LOGINBara Nareswara POV
Aku duduk di pinggir kolam renang sambil menatap berbagai bunga tanaman bunga anggrek yang ada di depanku. Semua anggrek-anggrek ini adalah milik Mama. Menurut Mama anggrek-anggrek ini bisa membuatku merasa bahagia dan nyaman karena keindahannya. Padahal aslinya bullshit. Sejak aku pulang dari rumah orangtua Mikha semalam, aku tid
Mikhaila Ameera Violetta POVMalam ini aku tak pernah menyangka jika Bara akan pulang lebih awal ke rumah Mama. Aku berpikir jika ia akan marah besar karena istrinya pergi begitu saja tanpa pamit, tapi ternyata tidak. Siapa sangka jika ia memiliki rasa pengertian yang luar biasa daripada apa yang aku bayangkan selama ini. Lebih membuatku bersyukur lagi adalah Bara tidak marah karena aku mengganti sprei dan bedcover sesuai dengan apa yang aku inginkan.Beberapa hari aku menanti kepulangannya dan saat ia pulang yang terjadi ternyata tak jauh berbeda dengan apa yang aku bayangkan. Bara mencumbu diriku dengan begitu lembutnya di bibir hingga ciuman lembutnya itu berubah menjadi cuman yang panas membara dengan napsu yang sudah mulai membakar diri kami masing-masing. Jangan tanya s
Bara Nareswara POVAku tersenyum saat keluar dari bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Jadwal kepulanganku kali ini bahkan lebih cepat daripada yang Mikha ketahui. Okay, seharusnya aku baru ada jadwal penerbangan besok siang, tetapi karena aku masih bisa mendapatkan tiket untuk penerbangan malam seperti ini, aku memilih langsung pulang saja. Demi bisa pulang ke pelukan Mikha, aku bahkan mengeluarkan segala jurus yang aku miliki agar Mas Tri mengijinkannya. Tidak mudah memang, namun nyatanya aku berhasil juga mendapatkannya. Lagipula aku rasa sudah cukup bagiku untuk tidur satu kamar selama satu minggu bersama suaminya Rara. Saat ini yang aku rindukan adalah tidur berdekatan dengan Mikha yang pastinya akan lebih menyenangkan untuk aku jadikan guling yang bisa kentut.Tidak mau menunggu l
Mikhaila Ameera Violetta POVSudah hari ke empat Bara meninggalkan diriku di rumah bersama orangtuanya. Sungguh, tinggal bersama mertua ternyata tidak seburuk bayanganku selama ini. Karena Mama Belinda akan sibuk mengurus Papa ketika beliau masih belum berangkat ke kantor. Saat Papa pulang Mama sudah sibuk lagi dengan mengurus keperluan Papa. Hmm... Andai aku bisa seperti itu dengan Bara, pasti aku tidak akan menyia-nyiakan waktu yang berharga itu. Terlebih saat anak kamu belum lahir ke dunia ini.Seperti siang ini, Mama Belinda pamit kepadaku karena ia ada janji pemotretan dengan sebuah brand yang berasal dari Paris. Baiklah, aku tidak masalah jika harus ditinggal sendirian di rumah. Kini setelah Mama pergi menggunakan mobilnya sendiri, aku memilih duduk di balik laptop dan
Bara Nareswara POVBerkali-kali aku menatap layar handphone milikku hari ini, tapi tidak ada satupun pesan apalagi panggilan tak terjawab dari Mikha. Entahlah, sepertinya aku telah salah dalam mengambil sikap kali ini. Seharusnya aku tidak membiarkan perempuan seperti Mikha menunggu. Wanita seperti Mikha tidak akan mau membuang-buang waktunya untuk sebuah hal yang percuma."Bar, lo dicari Casey nih," ucapan Kafka membuatku menoleh ke arahnya.Kini yang bisa aku lihat adalah seorang perempuan yang pernah dekat denganku dan kini ia berprofesi sebagai salah satu karyawan perusahaan multinasional. Oh, tentu saja tidak hanya duduk dibalik meja pekerjaannya, Casey memiliki profesi sampingan sebagai seorang model dan membuka endorse beb
Mikhaila Ameera Violetta POVBara : sorry, handphone aku tadi mati karena baterainya habis. Nanti aku telepon kamu malam, ya? Setelah semua jadwal hari ini selesai.Aku menghela napas kala membaca ulang pesan yang dikirimkan Bara tadi pagi. Sungguh, rasanya menanti hingga malam adalah hal yang sulit untuk aku lakukan. Terlebih siang ini Mama Belinda sudah mengajak diriku untuk bertemu dengan salah satu wedding organizer yang ingin ia gunakan jasanya. Siapa sangka jika pada akhirnya Mama Belinda akan menggunakan jasa wedding organizer yang sama dengan yang dipakai Eyang dulu untuk acara pernikahan Tante Retno dan Mas Rio.Saat aku dan Mama Belinda bertemu dengan Mbak Luna, aku lebih banyak diam.
Bara Nareswara POVNiat hati ingin minta maaf kepada Mikha tentang semua yang terjadi hari ini, tapi sayangnya semua berakhir begitu saja kala aku mendengar sambungan telepon Mikha dengan Mas Tri. Bisa-bisanya Mikha justru mengkhawatirkan Kafka. Sebenarnya siapa suaminya? Aku atau Kafka? Atau jangan-jangan kepala Mikha terbentur sesuatu hingga ia menjadi lupa siapa suaminya?Sumpah... Hal ini nyatanya membuatku kesal kepada Mikha. Tidak mau membuat semua lebih kacau lagi, aku memilih segera pergi ke kamarku dan membersihkan diri. Aku masuk ke kamar mandi dan langsung membuka seluruh pakaianku lalu menghidupkan shower. Air hangat mulai membasahi tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Di bawah kucuran air shower, aku mencoba untuk memikirkan semua yang terj







