/ Zaman Kuno / Balas Dendam Istri Jenderal Qu / Bab 40. Rasa Yang Semakin Nyata.

공유

Bab 40. Rasa Yang Semakin Nyata.

작가: Andrea_Wu
last update 최신 업데이트: 2026-01-21 16:31:08

Qu Liang terbaring lemah di atas ranjangnya, dadanya masih terasa nyeri namun tak separah tadi pagi.

Nyonya Tua Qu datang ke paviliun selatan—di mana Qu Liang tinggal. Su Minshan bahkan sudah mencekokinya banyak kalimat kebohongan, dan jelas itu menyudutkan Shen Lihua.

Wanita itu sengaja memprovokasi nyonya tua Qu agar kebenciannya pada Shen Lihua semakin menjadi-jadi.

"Wanita tidak berguna itu, jadi kekasihnya yang melukai putraku!" Tongkatnya menghentak lantai batu. Wajahnya berkerut dengan s
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Rina Damayanti
lho qingyu si paling mengerti nona nya...... lucuuuu....
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 98. Hukuman Cambuk

    Aula Paviliun Naga diselimuti keheningan yang menekan. Ukiran naga emas di pilar-pilar raksasa memantulkan cahaya obor, menciptakan bayangan panjang yang menyerupai cakar-cakar raksasa mencengkeram lantai marmer. Di ujung aula, di atas singgasana tinggi, duduk Kaisar Lin Shue yang telah menunggu kedatangan putranya. Wajahnya tidak menunjukkan amarah. Namun ekspresi datarnya cukup membuat semua orang melangkah mundur. Langkah Lin Ye Su bergema mantap ketika ia memasuki aula. Jubah kebesaran putra mahkota menjuntai panjang, sulaman naga perak di dadanya berkilau samar. Ia berlutut sesuai tata krama, dan aturan negara. "Putra mahkota memberi hormat kepada Kaisar." Kaisar Lin menildongak, lalu berdiri dari duduknya. Melangkah turun guna menghampiri Lin Ye Su. "Bangunlah." Lin Ye Su langsung berdiri. Punggungnya tegak, dengan tatapan lurus ke depan. Beberapa menteri berdiri di sisi kiri dan kanan aula, tak satu pun berani mengangkat kepala. "Kau tahu apa kesalahanmu, hingga aku

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 97. Melepaskan Takhta

    "Nona di belakangmu!" Luo Qingyu berteriak sekencang mungkin. Anak panah itu melesat membelah udara. Cepat, tanpa suara dan mematikan. Waktu seakan melambat. Namun Shen Lihua tidak panik. Selama beberapa bulan ini selain berlatih ilmu pengobatan, dia juga melatih ilmu bela dirinya. Tubuhnya berputar ringan seperti dedaunan tertiup angin. Ujung lengan bajunya menyapu udara—anak panah itu hanya menyentuh kainnya sebelum menancap keras di dinding batu di belakangnya. Dentang tajam menggema, memantul di dinding. Mata Shen Lihua berubah, tak lagi lembut seperti biasanya. Kini sedingin es yang membeku di puncak gunung. "Nona Shen, berhati-hatilah!" teriak Luo Qingyu. Wajahnya pucat pasi. Namun ketika ia melihat sosok jenderal Qu yang hanya diam di tempatnya, amarah langsung memuncak. "Apanya yang melindungi, dia bahkan diam saja seperti orang bodoh. Masih menginginkan Nona kembali ke kediaman Qu." Shen Lihua masih berkonsentrasi. Tidak peduli suara di sekitarnya. Dari b

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 96. Harga Diri.

    Fajar telah lama meninggi di atas Paviliun Qiongi ketika Lin Ye Su membuka matanya. Sinar matahari menembus celah tirai tipis, jatuh lembut di atas ranjang berkanopi tempat ia terbaring. Aroma samar obat-obatan dan bunga plum masih tersisa di udara—aroma yang melekat pada wanita itu. Bayangan semalam berkelebat di benaknya. Tatapan mata yang bergetar namun tegar. Jemari yang dingin namun tidak menolak ketika ia menggenggamnya. Suara pelan yang memanggil namanya dalam gelap. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Namun, ketika ia menoleh ke sisi ranjang—tempat itu sudah kosong. Tak ada jejak kehadiran Shen Lihua. Selimut telah dirapikan. Meja kecil di dekat jendela bersih tanpa secarik kertas pun. Seolah wanita itu tak pernah berada di sini. Senyumnya memudar. "Ke mana dia?" gumamnya pelan. Tatapannya menggelap. Ia bangkit tanpa ragu. Gerakannya cepat, dan tegas. Jubah dalam dikenakan, ikat pinggang emas dirapatkan. Wajahnya kembali pada topeng seorang putra mahkota—dingi

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 95. Kenyataan Pahit.

