Share

Bab 6

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-11-05 10:19:21

“Kalau ada sesuatu yang ingin kamu ketahui, tanyakan langsung kepada saya. Jangan percaya begitu saja pada apa yang kamu dengar.”

Senaya langsung terdiam di ambang pintu.

Ia bahkan belum sempat duduk, apalagi menanyakan alasan Raksa memanggilnya. Namun, pria itu justru membuka percakapan dengan kalimat yang sama sekali tidak ia duga.

Senaya berdiri dua langkah dari pintu yang sudah tertutup.

Sesaat, Senaya bingung harus menjawab apa. Ia pun mengalihkan perhatian pada ruangan Counsellor yang masih tampak sedikit berantakan.

Beberapa kardus belum dibongkar, rak di belakang meja baru terisi separuh, sementara tumpukan map memenuhi salah satu sudut meja. Jelas terlihat bahwa pemilik ruangan itu belum lama menempatinya.

“Duduk.”

“Saya berdiri saja, Pak.”

Raksa menatapnya sebentar, tidak memaksa. Ia hanya menggeser sesuatu di meja ke arah Senaya. Sebuah kotak sarapan berkemasan mika berisi roti lapis, telur rebus, dan potongan buah.

“Buat kamu.”

Senaya menatap kotak itu, lalu kembali memandang Raksa.

“Bapak memanggil saya ke sini untuk menyuruh saya sarapan?”

“Dua-duanya.”

“Saya sudah sarapan.”

“Caramu berbohong tetap sama.” Raksa kembali menunduk ke tabletnya. “Matamu selalu melirik ke kiri.”

Senaya refleks melirik ke kanan.

Sia-sia. Sudut bibir Raksa bergerak sepersekian detik. Dan Senaya benci karena masih mengingat bahwa gerakan kecil itu dulu sanggup membuat harinya terasa jauh lebih menyenangkan.

Ia segera mengalihkan pandangan.

“Kalau di luar urusan pekerjaan, Pak—”

“Ini urusan pekerjaan. Makanya duduk dulu.”

Kali ini Senaya tidak menolak, ia duduk di depan Raksa. Raksa memutar tabletnya ke arah Senaya.

Daftar delegasi pertukaran budaya Indonesia–Prancis. Lima nama tercantum di sana. Dua di antaranya merupakan pejabat kementerian yang sudah beberapa kali ditemui Senaya dalam rapat persiapan.

Nama ketiga adalah seorang sutradara, disusul seorang aktor kenamaan, Reza Mahendra.

Sementara itu, nama terakhir yang tercantum di bagian paling bawah membuat Senaya menelan ludah. Celine Arvella.

Jari Senaya yang memegang tepi meja mengeras tanpa ia sadari.

“Daftar delegasi ini disusun Pak Sandi tiga bulan lalu,” jelas Raksa. “Saya baru membacanya semalam melalui berkas serah terima.”

“Lalu, tugas saya dalam acara ini apa, Pak?” tanya Senaya berusaha tidak terpengaruh oleh nama yang tertulis disana.

“Kamu akan menjadi interpreter utama selama seluruh rangkaian kegiatan. Pembukaan, kunjungan, jamuan, sampai sesi diskusi. Kamu juga akan mendampingi para delegasi utama selama kegiatan berlangsung.”

Senaya menunduk, menatap nama Celine cukup lama.

“Kenapa harus saya …” gumamnya pada diri sendiri, nyaris tanpa suara.

Raksa mengangkat kepala. Dahinya sedikit berkerut. “Kamu keberatan?”

“Eh, enggak.” Senaya segera menggeleng. “Maksud saya, selama ini saya lebih banyak menangani bidang politik. Kalau untuk kegiatan budaya, register bahasanya tentu sedikit berbeda. Saya hanya perlu memastikan bisa mempersiapkan materinya dengan baik.”

Raksa tidak langsung menjawab. Tatapannya seolah sedang mencari sesuatu di balik alasan yang disampaikan Senaya.

