LOGINSenaya tidak tahu setan mana yang mengganggunya sampai harus mengucapkan selamat di hari pertama mereka bertemu.
Namun, seharusnya, sejak tiga tahun lalu, sekarang mereka sudah menikah, kan?
Ucapan itu rupanya mampu membuat senyum tipis di wajah Raksa tertahan.
Tatapannya beralih kepada Senaya, seolah sedang memastikan bahwa perempuan itu memang baru saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dibicarakan dalam pertemuan pertama mereka sebagai atasan dan bawahan.
Senaya segera mengalihkan pandangan. Ia berniat pamit dan tidak ingin memperpanjang percakapan tersebut. Baginya, ucapan selamat tadi sudah cukup menjadi penanda bahwa ia mengetahui kabar itu dan tidak memiliki urusan lain dengannya.
Namun, Raksa justru belum mempersilakannya pergi.
“Kamu ... apa kabar?” tanyanya tenang, meski ada jeda kecil sebelum melanjutkan.
Senaya menatapnya sejenak.
Apa-apaan? Pria itu memanggilnya ke ruangan hanya untuk menanyakan kabarnya? Kalau memang sekadar ingin tahu, kenapa tidak bertanya tadi?
“Saya langsung saja,” ujar Raksa.
Senaya menunggu.
Namun, setelah mengatakan itu, Raksa justru terdiam. Tatapannya tertuju kepada Senaya, seakan masih mempertimbangkan sesuatu yang ingin disampaikannya.
Senaya menunggu beberapa detik lagi sebelum akhirnya membuka suara.
“Bagaimana, Pak? Ada yang bisa saya bantu?”
Raksa tidak langsung menjawab.
Perempuan itu mulai merasa tidak nyaman. Ia menggeser map di tangannya, lalu sedikit mengubah posisi berdiri. Sepertinya, percakapan mereka memang tidak akan ke mana-mana.
Saat hendak meminta izin untuk kembali bekerja, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada sebuah kotak kardus kecil berwarna cokelat di atas meja.
Senaya tercengang. Itu bukan oleh oleh tanah air. Keripik tersebut selalu dibelinya setiap kali pulang kampung bersama ibunya. Selama tinggal di Paris, ia pernah mencarinya di beberapa toko Asia, tetapi tidak pernah menemukan rasa yang sama.
Dulu, ia pernah bercerita panjang lebar tentang keripik itu kepada Raksa sambil menonton film di sofa apartemennya.
Mengapa pria itu masih mengingatnya?
Dan mengapa sekarang dia membelinya?
Tanpa sadar, tangan Senaya sedikit terangkat. Namun, gerakannya terhenti ketika menyadari bahwa Raksa kini sudah menjadi suami orang.
“Berhubung kamu ada di sini,” ujar Raksa.
Senaya kembali menatapnya.
“Bisa tolong panggilkan petugas umum saat keluar nanti?”
Raksa mengalihkan pandangan ke sebuah dus yang cukup besar di dekat meja. Beberapa kotak serupa tersusun rapi di dalamnya. “Saya ingin meminta bantuan untuk membagikan ini kepada seluruh staf. Anggap saja perkenalan dari saya.”
Tangan Senaya yang sempat terangkat perlahan turun.
Oh?
.....
“Senaya!”
Senaya menoleh saat namanya dipanggil.
Ia masih berdiri di depan ruang kerja Counsellor dengan map dan kotak keripik di tangan ketika Claire menghampirinya. Tanpa banyak basa-basi, perempuan itu langsung mengaitkan lengannya.
Kepalanya masih berkecamuk.
Benar kata pepatah, biarkan masa lalu di tempatnya sendiri.
“Ayo, kita makan!”
Senaya sempat mengerutkan dahi, sebelum akhirnya teringat bahwa agenda mereka berikutnya adalah makan-makan perpisahan untuk Pak Sandi. Ia mengangguk kecil, lalu mengikuti Claire yang sudah lebih dulu mengajaknya berjalan menuju lift.
“Langsung ke parkiran, yuk,” ajak Claire. Namun, baru beberapa langkah, rasa penasarannya rupanya sudah tidak bisa ditahan. “Ngomong-ngomong, gimana Counsellor baru?”
Senaya meliriknya sekilas. “Gimana apanya?”
“Ya, orangnya.” Claire terkekeh. “Masih muda, ganteng hehe. Aku kira bakal jauh lebih tua.”
Senaya hanya tersenyum tipis. Ia belum sempat menanggapi ketika rekan mereka yang ikut memasuki lift ikut menyahut.
