Share

Balik Kanan, Mantan!
Balik Kanan, Mantan!
Author: QueenShe

Bab 1

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-10-28 10:51:39

Senaya pikir pindah ke negara lain ternyata tidak serta-merta membuat seseorang terbebas dari masa lalunya. 

Karena pagi ini, Raksa bukan lagi sekadar seseorang dari masa lalunya. Lebih buruk lagi, ia tidak bisa begitu saja menghindar.

Pria itu akan menjadi atasannya.

Pria yang kini memakai setelan gelap yang pas di tubuh, rambut tertata rapi, dan wajah tenang itu berdiri di tengah ruang rapat di samping mimbar.

Di salah satu sisi ruangan tergantung bendera Indonesia yang berdampingan dengan bendera Uni Eropa. Layar proyektor menampilkan agenda mingguan berisi jadwal kunjungan delegasi. 

Bagi staf lain, pertemuan pagi ini mungkin menyenangkan untuk menyambut atasan baru.

Namun bagi Senaya ruangan itu terasa menyesakkan.

“Minggu depan saya resmi kembali ke Jakarta. Jadi, mulai hari ini, proses serah terima jabatan akan dilakukan secara bertahap.”

Suara Sandi membuyarkan pikiran Senaya tentang masa lalu. Senaya buru-buru membuang nafas, mengalihkan pandangan dari Raksa pada pria di sampingnya.

Masa tugas Sandi sebagai Counsellor bidang politik di Paris telah berakhir, dan pertemuan pagi itu diadakan untuk memperkenalkan penggantinya.

Senaya sudah tahu Sandi akan pulang. Tapi yang tidak pernah ia bayangkan adalah siapa yang akan menggantikannya.

Sandi menoleh kepada Raksa, lalu mempersilakannya maju. “Perkenalkan, Bapak Raksa Keanu Wibisono. Beliau akan menggantikan posisi saya. Saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik, mendukung proses peralihan ini.” 

Beberapa staff bertepuk tangan. Sebagian tersenyum ramah, sementara yang lain tampak bersemangat menyambut atasan baru mereka.

Senaya tak melakukan keduanya. Jari-jarinya mengepal di sisi tubuh. Tanpa sadar, ia menekan kuku ibu jarinya ke telapak tangan, berusaha mengalihkan rasa panik yang mulai menguasai dirinya.

Dulu setelah hubungan mereka berakhir, ia menata kembali hidupnya.

Ia kemudian mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana di Paris. 

Setelah lulus, ia bekerja sebagai interpreter di Kedutaan Besar. Dua tahun terakhir, hidupnya berjalan cukup baik. 

Ia tidak pernah benar-benar berniat melarikan diri dari masa lalu. Hanya saja, berada jauh dari tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan membuat segalanya terasa lebih mudah.

Setidaknya, itulah rencananya. Sayangnya, ia lupa bahwa dunia tak selebar yang dibayangkannya.

Senaya ingin tertawa kecil melihat kebetulan itu, tetapi yang muncul justru rasa gugup. Meski begitu, ia tidak akan membiarkan masa lalu mengganggu karier yang ia bangun jauh.

“Terima kasih, Pak Sandi,” ujar Raksa.

Suaranya terdengar sama seperti yang diingat Senaya—rendah, tenang, dan sulit ditebak.

“Saya berharap kita bisa melanjutkan pekerjaan dengan baik. Bagi saya, koordinasi dan komunikasi yang terbuka sangat penting agar setiap agenda dapat berjalan sesuai rencana.”

Penting, katanya?

Senaya nyaris tertawa. Pandangannya kembali tertahan pada pria di depan ruangan itu. 

Ada banyak hal yang tidak pernah sempat dibicarakan, banyak pertanyaan yang hingga kini belum benar-benar menemukan jawaban.

Tiga tahun lebih mereka berpacaran. Sampai pada ulang tahun Raksa, ketika Senaya menunggu berjam-jam di apartemen pria itu sambil menyiapkan kejutan. Pesan yang ia kirim tidak dibalas, teleponnya pun tidak diangkat.

