LOGIN"Kamu gak marah? Maksudnya kamu gak takut kalau misalkan mas Damar bakal bocorin soal ini ke eyang atau ke Ibu kamu?""Damar udah tahu sebelum dia lihat handphone itu."Kania langsung diam. "Jadi mas biarin gitu aja?""Memang apa yang berani anak itu lakuin?"Kania menghela napas, kata-kata itu sudah menjawab bahwa dengan kekuasaan Bagas jika adik sepupunya itu tak akan berani melakukan lebih."Saya gak suka sama tatapan kamu yang di ruang makan tadi, kamu buang wajah dari saya!""Itu refleks aja, mas. Lagian emang parfum siapa aja yang udah nempel di badan kamu?""Ga ada, cuma wangi parfum kamu. Emang hidung kamu udah ga bisa cium wangi parfum kamu sendiri?"Kania terdiam perlahan hidungnya mengendus dan memang wangi yang dominan berasal dari parfum yang Bagas belikan kemarin."Lain kali jangan di ulangi. Saya gak suka liat kamu buang wajah.""Iya, mas. Aku minta maaf."Kania hanya mendengus menahan kesalnya. Hingga sesaat hening sebelum akhirnya Bagas kembali bersuara."Mama bilang
Bagas langsung mengenali wangi yang menempel di tubuhnya, ini jelas wangi parfum Kania. Ia langsung menatap perempuan itu di ujung sana. Namun yang di tatap justru langsung memalingkan wajahnya. Jelas saja ekspresi itu langsung membuat Bagas tak senang. "Aku habis dari tempat ramai jadi wajar kalau bau parfum orang-orang pada nempel, eyang." Balas Bagas dengan santai.Sementara Kania terus mendengar percakapan mereka dengan perasaan penuh tebakan."Yang bener?"Bagas mengangguk dengan yakin. "Padahal kalau kamu mau deket sama cewek juga eyang gak larang." Balas nenek Bagas Lagi."Waktunya belum tepat eyang, proses cerai aku sama Frisca belum selesai.""Bagas bener buk," sahut tuan besar."Bagas emang bener, tapi kayanya mama kenal sama bau parfum yang nempel di tubuh Bagas." Nyonya besar menimpali dan terus mengendus ke arah tubuh Bagas.Tentu saja Bagas tahu jika ibunya sedang mencurigai sesuatu dalam dirinya."Bau parfum kaya gini udah biasa di pakai orang-orang, ma. Lagian namany
Kania baru saja membaringkan tubuhnya setelah menutup percakapannya dengan Linda dan Bagas melalui aplikasi pesan.Saat itu tiba-tiba ia mendengar langkah yang berjalan menuju kamar sebelah. Ia langsung bisa menebak itu adalah Bagas. Namun ia tak bisa memastikan jika pria itu hanya pulang sendiri, sebab ia tahu Bagas tengah mabuk dan langkah kaki yang ia dengar tak hanya sendirian.Ia mencoba menajamkan pendengarannya untuk memastikan itu semua, namun ketukan di pintunya justru terdengar.Dengan sigap ia menuruni tempat tidur dan melihat seorang pria yang wajahnya nampak tak asing begitu ia membuka pintunya. Dia pernah melihat pria ini beberapa kali ketika mengunjungi rumah ini. Namun ini pertemuan pertama secara tatap mata, dan pria ini juga yang sudah mengiriminya pesan di ponsel Bagas tadi."Mbak, saya minta tolong buat urus mas Bagas sebelum eyang bangun dan lihat dia pulang dengan mabuk." Ujar Damar.Kania seketika mematung, "iya, tuan.""Panggil pake nama aja, gausah kaku gitu.
