LOGIN“Mbak Senaya, di belakang bareng Pak Raksa, ya.”
Jari Senaya yang sudah menyentuh gagang pintu depan terhenti. Ia menoleh kepada sopir yang berdiri di samping mobil.
“Maaf, Mbak. Soalnya Pak Seno maunya duduk di depan.”
Senaya memejamkan mata sesaat. Tentu saja. Seniornya itu tidak mungkin ia suruh pindah hanya demi menghindari duduk bersebelahan dengan Raksa.
Dengan berat hati, ia beralih ke pintu belakang. Walau hatinya masih kepalang banyak pertanyaan. Pria itu sudah duduk di sisi kanan dengan jas terlipat rapi di pangkuannya.
Senaya tidak tahu kapan pria itu sudah berada di mobil.
Meski hatinya memanas, ia akan mengesampingkan perasaannya.
Lagi pula tiga tahun berlalu, melihat sikap pria itu, sepertinya lebih baik berpura-pura asing.
Begitu Senaya masuk, pria itu bergeser sedikit untuk memberinya ruang, meskipun jok mobil sebenarnya cukup lebar untuk mereka berdua.
“Silakan,” ucapnya singkat.
“Terima kasih.”
Senaya duduk di sisi paling kiri, sedekat mungkin dengan pintu. Ia meletakkan map di pangkuan, lalu menyibukkan diri dengan ponselnya.
Mobil mulai melaju meninggalkan gedung kedutaan. Biasanya, Senaya menikmati pemandangan Sungai Seine setiap kali melewati kawasan itu.
Namun, sore ini ia memilih menunduk, menggulir portal berita, membuka grup kantor, bahkan menjelajahi aplikasi belanja tanpa benar-benar berniat membeli apa pun.
Apa saja, asal tidak perlu memulai percakapan dengan pria di sebelahnya.
“Pak Raksa masih muda sekali, ya, tapi sudah jadi Counsellor,” ujar Seno dari kursi depan. “Biasanya yang menduduki posisi ini sudah mendekati lima puluh tahun, seperti saya.”
Raksa tersenyum tipis. “Mungkin saya hanya beruntung, Pak Seno.”
“Bapak sebelumnya bertugas di kementerian langsung atau bagaimana?”
“Tidak. Sebelumnya saya cukup lama bertugas di Jepang, kemudian dipindahkan ke Swiss. Setelah itu, saya mendapat tawaran penempatan baru.” Raksa menyandarkan punggungnya. “Waktu itu ada dua pilihan. Washington atau Paris. Saya memilih Paris.”
Jempol Senaya berhenti di layar. Hanya sesaat, tetapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa ia masih memperhatikan setiap perkataan pria itu.
“Kenapa, Pak? Washington, kan, lebih prestisius.”
“Pertimbangan pribadi,” jawab Raksa ringan.
Senaya menahan diri untuk tidak memutar bola mata. Apa pun alasan pria itu memilih Prancis, seharusnya bukan urusannya.
Ia sempat melirik ke samping. Rupanya Raksa juga sedang menatapnya. Senaya buru-buru mengalihkan pandangan ke jendela, berpura-pura tertarik pada deretan bangunan yang mereka lewati.
“Kamu sendiri, Senaya.” Suara Raksa kembali terdengar. “Dari sekian banyak pilihan, kenapa memilih Prancis?”
Senaya belum sempat menjawab ketika Seno lebih dulu menyahut.
“Wah, kalau Mbak Senaya, mah, memang sudah seperti orang sini, Pak.” Seno terkekeh. “Bahasa Prancisnya aja bagus, sudah hafal seluk-beluk kota. Kayanya bakal jadi warlok sini kalau dapet suami orang sini.”
Senaya hanya tersenyum kecil. Meski hatinya sedikit geram untuk apa membahas yang yang seperti ini, sih?
“Begitu rupanya,” ujar Raksa kembali menoleh kepadanya.“Berarti kamu sudah punya pacar?”
Senaya sontak menoleh. Pertanyaan macam apa itu? Kenapa tiba-tiba Raksa malah menanyakan urusan pribadinya?
Ia sempat terdiam, tidak langsung menjawab. Namun, sebelum suasana semakin canggung, Seno kembali menyela.
“Kalau saya, mungkin sudah kangen anak istri. Apalagi makanan Indonesia. Susah, Pak, hidup jauh dari nasi Padang.”
Senaya hanya tersenyum tipis mendengar celotehan Seno yang menceritakan dirinya sendiri.
“Kalau begitu, pasti ada alasan tersendiri kenapa kamu bertahan disini.”
Senaya kemudian menghela lagi saat pria itu kembali bertanya, meski ia tahu pertanyaan itu tidak lagi sekadar basa-basi.
"Betul ya, Senaya?" kata pria itu lagi memastikan.
“Keputusan pribadi, Pak.”
Setelah itu, ia kembali menunduk pada ponselnya untuk memutuskan pembicaraan pria itu.
Setibanya di restoran, Senaya sengaja tidak langsung turun. Ia membiarkan Seno dan Raksa keluar lebih dulu, berharap bisa berjalan belakangan bersama sopir.