Keesokan paginya, ia menemukan rumor di media sosial bahwa Raksa telah bertunangan dengan seorang aktris. 

Saat itu, Senaya hanya ingin mendengar penjelasan langsung dari Raksa. Ia berharap pria itu menyangkal rumor tersebut atau setidaknya memberinya alasan bahwa itu kesalahpahaman.

Namun, Raksa justru mengakhiri hubungan mereka tanpa menjelaskan.

Senaya menarik napas perlahan, bukan saatnya ia mengingat hal itu lagi. Lagipula bukannya ia sudah berjanji tak akan mengingatnya lagi.

Di ruangan ini, Raksa hanya atasan baru mereka. Dan ia salah satu staf yang harus bekerja di bawah kepemimpinannya. Hanya itu tidak lebih.

“Selanjutnya, saya akan memperkenalkan staf yang berada disini,” lanjut Sandi.

Satu per satu, nama staf disebutkan. Mereka memperkenalkan diri. Raksa mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk atau mengajukan pertanyaan mengenai agenda yang sedang berjalan.

Senaya mengenali sikap itu. Raksa memang selalu seperti ini ketika berhadapan dengan orang lain. 

Tenang, cermat, dan sulit dibaca.

Suara dan tatapannya masih sama, mengingatkan Senaya pada pagi yang membuatnya tidak lagi berniat menjalin kasih setelah hubungan terakhir.

Yang berbeda dari pria itu hanya rambutnya yang sedikit lebih pendek daripada yang Senaya ingat. Garis wajahnya semakin tegas, dengan kerutan halus di sudut mata yang membuatnya terlihat lebih matang.

Senaya segera mengerjap, mencoba tersenyum kecil saat namanya dipanggil. “Nah, ini Mbak Senaya Hadinata.” Sandi menunjuk perempuan yang berdiri di baris kedua. “Interpreter terbaik yang kita punya.”

Beberapa staf langsung mengangguk tanpa membantah. Semua orang diruangan itu tahu kemampuan Senaya. Dalam negosiasi, satu istilah yang diterjemahkan keliru bisa mengubah makna sebuah pernyataan resmi.

“Kalau ada pertemuan dengan negara lain, saya lebih tenang kalau Senaya yang mendampingi.” Sandi terkekeh. “Jadi… mohon pertahankan.”

Tawa kecil dari beberapa staff menyebar di seluruh ruang.

Senaya berusaha ikut tersenyum mendengar candaan mereka. Raksa sendiri hanya tersenyum tipis, sambil menatap Senaya sekilas

“Kalau begitu, saya berharap Mbak Senaya dapat terus membantu agenda yang sedang berjalan.”

Namun, ketika pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan Raksa, senyum itu hampir saja goyah.

Pria itu menatapnya dengan ekspresi tenang. 

Senaya menelan rasa sesak yang mendadak muncul di tenggorokannya. Asing masih segar di kepala.

“Senaya.”

Senaya kembali membalik tubuhnya dan melihat Raksa masih berdiri di tempatnya. Ia ingin menahan keinginannya untuk melirik jam tangan.

Lalu beralasan ingin pamit segera. Tetapi mendengar namanya dipanggil, Senaya tak mungkin akan menjadi staff durhaka jika mengabaikan bosnya di hari pertama.

Jadi ia menghela, memaksakan dirinya menyempatkan diri untuk tersenyum.

“Ya, Pak?”

“Bisa ikut saya sebentar?”

Senaya mengangguk. Raksa berjalan keluar terlebih dahulu tanpa menoleh. 

Senaya menegakkan punggung. Rasa perih di telapak tangan menyadarkannya bahwa sejak tadi ia mengepalkan tangan terlalu erat. Ia segera melonggarkannya sebelum Raksa menyadari kegugupannya.

Senaya mengikuti dengan jarak dua langkah dan mereka terhenti di ruang kerja Counsellor yang masih setengah kosong. 

Raksa menutup pintu, tak sampai rapat, hanya cukup untuk membuat suara dari koridor meredam.