"Aku cuma jengukin kakak aja nyonya. Gak kemana-mana,""Kamu yakin? Kok rasanya saya ga percaya ya. Kaya kamu tu udah bohongin saya,"Walau begitu Kania tetap tenang."Soalnya kemarin ada yang ngirimi saya foto kamu lagi jalan sama pria,"Nyonya besar langsung menunjukkan foto itu.Dan Kania melihat foto itu dengan rasa sedikit kaget, karena itu benar-benar potret dirinya yang di ambil dari kejauhan."Itu pasti cuma kebetulan, Nyonya," ucap Kania tenang. "Orangnya mungkin mirip sama aku, tapi jelas bukan aku. Lagipula... aku gak punya baju sebagus itu." Ucap Kania.Nyonya besar memicingkan mata, menatapnya lama, seolah berusaha mencari tanda-tanda kebohongan di wajah Kania."Mirip banget," gumamnya pelan. "Bahkan dari belakang pun gaya jalanmu sama."Kania tersenyum tipis. "Aku sering dengar orang bilang wajah ku pasaran, Nyonya.""Aneh aja, fotonya dikirim pas kamu juga lagi di luar. Waktunya pas banget," katanya dengan nada dingin.Kania hanya menunduk sopan. "Aku gak tahu siapa yan
Bagas mendesahkan napasnya."Jadi bagaimana sekarang apa saya perlu jemput nona Kania di sana?" Tanya Bastian."Ya, jemput dia sekarang," balas Bagas sambil menoleh menatap ke arah Kania.Kania seakan mengerti. Dengan maksud Bagas.Setelah itu panggilan berakhir.Bagas meletakkan ponselnya dan berkata pada Kania, "karena mamaku udah mau pulang hari ini, kamu sekarang pulang ke rumah. Aku gak mau orang-orang malah nambah curiga kalau liat kamu ga ada. Walaupun mereka tahunya kamu izin ke jenguk kakakmu. Tapi setelah mereka lihat foto itu bisa jadi sebenarnya mereka curiga, makanya pulang cepet buat mastiin kamu dan saya," ujar Bagas.Kania menghela napas, walau begitu dia tetap tenang. "Mas. Gak usah khawatir. Aku bisa hadapi mereka kok."Bagas terdiam cukup lama kemudian mengangguk."Ini pasti karena Naren, mereka pulang cepet pasti mempertimbangkan Naren." Imbuh Kania."Yaudah aku siap-siap."Kania berbalik ke kamar dan memasukkan barang-barang ke dalam tas.Bagas menggeram, mengepal
Bibirnya yang hangat kembali meraup apa yang ada di depannya mengulum buah dada Kania seolah menggantikan rokok yang semula ia isap.Kania menengadahkan wajahnya. Dan merangkul leher pria di depannya.Semakin lama suhu di antara mereka kembali panas. Intensitas semakin naik. Dan permainan pun di lanjutkan dengan Kania yang memimpin di atas."Aku gak bisa mas,""Kamu harus belajar,"Entah bagaimana nalurinya seolah bekerja.Bagas juga ikut membimbingnya. Hingga mereka benar-benar kembali tenggelam ke dalam permainan-permainan itu.Tangan Bagas menarik pinggul Kania agar sedikit terangkat dan dia mulai membimbingnya sampai miliknya kembali membenam di dalam perempuan itu.Kania menatap kilapan api gairah itu menyala di dalam mata pria itu, ada bayangan tubuhnya juga yang muncul di sana, dan di detik berikutnya logikanya runtuh.Kania bisa menjadi air yang teduhnya mendinginkan, namun bisa juga menjadi api yang membakar habis gairahnya."Bergeraklah," Bisik pria itu.Sampai akhirnya nalu
"Kenapa diem hem? Katanya mau kerja, ayo kita ke kamar," imbuh Bagas. Kania langsung memasukan nasi goreng yang baru matang ke dalam piring. Kemudian memutar tubuhnya menatap Bagas. Tangan pria itu masih memeluk pinggang Kania. "Mas. Apa kamu tahu kalau di kamar kamu saat ini ada mbak Frisca?" te
Bagas terdiam, pertanyaannya tadi terjawab. Rupanya yang membuat Kania bersedih adalah ketika perempuan itu tahu statusnya dengan Frsica masih belum resmi bercerai."Ga penting aku tahu dari mana," ujar Kania ketus."Jawab pertanyaan saya Kania?" Bagas mencengkram rahang Kania dan menarik wajahnya
Tidak lama Kania masuk ke kamar Bagas tanpa mengetuknya. Begitu masuk Kania berteriak kecil karena Bagas baru saja melepas celana kerjanya. Bagas terkejut dia buru-buru menarik handuk dan melilitkan ke pinggangnya. Kania benar-benar terkejut begitu melihat tubuh telanjang pria itu, bahkan matan
Kania menahan napasnya, dadanya seketika sesak begitu mendengar nominal yang di sebutkan sang bibi. Nominal itu sangat fantastis tidak pernah terbayangkan olehnya sebelum ini."Gimana kan, bibi ga punya uang sebanyak itu."Otaknya seketika blank di penuhi pikiran buruk. Sehingga akalnya langsung hi