“Seharusnya memang Daisy yang menangani,” ujarnya kemudian. “Tapi dia sedang cuti melahirkan. Saya sempat meminta rekomendasi dari Pak Sandi. Dari beberapa nama yang diajukan, nama kamu yang paling dia sarankan.”

Senaya mengangguk kecil.

“Kalau kamu keberatan, saya bisa mencari interpreter lain. Tidak perlu memaksakan diri.”

Interpreter lain.

Dua kata itu langsung menyentil harga dirinya.

Bertahun-tahun Senaya membangun reputasi sebagai interpreter yang bisa diandalkan. Ia tidak pernah menolak pekerjaan hanya karena merasa tidak nyaman dengan salah satu orang yang harus didampinginya.

“Saya sanggup, Pak.”

Lebih cepat dari yang ia rencanakan. Lebih tegas dari yang ia rasakan.

Raksa menatapnya sejenak. Ada sesuatu yang melintas di mata pria itu, tetapi terlalu cepat untuk Senaya pahami.

“Baik. Kalau begitu, saya tunggu hasil persiapanmu.”

“Baik, Pak.”

Senaya hendak bangkit untuk pamit kembali ke kubikelnya, tapi suara Raksa kembali menahannya.

“Dan seperti yang saya katakan tadi, kalau ada sesuatu yang belum kamu pahami, tanyakan langsung kepada saya. Saya tidak ingin kamu mengambil kesimpulan hanya dari gosip.” Raksa menjeda sejenak. “Lagi.”

Lagi. Kata itu menusuk tepat di tempat yang selama ini ia kira sudah mati rasa.

Senaya menatap Raksa. Mungkin ini memang kesempatan untuk menanyakan sesuatu yang masih mengganjal dalam dadanya.

Lagian tidak aneh bukan, jika seorang bawahan ingin memastikan informasi yang beredar tentang atasannya, terlebih ketika orang yang dibicarakan juga termasuk dalam daftar delegasi yang akan ia dampingi.

Setidaknya, itulah alasan yang berusaha ia tanamkan dalam pikirannya.

“Kalau begitu, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Silakan.”

Senaya menarik napas pelan sebelum akhirnya bertanya.

“Tadi Bapak bilang tidak ada rencana pernikahan dengan Celine. Tapi bukan berarti Bapak membantah hubungan kalian, kan?”

Tatapan mata Raksa berkilat tajam, tubuhnya sedikit condong ke depan.

“Saya membantah rencana pernikahannya.”

“Kalau hubungannya?” Kali ini, suara Senaya tidak sepenuhnya berhasil terdengar tenang.

Raksa terdiam.

Tatapan mereka bertemu. Senaya mengenal betul ekspresi itu. Diamnya masih sama. Tenang, tertutup, dan tidak memberikan celah bagi Senaya untuk membaca apa pun.

Dulu, ia pernah berdiri di hadapan pria itu dengan pertanyaan yang jauh lebih banyak. Ia menunggu penjelasan, berharap Raksa akan mengatakan sesuatu yang bisa menyelamatkan hubungan mereka.

Tapi yang ia dapatkan hanya diam. Lima tahun berlalu, dan ternyata ada hal-hal yang tidak banyak berubah.

“Ah maaf, saya sepertinya menanyakan hal yang terlalu pribadi.” Senaya menurunkan pandangan. “Kalau tidak ada lagi, saya permisi—”

“Naya.”

Senaya yang hendak bangkit, kembali duduk perlahan.

Nama kecil itu. Selama di Paris tidak ada yang memanggilnya begitu. Anehnya, hanya dengan satu panggilan, semua kenangan yang selama ini berusaha ia simpan kembali muncul tanpa permisi.

Senaya mengangkat wajah perlahan.

Raksa tampak hendak mengatakan sesuatu, walaupun akhirnya hanya mengembuskan napas.

“Nanti saya kirimkan dokumen persiapan dan pembagian tugasnya melalui email. Pelajari sebelum rapat koordinasi besok.”

Senaya mengerjap. Ia mengangguk kecil dan segera bangkit. Ia merasa aura di sekitarnya sudah mulai tidak nyaman.