Namun, baru saja Seno membuka pintu, Raksa justru tetap duduk di tempatnya.
“Pak Raksa tidak ikut?” tanya Senaya terhenti.
“Saya mau ke toilet sebentar.”
Senaya ikut terdiam. Padahal alasannya tidak ingin turun karena ingin menghindari pria itu bersamaan.
Setelah sampai parkiran, sopir lebih dulu meninggalkan Senaya dan Raksa.
“Pak, nanti saya menyusul. Saya mau touch up dulu.”
Sopir mengangguk tanpa curiga. “Oh, silakan Mbak. Saya ke dalam duluan.”
Senaya mengira Raksa akan langsung menyusul. Namun, ketika ia menengok, pria itu ternyata masih duduk di kursinya.
“Pertanyaan saya tadi belum kamu jawab.”
Senaya mengerutkan kening tipis. “Pertanyaan yang mana, Pak?”
Raksa tidak langsung menanggapi. Tatapannya tertahan pada wajah Senaya, seolah sedang mencari sesuatu yang tidak bisa ia temukan dari jawaban singkat itu.
“Kamu apa kabar?”
Pertanyaan sederhana itu justru membuat Senaya kehilangan kata-kata selama beberapa detik.
Ia kemudian mengangkat sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang biasa ia gunakan saat berhadapan dengan rekan kerja. “Seperti yang Bapak lihat.”
“Kabar Ibu bagaimana?”
Senaya membeku. Dadanya terasa panas. Di antara semua hal yang bisa ditanyakan Raksa, mengapa harus itu?
Sejak mengetahui nama keluarga Adiprana yang disebutkan rekannya tadi, ia sudah berusaha mencari tahu sedikit tentang pria itu melalui ponselnya.
Baru saat itulah Senaya menyadari betapa banyak hal yang tidak pernah Raksa ceritakan kepadanya.
Keluarga yang ternyata begitu dikenal, latar belakang ayahnya yang juga Menteri Luar Negeri.
Dulu, Raksa hanya pernah mengatakan bahwa keluarganya tidak tinggal di kota. Hanya saja tidak menjelaskan kota yang adanya di luar negeri.
Senaya tidak pernah menuntut penjelasan lebih jauh karena ia pikir mereka tidak punya alasan untuk saling menyembunyikan sesuatu.
Ternyata, ada begitu banyak hal tentang pria itu yang tidak pernah ia ketahui.
Senaya perlahan berbalik. Ia menatap Raksa dengan senyum yang masih terpasang, meskipun kali ini terasa jauh lebih kaku. “Maaf, Pak. Kalau di luar urusan pekerjaan, sebaiknya tidak ada yang perlu kita bicarakan.”
“Kalau ada sesuatu yang ingin kamu ketahui, tanyakan langsung kepada saya. Jangan percaya begitu saja pada apa yang kamu dengar.”Senaya langsung terdiam di ambang pintu.Ia bahkan belum sempat duduk, apalagi menanyakan alasan Raksa memanggilnya. Namun, pria itu justru membuka percakapan dengan kalimat yang sama sekali tidak ia duga.Senaya berdiri dua langkah dari pintu yang sudah tertutup.Sesaat, Senaya bingung harus menjawab apa. Ia pun mengalihkan perhatian pada ruangan Counsellor yang masih tampak sedikit berantakan.Beberapa kardus belum dibongkar, rak di belakang meja baru terisi separuh, sementara tumpukan map memenuhi salah satu sudut meja. Jelas terlihat bahwa pemilik ruangan itu belum lama menempatinya.“Duduk.”“Saya berdiri saja, Pak.”Raksa menatapnya sebentar, tidak memaksa. Ia hanya menggeser sesuatu di meja ke arah Senaya. Sebuah kotak sarapan berkemasan mika berisi roti lapis, telur rebus, dan potongan buah.“Buat kamu.”Senaya menatap kotak itu, lalu kembali memanda
Kalau urusan mencari penyakit sendiri, Senaya memang ahlinya.Buktinya, malam ini ia duduk bersila di sofa apartemen mungilnya, berselimut tipis, dengan laptop di pangkuan dan puluhan tab terbuka seraya mencari informasi aktris tunangan pria itu.Padahal, tak ada yang menyuruhnya melakukan itu.“Kamu nggak apa-apa, Nduk? Kok suara kamu lesu banget? Sudah makan belum?”Suara ibunya terdengar dari ponsel yang tergeletak di meja kecil. Suara itu menemani kesendiriannya di apartemen yang hanya diterangi lampu ruang tengah.“Nggak apa-apa, Bu. Cuma capek. Hari ini kerjaan agak banyak.” Mata Senaya tetap tertuju pada layar laptop.“Kamu itu jangan terlalu sibuk kerja, Nduk. Makan harus teratur. Di sana nggak ada yang mengingatkan kalau kamu sakit.”Senyum kecil terbit di bibir Senaya. Ibunya selalu begitu. Di mana pun ia berada, sejauh apa pun jaraknya, perempuan itu tetap menganggapnya anak kecil yang bisa lupa makan.“Iya, ibu.” Sambil berbicara, jarinya terus bergerak di atas trackpad. M