    "Apa yang kau katakan!" Kaisar mengepakkan lengan jubah naganya ketika mendengar laporan dari Menteri Hong. Suaranya menggema di aula dalam, mengguncang udara pagi yang belum sepenuhnya hangat. "Hamba mengatakan apa adanya, Yang Mulia," jawab Menteri Hong dengan kepala tertunduk. "Putra Mahkota bersama Tabib Shen semalaman di Paviliun Qiongi." Wajah Kaisar Lin memerah padam. Urat di pelipisnya menegang. Sangat kentara sekali jika dia menahan amarah. Ia tidak mungkin membiarkan putranya mengusik kestabilan negara hanya karena urusan perasaan. Terlebih lagi—wanita itu adalah Shen Lihua— putri Mo Lan An. Nama itu saja sudah cukup untuk membangkitkan bara di hatinya. Dendam lama menyakitkan tentang Mo Lan An—tabib istana yang dituduh sebagai dalang kematian Permaisuri Xian Yi. Meskipun belum pernah terbukti secara langsung, luka itu tak pernah benar-benar sembuh dalam hati sang Kaisar. "Seret anak itu ke mari," desisnya dengan suara tajam. "Sekarang juga!" Menteri Hong segera

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 94. Penyatuan.

    Angin malam berdesir panjang di atas permukaan kolam teratai Istana Yanqing. Bayangan bulan terpecah-pecah oleh riak air, seperti hati Lin Ye Su yang kini terbelah antara darah dan cinta. Lin Hua Su menatapnya seolah menatap orang gila. "Baik lah kalau itu menjadi keinginanmu," desisnya pada akhirnya. "Kalau begitu, Putra Mahkota, bersiaplah. Karena mulai malam ini, bukan hanya aku yang akan menentangmu." "Dan aku tidak peduli, meskipun semua faksi akan bersatu dan menggulingkanku." "Dasar kerasa kepala!" seru Lin Hua Su. Jubahnya berputar tajam ketika ia membalikkan badan. Sosoknya menghilang di balik lorong batu, meninggalkan udara yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Keheningan menyelimuti kolam. Hanya suara napas Shen Lihua yang masih gemetar dalam pelukan Lin Ye Su. Beberapa saat kemudian, Lin Ye Su melepaskannya perlahan. Tangannya tetap menahan bahu wanita itu, seolah takut ia benar-benar jatuh. "Jangan dipikirkan, kau akan aman jika di sisiku," u

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 93. Kepercayaan

    Lin Ye Su merasa dadanya seperti dihantam palu raksasa. Kata-kata Lin Hua Su menggema keras di kepalanya—tabib Mo Lan An… dalang kematian Permaisuri Xian Yi—Ibunya. Wanita yang ia cintai sepenuh hidupnya. Wanita yang wajahnya selalu ia ingat setiap malam ketika ia menatap langit istana. Dan kini—Nama itu disandingkan dengan nama Shen Lihua. Shen Lihua. Wanita yang baru saja ia janjikan dalam hatinya untuk ia lindungi, bahkan jika harus melepaskan takhta. Langkahnya terasa goyah, meski ia masih berdiri tegap di balik bayangan pohon plum. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memucat. Di tepi kolam, Shen Lihua tampak seperti kehilangan pijakan. "Tidak… tidak mungkin." Suaranya gemetar. "Ibuku tidak mungkin melakukan itu. Beliau adalah tabib istana. Ia tidak pernah menyentuh urusan politik." Lin Hua Su tertawa, tawa yang menyakitkan untuk didengar. "Tabib istana adalah orang yang paling dekat dengan racun dan obat. Jika ingin membunuh tanpa jejak, siapa y

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status