Masuk"Tu.. an.. hen..ti..kan.." Aruna berkata dengan terbata bata. Nafasnya tersengal. Hatinuya menolak semua ini. Namun reaksi tubuhnya sendiri sungguh menyebalkan. Tubuhnya malah menggelinjang dan mulutnya mendesah.
"Aku ingin kau. Ingat! malam itu aku menolongmu. Dan kau sudah berjanji padaku!." Ucap Dirga mengintimidasi Aruna. "Tapi tuan... tolong jangan lakukan ini. Akh! " Aruna masih berusaha mengumpulkan akal sehatnya. Ini pengalaman pertama untuknya, selama ini ia menjaga batas dalam berpacaran. Namun dengan Dirga ia seolah tak bisa menolak. Bahkan saat ini tubuhnya menginginkan lebih. Saat menolakpun ia malah mendesah. Dirga tak memperdulikan protes Aruna. Apalagi setelah mendengar desahan gadis itu. Ia justru kembali membungkam Aruna dengan bibirnya. Tak berhenti sampai disitu, kini Lidah Dirga beralih ke dua puting Aruna yang berwarna merah muda. Ia mulai menjilat kemudian menyusu seperti bayi kepada Aruna. Tubuh Aruna menggelinjang hebat, rasanya nikmat sekali. Bukannya menyingkirkan kepala Dirga, ia justru menekannya untuk lebih dalam menyusu. Lenguhan nikmat keluar dari bibirnya membuat Dirga semakin bersemangat. Setelah membuat Aruna mabuk kepayang, Dirga membuka pakaiannya. Aruna memejamkan mata melihat tubuh atletis Dirga yang begitu menggoda. Dirga tersenyum lucu melihat tingkah Aruna. Apalagi saat ia menyuruh Aruna membuka mata. Aruna nampak menutup mulutnya saat melihat milik Dirga sudah tegang menantang. "Hisap milikku Aruna. Kalau kau tidak mau maka aku akan meminta Maya untuk memecatmu." pinta Dirga penuh harap yang dibalut dengan ancaman. Ia harap harap cemas, takut Aruna menolak seperti yang dilakukan Maya selama ini. Aruna yang takut akan di pecat segera menunduk dan melakukan yang Dirga minta. Dirga tahu ini hal pertama bagi Aruna karena gadis itu terlihat sangat kaku. Akh Palingan dia berpura pura polos. Bathin Dirga. Dirga mengarahkan Aruna bagaimana caranya memperlakukan miliknya. Dan Dirga memejamkan mata merasakan kenikmatan yang selama ini begitu ia inginkan dari Maya. Setelah merasa puas, Dirga membimbing Aruna ke sofa yang ada di kamar Malaya. Untung saja Malaya, tidur cukup nyenyak. Sehingga tidak terganggu dengan aktifitas yang Dirga dan Aruna lakukan. Dirga membaringkan Aruna dengan hati hati. Aruna yang terlanjur masuk dalam perangkap Dirga hanya menuruti apa yang Dirga lakukan. "Aku ingin merasakannya denganmu, Aruna." Kembali Dirga berbisik di telinga Aruna sembari tangannya meremas dua gundukan milik Aruna. Dirga tahu disanalah titik kelemahan Aruna. "Tapi tuan, ini tidak benar. ssshh... bagaimana jika Nyonya Maya tahu... sshh.." Aruna bicara sembari menahan gairahnya yang kian meledak. "Kau tenang saja Aruna. Aku yang akan mengurus semuanya. Aku pastikan kau akan mendapatkan imbalan yang layak dariku." bujuk Dirga. Ia tak bisa mundur lagi, gairahnya sudah sampai di ubun ubun. Apalagi ia senang dengan reaksi Aruna setiap ia menyentuh wanita tersebut. Berbeda sekali dengan Maya, yang nampak hanya menerima saja. Dan seperti ingin cepat menyudahi percintaan mereka. Aruna sebenarnya tidak punya pilihan. Jika ia menolak ia akan dipecat. Jika di pecat impiannya untuk kuliah lagi akan hilang dan lenyap. Maka sudah kadung, mungkin ia memang wanita yang tidak bisa mempertahankan harga diri. Mau bagaimana lagi. Mungkin inilah takdirnya. "Baik tuan, silahkan tuan nikmati tubuh saya. Saya akan memenuhi janji saya. Tapi jangan lupakan janji tuan." ucap Aruna lirih. Mata Dirga nampak berbinar. Ia mulai memasukkan miliknya ke milik Aruna. Terasa sulit sekali. Seperti saat ia pertama kali melakukan hubungan suami istri dengan Maya. "Kau masih