LOGINWhat happens when Noah Hudson who's a famous chef, a billionaire and handsome, has to babysit Millie Quinn who's clumsy, a college student and cute, who turns out to be his wife after an accidental drunk marriage in Las Vegas?
View More“Elara! Kenapa lantai ruang makan masih kotor?!”
Suara itu memecah pagi seperti sirene. Elara Maheswari tersentak, tangannya yang tengah mengaduk sayur hampir menjatuhkan sendok. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena sudah terlalu sering dibentak seperti itu, dan tetap saja tubuhnya belum kebal. Rahayu berdiri di ambang pintu dapur. Wajah wanita paruh baya itu masam, matanya menyapu ruangan seolah mencari celah kesalahan. “Baru saja Elara pel, Ma,” sahut Elara pelan. “Jangan banyak alasan!” potong Rahayu tajam. “Ini juga, kenapa masaknya lama? Kau mau bikin suamimu dan adik-adiknya telat ke kantor dan kampus, hah?” Elara menunduk. “S-sebentar lagi, Ma…” Tanpa diminta, tangannya langsung bergerak lebih cepat. Menyendok nasi, mengaduk tumisan, memeriksa ayam di penggorengan. Semuanya dilakukan dengan napas yang tersengal. Sejak dini hari ia belum berhenti. Menyapu, mencuci, menyiapkan sarapan. Dan sekarang, dimarahi seolah ia belum melakukan apa-apa. Usianya baru 23 Tahun, tapi rasanya seperti jiwa mudanya telah dicuri oleh hari-hari yang penuh bentakan dan perintah. Empat tahun lalu, Elara menerima perjodohan yang diatur oleh Rahayu, ibu Daris, pria yang kini sah menjadi suaminya. Saat itu, ia benar-benar sendiri. Hingga akhirnya, ada sepasang tangan mungil yang meraih jari-jarinya. Arka. Bayi kecil yang menangis dalam pelukannya seolah meminta untuk tidak ditinggalkan. Elara luluh. Ia pikir, menjadi istri Daris adalah cara untuk tetap berada di sisi anak itu, anak dari pernikahan pertama Daris yang tak lagi punya ibu. Namun, keputusannya menikah dengan Daris ternyata bukanlah penyelamat hidupnya. Justru ia seperti membuang dirinya sendiri ke dalam neraka. Pukul enam kurang lima, Elara membawa makanan ke meja makan. Wajahnya masih pucat, tangannya sedikit gemetar. Daris sudah duduk di kursinya. Tak menoleh, tak menyapa. Seolah Elara tak ada di ruangan itu. Mertua dan kedua adik iparnya juga mulai makan tanpa menunggu. Tidak ada ucapan terima kasih, tidak juga sekadar lirikan peduli. Elara buru-buru masuk ke kamar, membangunkan Arka. “Arka, Sayang... bangun. Sudah pagi, waktunya sekolah,” bisiknya lembut sambil mengelus punggung anak itu. “Kalau terlambat, nanti Ayah marah.” Arka mengerang pelan, tapi akhirnya membuka mata. Dengan tenaga sisa, Elara menggendongnya ke kamar mandi. Ia bergerak cepat, membasuh, mengganti baju, menyisir rambut. Semua dilakukan dalam diam agar tidak menambah keributan. Saat mereka kembali ke meja makan, Daris sudah hampir selesai makan. Elara tak sempat duduk. Ia langsung mengambil sendok, meniup bubur agar tak terlalu panas, lalu menyuapkan pada Arka. “Kenapa lama sekali urus anak? Aku bisa telat ke kantor gara-gara kau!” bentak Daris tiba-tiba. Jantung Elara mencelos. Ia buru-buru meletakkan sendok. “Maaf, Mas...” “Sudah tahu Arka susah bangun, kenapa nggak dibangunin lebih awal?” sindir Alia ketus sambil menyambar tasnya. Elara menelan ludah, tapi tak menjawab. “Arka, cepat habiskan. Kita berangkat sekarang!” hardik Daris. Arka menatap Elara, bingung. Elara menahan napas, mencoba tersenyum. Ia menyodorkan kotak kecil berisi roti ke tangan mungil itu. "Habiskan di mobil, ya," bisiknya. Daris tidak menunggu. Ia sudah melangkah ke pintu utama tanpa menoleh sedikit pun. Elara tergopoh menuntun Arka, memastikan anak itu menyusul ayahnya dengan langkah kecilnya. Begitu mobil Daris melaju dan menghilang di ujung jalan, Elara baru berbalik masuk ke dalam rumah. “Mbak Elara! Mana baju kuliahku yang aku titip buat disetrika?!” suara Dinda menyambutnya dari ruang tengah. Nada bicaranya tinggi, seperti tengah menagih utang. “Di lemari kamar Alia,” jawab Elara pelan. “Duh! Aku tuh udah bilang, bajuku jangan dicampur sama yang lain! Masa segitu aja nggak ngerti, sih?!” Dinda mendengus kesal lalu berjalan cepat ke kamar. Elara diam. Menelan ludah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunduk dan menerima semua cercaan itu. Setiap hari di rumah ini seperti hukuman yang tak pernah usai. Mertua yang kasar. Adik-adik ipar yang selalu merasa lebih tinggi darinya. Dan suami... Daris, pria itu bahkan tak pernah melihatnya sebagai istri. Apalagi sebagai manusia. Bagi Daris, Elara tak lebih dari pembantu yang tidak digaji. Yang harus bangun paling pagi, tidur paling akhir. Yang harus mendengar omelan tanpa boleh menjawab. Yang harus bersyukur meski tak pernah diberi apa-apa. “Seorang istri tugasnya melayani suami tanpa mengeluh. Ridho suami itu surgamu.” Itu yang selalu Daris ucapkan padanya. Setiap kali ia mengeluh, setiap kali ia lelah, setiap kali ia hanya ingin didengar—kalimat itu jadi palu yang menghancurkan mulutnya agar tetap diam. *** Keesokan paginya, setelah pagi yang riuh seperti biasa. Menyiapkan sarapan, membangunkan