Senaya tidak tahu apa yang sebenarnya ingin Raksa ketahui. Mereka sudah lama tidak berhubungan, dan ia merasa tidak perlu membicarakan hal-hal pribadi dengannya, terlebih sekarang pria itu sudah memiliki kehidupan sendiri. Senaya mengembuskan napas pelan. Begitu memasuki restoran, aroma mentega, bawang putih, dan roti panggang langsung menyambut Senaya. Perutnya sudah cukup lapar setelah seharian bekerja. Sayangnya, suasana hatinya sedikit memburuk saat menyadari bahwa kursi yang tersisa bersebelahan.Dengan terpaksa Senaya harus puas duduk disana. Ia merapikan serbet di pangkuan, dan berusaha mengatur nafasnya saat pria itu duduk di sebelahnya.Tak jauh dari sana, Sandi berdiri sambil mengangkat gelas. Ia menyampaikan beberapa patah kata untuk menutup masa tugasnya di Paris. Katanya singkat, meskipun kenyataannya sambutan itu cukup panjangSetelahnya, tawa dan denting sendok garpu memenuhi ruangan. Ia bahkan sempat tertawa mendengar cerita rekannya, tentang seorang tamu delegasi ya
“Mbak Senaya, di belakang bareng Pak Raksa, ya.”Jari Senaya yang sudah menyentuh gagang pintu depan terhenti. Ia menoleh kepada sopir yang berdiri di samping mobil. “Maaf, Mbak. Soalnya Pak Seno maunya duduk di depan.”Senaya memejamkan mata sesaat. Tentu saja. Seniornya itu tidak mungkin ia suruh pindah hanya demi menghindari duduk bersebelahan dengan Raksa.Dengan berat hati, ia beralih ke pintu belakang. Walau hatinya masih kepalang banyak pertanyaan. Pria itu sudah duduk di sisi kanan dengan jas terlipat rapi di pangkuannya. Senaya tidak tahu kapan pria itu sudah berada di mobil.Meski hatinya memanas, ia akan mengesampingkan perasaannya.Lagi pula tiga tahun berlalu, melihat sikap pria itu, sepertinya lebih baik berpura-pura asing. Begitu Senaya masuk, pria itu bergeser sedikit untuk memberinya ruang, meskipun jok mobil sebenarnya cukup lebar untuk mereka berdua.“Silakan,” ucapnya singkat.“Terima kasih.”Senaya duduk di sisi paling kiri, sedekat mungkin dengan pintu. Ia mel
Senaya tidak tahu setan mana yang mengganggunya sampai harus mengucapkan selamat di hari pertama mereka bertemu.Namun, seharusnya, sejak tiga tahun lalu, sekarang mereka sudah menikah, kan?Ucapan itu rupanya mampu membuat senyum tipis di wajah Raksa tertahan.Tatapannya beralih kepada Senaya, seolah sedang memastikan bahwa perempuan itu memang baru saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dibicarakan dalam pertemuan pertama mereka sebagai atasan dan bawahan.Senaya segera mengalihkan pandangan. Ia berniat pamit dan tidak ingin memperpanjang percakapan tersebut. Baginya, ucapan selamat tadi sudah cukup menjadi penanda bahwa ia mengetahui kabar itu dan tidak memiliki urusan lain dengannya.Namun, Raksa justru belum mempersilakannya pergi.“Kamu ... apa kabar?” tanyanya tenang, meski ada jeda kecil sebelum melanjutkan.Senaya menatapnya sejenak.Apa-apaan? Pria itu memanggilnya ke ruangan hanya untuk menanyakan kabarnya? Kalau memang sekadar ingin tahu, kenapa tidak bertanya tadi?
Senaya pikir pindah ke negara lain ternyata tidak serta-merta membuat seseorang terbebas dari masa lalunya. Karena pagi ini, Raksa bukan lagi sekadar seseorang dari masa lalunya. Lebih buruk lagi, ia tidak bisa begitu saja menghindar.Pria itu akan menjadi atasannya.Pria yang kini memakai setelan gelap yang pas di tubuh, rambut tertata rapi, dan wajah tenang itu berdiri di tengah ruang rapat di samping mimbar.Di salah satu sisi ruangan tergantung bendera Indonesia yang berdampingan dengan bendera Uni Eropa. Layar proyektor menampilkan agenda mingguan berisi jadwal kunjungan delegasi. Bagi staf lain, pertemuan pagi ini mungkin menyenangkan untuk menyambut atasan baru.Namun bagi Senaya ruangan itu terasa menyesakkan.“Minggu depan saya resmi kembali ke Jakarta. Jadi, mulai hari ini, proses serah terima jabatan akan dilakukan secara bertahap.”Suara Sandi membuyarkan pikiran Senaya tentang masa lalu. Senaya buru-buru membuang nafas, mengalihkan pandangan dari Raksa pada pria di samp







