LOGIN
“Guru Besar! Guru Besar!”
Teriakan seorang murid muda menggema di halaman padepokan, membuat semua orang yang sedang berkumpul langsung menoleh dan berlari mengikuti suara itu. Orang-orang berhamburan, langkah kaki mereka berat dipenuhi kecemasan dan ketakutan. Suasana hening malam seketika berubah menjadi gaduh. Saat mereka sampai di ruang Guru Besar, pandangan mereka tertuju pada sosok yang tergeletak di lantai kayu. Tubuh Guru Besar bersimbah darah segar yang mengalir deras dari luka di dadanya. Para murid yang melihatnya terdiam, napas mereka tersengal-sengal, jantung berdegup kencang. Tidak lama kemudian, para tetua perguruan datang, wajah mereka serius dan penuh kecemasan. Mereka mendekat dan memperhatikan luka sang Guru dengan seksama.Namun, detik selanjutnya wajah mereka berubah ekpresi. Mereka kaget setelah memperhatikan goresan luka yang ada di tubuh sang guru besar. Namun, detik selanjutnya wajah mereka berubah ekspresi. Mata para tetua melebar, napas mereka terhenti sejenak, dan raut wajah berubah menjadi serius hingga penuh kengerian. Salah satu tetua tertua mengerutkan kening, lalu membungkuk lebih dekat untuk mengamati luka dalam di dada sang Guru. “Ini... ini bukan luka biasa,” ucapnya dengan suara parau. “Goresan ini... pola tebasan dari jurus Harimau Merah.” Suasana menjadi hening, hanya suara desah murid-murid yang ketakutan yang terdengar. Jurus Harimau Merah adalah jurus andalan yang hanya dikuasai oleh satu murid di perguruan ini yaitu Sagara Wicaksana. Seketika, wajah-wajah murid pun teringat pada satu peristiwa— Sebelum hal tragis itu terjadi, di halaman utama Padepokan Banyu Langit dipenuhi sorak-sorai. Hari itu adalah latih tanding tahunan, ajang penting untuk menentukan siapa murid terbaik. Satu per satu murid maju ke gelanggang, menampilkan jurus terbaik mereka. Namun semua hening ketika nama Sagara Wicaksana dipanggil. Dengan langkah tenang, Sagara memasuki arena. Begitu aba-aba dimulai, gerakannya melesat laksana kilat. Setiap pukulan, setiap sabetan, begitu cepat dan tepat hingga lawannya roboh tanpa sempat membalas. Dalam sekejap, ia mengalahkan semua lawan yang maju. Para tetua mengangguk penuh kebanggaan, para murid menatap dengan kagum. Hari itu, tak ada lagi yang meragukan. Sagara Wicaksana adalah murid terbaik, calon pemimpin Padepokan Banyu Langit. Namun kini, hanya berselang waktu singkat, nama yang dulu dielu-elukan itu justru dipandang penuh curiga dan rasa tak percaya. Seorang tetua pun akhirnya bertanya dengan suara berat, “Sagara, apakah ini perbuatanmu?”” Sagara Wicaksana yang berdiri tak jauh dari situ, terkejut dan terpaku dengan tuduhan yang terlontar dari salah satu gurunya itu. Sejenak hening menyelimuti ruangan. Semua mata tertuju pada Sagara yang berdiri terpaku, wajahnya menunjukkan luka dan keterkejutan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. “Aku tidak melakukan ini,” suara Sagara bergetar namun penuh keyakinan. “Aku bersumpah, aku tidak pernah menyakiti Guru Besar. Aku tidak mungkin tega membunuh guru yang sangat aku hormati.” Rangga Pradipta melangkah maju dengan langkah pasti, tatapannya tajam menusuk ke arah Sagara. “Kau mungkin bilang tidak, tapi bukti tak pernah bohong. Jurus Harimau Merah itu hanya kau yang kuasai. Siapa lagi kalau bukan kau?” Sagara menggenggam tangan dengan erat, berusaha mengendalikan amarah yang mulai membara. “Kau tahu aku takkan pernah mengkhianati perguruan ini. Rangga, kau harus percaya padaku.” Namun, pembelaan diri Sagara sia-sia. Para tetua tidak bisa begitu saja percaya dengan pembelaan pemuda itu. Terlebih lagi setelah mereka semua melihat dengan jelas di tubuh guru besar ada luka bekas tebasan dari jurus Harimau Merah. Jenazah Guru Besar pun segera diangkat dari ruangnya, dikelilingi murid-murid yang masih tak percaya. Pelita-pelita dinyalakan, dan seluruh penghuni perguruan berkumpul di