Share

Bab 8

Author: Chana Lee
last update publish date: 2026-07-08 09:55:08

Suasana di halaman depan kediaman keluarga Braja mendadak membeku. Debu halus menari di udara saat deretan sedan mewah hitam berhenti dengan presisi sempurna.

​Pintu-pintu mobil terbuka serempak. Para pria berjas rapi melangkah keluar dengan ekspresi sedingin es, menciptakan aura intimidasi yang menyergap siapa pun di sana.

​Jodi, yang sedetik lalu masih meluapkan amarah, seketika membatu. Wajahnya yang memerah padam kini berubah pucat pasi. Ia mengenali lambang itu. Naga emas yang terukir di bros jas pria yang memimpin rombongan tersebut adalah simbol keluarga Arthur, raksasa bisnis internasional yang pengaruhnya melintasi batas negara.

​Tanpa memedulikan sekitarnya, Jodi melangkah maju dengan terburu-buru. Ia merapikan jasnya, memaksakan senyum paling ramah, dan bersiap menyambut sang tamu dengan sikap paling hormat.

​"Selamat datang! Sebuah kehormatan bagi keluarga Braja atas kunjungan Anda," ucap Jodi lantang sambil mengulurkan tangan.

​Namun, pria itu tidak menoleh sedikit pun. Seolah Jodi hanyalah tiang listrik yang menghalangi jalan, ia melangkah melewatinya tanpa sedikit pun memberikan kontak mata.

​Tuan Braja mematung. Para kerabat yang lain mendadak bisu. Mereka menyaksikan dengan mulut ternganga saat rombongan itu terus melangkah melewati Tuan Braja dan para tamu terhormat lainnya.

​Langkah mereka terhenti tepat di hadapan Bara.

​Jodi masih berdiri mematung. Tangannya yang sempat terulur kini menggantung sia-sia di udara. Rasa dipermalukan menghantamnya telak di hadapan semua orang.

​Pria yang memimpin rombongan itu adalah sosok paruh baya dengan aura dominan. Ia menatap Bara tajam dari ujung kaki hingga ujung kepala. Mata pria itu berkaca-kaca, seolah sedang menatap sesuatu yang sangat berharga yang telah lama hilang.

​Suasana hening total. Angin sepoi-sepoi pun seakan enggan berembus.

​Pria itu melangkah maju. Ia mengunci tatapan pada wajah Bara, seolah takut sosok itu akan menguap jika ia berkedip. Perlahan, tangannya yang bergetar merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan selembar foto usang.

​Foto seorang balita.

​Ia mengangkat foto itu sejajar dengan wajah Bara. Sorot matanya berpindah dari foto ke wajah pemuda di hadapannya. Mata. Hidung. Garis rahang. Hingga tanda lahir kecil di dekat leher yang selama ini hanya diketahui oleh keluarga Arthur.

​Napas pria itu memburu. Suaranya pecah saat ia berbisik, "Tidak mungkin aku keliru."

​"Akhirnya kami menemukan Anda, Tuan Muda."

​Pria itu membungkuk dalam-dalam. "Hormat kami, Tuan Muda."

"Selama dua puluh tahun, keluarga Arthur tidak pernah berhenti mencari Anda."lanjutnya dengan suara yang masih bergetar hebat.

​Belasan pria berjas di belakangnya ikut membungkuk serempak dengan sudut kemiringan yang sempurna. Sebuah penghormatan absolut yang hanya ditujukan bagi mereka yang memiliki derajat tertinggi.

​Keheningan itu terasa menyesakkan.

​Tak seorang pun berani bergerak. Bahkan para asisten rumah tangga yang sejak tadi sibuk melayani tamu kini menghentikan pekerjaan mereka. Semua mata tertuju pada Bara.

​"Bu, itu benar kan?" bisik seorang asisten rumah tangga kepada rekannya sambil menunjuk Bara. "Pak Bara yang selama ini membantu kita mengangkat galon?"

​"Iya," jawab rekannya dengan suara gemetar. "Aku tidak pernah menyangka."

​Di dekat pintu masuk, dua satpam rumah saling berpandangan dengan wajah pucat.

​"Itu Bara, kan?" tanya si satpam muda.

​Satpam senior mengangguk pelan. "Dia selalu menyapa kita setiap pergantian sif. Jika benar dia adalah Tuan Muda keluarga Arthur, kenapa selama ini ia memilih hidup seperti orang biasa?"

​Helena masih menutup mulutnya rapat. Pandangannya tak lepas dari Bara.

​"Aku menghina suamiku sendiri," gumamnya nyaris tak terdengar. Wajahnya kehilangan warna, digantikan oleh gurat penyesalan yang mendalam.

