MasukHelena berhasil terprovokasi. "Kamu benar juga Tina."Namun tuan besar menyela, ia yang sejak tadi hanya diam sekarang ikut berbicara. "Sudahlah, ma. Masalah kaya gini gausah di besar-besarin. Naren itu belum bisa berkata jelas jadi apa yang dia ucapin terdengar seolah manggil mama.""Bukankah ini bagus, artinya pertumbuhan Naren bagus di tangan Kania," lanjutnya.Mendengar itu Helena langsung bungkam.Sedangkan Kania merasa lega karena setidaknya tuan Mahendra sudah menjadi penengah yang bisa menjelaskan pada nyonya Helena.Wajah Helena berubah masam karena kesal suaminya terkesan membela Kania."Kamu juga Tina, jangan memprovokasi orang." Sorot mata tuan Mahendra beralih pada Tina.Wanita itu kemudian terdiam. Hingga suasana sore itu senyap sekejap. Kania pun menghela napas, dalam hati ia bersyukur karena di rumah ini masih ada orang yang mau memihaknya.Sesaat suasana hening. Tina kembali memulai percakapan setelah jeda panjang, "Frisca kan udah ajukan cerai sama Bagas ya mbak. Set
Kania kemudian mendekati mobil hitam itu. Ia segera masuk ke dalam dan langsung bertatapan dengan Bagas. Kania tidak menyangka jika Bagas akan ikut menjemputnya. Keduanya saling bertatapan, tapi cukup sebentar sampai akhirnya perintah Bagas mengembalikan fokus Kania. "Pangku Naren." Akhirnya Kania mengambil alih tubuh mungil Naren ke dalam pangkuannya. "Setelah ini saya akan antarin kamu dulu baru saya akan langsung ke kantor." Kania mengangguk. Bagas tidak banyak bicara lagi sampai akhirnya mobil itu menjauh. *** Setelah Bagas bekerja sepanjang hari, ia akhirnya bisa melakukan peregangan pada kedua tangannya. Ia baru saja selesai memeriksa beberapa dokumen, dan setidaknya kini ia memiliki waktu untuk istirahat. Bersamaan dengan itu ia melihat Bastian masuk ke dalam ruangannya. Kemudian sebuah map biru yang dia bawa di serahkan kepada Bagas. Tanpa bertanya lagi Bagas langsung mengambilnya dan membaca dengan seksama. Ia kembali mengenakan kacamata bacanya, dan membaca dokum
Tak lama Kania muncul dengan wajah yang terlihat segar. Kaus milik Bagas yang ia kenakan terlihat kedodoran, menutup sampai ke lututnya."Tuan," sapa Kania.Bagas berbalik. Seolah tahu apa yang sedang Kania nantikan saat ini.Pria itu berjalan memasuki kamar masih dengan menggendong Naren. Kemudian membuka brangkas yang ada di dalam lemarinya.Di sana ia mengambil sejumlah uang yang Kania butuhkan, lalu memasukannya ke dalam koper kecil."Ini 600 juta lebih. Lebihannya buat kamu."Kania segera menerima koper itu dan mengamankannya. "Aku juga mau minta izin buat kasihin uang ini ke bibi aku yang lagi jaga masku di rumah sakit.""Masmu itu sebenarnya masih muda atau udah tua?" tanyanya dengan alis terangkat. "Sepertinya seumuran tuan," jawab Kania.Bagas tak membalas lagi. Dia hanya mengangguk karena informasi lanjutannya sedang di cari oleh Bastian."Kamu boleh antar uang itu ke rumah sakit, tapi setelah urusannya selesai kembali lagi. Sementara saya akan jaga Naren di rumah.""Baik,
Kania tak mau membuat Bagas ragu hingga ia tak jadi mendapatkan 600 juta malam ini. "Tuan, bisa keluarin di luar." Bagas tersenyum sinis jelas semakin tidak bisa menahan diri. Akhirnya ia tetap melanjutkannya. Dia kembali menekan dirinya. "Saya juga ga bakal tanggung jawab kalau kamu kesakitan dan besok ga bisa jalan." Kania mengerjap. Dan tidak lama rasa sakit itu benar-benar menghampirinya. Bagian Bagas baru ujungnya yang masuk namun ini sudah begitu nyeri. Sampai akhirnya hentakan yang kuat itu terjadi dan membuat benda Bagas membenam penuh di dalam Kania. Gadis itu meremas seprai menahan nyeri dengan wajah yang mengetat dan mata yang memejam. Bagas tidak tahu seperti apa rasanya, karena ini adalah pengalaman yang pertama setelah dulu di bohongi oleh mantan istrinya. Tapi tanda merah nampak mengalir cukup banyak dari sela-sela itu. Bagas tersenyum, kemudian mencium Kania. Dan mulai menggerakan pinggulnya keluar masuk dari sana. Pria itu menatap wajah Kania yang mem
Kania menelan ludah. Tubuhnya terasa panas. Namun ia merasa tak bisa melewatkan kesempatan ini. Akhirnya ia tidak punya pilihan lain selain menyetujui. "Baik, aku setuju. Aku janji ga bakal bilang sama siapa-siapa." Bagas menatap Kania dalam. Sorotnya tak melembut sama sekali. "Saya ga akan tanggung jawab kalau nanti kamu baper sama saya. Kamu setuju dengan keputusan ini karena kamu sadar bukan karena paksaan saya." Kania mengangguk mantab walau terselip sedikit keraguan. "Aku yakin ga akan baper dan aku bisa pastiin itu." Bagas mendekati bibir Kania dan langsung membungkamnya dengan ciuman, tak hanya itu Bagas juga melumatnya. Kania terkesiap karena ini terlalu cepat. Tubuhnya langsung berdesir. Ciuman ini adalah hal yang pertama kali ia lakukan, ia belum pernah berciuman bahkan dengan kekasihnya sekalipun. Namun apa yang pria itu lakukan seolah mengajaknya terhanyut ke dalam sensasi yang lebih jauh, yang lebih nikmat. Bibir pria itu basah, dan juga terasa lembut. Kan
Tidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya. Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matanya sempat melirik ke arah sana. Ke arah pribadi pria itu. "Lancang!" umpat Bagas kesal. Entah gadis ini benar-benar menguji emosinya hari ini. Kania membuka matanya dan melihat raut kesal pria itu, entah kenapa dia semakin tak takut padanya. Kania menyunggingkan senyuman manis miliknya padanya. "Kita satu sama sekarang tuan." Bagas ingat beberapa malam yang lalu dia sudah melihat bagian pribadi perempuan itu. Ia menggertakkan giginya, kemudian duduk di sofa mengambil rokok dan menyalakan kemudian mengisapnya tak peduli di hadapannya ada perempuan. Jujur Kania tak suka dengan asap rokok. Tapi ia tahan rasa kesalnya demi mendapatkan uang 600 juta itu. Kania meletakkan jam tangan mewa