Senaya mengangguk kecil. Ia segera bangkit, berniat mengakhiri percakapan sebelum suasana di ruangan itu semakin membuatnya tidak nyaman.

“Baik, Pak.”

“Ambil sarapannya.”

Senaya melirik kotak mika di meja. “Tidak perlu, Pak. Saya benar-benar sudah makan.”

“Kalau begitu, bawa untuk nanti.”

Raksa menggeser kotak itu sedikit lebih dekat ke arahnya. Senaya sempat hendak menolak lagi, tapi akhirnya mengurungkan niatnya. Tangannya terulur meraih kotak makanannya.

Tapi tatapannya justru tertahan pada jemari pria itu. Tidak ada cincin disana.

“Jadi ... Bapak belum bertunangan?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 6

    “Kalau ada sesuatu yang ingin kamu ketahui, tanyakan langsung kepada saya. Jangan percaya begitu saja pada apa yang kamu dengar.”Senaya langsung terdiam di ambang pintu.Ia bahkan belum sempat duduk, apalagi menanyakan alasan Raksa memanggilnya. Namun, pria itu justru membuka percakapan dengan kalimat yang sama sekali tidak ia duga.Senaya berdiri dua langkah dari pintu yang sudah tertutup.Sesaat, Senaya bingung harus menjawab apa. Ia pun mengalihkan perhatian pada ruangan Counsellor yang masih tampak sedikit berantakan.Beberapa kardus belum dibongkar, rak di belakang meja baru terisi separuh, sementara tumpukan map memenuhi salah satu sudut meja. Jelas terlihat bahwa pemilik ruangan itu belum lama menempatinya.“Duduk.”“Saya berdiri saja, Pak.”Raksa menatapnya sebentar, tidak memaksa. Ia hanya menggeser sesuatu di meja ke arah Senaya. Sebuah kotak sarapan berkemasan mika berisi roti lapis, telur rebus, dan potongan buah.“Buat kamu.”Senaya menatap kotak itu, lalu kembali memanda

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 5

    Kalau urusan mencari penyakit sendiri, Senaya memang ahlinya.Buktinya, malam ini ia duduk bersila di sofa apartemen mungilnya, berselimut tipis, dengan laptop di pangkuan dan puluhan tab terbuka seraya mencari informasi aktris tunangan pria itu.Padahal, tak ada yang menyuruhnya melakukan itu.“Kamu nggak apa-apa, Nduk? Kok suara kamu lesu banget? Sudah makan belum?”Suara ibunya terdengar dari ponsel yang tergeletak di meja kecil. Suara itu menemani kesendiriannya di apartemen yang hanya diterangi lampu ruang tengah.“Nggak apa-apa, Bu. Cuma capek. Hari ini kerjaan agak banyak.” Mata Senaya tetap tertuju pada layar laptop.“Kamu itu jangan terlalu sibuk kerja, Nduk. Makan harus teratur. Di sana nggak ada yang mengingatkan kalau kamu sakit.”Senyum kecil terbit di bibir Senaya. Ibunya selalu begitu. Di mana pun ia berada, sejauh apa pun jaraknya, perempuan itu tetap menganggapnya anak kecil yang bisa lupa makan.“Iya, ibu.” Sambil berbicara, jarinya terus bergerak di atas trackpad. M

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 4

    Senaya tidak tahu apa yang sebenarnya ingin Raksa ketahui. Mereka sudah lama tidak berhubungan, dan ia merasa tidak perlu membicarakan hal-hal pribadi dengannya, terlebih sekarang pria itu sudah memiliki kehidupan sendiri. Senaya mengembuskan napas pelan. Begitu memasuki restoran, aroma mentega, bawang putih, dan roti panggang langsung menyambut Senaya. Perutnya sudah cukup lapar setelah seharian bekerja. Sayangnya, suasana hatinya sedikit memburuk saat menyadari bahwa kursi yang tersisa bersebelahan.Dengan terpaksa Senaya harus puas duduk disana. Ia merapikan serbet di pangkuan, dan berusaha mengatur nafasnya saat pria itu duduk di sebelahnya.Tak jauh dari sana, Sandi berdiri sambil mengangkat gelas. Ia menyampaikan beberapa patah kata untuk menutup masa tugasnya di Paris. Katanya singkat, meskipun kenyataannya sambutan itu cukup panjangSetelahnya, tawa dan denting sendok garpu memenuhi ruangan. Ia bahkan sempat tertawa mendengar cerita rekannya, tentang seorang tamu delegasi ya