Senaya menarik napas pelan, lalu mengulurkan tangan mengawali percakapan. “Saya Senaya. Selamat datang di Paris, Pak. Semoga bisa bekerja sama dengan baik."

Raksa menyambut uluran tangannya dengan senyum tipis. “Terima kasih. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik.”

Senaya mengangguk kecil. Ada jeda sesaat sebelum akhirnya ia menambahkan, “Dan meskipun sedikit terlambat, selamat atas pernikahannya, Pak Raksa.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 6

    “Kalau ada sesuatu yang ingin kamu ketahui, tanyakan langsung kepada saya. Jangan percaya begitu saja pada apa yang kamu dengar.”Senaya langsung terdiam di ambang pintu.Ia bahkan belum sempat duduk, apalagi menanyakan alasan Raksa memanggilnya. Namun, pria itu justru membuka percakapan dengan kalimat yang sama sekali tidak ia duga.Senaya berdiri dua langkah dari pintu yang sudah tertutup.Sesaat, Senaya bingung harus menjawab apa. Ia pun mengalihkan perhatian pada ruangan Counsellor yang masih tampak sedikit berantakan.Beberapa kardus belum dibongkar, rak di belakang meja baru terisi separuh, sementara tumpukan map memenuhi salah satu sudut meja. Jelas terlihat bahwa pemilik ruangan itu belum lama menempatinya.“Duduk.”“Saya berdiri saja, Pak.”Raksa menatapnya sebentar, tidak memaksa. Ia hanya menggeser sesuatu di meja ke arah Senaya. Sebuah kotak sarapan berkemasan mika berisi roti lapis, telur rebus, dan potongan buah.“Buat kamu.”Senaya menatap kotak itu, lalu kembali memanda

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 5

    Kalau urusan mencari penyakit sendiri, Senaya memang ahlinya.Buktinya, malam ini ia duduk bersila di sofa apartemen mungilnya, berselimut tipis, dengan laptop di pangkuan dan puluhan tab terbuka seraya mencari informasi aktris tunangan pria itu.Padahal, tak ada yang menyuruhnya melakukan itu.“Kamu nggak apa-apa, Nduk? Kok suara kamu lesu banget? Sudah makan belum?”Suara ibunya terdengar dari ponsel yang tergeletak di meja kecil. Suara itu menemani kesendiriannya di apartemen yang hanya diterangi lampu ruang tengah.“Nggak apa-apa, Bu. Cuma capek. Hari ini kerjaan agak banyak.” Mata Senaya tetap tertuju pada layar laptop.“Kamu itu jangan terlalu sibuk kerja, Nduk. Makan harus teratur. Di sana nggak ada yang mengingatkan kalau kamu sakit.”Senyum kecil terbit di bibir Senaya. Ibunya selalu begitu. Di mana pun ia berada, sejauh apa pun jaraknya, perempuan itu tetap menganggapnya anak kecil yang bisa lupa makan.“Iya, ibu.” Sambil berbicara, jarinya terus bergerak di atas trackpad. M

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 4

    Senaya tidak tahu apa yang sebenarnya ingin Raksa ketahui. Mereka sudah lama tidak berhubungan, dan ia merasa tidak perlu membicarakan hal-hal pribadi dengannya, terlebih sekarang pria itu sudah memiliki kehidupan sendiri. Senaya mengembuskan napas pelan. Begitu memasuki restoran, aroma mentega, bawang putih, dan roti panggang langsung menyambut Senaya. Perutnya sudah cukup lapar setelah seharian bekerja. Sayangnya, suasana hatinya sedikit memburuk saat menyadari bahwa kursi yang tersisa bersebelahan.Dengan terpaksa Senaya harus puas duduk disana. Ia merapikan serbet di pangkuan, dan berusaha mengatur nafasnya saat pria itu duduk di sebelahnya.Tak jauh dari sana, Sandi berdiri sambil mengangkat gelas. Ia menyampaikan beberapa patah kata untuk menutup masa tugasnya di Paris. Katanya singkat, meskipun kenyataannya sambutan itu cukup panjangSetelahnya, tawa dan denting sendok garpu memenuhi ruangan. Ia bahkan sempat tertawa mendengar cerita rekannya, tentang seorang tamu delegasi ya

