Share

Bab 5

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-10-28 11:17:33

Kalau urusan mencari penyakit sendiri, Senaya memang ahlinya.

Buktinya, malam ini ia duduk bersila di sofa apartemen mungilnya, berselimut tipis, dengan laptop di pangkuan dan puluhan tab terbuka seraya mencari informasi aktris tunangan pria itu.

Padahal, tak ada yang menyuruhnya melakukan itu.

“Kamu nggak apa-apa, Nduk? Kok suara kamu lesu banget? Sudah makan belum?”

Suara ibunya terdengar dari ponsel yang tergeletak di meja kecil. Suara itu menemani kesendiriannya di apartemen yang hanya diterangi lampu ruang tengah.

“Nggak apa-apa, Bu. Cuma capek. Hari ini kerjaan agak banyak.” Mata Senaya tetap tertuju pada layar laptop.

“Kamu itu jangan terlalu sibuk kerja, Nduk. Makan harus teratur. Di sana nggak ada yang mengingatkan kalau kamu sakit.”

Senyum kecil terbit di bibir Senaya. Ibunya selalu begitu. Di mana pun ia berada, sejauh apa pun jaraknya, perempuan itu tetap menganggapnya anak kecil yang bisa lupa makan.

“Iya, ibu.” Sambil berbicara, jarinya terus bergerak di atas trackpad. Menggulir halaman demi halaman berita tentang penyanyi sekaligus aktris itu.

Ya ... alasannya memang masuk akal. Ia akan menjadi pendamping pria itu, mustahil tidak tahu hidup pria itu.

Setidaknya, itu yang terus ia ulang untuk meyakinkan dirinya sendiri sejak satu jam lalu.

Namun suara ibunya sekali lagi membuatnya bergerak, “Ngomong-ngomong, Nduk. Sudah lama sekali, ya, Ibu nggak dengar cerita tentang Nak Raksa. Bagaimana kabarnya ya, Nduk?”

Jari Senaya berhenti bergerak di atas trackpad. “Baik, Bu, sepertinya. Gak tahu aku gak pernah tahu kabarnya lagi.”

“Syukurlah kalau begitu.” Ibunya terdiam sebentar, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkannya. “Ya sudah, nggak usah dipikirkan. Ibu cuma tiba-tiba teringat saja.”

Senaya tidak langsung menjawab. Memang benar, setelah putus, Senaya berhenti mencari tahu soal pria itu dan fokus pada dirinya sendiri sampai sekarang.

Sampai pria itu kini berada di bumi yang sama, lagi.

“di Paris sudah musim dingin belum, Nduk? Jangan lupa pakai jaket kalau keluar malam, ya. Ibu takut kamu masuk angin.”

Senaya tersenyum tipis. Ibunya memang selalu punya cara untuk mengalihkan pembicaraan.

“Ya sudah, Ibu telepon lagi besok, ya.” ujar Ibu seraya menutup panggilan. “Ibu matikan, ya. Cepat pulang ya, Nduk.”

Panggilan berakhir. Senaya meletakkan ponselnya di meja, lalu kembali menatap layar laptop. Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya menutup tab berita yang sejak tadi dibacanya. “Sudah, Senaya. Cukup,”

…..

“Bonjour, Mbak Senaya!”

Senaya menoleh. Claire sudah duduk di mejanya sambil melambaikan tangan. “Bonjour. Pagi banget kamu datangnya.”

“Lho, aku memang rajin.” Claire terkekeh. “Eh Mbak, nanti jangan lupa, ya. Pak Raksa minta semua materi persiapan delegasi dikumpulkan sebelum rapat.”

Senaya mengangguk sambil meletakkan tasnya. “Sudah aku siapkan. Tinggal beberapa dokumen yang masih menunggu konfirmasi.”

Claire menarik kursi di sebelah meja Senaya, lalu duduk tanpa diminta. Wajahnya tampak seperti seseorang yang sudah menahan cerita sejak tadi. “Eh, Mbak, semalam tahu nggak?”

Senaya mengangkat alis. “Apa?”

“Pas kita selesai makan malam, terus Mbak pulang sama Mas Adrian.” Claire mendekatkan tubuhnya sedikit, seolah hendak membagikan rahasia besar. “Pak Raksa nanya nanya mulu.”

Gerakan tangan Senaya yang sedang merapikan dokumen terhenti sesaat.

“Bertanya bagaimana?”

“Ya, nanyain Mbak sama Mas Adrian. Katanya kalian pulang jalan kaki, memang aman?” Claire menahan tawa. “Pokoknya banyak banget yang ditanyain, Pak Raksa takut Mbak kenapa-kenapa kalau pulang berdua sama Mas Adrian.”

Senaya kembali merapikan dokumennya, berusaha terlihat biasa saja. “Mungkin beliau cuma memastikan semua staf pulang dengan aman.”

“Iya, mungkin.” Claire mengangguk, tetapi senyumnya tidak hilang. “Tapi, Mbak, aku ada berita menarik.” ujarnya dengan suara mengecil.

