Beranda / Romansa / BATARI / Milikmu sangat nikmat, Batari...

Share

Milikmu sangat nikmat, Batari...

Penulis: Lavanya Varsha
last update Tanggal publikasi: 2026-06-09 22:15:57

Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, membasahi kaca mobil Elio dan menciptakan suasana hening yang hanya diisi oleh suara wiper yang beradu ritmis. Bunyi itu terdengar seperti detak jantung yang sedang menghitung waktu menuju sebuah ledakan besar. Di kursi penumpang, Batari menyandarkan kepalanya yang terasa seberat timah pada kaca jendela yang dingin. Hatinya gersang, gundah gulana. Sisa-sisa kehancuran setelah mengetahui fakta tentang Robert Wijaya—sang arsitek yang tega merancang seluruh
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • BATARI   Milikmu sangat nikmat, Batari...

    Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, membasahi kaca mobil Elio dan menciptakan suasana hening yang hanya diisi oleh suara wiper yang beradu ritmis. Bunyi itu terdengar seperti detak jantung yang sedang menghitung waktu menuju sebuah ledakan besar. Di kursi penumpang, Batari menyandarkan kepalanya yang terasa seberat timah pada kaca jendela yang dingin. Hatinya gersang, gundah gulana. Sisa-sisa kehancuran setelah mengetahui fakta tentang Robert Wijaya—sang arsitek yang tega merancang seluruh penderitaan ibunya, Isabel—masih berdenyut nyeri dan perih di balik dadanya.Elio memecah kesunyian dengan suara baritonnya yang tenang, mengalun berwibawa di antara gemuruh badai di luar. "Aku tahu kau sedang menenun sesuatu yang besar, Batari. Sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya dari sekadar pengambilalihan takhta Wijaya Group."Batari tetap bergeming. Tatapannya kosong menembus rintik air, sementara jemarinya yang lentik meremas kain gaun sutra midnight blue-nya hingga kusut masai.

  • BATARI   Tidak disini, badai kecilku

    Suara gesekan ban mobil Freya di atas aspal basah mengakhiri hari yang melelahkan setelah RUPSLB yang bersejarah itu. Kemenangan mutlak telah diraih, mahkota Wijaya Group telah diletakkan di kepala Batari Amara Wijaya. Namun, dunia bisnis tidak digerakkan oleh sekadar gertakan di ruang rapat. Hukum formal tidak mengenal intrik berdarah atau dendam yang membeku; ia hanya patuh pada tanda tangan hitam di atas putih di hadapan hukum negara.Sebelum Batari bisa benar-benar menginjakkan kakinya di Bali untuk menuntaskan perang terakhirnya, ia harus menyelesaikan urusan birokrasi yang memuakkan di Jakarta. Ia tidak bisa meninggalkan Theo dalam posisi yang rentan tanpa tameng hukum yang sah.Keesokan paginya, langit Jakarta kembali menangis tipis, menumpahkan rintik hujan yang membuat kaca-kaca gedung pencakar langit di kawasan Sudirman tampak buram dan berembun. Di dalam kantor notaris rekanan utama Wijaya Group—sebuah ruangan VIP yang steril, berpanel kayu ek mahal dengan aroma kopi hita

  • BATARI   RUPSLB

    "Kita harus jeda, Victor," bisik Batari, jemarinya mengusap rahang Victor yang keras, sebuah sentuhan yang terasa hangat namun mengirimkan sinyal penolakan yang dingin. "Aku harus fokus pada RUPSLB perusahaan Ayah. Terlalu banyak serigala yang mengincar kursi itu, dan aku tidak bisa terdistraksi."Mendengar kata 'jeda', rahang Victor kian mengeras. Amarah primitif bergejolak di dadanya—bukan karena ia tidak mendukung Batari, melainkan karena ia benci merasa dikesampingkan, bahkan oleh ambisi wanita itu sendiri. Dengan satu gerakan brutal, Victor menghantam setir mobil dengan tinjunya. BUGH Kulit di pergelangan tangannya robek, darah segar merembes, mengotori jok kulit mewah kendaraan tersebut.Batari hanya menatap noda merah itu tanpa berkedip. Di dalam kepalanya, Lenka terbangun, mendesis dengan tawa sarkas yang menusuk.“Lihatlah anjing pelacak ini, Batari. Dia begitu bersemangat menguasaimu, padahal dia lupa bahwa dialah serigala pertama yang merobek kulitmu di masa lalu. Bi

  • BATARI   Apakah kau puas, Victor?