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 3

    “Mbak Senaya, di belakang bareng Pak Raksa, ya.”Jari Senaya yang sudah menyentuh gagang pintu depan terhenti. Ia menoleh kepada sopir yang berdiri di samping mobil. “Maaf, Mbak. Soalnya Pak Seno maunya duduk di depan.”Senaya memejamkan mata sesaat. Tentu saja. Seniornya itu tidak mungkin ia suruh pindah hanya demi menghindari duduk bersebelahan dengan Raksa.Dengan berat hati, ia beralih ke pintu belakang. Walau hatinya masih kepalang banyak pertanyaan. Pria itu sudah duduk di sisi kanan dengan jas terlipat rapi di pangkuannya. Senaya tidak tahu kapan pria itu sudah berada di mobil.Meski hatinya memanas, ia akan mengesampingkan perasaannya.Lagi pula tiga tahun berlalu, melihat sikap pria itu, sepertinya lebih baik berpura-pura asing. Begitu Senaya masuk, pria itu bergeser sedikit untuk memberinya ruang, meskipun jok mobil sebenarnya cukup lebar untuk mereka berdua.“Silakan,” ucapnya singkat.“Terima kasih.”Senaya duduk di sisi paling kiri, sedekat mungkin dengan pintu. Ia mel

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 2

    Senaya tidak tahu setan mana yang mengganggunya sampai harus mengucapkan selamat di hari pertama mereka bertemu.Namun, seharusnya, sejak tiga tahun lalu, sekarang mereka sudah menikah, kan?Ucapan itu rupanya mampu membuat senyum tipis di wajah Raksa tertahan.Tatapannya beralih kepada Senaya, seolah sedang memastikan bahwa perempuan itu memang baru saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dibicarakan dalam pertemuan pertama mereka sebagai atasan dan bawahan.Senaya segera mengalihkan pandangan. Ia berniat pamit dan tidak ingin memperpanjang percakapan tersebut. Baginya, ucapan selamat tadi sudah cukup menjadi penanda bahwa ia mengetahui kabar itu dan tidak memiliki urusan lain dengannya.Namun, Raksa justru belum mempersilakannya pergi.“Kamu ... apa kabar?” tanyanya tenang, meski ada jeda kecil sebelum melanjutkan.Senaya menatapnya sejenak.Apa-apaan? Pria itu memanggilnya ke ruangan hanya untuk menanyakan kabarnya? Kalau memang sekadar ingin tahu, kenapa tidak bertanya tadi?

  • Balik Kanan, Mantan!   Bab 1

    Senaya pikir pindah ke negara lain ternyata tidak serta-merta membuat seseorang terbebas dari masa lalunya. Karena pagi ini, Raksa bukan lagi sekadar seseorang dari masa lalunya. Lebih buruk lagi, ia tidak bisa begitu saja menghindar.Pria itu akan menjadi atasannya.Pria yang kini memakai setelan gelap yang pas di tubuh, rambut tertata rapi, dan wajah tenang itu berdiri di tengah ruang rapat di samping mimbar.Di salah satu sisi ruangan tergantung bendera Indonesia yang berdampingan dengan bendera Uni Eropa. Layar proyektor menampilkan agenda mingguan berisi jadwal kunjungan delegasi. Bagi staf lain, pertemuan pagi ini mungkin menyenangkan untuk menyambut atasan baru.Namun bagi Senaya ruangan itu terasa menyesakkan.“Minggu depan saya resmi kembali ke Jakarta. Jadi, mulai hari ini, proses serah terima jabatan akan dilakukan secara bertahap.”Suara Sandi membuyarkan pikiran Senaya tentang masa lalu. Senaya buru-buru membuang nafas, mengalihkan pandangan dari Raksa pada pria di samp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status