta ia melayaninya. "Tapi tuan saya sudah selesai mandi." Tolak Aruna halus. "Sttt!!!. Saya tak suka kamu membantah. Ayo cepat masuk." Ucap Dirga penuh tekanan. Ia pun menarik Aruna masuk ke dalam. Apalagi yang Aruna lakukan selain menuruti keberingasan tuannya. Sesuai dugaan Aruna. Dirga kembali mencumbunya, seolah pria itu tidak pernah puas. Dan Aruna ingin sekali memaki dirinya sendiri karena nyatanya ia menikmati percintaan mereka. Apalagi Kali ini rasanya lebih nikmat. Rasa sakitnya seperti hilang. Desahan Aruna mewarnai kamar mandi tersebut. Tubuh Dirga tak berhenti memacu tubuh Aruna. Aruna di bolak balik kesana kemari. Hingga akhirnya mereka mencapai pelepasannya. Lekas Dirga menarik miliknya. Nafas keduanya masih terdengar memburu. Menandakan apa yang terjadi barusan benar benar panas dan bergairah. "Terimakasih Aruna." bisik Dirga lembut. Dikecupnya kening Aruna. Aruna hanya bisa mengangguk dan mengulas senyum paksa. "Sekarang ayo kita mandi. Kali ini benar benar mandi Aruna." goda Dirga. Untung saja Dirga menepati janjinya, mereka mandi bersama layaknya pasangan suami istri. ************** "Aruna, duduk disini. Saya ingin bicara serius padamu." Dirga menepuk sofa di sebelahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Namun kantuk sepertinya tak menghampiri mereka. "Aruna, hubungan kita di mulai hari ini. Hubungan tanpa cinta. Kita sama sama saling memanfaatkan saja. Kau akan berkuliah dan mendapatkan uang dariku. Tapi kau harus selalu siap saat saya menginginkanmu. Maya sering keluar kota bahkan keluar negeri. Hal ini akan membuka peluang besar bagi kita untuk bisa sering memadu kasih. Dan saya tekankan sekali lagi padamu. Disini saya yang mengendalikan semuanya, dan kau hanya harus menurut. Bagaimana Kau setuju bukan?." Aruna hanya mengangguk pasrah. Sulitnya menjadi orang tak punya. Harus tunduk pada sang kaya. Hati Aruna terasa tercabik cabik. Pria di sebelahnya tak lebih dari seorang monster. "Oiya, besok Andra asistenku akan menjemputmu dan Malaya. Ia akan mengantarkanmu ke dokter kandungan untuk memasang alat kontrasepsi. Sekarang saya akan kembali ke kamar. Kau tidurlah. Kau pasti sangat lelah." ucap Dirga sembari bangkit. Ia membungkuk dan mencium kening Aruna. Aruna memejamkan matanya. Jika hubungan ini tanpa cinta kenapa harus bersikap semanis ini. Ia adalah manusia yang punya hati. Wanita mana yang tidak akan goyah jika diperlakukan dengan manis. Dirga mendekati tempat tidur Malaya. Karena aktifitasnya bersama Aruna, ia sampai lupa mencium sang anak. Diciumnya anaknya yang cantik. Wajahnya sangat mirip dengan Maya. Dirga berjalan menuju pintu, namun langkahnya terhenti. Ia berbalik dan menatap Aruna. "Kirimkan nomor rekeningmu. Saya akan menstransfer uang. Saya tidak suka melihat wajah murungmu." ucap Dirga kemudian ia membuka pintu dan melangkah keluar kamar. Aruna menghirup udara sebanyak banyaknya saat Dirga keluar kamar. Rasanya lega sekali setelah pria itu pergi. Ia mengambil ponselnya kemudian lekas mengirim nomor rekeningnya ke Dirga. Perduli setan. Setidaknya aku harus mendapatkan banyak uang dari pria bajingan itu. Bathin Aruna. Tak lama setelah pesan terbaca. Muncul notifikasi dari m banking milik Aruna. Aruna membuka m banking miliknya dan melihat