Ia kemudian menggeser bangkunya sekali lagi mendekat ke telinga Senaya. Claire merendahkan suaranya.“Semalam Pak Seno sempat memberanikan diri bertanya langsung kepada Pak Raksa.”

“Bertanya apa?” Senaya berusaha menjaga nada suaranya tetap datar.

“Soal rencana pernikahannya.” Claire menahan senyum.

Senaya terdiam menatap dokumen di hadapannya. Jantungnya bergemuruh hebat menunggu rekannya melanjutkan.

“Tapi kalau dipikir-pikir kasian Pak Raksa tuh.”

“Kenapa?” Senaya akhirnya bertanya, berusaha terdengar biasa saja.

“Ya, kalau benar beliau akan menikah dengan Celine Arvella.” Claire mendekat sedikit. “Mbak tahu sendiri, kan, reputasi perempuan itu? Dulu pernah terseret isu orang ketiga, lalu beberapa kali dikaitkan dengan pria yang berbeda. Aku heran saja, apa Pak Raksa nggak tahu soal itu?”

“Dan kalau mereka jadi menikah di Paris ini—”

Sebentar, apa kata Claire tadi?

Senaya ingin menyanggah, tetapi belum sempat menjawab, suara bariton membuat mereka menoleh bersamaan.

“Tidak ada rencana pernikahan kalau itu yang kamu pikirkan.”

Raksa berdiri beberapa langkah dari meja kerjanya, satu tangan memegang map yang hendak dibawanya ke ruang rapat.

Claire langsung membenahi posisi duduk.“Maaf, Pak. Kami hanya sedang membicarakan kabar yang beredar,” jelas Claire.

“Saya tahu.” Raksa meletakkan beberapa dokumen di meja Senaya. “Tapi sepertinya kalian sudah terlalu jauh menyimpulkan.”

Claire tersenyum canggung. “Ehm, Maaf, Pak.”

“Tidak seperti yang kalian pikirkan.”

Jawaban itu terlampaui singkat. Raksa kemudian mengalihkan pandangan kepada Senaya. “Senaya, setelah ini temui saya di ruangan.”

Raksa beranjak pergi. Namun, baru beberapa langkah, ia kembali berhenti.

“Dan Claire.”

Perempuan itu mengangkat wajah.

“Kalau ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan, tanyakan langsung kepada saya. Tidak perlu melalui orang lain.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 6

    “Kalau ada sesuatu yang ingin kamu ketahui, tanyakan langsung kepada saya. Jangan percaya begitu saja pada apa yang kamu dengar.”Senaya langsung terdiam di ambang pintu.Ia bahkan belum sempat duduk, apalagi menanyakan alasan Raksa memanggilnya. Namun, pria itu justru membuka percakapan dengan kalimat yang sama sekali tidak ia duga.Senaya berdiri dua langkah dari pintu yang sudah tertutup.Sesaat, Senaya bingung harus menjawab apa. Ia pun mengalihkan perhatian pada ruangan Counsellor yang masih tampak sedikit berantakan.Beberapa kardus belum dibongkar, rak di belakang meja baru terisi separuh, sementara tumpukan map memenuhi salah satu sudut meja. Jelas terlihat bahwa pemilik ruangan itu belum lama menempatinya.“Duduk.”“Saya berdiri saja, Pak.”Raksa menatapnya sebentar, tidak memaksa. Ia hanya menggeser sesuatu di meja ke arah Senaya. Sebuah kotak sarapan berkemasan mika berisi roti lapis, telur rebus, dan potongan buah.“Buat kamu.”Senaya menatap kotak itu, lalu kembali memanda

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 5

    Kalau urusan mencari penyakit sendiri, Senaya memang ahlinya.Buktinya, malam ini ia duduk bersila di sofa apartemen mungilnya, berselimut tipis, dengan laptop di pangkuan dan puluhan tab terbuka seraya mencari informasi aktris tunangan pria itu.Padahal, tak ada yang menyuruhnya melakukan itu.“Kamu nggak apa-apa, Nduk? Kok suara kamu lesu banget? Sudah makan belum?”Suara ibunya terdengar dari ponsel yang tergeletak di meja kecil. Suara itu menemani kesendiriannya di apartemen yang hanya diterangi lampu ruang tengah.“Nggak apa-apa, Bu. Cuma capek. Hari ini kerjaan agak banyak.” Mata Senaya tetap tertuju pada layar laptop.“Kamu itu jangan terlalu sibuk kerja, Nduk. Makan harus teratur. Di sana nggak ada yang mengingatkan kalau kamu sakit.”Senyum kecil terbit di bibir Senaya. Ibunya selalu begitu. Di mana pun ia berada, sejauh apa pun jaraknya, perempuan itu tetap menganggapnya anak kecil yang bisa lupa makan.“Iya, ibu.” Sambil berbicara, jarinya terus bergerak di atas trackpad. M

