Mag-log inSuatu hal yang wajar jika seorang istri posesif terhadap suaminya. Itu berarti rasa cintanya begitu besar dan dia menginginkan suaminya itu hanya menjadi milik satu-satunya. Bahkan kalau bisa nyamuk betina juga tidak boleh nemplok seenaknya dan menggigit anggota tubuh manapun dari suaminya itu.Wanita juga ahli sejarah yang paling hebat di dunia. Dia bisa mengingat segala kesalahan yang pernah dilakukan suaminya mulai dari saat pacaran hingga sudah punya anak banyak. Dan Mayang tidak mau menambah rentetan kesalahan untuk diingat. Dia harus melakukan sesuatu untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya kini.Mayang melenggang anggun sambil mendorong stroller, memasuki area taman kampus terkenal di kota itu. Dia dan Tina berjalan menuju fakultas tempat Gilang menuntut ilmu. Berdasarkan jadwal yang Mayang intip diam-diam dari ponsel suaminya itu, seharusnya Gilang sudah selesai kelas pagi.Pucuk dicinta ulam pun tiba, ayah muda yang tengah dicari keberadaannya itu terlihat sedang mengo
Tiba-tiba Mayang seperti merasa cemas dengan lingkungan kampus Gilang. Apa mungkin mahasiswa di sana tidak mengetahui status Gilang yang sudah menjadi seorang ayah? Atau gadis-gadis di sana sudah terbiasa bersikap mesra terhadap lawan jenis?“Ehh? Grace?” tanya Gilang seketika terdiam.Suara pintu apartement yang terbuka mengejutkan mereka, sebelum Gilang sempat memuaskan Mayang dengan jawabannya. Tina sudah pulang berbelanja. Dengan dibantu supir, wanita itu mengangkut kantong-kantong belanja yang seperti tidak ada habisnya. Lekas Mayang mengalihkan perasaan anehnya dengan membantu Tina mengeluarkan barang belanjaan.“Are you okay? Bayi-bayi handsome masih tidur? Apa mereka sempat rewel?” tanya Tina yang melihat ketidakberesan di wajah Mayang.“Tidak, Tina. Mereka aman dan aku juga sudah sempat mandi. Tina aku boleh minta bantuan kamu?” bisik Mayang sembari meremas jemarinya.“Silahkan. Bilang saja. Kamu butuh bantuan apa?”“Besok aku mau kita membawa bayi-bayi ini ke suatu tempat.”
Hari itu terasa sangat panjang dan melelahkan bagi Gilang. Selama seminggu terakhir, ia harus membagi waktu antara kuliah, virtual meeting dengan Chandra dan jajaran manajemen perusahaan di Swedia, serta bolak-balik menemani Mayang di rumah sakit. Hingga akhirnya, hari ini mereka bisa kembali ke apartemen.Dengan bantuan Tina, masing-masing dari mereka menggendong satu bayi. Sementara itu, dua tas besar dibawa oleh sopir. Tepat pukul sepuluh pagi, mereka tiba di apartemen. Tanpa menunda, Gilang segera merebahkan tubuhnya di ranjang setelah memastikan ketiga bayinya terlelap di boks baru mereka."Gilang, Mayang... aku harus ke supermarket sebentar. Beli bahan makanan sehat untuk ibu hamil. Keluarga dari Indonesia jadi datang tiga hari lagi, kan? Sekalian aku beli bahan untuk bikin kue," ujar Tina sambil menggenggam dompet yang setiap hari diisi Mayang untuk kebutuhan belanja."Om Chandra bilang jadi datang. Dia juga bawa ayah dan ibuku. Oh iya... tolong belikan buah yang banyak, ya. Ay
"Aku sayang kamu, Ibu Mayang Sari Indriani ..." bisik Gilang di sela ciuman itu. Napasnya mulai memburu. Perlahan, tangannya bergerak, hendak menggapai dada Mayang yang bebas.Namun saat Gilang mulai akan meremas dadanya, Mayang segera melayangkan protes. "Ingat jatah anak, Lang.""Iya, bu ... iya ..." Gilang manyun.Matanya kembali menatap anak ketiganya yang mulai kekenyangan. Mulut bayi mungil itu melepaskan pucuk dada ibunya yang memerah. Persis seperti kalau Gilang keasikan bermain-main di sana. Hanya saja sekarang bentuknya lebih besar dan ..."Sesek, Mayang ..." ucap Gilang sembari merapatkan pahanya.Mayang tertawa. Ketiga bayinya memang sangat menggemaskan. Tapi lebih menggemaskan lagi ayah mereka kalau sudah merajuk. Wajah memelasnya itu selalu saja berhasil membuat Mayang mengangkangkan kedua pahanya. Karena kalau tidak, Gilang akan terus merajuk sampai dapat.Sungguh tak terbayang setelah 40 hari berlalu, Gilang akan membolak-balik dirinya seperti apa nanti. Sepertinya May
