로그인Pria Amerika bernama Maxwell itu terhuyung mundur. Gelas martini di tangannya terlepas begitu saja, pecah berserakan di atas karpet Persia seiring dengan hancurnya ego dan harga dirinya di bawah kakiku. Napasnya memburu putus asa, wajahnya sepucat mayat saat menyadari bahwa oligarki yang sedang ia hina ternyata telah memegang surat kematian bisnisnya sejak fajar menyingsing.Di sekeliling kami, keheningan merajai sudut Grand Ballroom itu. Para petinggi militer dan miliarder dunia yang sebelumnya sibuk berbincang kini mematung. Tidak ada satupun dari mereka yang berani mengalihkan pandangan dari kami. Wibawa tiran yang terpancar dari Sebastian berpadu dengan kekejaman analitis dalam diriku, menciptakan ilusi mematikan bahwa kami adalah algojo sekaligus malaikat pencabut nyawa."P-pembekuan rute laut itu menyalahi hukum perdagangan internasional, Tuan Steel." Suara Maxwell bergetar hebat, mencoba mempertahankan sisa-sisa pertahanannya yang telah rapuh.Sebastian memiringkan kepalanya se
Satu tahun sejak tangis pertama Alaric memecah ruang persalinan VVIP itu, poros bumi seolah telah disesuaikan agar hanya berputar untuk putra sang kaisar es.Aku berdiri di depan cermin besar di kamar utama kami, mengoleskan lipstik merah gelap yang menyempurnakan penampilanku malam ini. Tubuhku telah kembali ke lekuk semula, kini dibalut gaun malam haute couture berwarna rubah merah dengan punggung terbuka. Gaun itu menonjolkan keanggunan seorang ratu yang telah memenangi ribuan peperangan.Dari pantulan cermin, mataku menangkap pemandangan yang tak akan pernah gagal meluluhkan ketegasanku.Di atas ranjang, Sebastian, pria yang nama belakangnya mampu membuat para oligarki Eropa bergetar ketakutan, kini duduk bersila. Jas tuksedonya belum terpasang, sementara dasi kupu-kupunya menggantung longgar di kerah kemeja hitam yang terbuka. Di pangkuannya, duduk Alaric Rudolf Steel, balita berusia satu tahun dengan rambut sepekat arang dan sepasang mata obsidian yang merupakan tiruan mutlak mi
Aroma lavender yang menenangkan berpadu samar dengan bau steril rumah sakit, menyapu indra penciumanku saat kesadaran perlahan merayap kembali. Kelopak mataku terasa berat ketika terbuka, menyuguhkan pemandangan langit-langit kamar VVIP yang telah disulap dengan kemegahan ala istana Eropa. Aku terbaring di atas ranjang hidrolik berseprai katun Mesir terbaik, tubuhku masih didera ngilu pascapersalinan, tetapi ada kekosongan hangat yang kini telah tergantikan.Di sudut ruangan yang temaram, di bawah bias cahaya lampu amber, sebuah siluet besar duduk mematung.Sebastian tak tertidur sedetik pun. Ia masih mengenakan kemeja yang sama, lengannya digulung asal, bersandar pada kursi berlengan di sebelah boks bayi berbahan kayu mahoni dan kaca balistik. Tangan besarnya yang biasa memegang pemicu peluru kini menyusup melalui celah boks, membiarkan jemari mungil yang masih merah itu menggenggam erat telunjuknya. Mata obsidian suamiku, mata sang jagal yang tak pernah kenal kompromi, kini sepenuhn
Cahaya putih dari lampu bedah non bayangan menyorot tajam, menyilaukan pandanganku yang mulai buram oleh titik-titik keringat. Suara lengkingan elektrokardiogram berdenging ritmis di tengah ruangan beraroma steril itu, bersaing dengan deru napasku yang terputus-putus. Gelombang kontraksi kembali menghantam perut bagian bawahku seperti godam besi, memaksaku melontarkan lenguhan kesakitan yang tak lagi bisa kutahan.Di sampingku, Sebastian berdiri bagai dewa kehancuran yang terperangkap dalam keputusasaan murni. Jas mewahnya telah dibuang entah kemana, sementara kemeja hitamnya basah oleh peluhku. Tangan besarnya merengkuh erat sebelah tanganku, menautkan jemari kami hingga buku-buku jarinya memutih."Nyonya Steel, pembukaan sudah maksimal," ujar Dokter Albert, sang obstetrikus kepala yang didatangkan dari Berlin, dengan suara sedikit bergetar. Beroperasi di bawah tatapan mata obsidian yang memancarkan ancaman pembunuhan membuat pria paruh baya itu bermandi peluh. "Pada hitungan ketiga,
Dua bulan telah berlalu sejak meja pualam di Sky-Lounge itu menjadi saksi kejatuhan Baron Volkov. Di usia kehamilanku yang kini menginjak tiga puluh delapan minggu, dunia luar serasa berhenti berputar. Setidaknya, itulah realitas yang dipaksakan oleh suamiku.Seluruh sayap timur kediaman utama Steel telah dialihfungsikan secara radikal. Ruang galeri seni dan kamar tamu disulap menjadi fasilitas medis bersalin dan Neonatal Intensive Care Unit yang melampaui standar rumah sakit kepresidenan manapun di dunia. Tiga dokter spesialis obstetri dan ginekologi terbaik dari benua Eropa diterbangkan secara khusus dan diwajibkan menetap di paviliun khusus tamu di bawah pengawasan bersenjata selama dua puluh empat jam penuh.Bagi kaisar iblisku, kelahiran ini bukanlah peristiwa medis biasa, melainkan operasi perlindungan berskala maksimal.Siang itu, hujan lebat mengguyur Jakarta, mengetuk kaca jendela berlapis plat balistik di kamar kami. Aku duduk bersandar di atas tumpukan bantal beludru, memba
Baron Volkov menjatuhkan tubuh besarnya ke atas kursi kulit di seberang mejaku. Jas bulu mink-nya menebarkan aroma cerutu Rusia dan hawa dingin jalanan. Ia menyeringai meremehkan saat melihat tidak ada pasukan bersenjata yang berjaga di dalam ruangan berlapis marmer ini, hanya aku dan Sebastian, ditemani lampu-lampu Jakarta yang berkedip di balik kaca panoramik."Kau kehilangan sisi buasmu, Kaisar," kekeh Volkov sambil menyandarkan sikunya di atas meja. Mata abu-abunya melirik perutku dengan cemoohan terang-terangan. "Cinta dan keluarga membuat pria menjadi lunak. Sepuluh tahun lalu, kau akan meratakan organisasiku. Sekarang? Kau mengundangku minum anggur untuk meminta perdamaian demi ketenangan rahim istrimu."Aku merasakan otot paha Sebastian menegang di balik kain celananya saat tangannya di bawah meja semakin erat menggenggam jemariku. Urat di punggung tangannya menonjol. Pria ini sedang menahan diri agar tidak memisahkan kepala Volkov dari lehernya detik itu juga demi menjalankan







