LOGINSuasana ruang tamu belum benar-benar pulih setelah pertanyaan Anjani dilontarkan.
"...apa yang akan kau pertaruhkan?" Kalimat itu masih menggantung di udara. Jodi yang biasanya selalu punya jawaban untuk segala hal justru terdiam beberapa detik. Beberapa detik yang terasa panjang. Rahangnya bergerak pelan. Matanya menyipit ke arah Anjani. Lalu ke arah Bara. Seolah-olah ia sedang berusaha memahami kenapa wanita yang selama ini selalu diam tiba-tiba berani berdiri di hadapannya. "Kenapa?" tanya Jodi akhirnya sambil tertawa kecil. "Kau takut suami barumu kalah?" Nada suaranya santai. Tapi ada sesuatu yang keras di balik senyum itu. Anjani tidak menunduk seperti biasanya. Ia tetap menatap Jodi. "Aku hanya tidak suka melihat orang yang terlalu yakin sebelum menang," jawab Anjani dengan tenang. Beberapa kerabat saling pandang. Jodi langsung tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Menarik." Ia mengangguk pelan. "Lima tahun menikah denganku, baru sekarang kau berani bicara seperti itu." Jari-jari Anjani mengepal di balik lengan bajunya. Namun suaranya tetap stabil. "Mungkin karena baru sekarang aku sadar diam tidak selalu menyelesaikan masalah." Tatapan Jodi berubah dingin. Untuk sesaat suasana terasa menyesakkan. Untungnya Tuan Braja berdiri dari kursinya. "Cukup." Suara lelaki tua itu memotong ketegangan. "Kita tunggu kebenarannya." Tidak ada yang membantah. Satu per satu orang mulai meninggalkan ruangan. Namun sebelum pergi, Jodi sengaja menyenggol bahu Bara cukup keras. Tidak sampai membuatnya jatuh. Tapi cukup jelas untuk menunjukkan penghinaan. "Jangan terlalu percaya diri," ucap Jodi sambil mendekatkan wajahnya. "Kalau semua ini ternyata salah, kau akan keluar dari rumah ini seperti anjing." Lalu ia pergi. Meninggalkan aroma parfum mahal dan tatapan penuh ejekan. Bara berdiri diam. Beberapa tahun lalu ucapan seperti itu mungkin akan memancing emosinya. Sekarang tidak. Yang mengganggunya justru hal lain. Kenapa Anjani membelanya? Malam turun perlahan. Langit di luar terlihat mendung. Angin dingin masuk dari jendela koridor lantai dua. Bara berdiri di balkon kecil dekat kamarnya. Map hitam masih berada di tangannya. Sudah hampir satu jam ia membacanya. Namun semakin dibaca, semakin banyak pertanyaan muncul. Arthur. Nama itu terasa asing. Terlalu besar. Terlalu jauh dari hidupnya. Suara pintu geser terdengar pelan. Bara menoleh. Anjani keluar dari kamar mereka. Wanita itu membawa dua cangkir. Aroma teh hangat segera menyebar bersama embusan angin malam. "Aku lihat lampumu masih menyala," ucap Anjani sambil menyerahkan salah satu cangkir. Bara menerima cangkir itu. Hangatnya langsung terasa di telapak tangannya. "Terima kasih." Anjani mengangguk lalu berdiri di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Cukup untuk mendengar suara napas satu sama lain. Beberapa saat mereka hanya memandangi halaman belakang rumah. Lampu taman memantulkan cahaya kekuningan di antara pepohonan. "Mereka semua sedang membicarakanmu," ucap Anjani pelan. Bara tersenyum tipis. "Aku tahu." "Sebagian percaya." "Sebagian tidak." Anjani mengangguk. Bara menyesap tehnya. "Lalu kau?" Pertanyaan itu membuat Anjani menoleh. Tatapan mereka bertemu sesaat. "Aku percaya." Jawaban itu datang begitu saja. Tanpa ragu. Tanpa jeda. Justru itu yang membuat Bara terdiam. "Kenapa?" tanya Bara. Anjani memalingkan wajah ke depan lagi. Angin malam menggerakkan ujung cadarnya. "Karena aku pernah hidup bertahun-tahun bersama orang yang selalu berbohong." Suara Anjani terdengar tenang. "Tapi aku tidak pernah merasa kau berbohong." Bara tidak langsung menjawab. Ada sesuatu yang aneh di dadanya. Perasaan kecil yang sulit dijelaskan. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak ada orang yang mempercayainya tanpa syarat. Keesokan paginya suasana rumah kembali ramai. Tuan Braja menerima tamu bisnis. Beberapa pengusaha lokal mulai berdatangan. Mobil-mobil mewah berjajar di halaman depan. Bara sebenarnya tidak berniat ikut campur. Ia hanya sedang membantu pelayan memindahkan beberapa kursi ketika suara Jodi terdengar. "Lebih cepat sedikit." Nada suaranya keras. Bara menoleh. Jodi berdiri di teras depan bersama beberapa tamu. Begitu melihat Bara, senyum sinis langsung muncul. "Nah." Jodi menunjuk tumpukan kursi. "Kebetulan ada yang terbiasa kerja kasar." Beberapa tamu ikut melihat. Salah satu dari mereka bahkan tersenyum tipis. Jodi melangkah mendekat. "Lumayan kan?" Ia menepuk pundak Bara. "Daripada sibuk membayangkan diri jadi pewaris." Tangan Jodi menekan pundaknya sedikit lebih keras. "Setidaknya masih ada pekerjaan yang sesuai kemampuanmu." Bara menatap pria itu. Tenang. Terlalu tenang. Dan ketenangan itu justru membuat Jodi semakin kesal. "Kenapa diam?" tanya Jodi. Bara meletakkan kursi terakhir. Lalu menatap lurus ke matanya. "Karena orang yang benar-benar kuat biasanya tidak perlu mengingatkan semua orang bahwa dirinya kuat." Senyum di wajah Jodi langsung membeku. Beberapa tamu saling pandang. Salah satu dari mereka bahkan terlihat menahan senyum. Jodi menarik napas panjang. Urat di lehernya mulai terlihat. Namun sebelum ia sempat membalas, suara langkah cepat terdengar dari arah halaman. Seorang satpam berlari mendekat. Wajahnya terlihat panik. "Tuan Jodi!" Semua orang menoleh. "Ada rombongan tamu datang." Jodi mengernyit. "Tamu siapa?" Satpam itu menelan ludah. "Saya tidak tahu." "Tapi..." Pria itu menunjuk gerbang utama. "Mobil mereka memenuhi jalan depan." Jodi dan Tuan Braja langsung menoleh bersamaan. Di kejauhan terlihat iring-iringan mobil hitam memasuki area perumahan. Satu. Dua. Tiga. Empat. Jumlahnya terus bertambah. Semua menggunakan plat khusus. Dan semuanya bergerak menuju rumah keluarga Braja. Jantung beberapa orang mulai berdetak lebih cepat. Karena bahkan dari jauh saja, semua bisa melihat satu hal. Mobil-mobil itu bukan milik orang biasa. Sementara itu, Bara berdiri memandangi iring-iringan tersebut. Entah kenapa. Ia merasa pernah melihat lambang kecil berwarna emas yang terpasang di bagian depan salah satu mobil. Lambang yang sama persis... dengan simbol yang tercetak pada map hitam keluarga Arthur. Bersambung,ya choey!Bara memutar gelang perak di telapak tangannya. Logam dingin itu terasa berat, seolah menyerap seluruh keraguan yang sempat bertahta di kepalanya. Ia menarik napas dalam, meresapi aroma tanah basah di halaman rumah yang selama ini menjadi penjaranya."Saya akan ikut," ucap Bara. Suaranya rendah, namun tiap katanya mendarat dengan telak di udara yang sunyi. "Bukan karena harta. Saya hanya ingin tahu siapa diri saya yang sebenarnya."Jodi yang berdiri tak jauh dari sana mematung. Warna wajahnya luntur seketika, menyisakan rona pucat pasi. Tangannya yang terkepal di samping tubuh mulai bergetar hebat. Ia menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya tercekat seolah ada sesuatu yang mengganjal di sana.Di sisi lain, Helena terhuyung mundur. Ia harus mencengkeram tiang teras dengan jemari yang memutih demi menjaga keseimbangan. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya memburu tak beraturan.Roland tidak membuang waktu. Ia menundukkan kepala dalam-dalam. Di belakangnya, barisan pria
Keheningan di halaman depan kediaman keluarga Braja terasa mencekik. Tidak ada yang berani berkedip. Bahkan embusan angin seolah enggan melintasi area itu. Rombongan pria berjas hitam itu masih membungkuk dengan sempurna, menunggu sebuah izin yang tak kunjung datang.Bara merasa dadanya sesak. Ketegangan ini jauh melampaui apa pun yang pernah ia alami selama hidupnya sebagai orang biasa. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia memberanikan diri untuk bersuara."Pak, berdirilah. Saya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi," ucap Bara dengan suara parau dan nada yang tetap rendah hati. Matanya menatap Roland dengan penuh kebingungan.Pria paruh baya itu akhirnya menegakkan tubuh. Wajahnya yang tegar menunjukkan garis-garis kedewasaan dan wibawa yang luar biasa. Ia menatap Bara dengan sorot mata yang penuh penghormatan."Perkenalkan, Tuan Muda. Saya Roland Arthur, kepala pengurus keluarga Arthur," ucap Roland dengan nada tenang namun memiliki daya tekan yang kuat. Postur t
