MasukKetika mereka kembali, langit malam telah tercabik oleh asap yang membumbung tinggi. Api menjilat tanpa ampun, melahap Paviliun Timur hingga hanya menyisakan rangka kayu yang menghitam dan runtuh satu per satu. Bara merah menyala di antara reruntuhan, sementara asap hitam pekat menggulung naik, seolah hendak menelan bulan yang pucat di atas sana. Aroma hangus memenuhi udara—menusuk, pahit, dan menyisakan rasa sesak di dada. Di tengah kekacauan itu, tangisan memilukan terdengar memecah malam. Permaisuri Xian Yi terjatuh di tanah yang dingin, tubuhnya gemetar hebat. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini terurai berantakan, wajahnya basah oleh air mata. Ia meraung tanpa henti. "Putriku… putriku, Lin Mei Yi!" Di sampingnya, Putra Mahkota Lin Shue turut berlutut. Namun berbeda dengan sang permaisuri, pria itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya diam seperti patung. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, hingga urat-uratnya menonjol jelas. Wajahnya tertunduk, tersembu
Entah pada memori mana lagi Guqin Ruangsang akan membawa Shen Lihua dan Lin Ye Su pergi. Setiap masa yang mereka lewati bukanlah sekadar potongan kenangan, melainkan serpihan luka yang terus terbuka, seakan takdir sengaja memaksa mereka menyaksikan penderitaan demi penderitaan tanpa jeda. Hingga pada saat itu, cahaya putih yang menyelimuti mereka perlahan memudar, memperlihatkan sebuah pondok sederhana beratapkan salju. Udara di tempat itu begitu dingin, napas mereka bahkan berubah menjadi uap tipis yang melayang di udara malam. Shen Lihua membeku sejenak, matanya menelusuri setiap sudut tempat itu dengan perasaan yang tak asing. Ada kenangan lama yang terbangkitkan, sesuatu yang pernah ia lalui, namun kini terasa begitu jauh. "Bukankah ini… pondok milik guru di Gunung Qishan?" Suara Shen Lihua terdengar lirih. Lin Ye Su mengangguk pelan. Tentu saja ia mengenal tempat ini. Bagaimana mungkin ia melupakannya? Pondok sederhana ini adalah tempat pelariannya dahulu, tempat di mana ia
Shen Lihua yang masih bersandar di dada Lin Ye Su mendadak mengangkat wajahnya, matanya membelalak ketika cahaya putih seperti kabut tipis kembali menyelimuti tubuh mereka berdua. Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, dunia di hadapan mereka kembali terdistorsi, memutar ruang dan waktu. Dalam sekejap, kemegahan aula istana lenyap, digantikan oleh hamparan langit senja yang membara di cakrawala. Namun ini berbeda, sepertinya mereka telah melompat beberapa tahun, mungkin sekitar dua tahun, karena dia melihat pengasuh istana mengendong balita perempuan, berdiri di sisi Xian Yi."Bukankah kampanye Sunset diadakan lebih cepat, kenapa kita bisa melompat dua tahun?" tanya Shen Lihua."Aku juga tidak tahu, mungkin ada beberapa alasan, yang membuat kampanye Sunset dibatalkan, dan baru diadakan lagi hari ini."Shen Lihua mengangguk, tidak ingin banyak bertanya lagi. Cahaya matahari yang hampir tenggelam menyiram daratan luas dengan warna keemasan yang didominasi kemerahan, menciptakan
Cahaya putih seperti kabut tipis itu membawa Shen Lihua dan Lin Ye Su entah ke tahun ke berapa.Yang pasti istana tengah meriah dengan hiasan dan keramaian. Ini seperti pesta pernikahan.Benar saja, hari ini adalah pesta pernikahan Lin Shue dan Xian Yi. Sekaligus penobatan Lin Shue sebagai putra mahkota menggantikan Lin Que Yang, yang gelarnya dicopot karena semua mengatakan jika Lin Que Yang tidak mampu memiliki keturunan.Shen Lihua berdiri di sana di aula yang megah, di sisinya Lin Ye Su tengah setia menggenggam tangan orang yang dia cintai."Kalau tidak kuat, kita pergi. Aku tahu, perbuatan ayahmu tak termaafkan lagi." Lin Ye Su menghela napas lagi. "Dulu aku sangat membanggakan ayahku, Kaisar Kin. Aku pikir dia orang yang berhati mulia. Namun, pada kenyataannya dialah orang yang menghancurkan segalanya.""Aku tetap di sini, aku hanya ingin melihat Ibu berdiri di atas singgasana, menjadi seorang permaisuri. Biarkan aku egois kali ini," ujarnya.Namun matanya terus saja menatap sos