halaman utama untuk memberikan penghormatan terakhir. Isak tangis pecah ketika tubuh sang Guru Besar dimasukan ke dalam peti mati, lalu dimakamkan di puncak bukit belakang padepokan, tempat peristirahatan para leluhur. Sementara itu, Sagara Wicaksana digiring dengan tangan terikat. Ia tidak diperkenankan ikut, hanya bisa menyaksikan dari kejauhan dengan mata yang basah oleh amarah dan kesedihan. Seusai pemakaman, para tetua berkumpul di balairung utama. Obor-obor menyala di dinding, menciptakan bayangan panjang yang bergetar di antara pilar kayu jati. Balairung perguruan sunyi ketika Saka dihadapkan ke tengah ruangan. Tangan dan kakinya terbelenggu rantai besi, wajahnya lebam namun matanya tetap menyala penuh perlawanan. “Guru Besar tewas dengan luka goresan Jurus Harimau Merah,” ucap salah satu tetua dengan suara berat. “Kita semua tahu hanya kau yang menguasai jurus itu, Sagara. Lantas apa lagi yang bisa kau katakan untuk membela dirimu?” Saka menggertakkan gigi. “Aku tidak membunuh Guru Besar! Aku memang menguasai Jurus Harimau Merah, tapi aku tak pernah sekalipun menghunuskannya pada beliau. Demi langit dan bumi, jurus itu diajarkan untuk melindungi, bukan untuk menusukkan pengkhianatan ke dada guru sendiri!” “Cukup!” suara Rangga memotong kasar. Pemuda itu berdiri di samping para tetua, sorot matanya menusuk penuh kebencian. Rangga bukan sekadar murid biasa. Ia adalah putra dari almarhum Raden Surya, salah satu pendiri padepokan sekaligus saudara seperguruan Guru Besar. Karena darah keturunan itu, setiap kata Rangga kerap dipandang sebagai suara kehormatan keluarga pendiri. Tetua tertua, Ki Jayanegara, sempat mengangkat tangannya, menenangkan suasana. “Hendaknya kita jangan gegabah. Saka memang dituduh, tapi masih ada kemungkinan ia dijebak. Demi keadilan, sebaiknya kita beri dia waktu untuk membuktikan kebenarannya.” Beberapa murid di belakang mulai berbisik. Wajah mereka ragu, sebagian marah, sebagian bingung. Namun Rangga segera melangkah maju, suaranya lantang bagai petir. “Tidak! Setiap penjahat selalu bersembunyi di balik alasan. Guru Besar telah mati! Apakah kita akan terlihat lemah di hadapan dunia, karena tidak mampu menghukum seorang pembunuh yang nyata-nyata ada di depan kita?” Ia mengibaskan tangannya dramatis, menunjuk langsung ke arah Saka. “Lihat dia! Bahkan di hadapan para tetua, tatapannya masih penuh durhaka. Jika sekarang kita membiarkannya hidup, besok perguruan ini akan ditertawakan sebagai sarang pengkhianat!” Sorakan meledak dari para murid. “Benar! Hukum dia! Jangan beri ampun!” Riuh rendah itu bergema, memenuhi balairung. Tapi tak semua setuju. Seorang murid perempuan, Nala, berdiri dan bersuara lantang. “Kita belum tahu kebenarannya! Bagaimana kalau benar ia dijebak? Bukankah Guru Besar selalu mengajarkan jangan menghukum sebelum terbukti?” Balairung semakin riuh. Suara terpecah menjadi dua suara. Ada yang bersorak setuju menghukum, ada yang menuntut penyelidikan lebih lanjut. Ki Jayanegara kembali mengetukkan tongkatnya tiga kali. “Cukup! Kita tentukan dengan voting. Semua tetua dan murid akan mengangkat tangan. Pilihannya ada dua, menghukum atau beri kesempatan Sagara membela diri.” Hening mencekam. “Siapa yang memilih MENGHUKUM?” seru Ki Jayanegara. Hampir separuh murid langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi, sorak mereka membahana. Semua tetua kecuali dua orang ikut mengangkat tangan. Rangga menatap berkeliling dengan penuh kemenangan. “Siapa yang memilih BERI KESEMPATAN?” Sebagian murid lain yang jumlahnya jauh lebih sedikit, mengangkat tangan mereka dengan ragu, termasuk Nala. Dua orang tetua juga ikut menegakkan tangan. Suara mereka tenggelam di tengah lautan mayoritas. Ki Jayanegara menutup mata sejenak, lalu mengumumkan dengan suara berat, “Dengan suara terbanyak, diputuskan: Sagara Wicaksana, engkau akan dijatuhi hukuman. Esok fajar, kau dibuang