Share

Bab 4

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-10-28 10:53:22

Senaya tidak tahu apa yang sebenarnya ingin Raksa ketahui. Mereka sudah lama tidak berhubungan, dan ia merasa tidak perlu membicarakan hal-hal pribadi dengannya, terlebih sekarang pria itu sudah memiliki kehidupan sendiri. Senaya mengembuskan napas pelan. 

Begitu memasuki restoran, aroma mentega, bawang putih, dan roti panggang langsung menyambut Senaya. 

Perutnya sudah cukup lapar setelah seharian bekerja. Sayangnya, suasana hatinya sedikit memburuk saat menyadari bahwa kursi yang tersisa bersebelahan.

Dengan terpaksa Senaya harus puas duduk disana. Ia merapikan serbet di pangkuan, dan berusaha mengatur nafasnya saat pria itu duduk di sebelahnya.

Tak jauh dari sana, Sandi berdiri sambil mengangkat gelas. Ia menyampaikan beberapa patah kata untuk menutup masa tugasnya di Paris. Katanya singkat, meskipun kenyataannya sambutan itu cukup panjang

Setelahnya, tawa dan denting sendok garpu memenuhi ruangan. Ia bahkan sempat tertawa mendengar cerita rekannya, tentang seorang tamu delegasi yang salah masuk toilet.

Untuk beberapa saat, ia berhasil melupakan siapa yang duduk di sebelahnya.

Sampai pelayan meletakkan sepiring escargot di depan Raksa.

Sebelum sempat berpikir panjang, tubuh Senaya malah bergerak lebih cepat dari otaknya.

Tangannya terulur meraih piring escargot di hadapan Raksa, lalu menukarnya dengan steak tartare miliknya. Begitu natural, menunjukan ia sudah melakukannya ratusan kali.

Raksa tidak menoleh. Tapi garpunya yang sudah terangkat, berhenti di udara sepersekian detik. Sebelum kembali turun perlahan ke sisi piring.

“Sen, kenapa ditukar?” ujar Sandi menatap mereka dari seberang.

“Ini siput.”

Senaya langsung membeku. Ia menatap piring di hadapannya, lalu melirik Raksa sekilas. Pria itu tidak suka siput? 

Senaya mengerjap. Ia sampai tidak tahu harus bereaksi bagaimana di hadapan orang-orang yang kini menatapnya.

Tangannya masih memegang tepi piring escargot, dan baru saat itu ia mendengar dirinya sendiri.

Tawa di meja menipis. Beberapa kepala menoleh.

Senaya menurunkan piring itu pelan ke meja, hati-hati seperti meletakkan bom. Wajahnya panas dari leher sampai telinga. Sempurna sekali, Senaya. 

“Saya memang kurang suka escargot,” ujar Raksa datar.

Ia mengambil garpu dan mulai makan steak tartare itu dengan tenang, tanpa protes, seolah itu memang pesanannya sejak awal. Hanya Senaya yang melihat telinganya sedikit memerah.

“Ya ampun, maaf, Pak!” ujar Claire yang membawakan makanan langsung pucat. “Waktunya mepet, jadi saya nggak sempat tanya menu Bapak. Pak Sandi bilang disamakan saja.”

“Tidak masalah,” jawab Raksa. “Bukan hal besar.”

Sandi memiringkan kepala, menatap piring, lalu Raksa, lalu Senaya. “Sebentar, Mbak Sen.”

Senaya menahan napas.

“Kok Mbak bisa tahu kalau Pak Raksa nggak suka siput?”

Senaya menurunkan garpunya perlahan. Satu meja menunggu jawabannya, termasuk pria di sebelahnya.

Meski tak menoleh, Senaya tahu persis gestur waspada Raksa saat menyimak sesuatu. Punggung yang sedikit lebih tegak, pisau dan garpu yang berhenti bergerak. Tiga tahun berlalu, dan tubuhnya masih hafal.

“Menebak?” Senaya mengangkat bahu. “Orang yang pertama kali ke Prancis belum tentu suka itu. Saya lihat Bapak baru tiba, ya saya asumsikan begitu.”

Pernyataan itu sengaja ia lempar balik, dan umpannya langsung disambar.

Meja pecah oleh tawa. Seno menepuk meja sambil menimpali soal pengalamannya yang lebih parah. Raksa sempat menoleh sekilas. Sepersekian detik, ia kembali berbincang dengan Sandi.

