Share

Bab 9

Author: Chana Lee
last update publish date: 2026-07-08 10:36:32

Keheningan di halaman depan kediaman keluarga Braja terasa mencekik. Tidak ada yang berani berkedip. Bahkan embusan angin seolah enggan melintasi area itu. Rombongan pria berjas hitam itu masih membungkuk dengan sempurna, menunggu sebuah izin yang tak kunjung datang.

​Bara merasa dadanya sesak. Ketegangan ini jauh melampaui apa pun yang pernah ia alami selama hidupnya sebagai orang biasa. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia memberanikan diri untuk bersuara.

​"Pak, berdirilah. Saya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi," ucap Bara dengan suara parau dan nada yang tetap rendah hati. Matanya menatap Roland dengan penuh kebingungan.

​Pria paruh baya itu akhirnya menegakkan tubuh. Wajahnya yang tegar menunjukkan garis-garis kedewasaan dan wibawa yang luar biasa. Ia menatap Bara dengan sorot mata yang penuh penghormatan.

​"Perkenalkan, Tuan Muda. Saya Roland Arthur, kepala pengurus keluarga Arthur," ucap Roland dengan nada tenang namun memiliki daya tekan yang kuat. Postur tubuhnya berdiri tegak sempurna, menunjukkan dedikasi sebagai pelayan setia.

​Roland menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, "Kami datang ke sini dengan satu tujuan. Kami diperintahkan untuk menjemput Anda pulang."

​Kata "pulang" itu seperti petir di siang bolong. Efeknya terasa menghantam semua orang yang hadir di sana. Artinya, Bara akan pergi meninggalkan tempat ini selamanya.

​Bara mengerutkan kening. Ia mundur selangkah sambil menggeleng tegas.

​"Saya tidak mengenal keluarga Arthur," ujar Bara dengan nada defensif, ia merasa harus mempertahankan logika rasionalnya di tengah situasi yang tidak masuk akal ini. "Saya dibesarkan sebagai yatim piatu dan tidak punya ikatan dengan siapa pun. Saya tidak mungkin ikut dengan orang asing."

​Roland tidak terlihat tersinggung. Ia justru menunjukkan senyum tipis yang penuh pengertian. Perlahan, ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah gelang perak kecil yang sudah kusam dimakan usia.

​"Saya tahu Anda ragu," ujar Roland dengan nada meyakinkan sambil menunjukkan gelang itu tepat di depan mata Bara. "Tapi ini bukan kebetulan. Ini adalah gelang yang Anda kenakan saat peristiwa tragis dua puluh tahun lalu. Hanya keluarga Arthur yang tahu di mana lokasi benda ini disimpan selama ini."

​Bara mematung melihat gelang itu. Ada memori samar yang berdenyut di kepalanya, meski ia tak mampu meraihnya.

​Di sudut halaman, Jodi merasakan kakinya lemas. Otaknya berputar panik.

​"Jika dia benar-benar keluarga Arthur, karierku tamat hari ini," batin Jodi yang kini dipenuhi rasa cemas sekaligus kebencian yang mendidih. Ia mulai merancang rencana licik di balik rahangnya yang terkatup rapat.

​Helena, di sisi lain, merasa dunianya runtuh. Ia menatap Bara dengan tatapan nanar yang sarat akan rasa takut kehilangan. Sebuah penyesalan mulai tumbuh dan merayap di dadanya saat menyadari betapa buruk ia memperlakukan pria di depannya.

​Anjani memperhatikan setiap detail perubahan ekspresi Bara. Ia tidak lagi melihat seorang satpam. Ia melihat seseorang yang menyimpan misteri besar. Ia tidak merasakan romantisme, namun ada rasa hormat yang mendalam melihat keteguhan Bara.

​Roland menghela napas, lalu kembali menatap Bara dengan tatapan yang lebih intens. Ia memberi isyarat dengan tangannya ke arah barisan mobil mewah yang terparkir.

​"Tuan Muda," ucap Roland dengan suara berat yang menuntut ketaatan. "Kepala keluarga telah menunggu Anda selama dua puluh tahun. Mobil telah siap."

​Roland kemudian membungkuk sedikit, memberikan ruang bagi Bara untuk melangkah.

​"Mari kita pulang," ucap Roland tegas, menutup ruang untuk penolakan lebih lanjut.

​Tapi ...

Tiba-tiba saja,

"Tunggu!"

​Semua menoleh.

Tuan Braja maju.

​"Dengan segala hormat, Tuan Roland," ucap Braja sambil menatap Roland dengan mata sedikit bergetar. "Bara adalah suami dari anakku. Dia anggota keluarga Braja. Anda tidak bisa begitu saja membawanya pergi," tegas Braja.

​Roland menatap Tuan Braja beberapa saat.

Tak ada sedikit pun perubahan pada ekspresinya.

​"Tuan Braja, saya datang bukan untuk meminta izin. Saya datang untuk menjalankan perintah Kepala Keluarga Arthur," timpal Roland dengan tidak kalah tegasnya.

​Tuan Braja tidak mundur. Ia membalas, "Apa pun statusnya, Bara adalah menantu saya. Selama dia belum memutuskan sendiri, tidak seorang pun boleh membawanya."

