ログイン"Kalau semua aset dan perusahaan diserahin ke aku... bukannya itu berarti semua ini akan jadi milik aku kalau Mas Skala nggak pernah bangun?" batinnya.
Luina menatap tangannya sendiri, lalu menutup mata. Untuk sesaat, rasa takut dan keserakahan bertarung di dalam dadanya—dan tidak ada yang menang. "Luina... kita lihat Skala dulu yuk, dia yang peluk kamu saat kejadian.” ujar mamanya mengajaknya Kalimat terakhir yang keluar dari mulut sang Mama membuat dada Luina terasa sesak entah kenapa. Luina terdiam. Hening yang tercipta di ruangan itu terasa aneh—seolah udara di sekelilingnya menebal. Ia mencoba menertawakan kalimat itu di dalam hati, tapi justru merasa perih. Kilasan kecelakaan itu datang tiba-tiba—tajam, bergetar, dan menyakitkan. Semuanya terjadi begitu cepat, begitu kacau. Saat Skala melepas sabuk pengamannya, dan tanpa berpikir, menarik tubuh Luina ke arahnya. Semuanya terjadi begitu cepat—sentuhan dingin di kulit, aroma cologne samar yang tertinggal di jasnya, dan detik berikutnya… Dentuman keras menghantam sisi mobil mereka. Kaca pecah. Logam beradu. Cahaya seolah lenyap dari pandangan. Tubuh Skala menghantam dashboard dengan keras, tapi pelukannya tidak pernah lepas. Ia menunduk, menutupi kepala Luina dengan dadanya, menahan semua benturan yang seharusnya menghancurkan tubuh gadis itu. Luina hanya sempat mendengar napas terakhirnya—berat, pelan, dan penuh rasa sakit. Setelah itu, semuanya gelap. Napas Luina kini terengah di dunia nyata. Matanya terbuka lebar, tapi pandangannya kosong menatap ke lantai kamar rumah sakit. Ia tak sanggup. Alih-alih menghampiri, ia menahan diri. Begitu kedua orang tuanya keluar dari ruangan untuk lebih dulu melihat Skala, pintu menutup pelan di belakang mereka. Keheningan langsung merayap masuk, seperti kabut dingin yang membungkus seluruh kamar. Suara detak jam dinding terdengar jelas. Mesin infus berdesis lembut. Luina menarik napas panjang, menatap langit-langit putih di atasnya. Luina mencoba memejamkan mata, tapi kilasan wajah Skala muncul lagi—samar, pucat, berdarah, tapi dengan tatapan yang... tenang. Tatapan terakhir yang ia lihat sebelum semuanya menjadi gelap. Tanpa sadar, air matanya menetes. Bukan tangisan keras, bukan histeris. Hanya setetes air bening yang jatuh diam-diam ke atas selimut rumah sakit. Luina mengusapnya cepat, seolah menolak kelemahan itu. "Bodoh," gumamnya, lirih. "Ngapain juga nangisin orang yang bahkan belum aku kenal..." Ia menatap ke arah jendela kamar yang separuh tertutup tirai, memperhatikan pantulan samar wajahnya di kaca—pucat, mata sayu, tapi masih berusaha tampak kuat. "Ngapain juga lihat orang yang nggak bakal sadar..." lanjutnya, suaranya menggantung di udara. Tapi setelah itu, hening lagi. Ia mencoba berbaring, menutup mata, tapi setiap kali kelopak itu tertutup, bayangan tadi kembali—Skala yang memeluknya, darah di pelipis pria itu, dan suara napas terakhir yang terasa begitu dekat di telinganya. Sekujur tubuh Luina menegang. Ia menarik napas cepat, menegakkan tubuh lagi dengan wajah gelisah. "Kenapa aku malah sedih sih..." desisnya. "Cuma lihat sebentar aja... habis itu balik ke sini lagi," katanya lagi, lebih kepada dirinya sendiri, seolah sedang menegosiasikan alasan agar langkahnya masuk akal. Langkah Luina terhenti tepat di depan pintu kaca ICU. Ia menatap tulisan itu lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak terlihat. Telapak tangannya yang dingin terangkat pelan, menyentuh gagang pintu logam yang terasa berat di genggaman. Jantungnya berdebar cepat. Sekilas, ia melihat pantulan wajahnya sendiri di kaca—pucat, mata sembab, senyum tipis yang ia paksakan untuk terlihat tenang. Suara mesin medis dan detak monitor langsung menyambutnya, mengisi seluruh telinganya dengan bunyi ritmis yang menegangkan. Udara di dalam terasa jauh lebih dingin, nyaris steril, membuat bulu kuduknya berdiri. Luina melangkah masuk perlahan. Di sana, Skala terbaring. Wajahnya tenang, nyaris tanpa warna. Masker oksigen terpasang di hidung, kabel-kabel medis menjalar di dadanya, dan bunyi monitor jantung berdetak stabil di sisi ranjangnya. Luina berhenti di sisi ranjang. Beberapa