“Eh, tapi beliau sudah menikah belum, sih?” celetuk Claire sekali lagi.
Claire mengeluarkan ponsel dari tasnya, seolah baru teringat sesuatu dan menggulir ponselnya. “Aku cari dulu. Takutnya ganteng ganteng ternyata suami orang.”
“Tapi tahu gak sih rumornya?” kata yang lain menoleh. “Kalau Pak Raksa itu ternyata putra mantan Menteri Luar Negeri?”
Langkah Senaya sedikit melambat.
“Hah?” Tanpa sadar, seruan itu lolos dari bibirnya.
Claire dan rekannya langsung menoleh.
Senaya buru-buru mengatur ekspresi. "Gimana maksudnya?"
Keningnya berkerut tipis. Selama mereka bersama, Raksa tidak pernah bercerita banyak tentang keluarganya. Pria itu hanya pernah mengatakan bahwa keluarganya tidak tinggal di kota. Tidak lebih dari itu.
“Pantas saja masih muda sudah dipercaya menduduki posisi Counsellor,” komentar salah satu rekan mereka. “Apalagi kalau memang berasal dari keluarga Adiprana.”
“Benar juga. Aku jadi ingat pernah membaca berita tentang beliau.” Claire mengeluarkan ponsel dari tasnya, lalu mulai mengetik sesuatu di kolom pencarian.
Senaya melirik sekilas.
“Ketemu!” seru Claire tiba-tiba. “Pak Raksa ternyata pernah dikabarkan bertunangan dengan Celine Arvella.”
Claire menggeser layar ponselnya, mencari berita lain yang berkaitan dengan nama Raksa. “Tapi gak ada berita lain kalau mereka menikah setelah pertunangannya.”
Senaya terdiam. Jadi.. pria itu belum menikah?
“Kalau ada sesuatu yang ingin kamu ketahui, tanyakan langsung kepada saya. Jangan percaya begitu saja pada apa yang kamu dengar.”Senaya langsung terdiam di ambang pintu.Ia bahkan belum sempat duduk, apalagi menanyakan alasan Raksa memanggilnya. Namun, pria itu justru membuka percakapan dengan kalimat yang sama sekali tidak ia duga.Senaya berdiri dua langkah dari pintu yang sudah tertutup.Sesaat, Senaya bingung harus menjawab apa. Ia pun mengalihkan perhatian pada ruangan Counsellor yang masih tampak sedikit berantakan.Beberapa kardus belum dibongkar, rak di belakang meja baru terisi separuh, sementara tumpukan map memenuhi salah satu sudut meja. Jelas terlihat bahwa pemilik ruangan itu belum lama menempatinya.“Duduk.”“Saya berdiri saja, Pak.”Raksa menatapnya sebentar, tidak memaksa. Ia hanya menggeser sesuatu di meja ke arah Senaya. Sebuah kotak sarapan berkemasan mika berisi roti lapis, telur rebus, dan potongan buah.“Buat kamu.”Senaya menatap kotak itu, lalu kembali memanda
Kalau urusan mencari penyakit sendiri, Senaya memang ahlinya.Buktinya, malam ini ia duduk bersila di sofa apartemen mungilnya, berselimut tipis, dengan laptop di pangkuan dan puluhan tab terbuka seraya mencari informasi aktris tunangan pria itu.Padahal, tak ada yang menyuruhnya melakukan itu.“Kamu nggak apa-apa, Nduk? Kok suara kamu lesu banget? Sudah makan belum?”Suara ibunya terdengar dari ponsel yang tergeletak di meja kecil. Suara itu menemani kesendiriannya di apartemen yang hanya diterangi lampu ruang tengah.“Nggak apa-apa, Bu. Cuma capek. Hari ini kerjaan agak banyak.” Mata Senaya tetap tertuju pada layar laptop.“Kamu itu jangan terlalu sibuk kerja, Nduk. Makan harus teratur. Di sana nggak ada yang mengingatkan kalau kamu sakit.”Senyum kecil terbit di bibir Senaya. Ibunya selalu begitu. Di mana pun ia berada, sejauh apa pun jaraknya, perempuan itu tetap menganggapnya anak kecil yang bisa lupa makan.“Iya, ibu.” Sambil berbicara, jarinya terus bergerak di atas trackpad. M