​Roland lalu mengangguk sebagai bentuk penghormatan kepada keputusan Braja. Kemudian dengan tenang Roland berkata, "Keluarga Arthur tidak pernah memaksa Tuan Muda. Keputusan tetap berada di tangan beliau," ucapnya dengan tenang namun berwibawa dan penuh penekanan.

​Suasana kembali diselimuti keheningan.

Kali ini, bukan karena keterkejutan, melainkan karena semua orang menyadari satu kenyataan yang sama.

Nasib Bara kini berada di tangannya sendiri.

​Jodi menggertakkan giginya. Dadanya bergemuruh. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

"Jangan..." batinnya panik. "Jangan sampai dia ikut dengan mereka."

Jika Bara benar-benar kembali ke keluarga Arthur, maka semua penghinaan yang pernah ia lakukan bisa berbalik menjadi bencana bagi dirinya.

Tanpa sadar, kedua tangannya mengepal semakin erat.

​Di sisi lain, Helena menatap Bara dengan mata yang mulai memerah.

Dadanya dipenuhi rasa sesak yang sulit dijelaskan.

Selama ini ia selalu berharap Bara pergi dari hidupnya.

Namun kini, ketika kesempatan itu benar-benar datang, justru rasa takut kehilangan mulai menggerogoti hatinya.

"Jangan pergi..." bisiknya dalam hati. "Aku bahkan belum sempat meminta maaf...."

​Tak jauh darinya, Anjani memandang Bara tanpa berkedip.

Tatapannya dipenuhi kekaguman.

Bukan karena status keluarga Arthur.

Melainkan karena di tengah perubahan sebesar ini, Bara tetap berdiri dengan sikap rendah hati, tanpa sedikit pun menunjukkan kesombongan.

"Pantas..." gumam Anjani dalam hati. "Orang sepertimu memang berbeda sejak awal."

​Di sudut halaman, dua asisten rumah tangga saling berpandangan.

"Kalau Pak Bara benar-benar pergi..." bisik salah seorang dari mereka.

"Rumah ini tidak akan sama lagi," sambung rekannya pelan.

​Dua satpam yang berdiri di gerbang pun ikut terdiam.

Mereka hanya bisa menatap Bara dengan rasa hormat yang kini tumbuh dari lubuk hati.

​Sementara itu, Roland melangkah satu langkah ke depan.

Ia membungkukkan kepala dengan penuh hormat.

"Tuan Muda," ucap Roland dengan suara tenang namun menggema di tengah keheningan. "Apakah Anda bersedia pulang bersama kami?"

​Seketika...

Semua mata tertuju kepada Bara.

Tak seorang pun berani bernapas terlalu keras, menunggu jawaban yang akan mengubah hidup semua orang.

​Bara menatap rumah keluarga Braja.

Rumah yang menjadi tempat ia dihina. Rumah yang juga menjadi tempat ia pertama kali merasakan arti memiliki keluarga.

Pandangannya beralih kepada Helena.

Lalu kepada Anjani.

Setelah itu kepada Tuan Braja.

Terakhir, matanya berhenti pada Roland.

​Bara menarik napas panjang.

Bibirnya perlahan terbuka.

​"Aku..."

​Bersambung.

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 10

    Bara memutar gelang perak di telapak tangannya. Logam dingin itu terasa berat, seolah menyerap seluruh keraguan yang sempat bertahta di kepalanya. Ia menarik napas dalam, meresapi aroma tanah basah di halaman rumah yang selama ini menjadi penjaranya.​"Saya akan ikut," ucap Bara. Suaranya rendah, namun tiap katanya mendarat dengan telak di udara yang sunyi. "Bukan karena harta. Saya hanya ingin tahu siapa diri saya yang sebenarnya."​Jodi yang berdiri tak jauh dari sana mematung. Warna wajahnya luntur seketika, menyisakan rona pucat pasi. Tangannya yang terkepal di samping tubuh mulai bergetar hebat. Ia menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya tercekat seolah ada sesuatu yang mengganjal di sana.​Di sisi lain, Helena terhuyung mundur. Ia harus mencengkeram tiang teras dengan jemari yang memutih demi menjaga keseimbangan. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya memburu tak beraturan.​Roland tidak membuang waktu. Ia menundukkan kepala dalam-dalam. Di belakangnya, barisan pria

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 9

    Keheningan di halaman depan kediaman keluarga Braja terasa mencekik. Tidak ada yang berani berkedip. Bahkan embusan angin seolah enggan melintasi area itu. Rombongan pria berjas hitam itu masih membungkuk dengan sempurna, menunggu sebuah izin yang tak kunjung datang.​Bara merasa dadanya sesak. Ketegangan ini jauh melampaui apa pun yang pernah ia alami selama hidupnya sebagai orang biasa. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia memberanikan diri untuk bersuara.​"Pak, berdirilah. Saya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi," ucap Bara dengan suara parau dan nada yang tetap rendah hati. Matanya menatap Roland dengan penuh kebingungan.​Pria paruh baya itu akhirnya menegakkan tubuh. Wajahnya yang tegar menunjukkan garis-garis kedewasaan dan wibawa yang luar biasa. Ia menatap Bara dengan sorot mata yang penuh penghormatan.​"Perkenalkan, Tuan Muda. Saya Roland Arthur, kepala pengurus keluarga Arthur," ucap Roland dengan nada tenang namun memiliki daya tekan yang kuat. Postur t