detik pertama, ia hanya berdiri diam, menatap pria itu tanpa tahu harus bereaksi bagaimana. “Mas Skala...” panggilnya pelan. Tidak ada jawaban, tentu saja. Hanya bunyi bip... bip... bip dari monitor jantung yang stabil, seolah menjadi satu-satunya tanda bahwa pria itu masih hidup di dunia yang sama dengannya. Luina menelan ludah. Tubuhnya terasa ringan sekaligus berat, seperti tidak sepenuhnya berada di sana. Ia menarik kursi perlahan dan duduk di sisi ranjang, menatap wajah yang dulu hampir tidak sempat ia kenali sebagai suaminya. Untuk pertama kalinya, ia bisa melihat Skala dari jarak sedekat itu— Garis rahangnya tegas, bulu matanya panjang, dan meski tubuhnya tampak lemah, pria itu benar-benar terlihat berwibawa. “Kalau dilihat-lihat kamu ganteng sih, Mas. Walaupun umur kamu tiga puluh tahun, tapi aku nggak bisa bohong, kalau kamu menarik.” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Luina, tanpa sadar. Begitu kata-kata itu menggantung di udara, pipinya langsung memanas. Ia buru-buru menunduk, menggenggam ujung selimut Skala agar tangannya tidak gemetar. “Ngapain sih aku ngomong kayak gitu...” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. Tapi kemudian matanya kembali menatap wajah Skala—lebih lama kali ini. “Padahal aku sempat bilang nggak mau kamu sentuh aku dan nuding kamu gay. Tapi ternyata... kamu malah meluk aku. Dasar tukang ambil kesempatan dalam kesempitan!” oceh Luina. Semua beban mulai terasa di pundaknya. Luina mengurungkan langkahnya untuk keluar, ia mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah Skala. Perlahan tangannya menyentuh rahang wajahnya, merambat ke dagu. Berhenti di antara bibir. “Kata Mama sama Papa, Mas Skala belum pernah pacaran. Makanya aku bilang, kamu gak gay kan?” ucap Luina. Baru setelah itu, Luina tersadar akan semua yang baru saja ia katakan. Ia buru-buru menggeleng kecil, menarik tangannya dari bibir Skala. “Ya ampun, aku ngomong apa sih... Luina, nggak boleh gini! Harus ingat, semua laki-laki tuh sama aja kayak mantan kamu! Tukang selingkuh! Suka mainin perempuan!” ucap Luina. Luina menghembuskan napas panjang, lalu menepuk dadanya sendiri pelan. Dengan langkah cepat, Luina keluar dari ruang ICU—meninggalkan dinginnya udara yang kini terasa lebih sunyi daripada sebelumnya.Pintu baru saja tertutup saat Skala langsung bergerak cepat. Tangannya melingkar di pinggang Luina, hampir menyeret langkah istrinya menuju kamar. “Pelan-pelan, Mas…” Luina berusaha menyesuaikan langkahnya. Skala tidak menjawab. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Begitu sampai di kamar, ia membantu Luina duduk di tepi ranjang, lalu tanpa menunggu apa pun, berbalik menuju meja kecil. Ia menuangkan air ke dalam gelas, membuka botol obat dengan tangannya yang sedikit gemetar. Skala kembali ke sisi ranjang, menyodorkan gelas dan obat. “Minum dulu,” ucapnya cepat, nadanya tegas. Luina menatapnya, lalu menghela napas kecil. “Mas… aku bisa sendiri.” Tangan Skala berhenti di udara. Matanya terangkat, menatap Luina dalam-dalam. Ada kekhawatiran yang belum sempat reda, bercampur rasa lelah yang ia pendam sejak tadi. “Mas tahu kamu bisa,” jawabnya lebih pelan, tapi suaranya tetap berat. “Tapi Mas nggak mau ambil risiko.” Luina menerima gelas itu, jemarinya menyentuh tangan Skala sesa
Skala kembali beberapa menit kemudian dengan kantong obat di tangannya. Langkahnya cepat, begitu melihat Luina masih duduk di tempat yang sama, dadanya terasa sedikit lebih lega.Ia langsung duduk di samping istrinya. “Ini obatnya.”Luina menoleh. “Mas udah tanya semua ke apotekernya?”Skala mengangguk. “Udah. Cara minumnya, jamnya, sama efek sampingnya. Nanti di rumah Mas tulisin lagi biar nggak lupa.”Luina tersenyum kecil. “Mas serius banget.”“Karena Mas nggak mau kecolongan,” jawab Skala singkat, lalu membuka botol minum. “Minum dulu ya, sedikit.”Luina menerima botol itu. Ia meneguk pelan, lalu berhenti sebentar, memastikan lambungnya tidak bereaksi. Skala mengawasinya tanpa berkedip, siap menopang kapan pun.“Aman,” ucap Luina pelan setelahnya.Skala mengangguk. “Syukurlah.”Ia merapikan kantong obat, lalu berdiri. “Kita pulang sekarang.”Skala membantu Luina berdiri. Lengannya langsung melingkar di pinggang istrinya, menahan tubuh Luina agar tetap stabil. Mereka melangkah pela