Suasana di halaman depan kediaman keluarga Braja mendadak membeku. Debu halus menari di udara saat deretan sedan mewah hitam berhenti dengan presisi sempurna.Pintu-pintu mobil terbuka serempak. Para pria berjas rapi melangkah keluar dengan ekspresi sedingin es, menciptakan aura intimidasi yang menyergap siapa pun di sana.Jodi, yang sedetik lalu masih meluapkan amarah, seketika membatu. Wajahnya yang memerah padam kini berubah pucat pasi. Ia mengenali lambang itu. Naga emas yang terukir di bros jas pria yang memimpin rombongan tersebut adalah simbol keluarga Arthur, raksasa bisnis internasional yang pengaruhnya melintasi batas negara.Tanpa memedulikan sekitarnya, Jodi melangkah maju dengan terburu-buru. Ia merapikan jasnya, memaksakan senyum paling ramah, dan bersiap menyambut sang tamu dengan sikap paling hormat."Selamat datang! Sebuah kehormatan bagi keluarga Braja atas kunjungan Anda," ucap Jodi lantang sambil mengulurkan tangan.Namun, pria itu tidak menoleh sedikit pun. S
Suasana ruang tamu belum benar-benar pulih setelah pertanyaan Anjani dilontarkan."...apa yang akan kau pertaruhkan?"Kalimat itu masih menggantung di udara.Jodi yang biasanya selalu punya jawaban untuk segala hal justru terdiam beberapa detik.Beberapa detik yang terasa panjang.Rahangnya bergerak pelan.Matanya menyipit ke arah Anjani.Lalu ke arah Bara.Seolah-olah ia sedang berusaha memahami kenapa wanita yang selama ini selalu diam tiba-tiba berani berdiri di hadapannya."Kenapa?" tanya Jodi akhirnya sambil tertawa kecil. "Kau takut suami barumu kalah?"Nada suaranya santai.Tapi ada sesuatu yang keras di balik senyum itu.Anjani tidak menunduk seperti biasanya.Ia tetap menatap Jodi."Aku hanya tidak suka melihat orang yang terlalu yakin sebelum menang," jawab Anjani dengan tenang.Beberapa kerabat saling pandang.Jodi langsung tersenyum tipis.Senyum yang tidak sampai ke matanya."Menarik."Ia mengangguk pelan."Lima tahun menikah denganku, baru sekarang kau berani bicara sepe
Ruang tamu keluarga Braja masih dipenuhi suasana yang tidak biasa meski pertemuan itu telah berakhir beberapa menit lalu. Orang-orang memang mulai berdiri dari kursinya. Namun bisikan mereka justru semakin ramai. Semua membicarakan hal yang sama. Bara Arthur. Nama yang bahkan terdengar asing bagi Bara sendiri. Bara berjalan keluar dari ruangan dengan map hitam masih berada di tangannya. Kepalanya terasa penuh. Terlalu banyak informasi masuk dalam waktu bersamaan. Namun sebelum ia sempat mencapai tangga menuju lantai dua, sebuah suara menghentikannya. "Bara," panggil Helend dengan suara pelan. Bara menoleh. Helend berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wanita itu terlihat ragu-ragu. Sejak pertukaran pasangan terjadi, mereka hampir tidak pernah berbicara berdua seperti ini. "Ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Bara sambil menatap Helend. Helend menatap map hitam di tangan Bara sebelum akhirnya bertanya, "Semua itu... benar?" Bara menghela napas pelan. "Aku bahkan tidak t
Pagi hari di rumah keluarga Braja terasa berbeda. Tidak ada lagi suasana hangat yang biasa dipaksakan muncul saat sarapan keluarga. Sejak pertukaran pasangan terjadi, rumah besar itu justru terasa seperti kumpulan orang asing yang tinggal di bawah atap yang sama. Bara keluar dari kamar lebih awal. Semalaman ia tidak benar-benar tidur nyenyak. Selain masih memikirkan pesan misterius tentang keluarga Arthur, pikirannya juga terus kembali pada kejadian semalam saat Helend melihat wajah Anjani dan menyadari bahwa keluarganya selama ini menyimpan kebohongan besar. Saat melangkah melewati koridor lantai dua, langkah Bara perlahan terhenti. Tidak jauh di depannya berdiri Helend yang tampaknya juga baru keluar dari kamar. Wanita itu memegang secangkir teh hangat, namun terlihat tidak benar-benar menikmati minumannya. Untuk beberapa saat mereka hanya saling memandang. Hubungan tiga tahun tidak mungkin menghilang begitu saja hanya karena satu keputusan keluarga. "Apa kabar?" tanya Helend de