perawan?." tanya Dirga. Aruna mengangguk. Mata Aruna nampak berkaca kaca. "Maafkan aku Aruna. Aku berjanji akan benar benar memberikan bayaran setimpal untukmu." ucap Dirga yang menyadari kabut di wajah Aruna. "Ya tuan. Lakukan saja. Tapi aku minta tolong. Lakukan dengan perlahan." ucap Aruna yang nampak takut. Dirga mendekatkan wajahnya ke wajah Aruna. Di kecupnya kening Aruna. Kemudian ia kembali mencoba memasukkan miliknya. Aruna nampak menahan sakit. Hingga akhinya milik Dirga menembus keperawaan Aruna. Dirga langsung membungkam bibir Aruna. Dia diam dulu tidak bergerak. Setelah di rasa cukup Dirga mulai menggerakan tubuhnya. Perlahan, agar Aruna tidak kesakitan. Rasa sakit yang Aruna rasakan di awal berubah menjadi kenikmatan. Ia menikmati setiap gerakan yang Dirga lakukan. Mulai dari yang lembut hingga yang menyentak. Sampai akhirnya Dirga akan mencapai puncak kenikmatannya, ia lekas menarik senjatanya dan memuntahkan cairan putih itu di dada Aruna. Untung saja ia ingat jika ia dan Aruna tidak memakai alat kontrasepsi apapun. Nafas keduanya nampak masih memburu. Dirga merebahkan dirinya di sebelah Aruna memejamkan matanya. Sementara Aruna menatap langit dengan tatapan kosong. Ia seolah masih menelaah tentang apa yang baru saja terjadi. ***********************Di perusahaannya, Wajah Dirga nampak muram melihat foto yang dikirimkan oleh orang suruhannya. Ia memang mengutus orang untuk mengikuti Aruna ke sekolah. Hatinya tak tenang sepanjang perjalanan ke perusahaan, maka ia memutuskan untuk memata matai Aruna. Dan laporan yang ia terima sungguh membuat moodnya berantakan. Dirga meraih ponselnya yang ia gunakan khusus menghubungi Aruna. Ia mengetik pesan dengan geram. (SAYA TIDAK SUKA KAMU TERLALU DEKAT DENGAN SAMUEL!) Dirga meletakkan ponselnya dengan kasar, ia mengusap wajahnya. Dipandangnya ponselnya, tanda pesannya belum berubah warna yang berarti Aruna belum membaca pesannya sama sekali. Semakin emosi Dirga dibuatnya. Kemudian ia memilih menghubungi orang suruhannya. "Sekarang Aruna sedang apa?" tanya Dirga langsung begitu panggilan terhubung. (Nona Aruna masih bersama tuan Samuel pak. Mereka masih duduk di tempat tadi. Sepertinya mereka sedang berbincang serius.) lapor orang suruhan Dirga. Dirga menghirup udara sebanyak banyaknya.
Wajah Dirga nampak mengeras melihat Aruna dalam pelukan pria lain. "Ehem!" Dirga menginterupsi Aruna. Aruna yang sadar segera melepaskan pelukan pria tersebut. "Maaf saya tidak melihat jika ada orang di belakang saya." ucap Aruna kepada pria di hadapannya. "It's oke cantik! aku sama sekali tak merasa keberatan. Oiya, kenalkan namaku Samuel. Namamu siapa?" tanya pria tersebut malah memperkenalkan diri. "Namanya Aruna. Dia pengasuh baru Malaya. Jangan mengganggunya, Sam." kali ini Maya angkat bicara. Ia sangat tahu sifat Playboy sepupunya. Dalam hati Dirga bersukur karena Maya mewakili isi hatinya. "Saya permisi." pamit Aruna segera. Malaya langsung mengikuti dan Maya hanya bisa menahan jengkel melihat kelakuan anaknya. "Kak Maya, kenapa tidak cerita kalau pengasuh Malaya sangat cantik. Ya ampun, apalagi body nya. Aduhai sekali! tidak sia sia aku datang kesini kak." wajah Samuel nampak sangat ceria, berbanding terbalik dengan wajah Dirga. Ingin rasanya ia meninju wajah Sam