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 4

    Senaya tidak tahu apa yang sebenarnya ingin Raksa ketahui. Mereka sudah lama tidak berhubungan, dan ia merasa tidak perlu membicarakan hal-hal pribadi dengannya, terlebih sekarang pria itu sudah memiliki kehidupan sendiri. Senaya mengembuskan napas pelan. Begitu memasuki restoran, aroma mentega, bawang putih, dan roti panggang langsung menyambut Senaya. Perutnya sudah cukup lapar setelah seharian bekerja. Sayangnya, suasana hatinya sedikit memburuk saat menyadari bahwa kursi yang tersisa bersebelahan.Dengan terpaksa Senaya harus puas duduk disana. Ia merapikan serbet di pangkuan, dan berusaha mengatur nafasnya saat pria itu duduk di sebelahnya.Tak jauh dari sana, Sandi berdiri sambil mengangkat gelas. Ia menyampaikan beberapa patah kata untuk menutup masa tugasnya di Paris. Katanya singkat, meskipun kenyataannya sambutan itu cukup panjangSetelahnya, tawa dan denting sendok garpu memenuhi ruangan. Ia bahkan sempat tertawa mendengar cerita rekannya, tentang seorang tamu delegasi ya

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 3

    “Mbak Senaya, di belakang bareng Pak Raksa, ya.”Jari Senaya yang sudah menyentuh gagang pintu depan terhenti. Ia menoleh kepada sopir yang berdiri di samping mobil. “Maaf, Mbak. Soalnya Pak Seno maunya duduk di depan.”Senaya memejamkan mata sesaat. Tentu saja. Seniornya itu tidak mungkin ia suruh pindah hanya demi menghindari duduk bersebelahan dengan Raksa.Dengan berat hati, ia beralih ke pintu belakang. Walau hatinya masih kepalang banyak pertanyaan. Pria itu sudah duduk di sisi kanan dengan jas terlipat rapi di pangkuannya. Senaya tidak tahu kapan pria itu sudah berada di mobil.Meski hatinya memanas, ia akan mengesampingkan perasaannya.Lagi pula tiga tahun berlalu, melihat sikap pria itu, sepertinya lebih baik berpura-pura asing. Begitu Senaya masuk, pria itu bergeser sedikit untuk memberinya ruang, meskipun jok mobil sebenarnya cukup lebar untuk mereka berdua.“Silakan,” ucapnya singkat.“Terima kasih.”Senaya duduk di sisi paling kiri, sedekat mungkin dengan pintu. Ia mel

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 2

    Senaya tidak tahu setan mana yang mengganggunya sampai harus mengucapkan selamat di hari pertama mereka bertemu.Namun, seharusnya, sejak tiga tahun lalu, sekarang mereka sudah menikah, kan?Ucapan itu rupanya mampu membuat senyum tipis di wajah Raksa tertahan.Tatapannya beralih kepada Senaya, seolah sedang memastikan bahwa perempuan itu memang baru saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dibicarakan dalam pertemuan pertama mereka sebagai atasan dan bawahan.Senaya segera mengalihkan pandangan. Ia berniat pamit dan tidak ingin memperpanjang percakapan tersebut. Baginya, ucapan selamat tadi sudah cukup menjadi penanda bahwa ia mengetahui kabar itu dan tidak memiliki urusan lain dengannya.Namun, Raksa justru belum mempersilakannya pergi.“Kamu ... apa kabar?” tanyanya tenang, meski ada jeda kecil sebelum melanjutkan.Senaya menatapnya sejenak.Apa-apaan? Pria itu memanggilnya ke ruangan hanya untuk menanyakan kabarnya? Kalau memang sekadar ingin tahu, kenapa tidak bertanya tadi?

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 1

    Senaya pikir pindah ke negara lain ternyata tidak serta-merta membuat seseorang terbebas dari masa lalunya. Karena pagi ini, Raksa bukan lagi sekadar seseorang dari masa lalunya. Lebih buruk lagi, ia tidak bisa begitu saja menghindar.Pria itu akan menjadi atasannya.Pria yang kini memakai setelan gelap yang pas di tubuh, rambut tertata rapi, dan wajah tenang itu berdiri di tengah ruang rapat di samping mimbar.Di salah satu sisi ruangan tergantung bendera Indonesia yang berdampingan dengan bendera Uni Eropa. Layar proyektor menampilkan agenda mingguan berisi jadwal kunjungan delegasi. Bagi staf lain, pertemuan pagi ini mungkin menyenangkan untuk menyambut atasan baru.Namun bagi Senaya ruangan itu terasa menyesakkan.“Minggu depan saya resmi kembali ke Jakarta. Jadi, mulai hari ini, proses serah terima jabatan akan dilakukan secara bertahap.”Suara Sandi membuyarkan pikiran Senaya tentang masa lalu. Senaya buru-buru membuang nafas, mengalihkan pandangan dari Raksa pada pria di samp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status