Home / Zaman Kuno / BAYANGAN PENASEHAT AGUNG / Bab 1 Tertimpa Musibah

Share

BAYANGAN PENASEHAT AGUNG
BAYANGAN PENASEHAT AGUNG
Author: PengkhayalMalam

Bab 1 Tertimpa Musibah

last update publish date: 2025-09-04 21:15:45

"Apa ini... rumah sakit?"

Matanya… terasa aneh. Pandangannya lebih tajam, tapi tubuhnya sangat berat. Napasnya pendek. Jantungnya berdetak cepat seperti habis lari maraton, padahal ia hanya berbaring.

Tapi suara yang keluar bukan suara Raka. Lebih ringan. Lebih muda. Lebih… asing.

Ia mencoba duduk. Tubuhnya gemetar hebat. Sekujur tangan kurus. Terlalu kurus.

Ia menatap ke bawah, dan yang ia lihat adalah tubuh seorang remaja laki-laki dalam pakaian robek, penuh lumpur dan darah kering.

"Apa ini cosplay?"

Tidak. Ini bukan dunia yang ia kenal.

Beberapa menit kemudian, sebuah notifikasi muncul dalam kepalanya. Tapi bukan seperti yang biasa ada di novel-novel isekai. Bukan sistem, bukan panel level-up.

Hanya satu kalimat sederhana—dan tidak membantu:

[Transmigrasi Selesai.]

[Nama: Rael Arven De Lantheim.

Usia: 17 tahun.

Status: Anak buangan.

Nilai: Tidak berguna.]

Satu jam kemudian, Raka—sekarang Rael—sudah duduk di tanah, bersandar pada batang pohon tua, meratapi nasibnya yang baru.

Tidak ada pedang warisan.

Tidak ada sihir tersegel.

Tidak ada artefak kuno.

Yang ada hanya tubuh lemah, ingatan samar tentang masa lalu Rael, dan ejekan keras dari beberapa penjaga desa yang lewat.

"Eh, itu bocah sampah dari keluarga Lantheim."

"Dia masih hidup?"

"Sayang banget. Mati aja belum."

Di dunia asalnya, Raka adalah legenda ruang rapat. Pria tanpa emosi yang bisa menganalisis 3 proyek besar sekaligus sambil mengatur strategi IPO. Tapi di dunia ini?

Ia bahkan tidak bisa berdiri tanpa gemetar.

"Aku transmigrasi," desahnya, menatap ke langit, "Tapi… jadi karakter sialan macam apa ini?"

Tertawa kecil lolos dari bibirnya. Lalu perlahan menjadi tawa getir, tawa gila, tawa patah.

Karena akhirnya, ia paham satu hal. Di dunia ini, ia tidak penting. Ia bukan sang penyelamat. Ia bukan pewaris naga. Ia bukan siapa-siapa.

Dengan kondisi lusuh. Langkahnya pelan tak bersemangat, ia mengingat jalan pulang. Meski ingatanya tak lengkap. Ia mulai menyesuaikan diri.

Rumah itu berdiri di tepi pekarangan yang nyaris ditelan hutan. Dindingnya retak, catnya mengelupas. Beberapa jendela ditambal dengan kain goni. Tak ada pelayan. Tak ada penjaga. Bahkan seekor ayam pun tak sudi tinggal di sana.

Itulah kediaman resmi Rael Arven De Lantheim, anak ketiga dari Viscount Elbern Lantheim.

Bangunan itu berbanding Terbalik dengan bangunan megah nan mewah di seberang. Kondisi yang kontras terlihat jelas. Padahal satu pekarangan.

Anak buangan yang Rael sandang tak main-main. Perbeda perlakuan jelas terlihat. Tubuhnya yang kurus kusam, kulit kali yang mengelupas karena terus berjalan tanpa alas, tubuhnya yang kering kerontan, rambut acak-acakan. lebur terlihat seperti gembel yang sedang kelaparan.

Jelas terasa perutnya kosong, perih menjalar di tubuh membuat Raka sadar jika tubuh yang ia rasuki tidak dalam kondisi yang baik.

Dan sekarang, Raka, pria dewasa dari abad 21, tinggal dalam tubuh bocah malang itu.