    Di Kediaman Utama Wijaya, keheningan yang biasanya melambangkan kemewahan kini terasa mencekam, seperti udara yang membeku sebelum badai besar melanda. Di tengah aula luas berlantai marmer Italia yang dingin, Veronica Wijaya berdiri mematung. Tubuhnya yang biasanya tegak penuh wibawa kini gemetar hebat, seolah fondasi jiwanya baru saja diguncang gempa dahsyat. Di hadapannya, sebuah kotak kayu hitam tergeletak terbuka. Isinya sederhana, namun dampaknya lebih mematikan daripada peluru mana pun: sebuah jam tangan Patek Philippe milik Adrian. Jam itu, yang dulu melingkar di pergelangan tangan putranya sebagai simbol status dan kejayaan, kini hancur berkeping-keping. Kaca safirnya retak seribu, dan yang paling mengerikan, logam peraknya tertutup noda merah pekat yang sudah mengering—darah yang masih membawa aroma besi yang amis. Sepucuk surat kecil terjatuh di samping kotak itu, dengan tulisan tangan yang rapi namun dingin: “Pembayaran Tuntas." Suara napas Veronica terdengar pende

  • BATARI   Aahh Vic terlaluu dalam..

    Victor menatap Batari dari kejauhan, napasnya terasa berat seolah oksigen di ruangan itu mendadak menipis. Langkah kakinya yang berat namun ragu terdengar samar di atas karpet, beradu dengan suara hujan yang menghantam kaca jendela dengan ritme yang makin liar. Ia mendekat, perlahan sekali, hingga bayangannya yang besar menutupi tubuh Batari yang sedang bersandar pasrah di sofa. Tanpa sepatah kata pun, Victor menjatuhkan lututnya ke lantai. Suara gedebuk pelan itu terdengar begitu nyata, sebuah tanda runtuhnya harga diri sang algojo. Lidahnya terasa kelu, namun matanya tidak bisa beralih dari pemandangan di depannya. Victor mengulurkan tangannya yang gemetar, jari-jarinya yang kasar perlahan menyentuh punggung kaki Batari. Ia bisa merasakan kelembutan kulit itu di bawah jemarinya yang kasar—kontras yang membuatnya semakin haus. Victor mendekatkan wajahnya, membiarkan uap napasnya yang panas menyentuh kulit dingin Batari. Ia mulai menciumi punggung kaki itu, pelan dan basah, lalu

  • BATARI   kali ini mintalah dengan baik, Victor..

    Saat Theo pamit, Elio tidak langsung ikut melangkah keluar. Ia mematung di sisi ranjang, membiarkan keheningan rumah sakit yang mencekam merayap di antara mereka. Matanya yang biasanya jernih dan berwibawa kini meredup, beralih dari wajah Isabel yang pucat menuju jemari kurus wanita itu yang seolah kehilangan sisa hidupnya.Ada denyut nyeri yang menghantam dada Elio—Di matanya, Isabel bukan sekadar pasien; wanita ini adalah kepingan teka-teki dari masa lalu Batari, wanita yang mulai ingin ia lindungi. "Batari..." suara Elio rendah, parau oleh emosi yang ia tekan sekuat tenaga di balik jas mahalnya. Ia berbalik, menatap Batari dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan wanita itu. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa wajahmu... kenapa matamu menyimpan begitu banyak luka yang tidak bicara?"Batari hanya diam, jemarinya meremas kain sprei ranjang ibunya. Namun, Elio melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma oud dan cendana yang hangat menyelimu

  • BATARI   Victor, pelan - pelan..

    Satu minggu bersembunyi di bawah bayang-bayang Victor terasa seperti peti mati bagi harga diri Adrian yang sudah hancur lebur. Reputasinya hangus dan setiap tarikan napasnya kini terasa seperti sedang dicekik oleh tangan tak terlihat.Pintu ruangan terbuka, menampakkan Seline yang masuk dengan ria

  • BATARI   Sensitif sekali, Batari

    "Berapa lama lagi kau mau aku jadi pengasuhmu, Adrian? Polisi sudah mondar-mandir di gerbang depan dua kali pagi ini!"Victor membanting gelas wiskinya ke meja marmer, suaranya bergema tajam di ruang tengah yang luas. Matanya yang lelah menatap Adrian yang sedang duduk di sofa kulit, mas

  • BATARI   Jeritan di Ruang Hampa

    "Lepaskan! Kau binatang, Adrian! Kau pikir uang keluargamu bisa membeli harga diriku?" "Diamlah, Sayang. Nikmati saja. Besok kau akan berterima kasih karena nilaimu mendadak sempurna," suara Adrian di video itu terdengar menjijikkan, disusul suara robekan kain yang kasar. “ AKHHHHHH.” Suara jerit

  • BATARI   Benih Cemburu

    Batari berdiri telanjang di depan cermin besar, menatap sisa-sisa trauma yang kini ia poles dengan kemewahan. Tiba-tiba, suhu ruangan anjlok. Sosok Lenka muncul di pantulan cermin, berdiri tepat di belakang Batari. Jemari hantu itu yang panjang dan pucat merayap turun dari bahu, menyusuri lengan Ba

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status