“Oh jangan lupa ya, Raksa. Besok pagi ada rapat internal, sebelum pertemuan delegasi minggu depan.” Suara Sandi membuat semua keramaian mereda, dan fokus pada dirinya.

“Nanti ada tim politik lengkap, Seno untuk logistik, dan tentu saja Senaya sebagai interpreter.” Sandi menghitung dengan jari. “Terus Adrian. Asisten bapak selama delegasi.”

Senaya meraih gelasnya, lalu Adrian—staf bidang politik—yang sejak tadi duduk dua kursi dari dirinya, mengisi gelasnya tanpa berkata apa-apa.

“Makasih, mas,” bisik Senaya pelan, yang hanya di tanggapi anggukan kecil dan Adrian yang masih fokus mendengarkan Sandi bicara.

“Jangan khawatir, Adrian paling cepat tanggap,” lanjut Sandi sambil mengangkat gelas ke arah Adrian. “Apa pun yang Bapak minta, besoknya sudah beres.”

“Betul, Pak. Cepat tanggap sekali,” timpal Lina, manis dan sengaja. “Apalagi kalau berhubungan dengan Senaya.”

Senaya yang merasa namanya di sebut langsung mengangkat pandangannya pada Lina dan Dinda yang cekikikan di balik telapak tangannya.

“Benar banget! Kalau Mbak Sen yang minta, Pak Dubes aja bisa nomor dua.”

Senaya ingin segera keluar dari restoran ini. Sudah setahun teman-temannya selalu menjodoh-jodohkan dirinya dengan Adrian.

Menuju malam, udara Paris sudah dingin dan basah. Jadi saat mau kembali, pembagian mobil sama dengan tadi.

“Mbak Sen, mobil yang tadi ya. Bareng Pak Raksa, Pak Seno.”

“Saya jalan kaki saja, ya.” ujar Senaya menolak. “Apartemen saya dua blok dari sini. Lebih cepat jalan.” Senaya sudah menyampirkan tasnya. “Terima kasih makan malamnya.”

“Dua blok?” Suara Raksa terdengar dari belakangnya. “Kenapa tidak bareng saja?”

Senaya menoleh sebentar. “Tidak perlu, Pak. Merepotkan.”

Ia sudah menyiapkan penolakan lain ketika suara lain menyela dari sisi kirinya.

“Saya juga searah, Mbak.” Adrian melangkah mendekat sambil menggaruk tengkuknya. Ia tak berani menatap langsung, tapi suaranya mantap. “Kalau Mbak Sen mau jalan biar bareng saya aja.”

Senaya membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Menolak Raksa tadi mudah. Menolak Adrian di depan semua orang berarti menampar niat baik seseorang yang tidak punya salah apa pun.

“Aku...” Ia menelan sisa kalimatnya. “Boleh, Mas.”

Adrian langsung tersenyum, dan itu justru membuatnya merasa bersalah.

Raksa tidak berkata apa-apa. Tangannya masih di saku mantel, dan wajahnya sama datarnya dengan di ruang rapat tadi pagi.

Hanya saja, ia tidak lagi menatap ke arah Senaya. Ia menatap titik kosong di antara Adrian dan Senaya, seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan.

“Udah, nggak apa-apa, Pak!” Kata Claire tersenyum lebar pada Raksa. “Biarin aja mereka jalan bareng.”

“Mereka?” ulang Raksa.

Pelan, hampir tanpa nada. Senaya yakin hanya dirinya yang menangkap perubahan kecil di sana. Rahang yang mengeras sepersekian detik, matanya menyipit.

Claire mengangguk bersemangat, sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja ia injak. “Iya, Pak! Mbak Senaya sama Mas Adrian kan couple goals kita!”

“Tapi sayang, ya. Mereka belum ada perkembangan juga.”

Raksa melirik ke arah jalan yang baru saja dilalui Senaya dan Adrian. Keduanya sudah semakin jauh, berjalan berdampingan.

“Lho, memangnya sudah berapa lama mereka dekat?” tanya Seno menyahuti.

“Sudah lumayan lama, Pak Seno. Tapi Senaya itu susah sekali didekati kalau urusan begitu.”