Langkahnya tertatih saat memasuki rumah. Tak ada pintu yang layak. Lantai berderit. Debu tebal menyelimuti meja kayu satu-satunya. Di pojok ruangan, tempat tidur jerami sudah berlubang dan berbau busuk. Tempat ini bahkan tidak layak disebut sebagai rumah bangsawan.

“Jadi ini rumahku sekarang,” gumam Raka pelan, duduk di lantai karena tak ada kursi yang layak.

Ia menyentuh kepalanya. Masih terasa ringan. Dunia terasa asing tapi otaknya mulai beradaptasi. Potongan-potongan ingatan Rael muncul, bagaimana ia dibuang ke rumah ini setelah upacara pengukuhan anggota keluarga, saat umur sepuluh tahun. Bagaimana kakak tirinya, Allen, tertawa sambil mengatakan:

“Kau cuma beban. Bahkan pelayan pun lebih berguna darimu.”

Dan sejak itu, ia tinggal di sini sendirian. Malam pun turun. Tanpa lentera. Tanpa makanan. Perutnya kosong sejak pagi.

Raka atau Rael memaksa diri untuk tetap berpikir jernih.

"Oke. Tidak ada cheat. Tidak ada sistem. Tidak ada kekuatan. Tapi aku masih punya satu senjata."

“Otak.”

Ia memeriksa isi rumah. Menemukan sepotong roti kering yang mungkin sudah seminggu. Air hujan tertampung di kendi retak. Kalau bukan karena lapar ia juga enggan memakan makan yang bahkan tak bisa di sebut layak.

Satu suap membuatnya hampir muntah, tapi ia harus bertahan. Otaknya tahu, tanpa makan tubuhnya akan mati.

Selesai makan, kini perutnya sudah lebih baik. rasa perih pun hilang.

Rael ingin membuat daftar tentang dirinya, namun ia tak menemukan apapun di sana. Bagaimana aku bisa membuat strategi.

Kakinya berkeliling menemukan arang yang setidaknya bisa digunakan untuk menulis. Ia mulai membuat daftar di tembok retak rumahnya.

Evaluasi hari pertama :

Kondisi tubuh: Lemah, anemia parah, kemungkinan infeksi.

Lingkungan: Terlantar, tidak aman, tidak higienis.

Status sosial: Bangsawan kelas rendah, reputasi buruk, dianggap beban.

Aset: Pengetahuan modern, pengalaman organisasi, ingatan Rael, kepekaan strategi.

Ancaman: Keluarga sendiri, kelaparan, bandit desa, penyakit.

Rael terdiam menatap sendiri catatanya banyak kelemahan yang harus ia selesaikan. Terutama kondisi tubuh yang jadi penghalang langkahnya.

“Aku butuh rencana. Rencana bertahan hidup.”

Malam yang dingin memperparah kondisinya, rasa kesal menjalar. Dalam sekejap, kondisinya sulit diprediksi. Rael mengumpat.

“Brengsek…”

Tapi itu bukan suara Rael yang bicara. Itu suara Raka, pria dari dunia lama yang kini terjebak dalam tubuh lemah seorang anak buangan.

Tubuh Rael begitu rapuh. Otot-ototnya nyaris tak ada. Tulangnya terasa seperti ranting kering. Setiap gerakan terasa menyiksa. Napasnya pendek, dadanya nyeri, bahkan untuk berdiri butuh perjuangan.

“Ini bukan tubuh manusia, ini bangkai yang belum sempat dikubur…”

Raka mencengkeram sisi ranjang jerami yang busuk. Tangan itu—tangannya sekarang—penuh luka kecil, kasar, dan gemetaran tanpa sebab. Ia pernah begadang tiga hari tanpa tidur untuk menyelesaikan krisis perusahaan dan masih bisa berdiri di depan dewan direksi. Tapi kini?

Naik tangga satu tingkat pun bisa membuatnya pingsan.

Ia menatap langit-langit rumah yang retak-retak dan berbisik kasar, “Kenapa aku masuk ke tubuh seperti ini? Apa ini lelucon reinkarnasi? Atau kutukan? Jika tujuannya memberiku kesempatan kedua, kenapa tidak dengan kondisi layak?”

Ia menggertakkan gigi. Keheningan malam tak memberikan jawaban.