ke Tebing Laut Selatan. Biarlah ombak dan karang menjadi saksi penghapus dosamu.” Balairung bergemuruh, sorak kemenangan menggema. Namun di sudut ruangan, wajah-wajah murid yang minoritas tampak pucat, seolah firasat buruk tengah mengintai. Ki Jayanegara mengetukkan tongkatnya sekali lagi. “Besok fajar, hukuman dijalankan. Sidang ditutup.” Sagara terdiam, dadanya sesak oleh kenyataan pahit. Dalam hati ia meraung, “Aku difitnah. Tapi akan kupastikan suatu hari nanti kebenaran akan kutegakkan, sekalipun harus kubayar dengan darah.”Jari-jari Sekar yang terbiasa memegang belati kini bergerak dengan kelembutan yang mengejutkan. Ia mengambil sehelai kain bersih, menuangkan cairan bening dari salah satu botol. Cairan itu dingin, berbau sedikit mint. Ia perlahan mengusapkannya ke sekeliling luka.Rasa perih menyengat. Sagara mengatupkan rahang, mencoba menahan napas. Rasanya seperti api yang membakar. Tapi tidak boleh goyah.Suasana gua menjadi sangat sunyi. Hanya suara gemericik air terjun dari luar yang menjadi latar, dan napas mereka berdua. Cahaya obor melingkari mereka, menciptakan sebuah dunia kecil yang terpisah dari yang lain. Aroma ramuan herbal yang dioleskan Sekar kini memenuhi udara, menenangkan. Aroma ini… mengingatkan.Jari-jari Sekar yang dingin menyentuh kulit lengannya, begitu lembut. Begitu mirip. Kilasan memori muncul. Larisa.Ia melihat dirinya terbaring di ranjang kayu sederhana di kamar Larisa. Punggungnya memar, luka goresan akibat jatuh dari tebing saat latihan. Larisa duduk di sisinya, wajahn
Perjalanan pulang menuju markas Naga Merah terasa jauh lebih panjang dari jarak yang sesungguhnya. Senja merayap lambat, seolah enggan melepaskan cahayanya, dan bersamaan dengan meredupnya langit, kabut mulai naik dari lembah di bawah sana, merayap pelan di antara batang-batang pohon hingga membentuk tabir putih yang dingin dan tebal.Suara langkah kaki rombongan kecil itu menjadi satu-satunya bunyi yang membelah kesunyian hutan. Mereka bergerak cepat, teratur, punggung mereka menanggung peti-peti perbekalan yang kini terasa lebih berharga dari logam mulia mana pun.Sagara melangkah di tengah barisan, kedua bahunya menanggung dua peti kayu berukuran sedang. Dalam diam, ia sudah mengenali rapuhnya benda-benda itu jauh sebelum jemarinya menyentuhnya. Papan-papannya tipis, ikatannya usang, kayunya mengandung kelembapan yang terlalu lama tersimpan. Bahan seperti ini seharusnya sudah diganti berbulan-bulan lalu, namun Naga Merah tidak kenal kemewahan itu. Mereka memakai apa yang ada.Bunyi
Jalur sempit yang tadi mereka lewati kini terasa sedikit lebih lapang dalam perjalanan pulang. Beban perbekalan yang kini menempel di punggung para pejuang terasa lebih ringan, bukan karena kuantitasnya berkurang, melainkan karena beban kekhawatiran yang telah terangkat. Sinar matahari sore mulai menyusup di antara dedaunan, menciptakan mozaik cahaya keemasan yang menari di tanah lembap. Udara masih membawa aroma pinus yang tajam, bercampur dengan bau tanah basah dan sejuknya embusan angin laut yang tak pernah berhenti. Jauh di kejauhan, samar-samar terdengar suara burung hantu yang mulai menyapa senja.Sekar Arum berjalan di depan, langkahnya masih tegap namun sedikit melambat. Di sisinya, Sagara melangkah tanpa suara, bayangannya seolah menyatu dengan bayangan pepohonan. Aroma laut yang khas masih tercium tipis dari jubahnya, seolah ia adalah bagian tak terpisahkan dari elemen itu sendiri. Sekar menyadarinya lagi, aroma itu… selalu ada pada dirinya.“Pengamanan perbekalan kali ini b
