Beranda / Zaman Kuno / BAYANGAN PENASEHAT AGUNG / 26. Hal Yang Tak Terduga

Share

26. Hal Yang Tak Terduga

Penulis: PengkhayalMalam
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-25 22:53:44

Pagi itu Halim bersiap pergi ke kerajaan seperti biasanya. Namun kali ini langkahnya terasa lebih berat. Ia memandangi Rael yang masih terbaring pucat, sebelum akhirnya berkata pada istrinya dengan suara pelan namun tegas,

“Kau jagalah anak ini, Ris. Dia masih butuh perhatianmu.”

Mak Risa mengangguk. Sejak Rael ditemukan dalam kondisi penuh luka, ia merasa ada kedekatan aneh dengan anak itu—seolah tak tega melepasnya walau sedetik. Ia membetulkan posisi Rael yang gelisah dalam tidurnya, lalu menatap suaminya.

“Aku harap kau bisa mendapatkan kabar yang baik,” ucapnya dengan nada penuh kekhawatiran.

Halim memasang wajah menenangkan, meski hatinya sendiri dipenuhi kegelisahan.

“Aku akan mencari tahu tentang keluarga Devan. Mungkin ini satu-satunya cara untuk memahami apa yang menimpa Rael.”

Mak Risa menahan napas sejenak, lalu tersenyum tipis.

“Baiklah… hati-hati, Lim.”

Setelah Halim pergi, suasana rumah kembali sunyi. Hanya napas Rael dan suara burung di luar jendela yang terdengar. Mak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   87. hari ketika raja jatuh sakit

    Hari ketika Raja jatuh sakit, lonceng istana tidak dibunyikan.Bukan karena ingin menyembunyikan, melainkan karena kebiasaan baru: tidak ada keadaan darurat yang diumumkan sebelum kerangkanya siap. Rael sedang di pelabuhan ketika kabar itu sampai—lewat kurir yang kehabisan napas, bukan dekret.Ia tidak berlari. Ia berjalan.Di ibu kota, Dewan Hukum sudah berkumpul. Wajah-wajah yang dulu mudah terbakar kini lebih terkendali, meski ketegangan tetap terasa. Rael berdiri di belakang lagi, tempat yang paling ia sukai. Seorang hakim tua membuka sidang, membaca kerangka darurat yang telah disahkan berbulan lalu. Tidak ada perebutan kata. Hanya jeda-jeda yang diisi napas panjang.“Pelaksanaan dibatasi tujuh hari,” kata hakim itu. “Ditinjau publik. Diperpanjang hanya dengan alasan tertulis.”Rael mengangguk pelan. Kebiasaan bekerja.---Di luar, kota bergumam. Tidak panik, tetapi waspada. Papan pengumuman dipenuhi penjelasan singkat—apa yang dilakukan, siapa bertanggung jawab, kapan berakhir.

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   86. musim dingin

    Musim dingin turun perlahan, bukan dengan salju tebal, melainkan angin tajam yang memotong percakapan. Di pelabuhan, layar-layar kapal digulung lebih awal. Orang-orang belajar pulang sebelum gelap. Di saat seperti itu, keputusan kecil terasa lebih berat dari biasanya.Rael menerima kabar singkat dari selatan: gagal panen kedua menyusul. Bukan bencana—belum—tetapi cukup untuk menekan cadangan. Yang lebih mengkhawatirkan, muncul suara-suara yang mulai merindukan “tangan kuat”. Kalimatnya sama, nadanya sama. Sejarah jarang kreatif.Rael tidak menulis surat. Ia berangkat.Bukan ke istana. Ia menuju desa-desa di selatan, menempuh jalan berlumpur, menginap di rumah-rumah kayu. Ia mendengarkan—lebih banyak daripada berbicara. Petani menyebutkan benih yang tak cocok. Kepala desa menyebutkan gudang yang terlalu jauh. Pedagang kecil menyebutkan ongkos yang melonjak karena perantara.Di satu desa, seorang perempuan tua bertanya, “Apakah Raja tahu?”Rael menjawab jujur. “Ia tahu sebagian. Kita ak

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   85. tahun yang berakhir tanpa perayaan