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 3

    “Mbak Senaya, di belakang bareng Pak Raksa, ya.”Jari Senaya yang sudah menyentuh gagang pintu depan terhenti. Ia menoleh kepada sopir yang berdiri di samping mobil. “Maaf, Mbak. Soalnya Pak Seno maunya duduk di depan.”Senaya memejamkan mata sesaat. Tentu saja. Seniornya itu tidak mungkin ia suruh pindah hanya demi menghindari duduk bersebelahan dengan Raksa.Dengan berat hati, ia beralih ke pintu belakang. Walau hatinya masih kepalang banyak pertanyaan. Pria itu sudah duduk di sisi kanan dengan jas terlipat rapi di pangkuannya. Senaya tidak tahu kapan pria itu sudah berada di mobil.Meski hatinya memanas, ia akan mengesampingkan perasaannya.Lagi pula tiga tahun berlalu, melihat sikap pria itu, sepertinya lebih baik berpura-pura asing. Begitu Senaya masuk, pria itu bergeser sedikit untuk memberinya ruang, meskipun jok mobil sebenarnya cukup lebar untuk mereka berdua.“Silakan,” ucapnya singkat.“Terima kasih.”Senaya duduk di sisi paling kiri, sedekat mungkin dengan pintu. Ia mel

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 2

    Senaya tidak tahu setan mana yang mengganggunya sampai harus mengucapkan selamat di hari pertama mereka bertemu.Namun, seharusnya, sejak tiga tahun lalu, sekarang mereka sudah menikah, kan?Ucapan itu rupanya mampu membuat senyum tipis di wajah Raksa tertahan.Tatapannya beralih kepada Senaya, seolah sedang memastikan bahwa perempuan itu memang baru saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dibicarakan dalam pertemuan pertama mereka sebagai atasan dan bawahan.Senaya segera mengalihkan pandangan. Ia berniat pamit dan tidak ingin memperpanjang percakapan tersebut. Baginya, ucapan selamat tadi sudah cukup menjadi penanda bahwa ia mengetahui kabar itu dan tidak memiliki urusan lain dengannya.Namun, Raksa justru belum mempersilakannya pergi.“Kamu ... apa kabar?” tanyanya tenang, meski ada jeda kecil sebelum melanjutkan.Senaya menatapnya sejenak.Apa-apaan? Pria itu memanggilnya ke ruangan hanya untuk menanyakan kabarnya? Kalau memang sekadar ingin tahu, kenapa tidak bertanya tadi?

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 1

    Senaya pikir pindah ke negara lain ternyata tidak serta-merta membuat seseorang terbebas dari masa lalunya. Karena pagi ini, Raksa bukan lagi sekadar seseorang dari masa lalunya. Lebih buruk lagi, ia tidak bisa begitu saja menghindar.Pria itu akan menjadi atasannya.Pria yang kini memakai setelan gelap yang pas di tubuh, rambut tertata rapi, dan wajah tenang itu berdiri di tengah ruang rapat di samping mimbar.Di salah satu sisi ruangan tergantung bendera Indonesia yang berdampingan dengan bendera Uni Eropa. Layar proyektor menampilkan agenda mingguan berisi jadwal kunjungan delegasi. Bagi staf lain, pertemuan pagi ini mungkin menyenangkan untuk menyambut atasan baru.Namun bagi Senaya ruangan itu terasa menyesakkan.“Minggu depan saya resmi kembali ke Jakarta. Jadi, mulai hari ini, proses serah terima jabatan akan dilakukan secara bertahap.”Suara Sandi membuyarkan pikiran Senaya tentang masa lalu. Senaya buru-buru membuang nafas, mengalihkan pandangan dari Raksa pada pria di samp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status