Skala berdiri di sisi ranjang periksa, posisinya sedikit condong ke depan. Kedua tangannya masuk ke saku celana, jelas menahan kecemasan. Pandangannya tak lepas dari setiap gerak dokter yang sedang memeriksa Luina. Luina berbaring setengah duduk, bantal menopang punggungnya. Meski berusaha terlihat tenang, jemarinya sesekali meremas ujung seprai. Dokter memasang alat pemeriksaan dengan teliti, matanya fokus pada monitor. Skala otomatis ikut menatap layar itu, alisnya sedikit berkerut. “Mas,” bisik Luina pelan, mencoba menenangkan. “Napas dulu…” Skala mengangguk tipis, lalu menghembuskan napas pelan. Namun matanya tetap waspada, mengikuti gerakan tangan dokter—dari pengaturan alat, ekspresi wajah, sampai jeda-jeda kecil yang membuat dadanya ikut menegang. Dokter sesekali mengetik, lalu kembali menatap layar. Skala menelan ludah. Tangannya keluar dari saku, refleks menggenggam sisi ranjang. “Pertama, saya ingin menenangkan dulu,” ucap dokter dengan nada tenang. “Detak jant
Skala duduk di tepi tempat tidur, satu kakinya menyentuh lantai, tubuhnya condong sedikit ke arah Luina. Tangannya mengelus rambut istrinya. Luina sudah tampak lebih segar, wajahnya tidak sepucat tadi, bahkan matanya berbinar kecil. “Mas,” ucap Luina ceria, menyandarkan punggungnya ke bantal. “Kalau nanti aku udah enakan… aku pengin ke mall.” Skala tersenyum. “Ke mall ngapain?” “Nggak ngapa-ngapain juga nggak apa-apa,” jawab Luina cepat. “Jalan aja. Lihat-lihat. Terus nonton bioskop.” Skala terkekeh kecil. “Bioskop? Duduk lama nanti capek.” “Kan bisa pilih kursi yang enak,” sahut Luina ngotot tapi manja. “Atau film yang santai.” Skala mengangguk, matanya hangat. “Yaudah. Kita atur. Pelan-pelan, nggak lama, dan Mas temenin terus.” Luina tersenyum lebar. “Janji?” “Janji,” jawab Skala tanpa ragu. Ponsel Skala yang tergeletak di nakas bergetar pelan. Sebuah notifikasi masuk. Skala melirik sekilas. Nama Pak Darwin muncul di layar, disertai pesan singkat. Pak Darwin: Pak Skala, s
Axel menggebrak meja kerjanya keras. Berkas-berkas di atasnya bergetar, pulpen sampai terguling ke lantai. “Kurang ajar!” bentaknya penuh emosi. Tangannya mengepal kuat. “Tadi Pak Darwin jelas-jelas bilang proyek besar di tangan Skala itu mau dia batalin. Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?! Bahkan balik minta lanjutin kerja sama lagi!” Axel mengusap wajahnya kasar. Dadanya naik turun menahan amarah. “Harusnya gue yang bisa handle itu sendiri,” gumamnya kesal. “Kenapa Skala harus unggul dari gue terus sih?!” Pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka. Axel menoleh dengan wajah masih merah oleh emosi. Sarah melangkah masuk dengan senyum manis yang kontras dengan suasana ruangan. Dress di atas lututnya rapi, rambutnya tergerai sempurna. Di tangannya, sebuah tablet ia dekap santai. “Hai, calon suami,” godanya. Tatapan Axel langsung berubah dingin. Rahangnya mengeras. “Kamu ngapain ke sini?” ucapnya ketus. “Aku lagi nggak mau diganggu.” Sarah terkekeh kecil, sama sekali tidak tersingg
Skala duduk di ruang kerja kecil apartemen, laptop terbuka di hadapannya. Layar menampilkan beberapa kotak wajah—para klien dari luar kota, grafik presentasi, dan satu wajah yang paling ia kenal, yaitu Axel. Suasana rapat berlangsung serius, pembahasan kontrak dan tenggat waktu mengalir rapi dari satu poin ke poin lain.“Untuk revisi terakhir, kita targetkan akhir minggu,” ucap Skala tenang, matanya fokus ke layar, tangannya sesekali menggeser touchpad.Tak jauh darinya, di sofa, Luina duduk bersandar, kaki dilipat. Ia bermain ponsel, sesekali tersenyum kecil membaca sesuatu. Awalnya semua terlihat biasa.Lalu wajah Luina berubah.Keningnya berkerut, tangannya berhenti bergerak. Ia menelan ludah berulang kali, dadanya terasa sesak. Bau kopi dari meja kerja Skala tiba-tiba menusuk hidungnya dengan tajam.Luina menutup mulutnya cepat.Skala menangkap gerakan itu dari sudut matanya. Alisnya mengerut, namun rapat masih berjalan.Luina berdiri tergesa. Satu tangan menutup mulut, tangan lai