    Tahun itu berakhir tanpa perayaan besar. Justru di situlah letak keanehannya—kerajaan bertahan tanpa perlu sorak-sorai. Di pelabuhan kecil, Rael menyadari bahwa ketenangan yang panjang sering kali menandai perubahan yang lebih dalam.Suatu pagi, ia menerima tamu yang tidak ia duga: guru hukum muda yang dulu ia kirimi surat. Wajahnya lebih matang, sorot matanya tegas. “Aku diutus bukan oleh Raja,” katanya, “melainkan oleh Dewan Hukum baru.”Rael mengangkat alis. “Dewan Hukum?”“Kami membentuknya,” jawab sang guru. “Tanpa pengumuman. Tanpa lambang. Untuk menafsirkan aturan—bukan hanya menegakkannya.”Rael tersenyum kecil. “Itu berbahaya.”“Dan perlu,” balasnya. “Kami butuh satu hal darimu.”Rael menuangkan teh. “Aku tidak kembali ke istana.”“Bukan itu,” kata sang guru. “Kami butuh catatanmu.”Rael terdiam. Catatan—bukan arsip resmi, bukan laporan—melainkan lembaran-lembaran berisi kegagalan, kompromi, dan keputusan yang ia ambil dengan tangan gemetar namun kepala dingin. Catatan yang t

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   84. Ingatan lama

    Beberapa bulan kemudian, keseimbangan yang rapuh itu diuji oleh sesuatu yang lebih berbahaya daripada tekanan luar: **ingatan lama**.Sebuah pamflet muncul di pasar-pasar pagi. Kertas murah, tinta pudar, bahasanya sederhana—namun isinya tajam. Bukan tuduhan. Bukan fitnah terang-terangan. Melainkan cerita: tentang masa lalu Rael, tentang asal-usulnya yang bukan bangsawan, tentang keputusan-keputusan “dingin” yang menyelamatkan kas namun menutup bengkel kecil, tentang orang-orang yang pernah kalah agar banyak yang selamat.Orang-orang membacanya, lalu menaruh kembali pamflet itu. Tidak marah. Tidak membela. Mereka mulai **mengingat**.Rael membaca satu salinan, melipatnya rapi. “Ini bukan serangan,” katanya pada kepala pengawal. “Ini pengujian legitimasi.”“Perintah?” tanya pengawal.“Tidak ada penangkapan. Tidak ada bantahan resmi.” Rael menggeleng. “Biarkan orang menilai.”---Di Dewan, beberapa anggota gelisah. “Kita harus menjelaskan!” seru seorang bangsawan.“Penjelasan terdengar s

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   83. Refolusi

    Beberapa minggu berlalu. Istana tampak tenang, terlalu tenang—seperti danau setelah badai, permukaannya rata namun dasarannya masih bergerak. Rael tidak lengah. Ia tahu, kekuasaan yang kehilangan pusat akan mencari jalan baru untuk mengeras.Komisi independen mulai bekerja. Nama-nama lama kembali muncul, bukan dengan teriakan, melainkan dengan tanggal, angka, dan tanda tangan. Banyak yang jatuh pelan—dipindahkan, dipensiunkan, diasingkan ke jabatan tak berpengaruh. Tidak ada kepala dipancung. Rael memastikan itu. Ketakutan yang berlebihan melahirkan dendam; ia butuh kesunyian.Suatu pagi, Raja memanggil Rael ke taman dalam. Angin berdesir di antara pepohonan tua.“Kerajaan berutang padamu,” kata Raja tanpa basa-basi.Rael menunduk. “Kerajaan hanya membayar utangnya sendiri, Yang Mulia.”Raja tersenyum tipis. “Aku ingin kau menjadi Perdana Menteri.”Kata itu menggantung. Rael mengangkat kepala, matanya tenang. “Saya tidak akan menerimanya.”Raja terkejut. “Mengapa?”“Karena satu orang

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   82. Penyelidikan

    Pagi penyelidikan dibuka seperti pesta yang dipaksakan. Aula besar dipenuhi wajah-wajah tersenyum kaku, bangku disusun rapi, panji kerajaan digantung lebih rendah—seolah-olah kerendahan itu bisa menenangkan ketegangan. Pangeran Mahkota duduk di kursi pemimpin sidang, sikapnya anggun, suaranya hangat.“Atas nama rekonsiliasi,” katanya, “kita cari kebenaran bersama.”Rael berdiri di sisi, tidak menentang, tidak mendukung. Ia memilih menjadi bayangan di tepi cahaya.Satu per satu saksi dipanggil. Juru pelabuhan, perwira logistik, kepala gudang. Pangeran bertanya dengan lembut, mengarahkan—cukup halus untuk tampak adil, cukup cerdas untuk menghindari lubang. Beberapa jawaban mengambang. Beberapa berputar. Dewan mengangguk-angguk, lega melihat sidang berjalan “tenang”.Hingga Rael meminta bicara.“Yang Mulia,” katanya sopan, “izinkan saya mengajukan satu saksi tambahan.”Pangeran tersenyum. “Tentu. Transparansi.”Pintu samping terbuka. Seorang pria tua masuk dengan langkah berat—Jenderal H

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status