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 8

    Suasana di halaman depan kediaman keluarga Braja mendadak membeku. Debu halus menari di udara saat deretan sedan mewah hitam berhenti dengan presisi sempurna.​Pintu-pintu mobil terbuka serempak. Para pria berjas rapi melangkah keluar dengan ekspresi sedingin es, menciptakan aura intimidasi yang menyergap siapa pun di sana.​Jodi, yang sedetik lalu masih meluapkan amarah, seketika membatu. Wajahnya yang memerah padam kini berubah pucat pasi. Ia mengenali lambang itu. Naga emas yang terukir di bros jas pria yang memimpin rombongan tersebut adalah simbol keluarga Arthur, raksasa bisnis internasional yang pengaruhnya melintasi batas negara.​Tanpa memedulikan sekitarnya, Jodi melangkah maju dengan terburu-buru. Ia merapikan jasnya, memaksakan senyum paling ramah, dan bersiap menyambut sang tamu dengan sikap paling hormat.​"Selamat datang! Sebuah kehormatan bagi keluarga Braja atas kunjungan Anda," ucap Jodi lantang sambil mengulurkan tangan.​Namun, pria itu tidak menoleh sedikit pun. S

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 7

    Suasana ruang tamu belum benar-benar pulih setelah pertanyaan Anjani dilontarkan."...apa yang akan kau pertaruhkan?"Kalimat itu masih menggantung di udara.Jodi yang biasanya selalu punya jawaban untuk segala hal justru terdiam beberapa detik.Beberapa detik yang terasa panjang.Rahangnya bergerak pelan.Matanya menyipit ke arah Anjani.Lalu ke arah Bara.Seolah-olah ia sedang berusaha memahami kenapa wanita yang selama ini selalu diam tiba-tiba berani berdiri di hadapannya."Kenapa?" tanya Jodi akhirnya sambil tertawa kecil. "Kau takut suami barumu kalah?"Nada suaranya santai.Tapi ada sesuatu yang keras di balik senyum itu.Anjani tidak menunduk seperti biasanya.Ia tetap menatap Jodi."Aku hanya tidak suka melihat orang yang terlalu yakin sebelum menang," jawab Anjani dengan tenang.Beberapa kerabat saling pandang.Jodi langsung tersenyum tipis.Senyum yang tidak sampai ke matanya."Menarik."Ia mengangguk pelan."Lima tahun menikah denganku, baru sekarang kau berani bicara sepe

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 6

    Ruang tamu keluarga Braja masih dipenuhi suasana yang tidak biasa meski pertemuan itu telah berakhir beberapa menit lalu. Orang-orang memang mulai berdiri dari kursinya. Namun bisikan mereka justru semakin ramai. Semua membicarakan hal yang sama. Bara Arthur. Nama yang bahkan terdengar asing bagi Bara sendiri. Bara berjalan keluar dari ruangan dengan map hitam masih berada di tangannya. Kepalanya terasa penuh. Terlalu banyak informasi masuk dalam waktu bersamaan. Namun sebelum ia sempat mencapai tangga menuju lantai dua, sebuah suara menghentikannya. "Bara," panggil Helend dengan suara pelan. Bara menoleh. Helend berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wanita itu terlihat ragu-ragu. Sejak pertukaran pasangan terjadi, mereka hampir tidak pernah berbicara berdua seperti ini. "Ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Bara sambil menatap Helend. Helend menatap map hitam di tangan Bara sebelum akhirnya bertanya, "Semua itu... benar?" Bara menghela napas pelan. "Aku bahkan tidak t

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 5.Menantu Miskin sang PEWARIS

    Pagi hari di rumah keluarga Braja terasa berbeda. Tidak ada lagi suasana hangat yang biasa dipaksakan muncul saat sarapan keluarga. Sejak pertukaran pasangan terjadi, rumah besar itu justru terasa seperti kumpulan orang asing yang tinggal di bawah atap yang sama. Bara keluar dari kamar lebih awal. Semalaman ia tidak benar-benar tidur nyenyak. Selain masih memikirkan pesan misterius tentang keluarga Arthur, pikirannya juga terus kembali pada kejadian semalam saat Helend melihat wajah Anjani dan menyadari bahwa keluarganya selama ini menyimpan kebohongan besar. Saat melangkah melewati koridor lantai dua, langkah Bara perlahan terhenti. Tidak jauh di depannya berdiri Helend yang tampaknya juga baru keluar dari kamar. Wanita itu memegang secangkir teh hangat, namun terlihat tidak benar-benar menikmati minumannya. Untuk beberapa saat mereka hanya saling memandang. Hubungan tiga tahun tidak mungkin menghilang begitu saja hanya karena satu keputusan keluarga. "Apa kabar?" tanya Helend de

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status