saldonya bertambah 50 juta. Aruna tersenyum miris. Uang yang cukup banyak. Uang yang akan terus ia dapatkan. Uang yang membeli harga dirinya. Aruna meletakkan ponselnya dan berjalan kemudian berbaring di sebelah Malaya yang nampak tertidur lelap. Ia membelai wajah anak manis itu. Baru satu minggu ia mengasuh Malaya, namun ia sudah begitu sayang dengan Malaya. "Malaya, maafkan aku ya. Aku sudah masuk ke dalam kehidupan papa dan mamamu. Maafkan aku." Aruna berkata dengan suara bergetar. ******************Di perusahaannya, Wajah Dirga nampak muram melihat foto yang dikirimkan oleh orang suruhannya. Ia memang mengutus orang untuk mengikuti Aruna ke sekolah. Hatinya tak tenang sepanjang perjalanan ke perusahaan, maka ia memutuskan untuk memata matai Aruna. Dan laporan yang ia terima sungguh membuat moodnya berantakan. Dirga meraih ponselnya yang ia gunakan khusus menghubungi Aruna. Ia mengetik pesan dengan geram. (SAYA TIDAK SUKA KAMU TERLALU DEKAT DENGAN SAMUEL!) Dirga meletakkan ponselnya dengan kasar, ia mengusap wajahnya. Dipandangnya ponselnya, tanda pesannya belum berubah warna yang berarti Aruna belum membaca pesannya sama sekali. Semakin emosi Dirga dibuatnya. Kemudian ia memilih menghubungi orang suruhannya. "Sekarang Aruna sedang apa?" tanya Dirga langsung begitu panggilan terhubung. (Nona Aruna masih bersama tuan Samuel pak. Mereka masih duduk di tempat tadi. Sepertinya mereka sedang berbincang serius.) lapor orang suruhan Dirga. Dirga menghirup udara sebanyak banyaknya.
Wajah Dirga nampak mengeras melihat Aruna dalam pelukan pria lain. "Ehem!" Dirga menginterupsi Aruna. Aruna yang sadar segera melepaskan pelukan pria tersebut. "Maaf saya tidak melihat jika ada orang di belakang saya." ucap Aruna kepada pria di hadapannya. "It's oke cantik! aku sama sekali tak merasa keberatan. Oiya, kenalkan namaku Samuel. Namamu siapa?" tanya pria tersebut malah memperkenalkan diri. "Namanya Aruna. Dia pengasuh baru Malaya. Jangan mengganggunya, Sam." kali ini Maya angkat bicara. Ia sangat tahu sifat Playboy sepupunya. Dalam hati Dirga bersukur karena Maya mewakili isi hatinya. "Saya permisi." pamit Aruna segera. Malaya langsung mengikuti dan Maya hanya bisa menahan jengkel melihat kelakuan anaknya. "Kak Maya, kenapa tidak cerita kalau pengasuh Malaya sangat cantik. Ya ampun, apalagi body nya. Aduhai sekali! tidak sia sia aku datang kesini kak." wajah Samuel nampak sangat ceria, berbanding terbalik dengan wajah Dirga. Ingin rasanya ia meninju wajah Sam
Maya langsung tersentak begitu Dirga menarik kasar senjatanya. Apalagi ketika melihat sang suami langsung masuk ke kamar mandi. Tubuh Maya seolah membeku, bertahun tahun berumah tangga bukan hanya kali ini Maya menolak fantasi sex Dirga. Namun baru kali ini ia merasakan kemarahan sang suami. Rasanya begitu sesak di dadanya. Perasaan Maya bercampur, antara tak menerima dengan perlakuan Dirga dan rasa bersalah karena suaminya benar benar kecewa kali ini. Pertarungan hati itu akhirnya tetap di menangkan oleh ego Maya. Ia merasa tak terima dengan kemarahan Dirga yang menurutnya berlebihan. Toh selama ini, mereka berdua nyaman saja dengan gaya percintaan mereka. Tak lama Dirga keluar dari kamar mandi, ia mengenakan jubah mandi dan bergegas menuju ke walk in closet dan mengenakan kaos dan celana pendek. Sementara Maya memilih masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri sembari terus menahan emosi. Setelah membersihkan diri, Maya keluar dari kamar mandi dan tak mendapati suaminya di kamar