​Di sampingnya, Anjani menarik napas panjang.

​"Pantas saja. Entah kenapa, sejak pertama kali bertemu, aku selalu merasa Bara berbeda. Ada sesuatu dalam dirinya yang tidak pernah bisa dijelaskan."

​Helena menoleh cepat, suaranya bergetar. "Kau merasa begitu? Kenapa aku tidak pernah menyadarinya?"

​Anjani menggeleng pelan, matanya tak lepas dari Bara. "Karena kalian semua selalu terlalu cepat menghakiminya."

​Beberapa langkah dari mereka, Tuan Braja berdiri mematung.

​"Keluarga Arthur," gumamnya pelan. "Mereka bahkan tidak perlu menghormat kepada pejabat negara mana pun."

​Ia menelan ludah, dadanya sesak. "Apa selama ini aku telah salah menilainya?"

​Sementara itu, Jodi mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Amarah, kebingungan, dan penyangkalan beradu di dalam benaknya.

​Tidak mungkin, desisnya dalam hati. Dia hanya satpam. Dia tidak mungkin lebih tinggi dariku.

​Namun, realita tidak bisa dibantah. Seluruh rombongan keluarga Arthur masih membungkuk di hadapan Bara.

​Untuk pertama kalinya, orang-orang yang selama ini memandang Bara sebelah mata mulai mempertanyakan siapa sebenarnya pria yang telah mereka hina selama ini.

​Bara mundur satu langkah. Dadanya naik-turun tak beraturan. Pandangannya menyapu pria paruh baya itu, belasan pria berjas di belakangnya, hingga orang-orang yang menatapnya dengan keterkejutan luar biasa. Jantungnya berdetak begitu keras hingga telinganya berdenging.

Semua yang terjadi di depan matanya terasa terlalu mustahil untuk dipercaya. Selama dua puluh tahun, ia hanyalah satpam yang terbiasa dipandang rendah.

​Bara menelan ludah, tenggorokannya kering.

​"Maaf, Pak," ucapnya dengan suara serak. Ia menggeleng pelan. "Anda pasti salah orang. Aku bukan Tuan Muda. Aku hanya seorang satpam."

​Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Namun, jauh di lubuk hatinya, untuk pertama kalinya dalam hidup, Bara mulai mempertanyakan satu hal yang tak pernah berani ia pikirkan sebelumnya:

​Siapa sebenarnya diriku?

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 10

    Bara memutar gelang perak di telapak tangannya. Logam dingin itu terasa berat, seolah menyerap seluruh keraguan yang sempat bertahta di kepalanya. Ia menarik napas dalam, meresapi aroma tanah basah di halaman rumah yang selama ini menjadi penjaranya.​"Saya akan ikut," ucap Bara. Suaranya rendah, namun tiap katanya mendarat dengan telak di udara yang sunyi. "Bukan karena harta. Saya hanya ingin tahu siapa diri saya yang sebenarnya."​Jodi yang berdiri tak jauh dari sana mematung. Warna wajahnya luntur seketika, menyisakan rona pucat pasi. Tangannya yang terkepal di samping tubuh mulai bergetar hebat. Ia menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya tercekat seolah ada sesuatu yang mengganjal di sana.​Di sisi lain, Helena terhuyung mundur. Ia harus mencengkeram tiang teras dengan jemari yang memutih demi menjaga keseimbangan. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya memburu tak beraturan.​Roland tidak membuang waktu. Ia menundukkan kepala dalam-dalam. Di belakangnya, barisan pria

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 9

    Keheningan di halaman depan kediaman keluarga Braja terasa mencekik. Tidak ada yang berani berkedip. Bahkan embusan angin seolah enggan melintasi area itu. Rombongan pria berjas hitam itu masih membungkuk dengan sempurna, menunggu sebuah izin yang tak kunjung datang.​Bara merasa dadanya sesak. Ketegangan ini jauh melampaui apa pun yang pernah ia alami selama hidupnya sebagai orang biasa. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia memberanikan diri untuk bersuara.​"Pak, berdirilah. Saya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi," ucap Bara dengan suara parau dan nada yang tetap rendah hati. Matanya menatap Roland dengan penuh kebingungan.​Pria paruh baya itu akhirnya menegakkan tubuh. Wajahnya yang tegar menunjukkan garis-garis kedewasaan dan wibawa yang luar biasa. Ia menatap Bara dengan sorot mata yang penuh penghormatan.​"Perkenalkan, Tuan Muda. Saya Roland Arthur, kepala pengurus keluarga Arthur," ucap Roland dengan nada tenang namun memiliki daya tekan yang kuat. Postur t