Maya langsung tersentak begitu Dirga menarik kasar senjatanya. Apalagi ketika melihat sang suami langsung masuk ke kamar mandi. Tubuh Maya seolah membeku, bertahun tahun berumah tangga bukan hanya kali ini Maya menolak fantasi sex Dirga. Namun baru kali ini ia merasakan kemarahan sang suami. Rasanya begitu sesak di dadanya. Perasaan Maya bercampur, antara tak menerima dengan perlakuan Dirga dan rasa bersalah karena suaminya benar benar kecewa kali ini. Pertarungan hati itu akhirnya tetap di menangkan oleh ego Maya. Ia merasa tak terima dengan kemarahan Dirga yang menurutnya berlebihan. Toh selama ini, mereka berdua nyaman saja dengan gaya percintaan mereka. Tak lama Dirga keluar dari kamar mandi, ia mengenakan jubah mandi dan bergegas menuju ke walk in closet dan mengenakan kaos dan celana pendek. Sementara Maya memilih masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri sembari terus menahan emosi. Setelah membersihkan diri, Maya keluar dari kamar mandi dan tak mendapati suaminya di kamar
Aruna menatap takjub pemandangan di hadapannya. Ia tak menyangka Dirga akan mengajaknya ke sebuah taman bunga. Bunga bunga di sana sungguh indah, seolah bisa mengobati pedih hati yang tadi Aruna rasakan. "Kau senang?" tanya Dirga yang tiba tiba memeluk Aruna dari belakang. Di hirupnya wangi gadis tersebut. Wangi yang dapat menenangkan jiwanya "Saya sangat senang tuan. Terimakasih sudah mau mengajak saya kemari." ucap Aruna terharu. Perlakuan Dirga begitu manis, seolah majikannya itu benar benar mencintainya. "Saya senang kalau kamu menyukainya. Ayo berposelah. Saya akan mengambil beberapa gambarmu." pinta Dirga. Ia mengeluarkan ponselnya. Ponsel yang khusus ia beli untuk menghubungi Aruna. "Oke!" jawab Aruna bersemangat. Sepertinya Aruna terbawa suasana. Moodnya benar benar membaik dan ia segera memasang gaya untuk di foto. Beberapa kali tanpa sadar Dirga tersenyum melihat tingkah konyol Aruna. Ia baru menyadari Aruna sebenarnya gadis periang, hanya saja mungkin cobaan hidup
Saat tangan Dirga mulai menyentuh intinya. Aruna menahan tangan tersebut. "Kata dokter saya masih belum boleh melakukan hubungan selama 48 jam tuan." ujar Aruna takut takut. Apa yang Aruna takutkan terjadi, wajah Dirga berubah menjadi muram. "Oiya, saya lupa. Maya juga seperti itu saat pertama kali memakai alat kontrasepsi." Aruna segera ingin bangkit dari pangkuan Dirga. Mereka tak bisa melakukan apa apa disini. Sudah pasti kan ia akan segera di pulangkan. Namun Dirga menahannya. "Mau kemana kau?." "Saya akan bersiap siap pulang." jawab Aruna polos. "Kata siapa kau akan pulang?." Dirga menatap Aruna yang nampak salah tingkah. Sungguh menggemaskan di mata Dirga. Aruna memang berbeda dari Maya. Sedari dulu Maya adalah wanita mandiri dan tegas. Ia tak pernah menunjukkan sisi manjanya pada Dirga. Maya malah terkadang lebih mendominasi dalam hubungan mereka. Contohnya saja, Dirga sebenarnya ingin Maya fokus di rumah mengurus dirinya dan Malaya. Namun Maya tak mau, dan Masih
Paginya. Aruna baru selesai memandikan Malaya, sedangkan ia sendiri sudah selesai mandi dan berdandan tipis saja. Ia mengenakan seragam babysitter. Ia menyiapkan pakaian ganti di tasnya. Karena Ia akan mendatangi dokter kandungan dan memasang alat kontrasepsi. Jujur saja Aruna tak bisa tidur membayangkan prosesnya. Ia telah menonton video ilustrasi pemasangan KB spiral. Baru melihat saja ia sudah merasa ngilu. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus memberanikan diri. Setelah selesai, Aruna mengajak Malaya untuk turun. Ketika berpapasan dengan mbok Nah, Aruna merasa tatapan wanita itu sangat tajam padanya. Apakah mbok Nah mengetahui semuanya. Bathin Aruna takut. Namun Aruna mencoba mengabaikannya. Meksipun tahu, Ia yakin mbok Nah tidak akan berani membocorkan semuanya. Dirga sudah duduk di meja makan. Senyumnya terulas melihat Malaya yang sudah nampak cantik. Malaya meskipun baru berusia 2 tahun, ia sudah bersekolah di sekolah khusus anak anak sebayanya. Dan biasanya Aruna menunggui Mal