Yang lainnya terkekeh. “Padahal yang mendekati banyak, lho. Bukan cuma Adrian. Orang-orang lokal juga ada. Beberapa bule pernah terang-terangan mengajaknya berkencan.”

“Terus, kenapa nggak ada yang diterima?”

“Entahlah. Sepertinya dia memang belum mau pacaran lagi setelah yang terakhir.”

Seno yang baru saja hendak masuk ke mobil ikut menyahut, “Lho pernah berpacaran toh?”

“Pernah, Pak sama pria Indonesia,” jawab Claire. “Tapi kalau nggak salah, mereka putus karena laki-lakinya tunangan sama perempuan lain.”

“Lho, kok begitu?”

“Sudah punya tunangan, katanya. Tapi masih menjalin hubungan dengan Senaya. Begitu akhirnya harus memilih, dia malah meninggalkan Senaya begitu saja.”

Raksa yang terdiam di kursi belakang tidak berani menimpali. Laki-laki yang memilih tunangannya. Tentu saja ia tahu pria itu siapa.

“Ngomong-ngomong, Pak Raksa sendiri bagaimana?” Seno tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. “Katanya Bapak berencana menikah di Paris, ya?” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 6

    “Kalau ada sesuatu yang ingin kamu ketahui, tanyakan langsung kepada saya. Jangan percaya begitu saja pada apa yang kamu dengar.”Senaya langsung terdiam di ambang pintu.Ia bahkan belum sempat duduk, apalagi menanyakan alasan Raksa memanggilnya. Namun, pria itu justru membuka percakapan dengan kalimat yang sama sekali tidak ia duga.Senaya berdiri dua langkah dari pintu yang sudah tertutup.Sesaat, Senaya bingung harus menjawab apa. Ia pun mengalihkan perhatian pada ruangan Counsellor yang masih tampak sedikit berantakan.Beberapa kardus belum dibongkar, rak di belakang meja baru terisi separuh, sementara tumpukan map memenuhi salah satu sudut meja. Jelas terlihat bahwa pemilik ruangan itu belum lama menempatinya.“Duduk.”“Saya berdiri saja, Pak.”Raksa menatapnya sebentar, tidak memaksa. Ia hanya menggeser sesuatu di meja ke arah Senaya. Sebuah kotak sarapan berkemasan mika berisi roti lapis, telur rebus, dan potongan buah.“Buat kamu.”Senaya menatap kotak itu, lalu kembali memanda

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 5

    Kalau urusan mencari penyakit sendiri, Senaya memang ahlinya.Buktinya, malam ini ia duduk bersila di sofa apartemen mungilnya, berselimut tipis, dengan laptop di pangkuan dan puluhan tab terbuka seraya mencari informasi aktris tunangan pria itu.Padahal, tak ada yang menyuruhnya melakukan itu.“Kamu nggak apa-apa, Nduk? Kok suara kamu lesu banget? Sudah makan belum?”Suara ibunya terdengar dari ponsel yang tergeletak di meja kecil. Suara itu menemani kesendiriannya di apartemen yang hanya diterangi lampu ruang tengah.“Nggak apa-apa, Bu. Cuma capek. Hari ini kerjaan agak banyak.” Mata Senaya tetap tertuju pada layar laptop.“Kamu itu jangan terlalu sibuk kerja, Nduk. Makan harus teratur. Di sana nggak ada yang mengingatkan kalau kamu sakit.”Senyum kecil terbit di bibir Senaya. Ibunya selalu begitu. Di mana pun ia berada, sejauh apa pun jaraknya, perempuan itu tetap menganggapnya anak kecil yang bisa lupa makan.“Iya, ibu.” Sambil berbicara, jarinya terus bergerak di atas trackpad. M

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 4

    Senaya tidak tahu apa yang sebenarnya ingin Raksa ketahui. Mereka sudah lama tidak berhubungan, dan ia merasa tidak perlu membicarakan hal-hal pribadi dengannya, terlebih sekarang pria itu sudah memiliki kehidupan sendiri. Senaya mengembuskan napas pelan. Begitu memasuki restoran, aroma mentega, bawang putih, dan roti panggang langsung menyambut Senaya. Perutnya sudah cukup lapar setelah seharian bekerja. Sayangnya, suasana hatinya sedikit memburuk saat menyadari bahwa kursi yang tersisa bersebelahan.Dengan terpaksa Senaya harus puas duduk disana. Ia merapikan serbet di pangkuan, dan berusaha mengatur nafasnya saat pria itu duduk di sebelahnya.Tak jauh dari sana, Sandi berdiri sambil mengangkat gelas. Ia menyampaikan beberapa patah kata untuk menutup masa tugasnya di Paris. Katanya singkat, meskipun kenyataannya sambutan itu cukup panjangSetelahnya, tawa dan denting sendok garpu memenuhi ruangan. Ia bahkan sempat tertawa mendengar cerita rekannya, tentang seorang tamu delegasi ya