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 8

    Suasana di halaman depan kediaman keluarga Braja mendadak membeku. Debu halus menari di udara saat deretan sedan mewah hitam berhenti dengan presisi sempurna.​Pintu-pintu mobil terbuka serempak. Para pria berjas rapi melangkah keluar dengan ekspresi sedingin es, menciptakan aura intimidasi yang menyergap siapa pun di sana.​Jodi, yang sedetik lalu masih meluapkan amarah, seketika membatu. Wajahnya yang memerah padam kini berubah pucat pasi. Ia mengenali lambang itu. Naga emas yang terukir di bros jas pria yang memimpin rombongan tersebut adalah simbol keluarga Arthur, raksasa bisnis internasional yang pengaruhnya melintasi batas negara.​Tanpa memedulikan sekitarnya, Jodi melangkah maju dengan terburu-buru. Ia merapikan jasnya, memaksakan senyum paling ramah, dan bersiap menyambut sang tamu dengan sikap paling hormat.​"Selamat datang! Sebuah kehormatan bagi keluarga Braja atas kunjungan Anda," ucap Jodi lantang sambil mengulurkan tangan.​Namun, pria itu tidak menoleh sedikit pun. S

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 7

    Suasana ruang tamu belum benar-benar pulih setelah pertanyaan Anjani dilontarkan."...apa yang akan kau pertaruhkan?"Kalimat itu masih menggantung di udara.Jodi yang biasanya selalu punya jawaban untuk segala hal justru terdiam beberapa detik.Beberapa detik yang terasa panjang.Rahangnya bergerak pelan.Matanya menyipit ke arah Anjani.Lalu ke arah Bara.Seolah-olah ia sedang berusaha memahami kenapa wanita yang selama ini selalu diam tiba-tiba berani berdiri di hadapannya."Kenapa?" tanya Jodi akhirnya sambil tertawa kecil. "Kau takut suami barumu kalah?"Nada suaranya santai.Tapi ada sesuatu yang keras di balik senyum itu.Anjani tidak menunduk seperti biasanya.Ia tetap menatap Jodi."Aku hanya tidak suka melihat orang yang terlalu yakin sebelum menang," jawab Anjani dengan tenang.Beberapa kerabat saling pandang.Jodi langsung tersenyum tipis.Senyum yang tidak sampai ke matanya."Menarik."Ia mengangguk pelan."Lima tahun menikah denganku, baru sekarang kau berani bicara sepe

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 6

    Ruang tamu keluarga Braja masih dipenuhi suasana yang tidak biasa meski pertemuan itu telah berakhir beberapa menit lalu. Orang-orang memang mulai berdiri dari kursinya. Namun bisikan mereka justru semakin ramai. Semua membicarakan hal yang sama. Bara Arthur. Nama yang bahkan terdengar asing bagi Bara sendiri. Bara berjalan keluar dari ruangan dengan map hitam masih berada di tangannya. Kepalanya terasa penuh. Terlalu banyak informasi masuk dalam waktu bersamaan. Namun sebelum ia sempat mencapai tangga menuju lantai dua, sebuah suara menghentikannya. "Bara," panggil Helend dengan suara pelan. Bara menoleh. Helend berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wanita itu terlihat ragu-ragu. Sejak pertukaran pasangan terjadi, mereka hampir tidak pernah berbicara berdua seperti ini. "Ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Bara sambil menatap Helend. Helend menatap map hitam di tangan Bara sebelum akhirnya bertanya, "Semua itu... benar?" Bara menghela napas pelan. "Aku bahkan tidak t

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 5.Menantu Miskin sang PEWARIS

    Pagi hari di rumah keluarga Braja terasa berbeda. Tidak ada lagi suasana hangat yang biasa dipaksakan muncul saat sarapan keluarga. Sejak pertukaran pasangan terjadi, rumah besar itu justru terasa seperti kumpulan orang asing yang tinggal di bawah atap yang sama. Bara keluar dari kamar lebih awal. Semalaman ia tidak benar-benar tidur nyenyak. Selain masih memikirkan pesan misterius tentang keluarga Arthur, pikirannya juga terus kembali pada kejadian semalam saat Helend melihat wajah Anjani dan menyadari bahwa keluarganya selama ini menyimpan kebohongan besar. Saat melangkah melewati koridor lantai dua, langkah Bara perlahan terhenti. Tidak jauh di depannya berdiri Helend yang tampaknya juga baru keluar dari kamar. Wanita itu memegang secangkir teh hangat, namun terlihat tidak benar-benar menikmati minumannya. Untuk beberapa saat mereka hanya saling memandang. Hubungan tiga tahun tidak mungkin menghilang begitu saja hanya karena satu keputusan keluarga. "Apa kabar?" tanya Helend de

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status