Arka, dibentak Rahayu, pergi ke pasar. Bukan pasar dekat rumah, tapi yang lebih jauh, karena harga sayur di sana lebih murah. Hari ini, mertuanya mengadakan arisan keluarga. Elara harus masak untuk belasan orang. Sendirian. Setelah menyusuri lorong-lorong pasar dan menyelesaikan semua daftar belanja, ia memanggul kantong-kantong plastik besar ke atas motor. Beratnya membuat punggungnya pegal. Tapi ia tak mengeluh. Tak pernah mengeluh. Di tengah perjalanan pulang, saat berhenti di lampu merah, matanya tanpa sengaja menangkap sesuatu. Sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan. Jantung Elara berdegup pelan. ‘Itu… mobil Mas Daris,’ bisiknya. Ia memicingkan mata. Mencoba memastikan. Dan benar. Itu mobil suaminya. Ia hafal betul plat nomornya. Tapi bukan itu yang membuat perutnya tiba-tiba mual. Di kursi penumpang, ada sosok wanita muda. Rambutnya panjang, tertata rapi. Bahunya sedikit menyandar ke arah Daris. Keduanya tertawa, terlihat akrab. Terlalu akrab.I was sitting in my Tax subject class with my mind absent and body present. Are you asking why?You should know why! You read the last chapter.Ahem! But it wasn't only that. Noah became a gentleman to me. I think he was one before that. What I mean here is that he is showing a different side to me.He's been caring this whole morning, including the night we slept. I could feel it in my half-asleep state that he made sure I was covered in a blanket, and then he cuddled up closer to me.After we woke up, I was getting ready for my classes and planning to skip breakfast since I slept too soundly. However, I was greeted with a cuisine the moment I stepped into the dining room.He had set up everything for me and made sure I ate all that hard-working cooking he did. It doesn't end just here. He made sure to drop me off at my Uni, and well, that's it.Who am I kidding? There is more!He pulled me in for a hug and gifted me a phone - not a flip phone - and PECKED MY FOREHEAD.Like hello? W
Last night... The clock read past midnight. "Yeah, it's last night." I sighed dreamily, staring at my fingers and then giggling like a crazy person as I rolled around on my bed. I stopped and quickly sprung up, "Omg, he kissed my fingers. No, wait. He merely pecked them." I pursed my lips before breaking into a smile and another fit of giggles. "Oh gosh! This shows how much of an amateur I am. I didn't date anyone, and I never had someone to flirt with; plus, guys didn't approach me. Well, if we see it this way... Noah wouldn't have approached me either if it weren't for us being married." I went silent, registering my words because it was true. I was hardly noticed by the opposite gender. I sighed, flopping my back on the mattress. I picked up my phone, swiped the screen- Hold on... swiped the screen? "I think Noah left his phone in here." I got up, walked out of my room, and barged into his room because, let's be real, I'm his wife. He bolted upright, clearly st
My name is Millie. My work is destroying stuff. My nature is clumsy. My fear... right now, is not to make Noah more upset than before. But, as usual, and as expected of my life, I failed to reconcile with him through a cake, and on top of that, I accidentally - note the accidentally - broke his gift. The gift for his mother! Wait, wouldn't that make his mother my... mother-in-law? Oh, crap- "Noah... I-I'm so sorry. I didn't do it on purpose, I SWEAR!" Words wouldn't save me because he was not in for any explanations. He walked to the broken gift, picked it up carefully, and dumped it in the trash. ... He's mad, isn't he? He grabbed my wrist, a bit not so gently, and applied the ointment roughly before stamping it on the counter as he turned his heels and, without a word, left the area. Silence fell, and I contemplated whether to open the trash can. I went with the former, as it was obvious I'd open it. "Now what was really in this package...?" I mumbled as I unwrapped
What day is today? I can't stop thinking about what Noah said earlier. It's been on my mind all day, and now I'm alone with all these strange assumptions swirling around in my head. Noah had some work to attend to, and I didn't wanna go to my Uni, so here I am. I'm trying to bake a cake. I decided not to overthink... for now, at least. Also, my apology needs a supporter, though he already has forgiven me. But to lighten up things and to get my mind over the word 'Wife', that's been ringing up in my head, I am attempting a world-class murder- I mean, making a decent edible cake. Did I ever mention that I can't cook? Or was it that I suck at cooking? "Snap out of it! Alright, Millie. Now is your time to shine... with sparkle, not smoke." I muttered the latter in hopes of succeeding. "First step. Preheat the oven..." I turned behind as I fearfully stared at my oven. It's the first step to disaster for me. That oven has been through a lot, always surviving from my attempted cook


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.