Shen Lihua dan Lin Ye Su masih terjebak di tahun itu. Malam ini datang dengan sunyi yang mencekam, menyelimuti Istana Yanqing setelah gelar Putra Mahkota dicabut dari Lin Que Yang. Angin berembus pelan, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, seakan ikut meratapi nasib seorang pangeran yang kini kehilangan segalanya. Sejak saat itu, Lin Que Yang lebih banyak mengurung diri di kediamannya. Paviliun timur yang kini ia tempati tampak sunyi dan dingin, jauh dari kemegahan yang dulu melekat pada dirinya yang sebelumnya tinggal di paviliun barat. "Bagaimana bisa begini… Lin Ru, bagaimana mungkin...." Suara Shen Lihua bergetar pelan, namun kalimatnya terhenti di tenggorokan, seolah ada sesuatu yang menahan kata-kata itu untuk keluar. Di sampingnya, Lin Ye Su hanya menggeleng pelan. Tatapannya tertuju lurus ke depan, ke arah sosok Lin Que Yang yang duduk tenang di beranda kediamannya. Jemarinya bergerak perlahan di atas senar guqin, memetik nada demi nada yang mengalun lirih
Shen Lihua maupun Lin Ye Su sama-sama tertegun. Kebenaran yang tersingkap di hadapan mereka begitu mengguncang hingga sulit untuk dicerna, seakan seluruh keyakinan yang selama ini mereka pegang perlahan runtuh menjadi serpihan tak beraturan. Mereka tidak pernah menyangka, bahwa di balik sikap tenang dan wibawa yang selama ini ditunjukkan oleh sang Kaisar, ternyata menyimpan kebencian yang begitu dalam terhadap Lin Que Yang. Shen Lihua menutup mulutnya dengan gemetar, napasnya terasa tercekat di dada. "Kenapa… kenapa Ayah bisa sekejam itu?" bisiknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar. Untungnya, hanya Lin Ye Su yang mampu mendengar kata-katanya. Lin Ye Su mengerutkan kening, matanya tetap terpaku pada pemandangan di hadapan mereka, seolah takut kehilangan satu detik pun dari kebenaran yang perlahan terkuak. "Ini… sama persis dengan yang tertulis dalam manuskrip milik Ayah Lin Que Yang," ucapnya pelan, "Aku tidak mengerti… kenapa orang yang kita anggap jahat ternyata tidak seperti
Pagi hari itu, Pasar Yunglong telah berubah menjadi lautan manusia. Suara tawar-menawar bersahutan, lonceng toko beradu, dan teriakan pedagang membelah udara yang masih dingin. Aroma teh panas, daging panggang, dan kain baru bercampur menjadi satu, menciptakan hiruk-pikuk khas ibu kota. Di tenga
Su Minshan menyelinap memasuki Paviliun Timur di tengah malam buta. Cahaya obor yang redup memantulkan bayangannya di dinding koridor panjang, membuat siluet tubuhnya tampak meliuk seperti ular berbisa. Istana berada dalam keheningan mutlak. Hanya beberapa pengawal berjaga di gerbang utama, semen
Pengumuman kelulusan Shen Lihua sebagai Tabib Istana secara resmi menutup rangkaian ujian tabib tahun ini. Aula Medis Kekaisaran perlahan kembali hening, meski bisik-bisik penolakan masih terdengar di sudut-sudut ruangan. Banyak yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa seorang wanita berhasil mene
Qu Liang terhuyung ke belakang, wajahnya pucat pasi. Tangannya yang tertembus bilah es bergetar hebat, darah menetes tanpa henti ke lantai marmer yang dingin. Pedang itu tidak biasa. Bilahnya terpancar menyilaukan mata. Aura dingin yang menyertainya merayap seperti kabut salju, membekukan luka