Perjalanan melalui celah sempit itu memakan waktu lebih dari tiga jam. Matahari mulai naik tinggi di langit, sinarnya menembus celah-celah bebatuan, menciptakan pola cahaya dan bayangan di tanah yang lembap. Aroma tanah basah bercampur wangi pinus yang tajam menusuk hidung. Udara laut masih terasa, membawa sedikit rasa dingin yang kontras dengan kehangatan matahari yang mulai menyengat.Sekar Arum menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan lengketnya keringat di punggungnya yang dibalut kain kasar. Setiap langkahnya terukur, dipandu oleh insting seorang pemimpin yang terbiasa menghadapi situasi genting. Di sampingnya, Sagara melangkah dengan ritme yang sama, nyaris tanpa suara. Gerakannya tetap mengalir, seperti air yang menghindari batu.Mereka tiba di sebuah ceruk alami, sedikit lebih lebar dari jalur sebelumnya. Di depan mereka, terhampar sedikit tanah lapang yang diapit oleh dua bukit. Di sana, tersembunyi di balik semak belukar yang rimbun, tempat itu dijadikan lokasi penyimpanan pe
Setengah jam kemudian, Sekar Arum memimpin tim kecilnya. Enam orang. Wira di sampingnya sebagai tangan kanan, ditambah beberapa anggota yang paling bisa diandalkan. Mereka tidak melewati jalur utama, tentu saja. Garuda Hitam pasti sudah berjaga di sana. Sebagai gantinya, mereka menyusuri celah sempit di antara dua bukit yang Sagara sebutkan tadi.Jalurnya tidak enak dilalui. Sempit, tidak rata, dan beberapa kali Sekar hampir tersandung akar yang menyembul dari tanah. Tapi Sagara benar soal angin. Arus dari laut bertiup konstan di sepanjang celah itu, menyapu bersih apapun yang mereka tinggalkan. Jejak kaki, aroma tubuh, semuanya. Mereka juga memecah muatan peti logistik, dibagi rata di punggung masing-masing. Lebih berat, tapi lebih aman. Udara di sana dingin dan berbau tanah basah, ada sedikit asin dari laut yang terbawa angin. Sekar menarik napas pelan. Segar, tapi bikin waspada.Ia sengaja berjalan di sebelah Sagara. Padahal pria itu bukan bagian dari misi ini. Tapi Sekar punya ala
Sagara, atau Ranu, akhirnya menoleh, menatap Sekar lekat. "Garuda Hitam menggunakan anjing pelacak di malam hari. Tanpa bau, tidak ada jejak yang bisa diikuti."Ruangan hening sesaat.Sekar tidak langsung balas bicara. Ia kembali menatap peta di hadapannya, tapi kali ini pandangannya berbeda. Bukan lagi mencari jalan teraman, tapi membayangkan bagaimana angin bergerak. Membayangkan udara laut yang terus menerus berembus lewat celah sempit itu, menyapu bersih semua jejak yang mungkin tertinggal.Baru saja ia hendak membuka mulut, Sekar sadar sesuatu yang tak ia rencanakan: jarak di antara mereka. Sagara berdiri begitu dekat. Bahu mereka nyaris bersentuhan di atas meja yang tak terlalu lebar itu. Dari jarak sedekat ini, jarak yang tak memberi ruang untuk berpura-pura tak sadar, Sekar mencium sesuatu yang asing di tengah aroma tanah basah dan karat logam yang memenuhi gua.Aroma laut. Tipis, tapi jelas. Seperti embusan angin dari sela karang, dingin dan sedikit asin, menempel di jubah Sa
Rangga meletakkan cawan peraknya di meja, bunyinya nyaris tak terdengar. Matanya yang sebelumnya menatap langit-langit kini fokus pada pria berjubah gelap di hadapannya."Dan sekarang," lanjut Rangga, suaranya kembali ke nada berbisik yang mengancam, "dengan duri itu tercabut, waktunya untuk menanc
Bau amis laut memenuhi hidung Sagara. Tubuhnya terantai, semakin ia meronta, semakin ia ditelan ke dasar samudera. Namun yang paling berat bukanlah rantai besi, melainkan belenggu pengkhianatan.Di antara pusaran air, wajah Larisa muncul. Matanya bengkak, bibirnya bergetar, air mata bercampur denga
Dalam pandang Sagara, tampak bendera-bendera hitam bergambar naga berkepakkan gigi tajam berkibar menggantikan panji-panji biru-putih Banyu Langit. Aula besar yang dulu dipenuhi sapaan dan tawa kini diselimuti keheningan yang kaku; aroma dupa dan kebanggaan lama digantikan oleh bau logam dingin dan
Jauh di sisi lain Pulau Selatan tepatnya di sebuah gunung terpencil tampak Sagara duduk bersila di atas batu besar di tepi jurang, di mana kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan.Matahari baru saja mengintip di ufuk timur, mewarnai langit dengan spektrum jingga dan ungu yang menakjubkan.