Seorang perawat yang membantu mendorong bayi-bayi mereka sampai ke ruang perawatan, berdiri di dekat Mayang."Maaf, apa ibu mau menyusui bayinya?" tanya perawat itu."Mau," ucap Mayang dengan wajah sumringah.Selain mengandung dan melahirkan, peristiwa menyusui bayi juga merupakan kejadian yang sangat ia nanti-nantikan. Sebelum menyodorkan bayi yang lahir lebih dulu, perawat memberi penjelasan singkat tentang beberapa jenis makanan yang dapat memperlancar produksi asi."Saya bantu melepaskan bagian atas pakaian ibu supaya bisa menyusui dengan mudah," tukas perawat wanita berkulit gelap dengan rambut berombak yang digulung ke atas.Perawat itu mengatur posisi sandaran ranjang Mayang hingga 45 derajat. Gilang dengan sigap membantu membetulkan bantal untuk menjadi tempat bersandar Mayang. Pakaian Mayang terlepas saat perawat menarik tali baju bersalinnya.Gilang pura-pura mengalihkan pandangannya saat sepasang dada Mayang yang bengkak terpampang di depannya. Perawat memencet dada Mayang,
Pagi itu, begitu terbangun dari tidur, Pertiwi merasakan kerinduan yang begitu dalam terhadap putrinya. Ia menyeduh teh melati kesukaan Mayang, lalu menghirup aromanya perlahan, seolah mencoba mendekatkan jarak yang kini terbentang.Di dekatnya, Amanda duduk manis, sibuk menghias roti tawar bersama ibunya.Gadis kecil itu kini semakin besar. Ketertarikannya pada musik pun semakin terlihat-semua itu pasti tak lepas dari doa eyang kakungnya yang selalu ingin memiliki cucu seorang seniman."Bu, foto pernikahan Mayang dan Gilang mau dipindahkan ke mana?" tanya Surya. Hari itu, ia ditugaskan oleh Pertiwi untuk menata ulang dekorasi ruang tamu."Sebelah kiri itu kan foto pernikahan kalian. Jangan dipindah lagi. Di tengah, foto Ibu dan Bapak waktu menikah. Nah, yang kanan, dekat jendela, baru taruh foto pernikahan Mayang dan Gilang. Foto cucu pertama Eyang letakkan di bawah foto kalian. Cantik, kan, susunannya..." jelas Pertiwi sambil menyesap teh melatinya."Tapi nanti kita juga harus sedia
"Amira... kamu-kamu kenapa belain dia?" batin Mayang.Apa lagi yang Cipto inginkan?Kenapa pria itu masih saja bersikeras tak mau bercerai dengannya?Namun, ketika pengacara Cipto mulai menyinggung tentang rumah, perhiasan, dan kendaraan sebagai harta bersama, barulah semuanya terasa jelas bagi May
"Selamat... eheem... selamat ulang... eheem... selamat ulang tahun ... aduuhh... gimana sih tadi nadanya, Lang? Aku payah banget deh kalau urusan nyanyi ..."Gilang tergelak mendengar suara Mayang yang ternyata sangat pas-pasan. Padahal tadi dia sendiri yang mengusulkan untuk memberikan kejutan kep
"Bu Mayang ... bu ..." panggil seorang dosen wanita.Namun, Mayang terus saja berjalan menuju ruang dekan, tanpa ada niat menghentikan langkahnya, menanggapi orang yang memanggilnya. Demi Tuhan! Kepalanya sudah cukup sakit mendapati gossip yang beredar di kampus, mengenai dirinya dan Gilang."Bu, s
Malam itu, percakapan mereka ditutup dengan pertanyaan yang terus Gilang ingat sampai dengan keesokan paginya. Akan tetapi, Dahlia memang bukan tipe wanita yang terlalu sulit untuk didekati. Terbukti pagi ini, Gilang sudah dapat menyaksikkan keakraban yang terjalin di antara dua wanita favoritnya i