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 3

    “Mbak Senaya, di belakang bareng Pak Raksa, ya.”Jari Senaya yang sudah menyentuh gagang pintu depan terhenti. Ia menoleh kepada sopir yang berdiri di samping mobil. “Maaf, Mbak. Soalnya Pak Seno maunya duduk di depan.”Senaya memejamkan mata sesaat. Tentu saja. Seniornya itu tidak mungkin ia suruh pindah hanya demi menghindari duduk bersebelahan dengan Raksa.Dengan berat hati, ia beralih ke pintu belakang. Walau hatinya masih kepalang banyak pertanyaan. Pria itu sudah duduk di sisi kanan dengan jas terlipat rapi di pangkuannya. Senaya tidak tahu kapan pria itu sudah berada di mobil.Meski hatinya memanas, ia akan mengesampingkan perasaannya.Lagi pula tiga tahun berlalu, melihat sikap pria itu, sepertinya lebih baik berpura-pura asing. Begitu Senaya masuk, pria itu bergeser sedikit untuk memberinya ruang, meskipun jok mobil sebenarnya cukup lebar untuk mereka berdua.“Silakan,” ucapnya singkat.“Terima kasih.”Senaya duduk di sisi paling kiri, sedekat mungkin dengan pintu. Ia mel

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 2

    Senaya tidak tahu setan mana yang mengganggunya sampai harus mengucapkan selamat di hari pertama mereka bertemu.Namun, seharusnya, sejak tiga tahun lalu, sekarang mereka sudah menikah, kan?Ucapan itu rupanya mampu membuat senyum tipis di wajah Raksa tertahan.Tatapannya beralih kepada Senaya, seolah sedang memastikan bahwa perempuan itu memang baru saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dibicarakan dalam pertemuan pertama mereka sebagai atasan dan bawahan.Senaya segera mengalihkan pandangan. Ia berniat pamit dan tidak ingin memperpanjang percakapan tersebut. Baginya, ucapan selamat tadi sudah cukup menjadi penanda bahwa ia mengetahui kabar itu dan tidak memiliki urusan lain dengannya.Namun, Raksa justru belum mempersilakannya pergi.“Kamu ... apa kabar?” tanyanya tenang, meski ada jeda kecil sebelum melanjutkan.Senaya menatapnya sejenak.Apa-apaan? Pria itu memanggilnya ke ruangan hanya untuk menanyakan kabarnya? Kalau memang sekadar ingin tahu, kenapa tidak bertanya tadi?

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 1

    Senaya pikir pindah ke negara lain ternyata tidak serta-merta membuat seseorang terbebas dari masa lalunya. Karena pagi ini, Raksa bukan lagi sekadar seseorang dari masa lalunya. Lebih buruk lagi, ia tidak bisa begitu saja menghindar.Pria itu akan menjadi atasannya.Pria yang kini memakai setelan gelap yang pas di tubuh, rambut tertata rapi, dan wajah tenang itu berdiri di tengah ruang rapat di samping mimbar.Di salah satu sisi ruangan tergantung bendera Indonesia yang berdampingan dengan bendera Uni Eropa. Layar proyektor menampilkan agenda mingguan berisi jadwal kunjungan delegasi. Bagi staf lain, pertemuan pagi ini mungkin menyenangkan untuk menyambut atasan baru.Namun bagi Senaya ruangan itu terasa menyesakkan.“Minggu depan saya resmi kembali ke Jakarta. Jadi, mulai hari ini, proses serah terima jabatan akan dilakukan secara bertahap.”Suara Sandi membuyarkan pikiran Senaya tentang masa lalu. Senaya buru-buru membuang nafas, mengalihkan pandangan dari Raksa pada pria di samp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status