Aruna menatap takjub pemandangan di hadapannya. Ia tak menyangka Dirga akan mengajaknya ke sebuah taman bunga. Bunga bunga di sana sungguh indah, seolah bisa mengobati pedih hati yang tadi Aruna rasakan. "Kau senang?" tanya Dirga yang tiba tiba memeluk Aruna dari belakang. Di hirupnya wangi gadis tersebut. Wangi yang dapat menenangkan jiwanya "Saya sangat senang tuan. Terimakasih sudah mau mengajak saya kemari." ucap Aruna terharu. Perlakuan Dirga begitu manis, seolah majikannya itu benar benar mencintainya. "Saya senang kalau kamu menyukainya. Ayo berposelah. Saya akan mengambil beberapa gambarmu." pinta Dirga. Ia mengeluarkan ponselnya. Ponsel yang khusus ia beli untuk menghubungi Aruna. "Oke!" jawab Aruna bersemangat. Sepertinya Aruna terbawa suasana. Moodnya benar benar membaik dan ia segera memasang gaya untuk di foto. Beberapa kali tanpa sadar Dirga tersenyum melihat tingkah konyol Aruna. Ia baru menyadari Aruna sebenarnya gadis periang, hanya saja mungkin cobaan hidup
Saat tangan Dirga mulai menyentuh intinya. Aruna menahan tangan tersebut. "Kata dokter saya masih belum boleh melakukan hubungan selama 48 jam tuan." ujar Aruna takut takut. Apa yang Aruna takutkan terjadi, wajah Dirga berubah menjadi muram. "Oiya, saya lupa. Maya juga seperti itu saat pertama kali memakai alat kontrasepsi." Aruna segera ingin bangkit dari pangkuan Dirga. Mereka tak bisa melakukan apa apa disini. Sudah pasti kan ia akan segera di pulangkan. Namun Dirga menahannya. "Mau kemana kau?." "Saya akan bersiap siap pulang." jawab Aruna polos. "Kata siapa kau akan pulang?." Dirga menatap Aruna yang nampak salah tingkah. Sungguh menggemaskan di mata Dirga. Aruna memang berbeda dari Maya. Sedari dulu Maya adalah wanita mandiri dan tegas. Ia tak pernah menunjukkan sisi manjanya pada Dirga. Maya malah terkadang lebih mendominasi dalam hubungan mereka. Contohnya saja, Dirga sebenarnya ingin Maya fokus di rumah mengurus dirinya dan Malaya. Namun Maya tak mau, dan Masih
Paginya. Aruna baru selesai memandikan Malaya, sedangkan ia sendiri sudah selesai mandi dan berdandan tipis saja. Ia mengenakan seragam babysitter. Ia menyiapkan pakaian ganti di tasnya. Karena Ia akan mendatangi dokter kandungan dan memasang alat kontrasepsi. Jujur saja Aruna tak bisa tidur membayangkan prosesnya. Ia telah menonton video ilustrasi pemasangan KB spiral. Baru melihat saja ia sudah merasa ngilu. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus memberanikan diri. Setelah selesai, Aruna mengajak Malaya untuk turun. Ketika berpapasan dengan mbok Nah, Aruna merasa tatapan wanita itu sangat tajam padanya. Apakah mbok Nah mengetahui semuanya. Bathin Aruna takut. Namun Aruna mencoba mengabaikannya. Meksipun tahu, Ia yakin mbok Nah tidak akan berani membocorkan semuanya. Dirga sudah duduk di meja makan. Senyumnya terulas melihat Malaya yang sudah nampak cantik. Malaya meskipun baru berusia 2 tahun, ia sudah bersekolah di sekolah khusus anak anak sebayanya. Dan biasanya Aruna menunggui Mal