Senaya tidak tahu apa yang sebenarnya ingin Raksa ketahui. Mereka sudah lama tidak berhubungan, dan ia merasa tidak perlu membicarakan hal-hal pribadi dengannya, terlebih sekarang pria itu sudah memiliki kehidupan sendiri. Senaya mengembuskan napas pelan. Begitu memasuki restoran, aroma mentega, bawang putih, dan roti panggang langsung menyambut Senaya. Perutnya sudah cukup lapar setelah seharian bekerja. Sayangnya, suasana hatinya sedikit memburuk saat menyadari bahwa kursi yang tersisa bersebelahan.Dengan terpaksa Senaya harus puas duduk disana. Ia merapikan serbet di pangkuan, dan berusaha mengatur nafasnya saat pria itu duduk di sebelahnya.Tak jauh dari sana, Sandi berdiri sambil mengangkat gelas. Ia menyampaikan beberapa patah kata untuk menutup masa tugasnya di Paris. Katanya singkat, meskipun kenyataannya sambutan itu cukup panjangSetelahnya, tawa dan denting sendok garpu memenuhi ruangan. Ia bahkan sempat tertawa mendengar cerita rekannya, tentang seorang tamu delegasi ya
“Mbak Senaya, di belakang bareng Pak Raksa, ya.”Jari Senaya yang sudah menyentuh gagang pintu depan terhenti. Ia menoleh kepada sopir yang berdiri di samping mobil. “Maaf, Mbak. Soalnya Pak Seno maunya duduk di depan.”Senaya memejamkan mata sesaat. Tentu saja. Seniornya itu tidak mungkin ia suruh pindah hanya demi menghindari duduk bersebelahan dengan Raksa.Dengan berat hati, ia beralih ke pintu belakang. Walau hatinya masih kepalang banyak pertanyaan. Pria itu sudah duduk di sisi kanan dengan jas terlipat rapi di pangkuannya. Senaya tidak tahu kapan pria itu sudah berada di mobil.Meski hatinya memanas, ia akan mengesampingkan perasaannya.Lagi pula tiga tahun berlalu, melihat sikap pria itu, sepertinya lebih baik berpura-pura asing. Begitu Senaya masuk, pria itu bergeser sedikit untuk memberinya ruang, meskipun jok mobil sebenarnya cukup lebar untuk mereka berdua.“Silakan,” ucapnya singkat.“Terima kasih.”Senaya duduk di sisi paling kiri, sedekat mungkin dengan pintu. Ia mel
Senaya tidak tahu setan mana yang mengganggunya sampai harus mengucapkan selamat di hari pertama mereka bertemu.Namun, seharusnya, sejak tiga tahun lalu, sekarang mereka sudah menikah, kan?Ucapan itu rupanya mampu membuat senyum tipis di wajah Raksa tertahan.Tatapannya beralih kepada Senaya, seolah sedang memastikan bahwa perempuan itu memang baru saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dibicarakan dalam pertemuan pertama mereka sebagai atasan dan bawahan.Senaya segera mengalihkan pandangan. Ia berniat pamit dan tidak ingin memperpanjang percakapan tersebut. Baginya, ucapan selamat tadi sudah cukup menjadi penanda bahwa ia mengetahui kabar itu dan tidak memiliki urusan lain dengannya.Namun, Raksa justru belum mempersilakannya pergi.“Kamu ... apa kabar?” tanyanya tenang, meski ada jeda kecil sebelum melanjutkan.Senaya menatapnya sejenak.Apa-apaan? Pria itu memanggilnya ke ruangan hanya untuk menanyakan kabarnya? Kalau memang sekadar ingin tahu, kenapa tidak bertanya tadi?
Senaya pikir pindah ke negara lain ternyata tidak serta-merta membuat seseorang terbebas dari masa lalunya. Karena pagi ini, Raksa bukan lagi sekadar seseorang dari masa lalunya. Lebih buruk lagi, ia tidak bisa begitu saja menghindar.Pria itu akan menjadi atasannya.Pria yang kini memakai setelan gelap yang pas di tubuh, rambut tertata rapi, dan wajah tenang itu berdiri di tengah ruang rapat di samping mimbar.Di salah satu sisi ruangan tergantung bendera Indonesia yang berdampingan dengan bendera Uni Eropa. Layar proyektor menampilkan agenda mingguan berisi jadwal kunjungan delegasi. Bagi staf lain, pertemuan pagi ini mungkin menyenangkan untuk menyambut atasan baru.Namun bagi Senaya ruangan itu terasa menyesakkan.“Minggu depan saya resmi kembali ke Jakarta. Jadi, mulai hari ini, proses serah terima jabatan akan dilakukan secara bertahap.”Suara Sandi membuyarkan pikiran Senaya tentang masa lalu. Senaya buru-buru membuang nafas, mengalihkan pandangan dari Raksa pada pria di samp