Namun dari dalam dirinya, suara lain—suara Raka yang lebih dalam dan tenang—berbisik:

“Kalau kau marah karena tubuh ini lemah, buktikan bahwa kekuatan bukan satu-satunya cara untuk bertahan.”

“Kalau kau jijik pada tubuh ini, maka buktikan bahwa otak bisa berdiri saat tubuh tidak mampu.”

Raka terdiam.

Lalu perlahan, napasnya mulai tenang.

Tangannya menggenggam erat. Tidak lagi karena marah, tapi karena tekad.

“Baik. Kalau dunia mau bermain kotor, aku juga bisa bermain kotor. Tapi kali ini… dengan otak.”

Keesokan paginya, ia bangun dengan tubuh menggigil dan suara seseorang yang menendang pintu rumahnya.

"Hei, Rael! Bangun, dasar sampah! Ada perintah dari keluarga!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   97. kota kecil

    Cerita itu menyebar bukan seperti api, melainkan seperti benih yang menempel di sepatu orang-orang yang lewat. Tidak semua tumbuh. Tidak semua perlu tumbuh. Tapi beberapa jatuh di tanah yang cukup retak untuk memberi ruang.Di wilayah barat, sebuah kota kecil mulai meniru satu kebiasaan sederhana: setiap keputusan besar ditulis di dinding umum selama tujuh hari sebelum dijalankan. Orang boleh mencoret, menambah, atau menulis ketakutannya sendiri. Tidak ada voting. Hanya waktu.Di selatan, pasar mingguan menambahkan satu jam “diam bersama”. Lapak tetap buka, tapi transaksi dihentikan. Orang duduk, minum, menatap. Awalnya canggung. Lalu menjadi kebutuhan.Tak satu pun menyebut nama Rael.Rael sendiri berjalan terus. Ia bekerja seadanya, membantu memperbaiki jembatan kayu, mengajari membaca bagi yang meminta, lalu pergi sebelum menjadi pusat. Ia belajar seni baru: **meninggalkan sebelum ditinggalkan**.Suatu sore, ia bertemu seorang pemuda yang membawa buku catatan lusuh.“Aku dengar kam

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   96. kekosongan

    Waktu berlalu dengan cara yang tak bisa dihitung dengan kalender. Ia terasa di bahu yang mulai terbiasa menanggung keputusan, di mata yang tak lagi kaget saat sesuatu gagal.Suatu pagi, papan-papan di taman tidak bertambah. Untuk pertama kalinya sejak lama, tak ada tulisan baru. Orang-orang tetap datang, membaca yang lama, berdiri sebentar, lalu pergi. Seolah semua yang perlu dikatakan hari itu sudah ada.Rael menyadari keheningan itu bukan kekosongan. Ia adalah jeda.Jeda itu pecah oleh kabar kecil namun tajam: seorang buruh pelabuhan ditangkap oleh penjaga lama—penjaga yang seharusnya sudah tak punya wewenang. Alasannya sederhana: melanggar aturan lama yang tak pernah dicabut secara resmi.Orang-orang marah. Bukan karena satu orang ditahan, tapi karena kebiasaan lama mencoba kembali lewat celah hukum yang lupa dirapikan.Rapat kembali digelar. Suaranya lebih berat dari sebelumnya.“Kita terlalu sibuk bertanya,” kata seseorang, “sampai lupa mengikat hal-hal dasar.”“Kalau kita mulai

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   95. musim

    Musim berganti tanpa penanda resmi. Tidak ada festival besar, tidak ada pengumuman kemenangan. Yang ada hanya perubahan kecil yang terasa di tubuh: langkah orang-orang tak lagi tergesa setiap pagi, percakapan tak selalu berakhir dengan keluhan, dan diam tidak lagi selalu berarti takut.Rael mulai jarang terlihat di rapat. Bukan karena disingkirkan, melainkan karena rapat-rapat itu tetap berjalan tanpa menunggunya. Ia memilih berjalan menyusuri kota, mendengar dari jarak dekat. Dari warung kopi, dari dermaga kecil, dari bangku-bangku kayu yang mulai lapuk.Di sebuah sudut pelabuhan, ia mendengar dua buruh muda berbincang.“Kalau sistem lama balik lagi, kamu bakal ikut?” tanya yang satu.Yang lain menggeleng. “Enggak. Bukan karena sistemnya jelek. Tapi sekarang aku tahu… ada pilihan. Dan begitu tahu itu, susah pura-pura lupa.”Rael melangkah pergi sebelum mereka menyadari kehadirannya. Kalimat itu lebih berat daripada pujian mana pun.---Suatu malam, Ira menemukannya duduk sendirian di

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   94. mengakhiri

    Waktu berlalu lagi kali ini tanpa saksi yang sadar sedang menyaksikannya.Buku kecil yang ditinggalkan Mira berpindah tangan. Seorang penjaga taman membacanya, lalu meletakkannya kembali. Seorang pelajar membawanya pulang semalam, menyalin satu kalimat, lalu mengembalikannya ke bangku. Tidak ada yang mengklaimnya. Tidak ada yang menjadikannya pegangan resmi. Buku itu hidup seperti desas-desus yang baik: cukup dekat untuk memengaruhi, cukup jauh untuk tidak mengikat.Di wilayah perlintasan itu, satu kebiasaan baru tumbuh diam diam: ** mengakhiri sesuatu dengan layak **.Program yang tak lagi relevan ditutup dengan penjelasan singkat. Proyek yang usang dilepas tanpa mencari kambing hitam. Bahkan jabatan jabatan lama mulai memiliki tanggal pensiun yang jelas bukan karena gagal, melainkan karena waktunya selesai. Orang-orang belajar merayakan penutupan seperti mereka merayakan pembukaan.Suatu hari, sebuah rapat dibuka dengan kalimat yang tak biasa:“Agenda hari ini hanya satu apa yang ak

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   93. waktu

    Waktu berjalan, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang itu, tidak ada yang merasa perlu mencatatnya.Tidak ada laporan tahunan. Tidak ada papan baru. Tidak ada arsip tambahan. Bukan karena lupa, melainkan karena semua orang sedang sibuk **melakukan hal yang tepat tanpa menunggu bentuknya**.Itulah masa paling berbahaya.Ketika refleks hidup, orang mudah percaya ia akan hidup selamanya.Kesalahan kecil muncul lebih dulu. Sebuah keputusan lokal diambil terlalu cepat. Tidak jahat, hanya tergesa. Dampaknya ringan, tapi nyata. Orang-orang memperbaikinya bersama, tertawa kecil, lalu melanjutkan hari. Tidak ada evaluasi. Tidak ada peninjauan ulang.“Tidak apa-apa,” kata banyak orang. “Kita sudah tahu caranya.”Mira mendengar kalimat itu terlalu sering.Ia tidak menegur. Ia menunggu.---Kesalahan berikutnya tidak sempat ditertawakan.Distribusi pangan ke wilayah utara terlambat beberapa hari karena asumsi lama yang tak lagi diperiksa. Tidak ada kelaparan, tapi cukup untuk membuat or

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   92. Pertanyaan

    Suatu malam, pertanyaan itu kembali berubah bentuk.Bukan lagi *siapa yang berubah* atau *siapa yang terluka*,melainkan, *siapa yang tidak terdengar?*Pertanyaan itu muncul bukan di rapat, melainkan di lorong sempit pusat logistik baru—tempat para pekerja berganti sif malam. Seorang buruh angkut tua berkata lirih pada Mira, “Kami selalu ada di daftar dampak. Tapi jarang ada di daftar suara.”Kalimat itu tidak menuduh. Justru itulah yang membuatnya berat.Mira membawa kalimat itu ke rapat berikutnya. Ia menuliskannya di papan tanpa nama.**Siapa yang tidak terdengar?**Awalnya, tak ada yang menjawab. Lalu satu orang menyebut, “pekerja kontrak.” Yang lain menambah, “desa kecil di hulu.” Seorang magang berkata pelan, “orang yang tidak bisa membaca papan pengumuman.”Daftar itu tumbuh—tidak rapi, tidak lengkap, tapi nyata.---Perubahan yang menyusul tidak spektakuler. Tidak ada lembaga baru. Tidak ada undang-undang panjang. Hanya satu kebiasaan tambahan: sebelum keputusan besar, satu ku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status