로그인“Ini sudah malam, lihat sudah jam tujuh malam.”
Jam tangan Teo sengaja diperlihatkan kepada Bayu sambil menunjuk-nunjuk angka tujuh.Melihat itu mata Bayu jadi melebar ia sempat tercengang karena mengingat sudah berapa lama ia pingsan di sana. Seingat Bayu dirinya tadi hanya pingsan sebentar saja, ia baru saja berbicara dengan seorang kakek tua dan membicarakan batu akik miliknya.Namun, saat ditengah pembicaraan tiba-tiba penglihatannya jadi gelap dan sudah tidak s“Ini sudah malam, lihat sudah jam tujuh malam.”Jam tangan Teo sengaja diperlihatkan kepada Bayu sambil menunjuk-nunjuk angka tujuh.Melihat itu mata Bayu jadi melebar ia sempat tercengang karena mengingat sudah berapa lama ia pingsan di sana. Seingat Bayu dirinya tadi hanya pingsan sebentar saja, ia baru saja berbicara dengan seorang kakek tua dan membicarakan batu akik miliknya.Namun, saat ditengah pembicaraan tiba-tiba penglihatannya jadi gelap dan sudah tidak sadarkan diri. Bahkan ia tidak sempat mendengar semua ucapan kakek tua itu padanya. Waktu itu terasa baru saja terjadi tapi ternyata setelah mendengarkan Teo dan melihat jam.Sekarang Bayu sadar kalau hampir seharian ia sudah pingsan. Tapi Bayu penasaran akan ucapan dari kakek tua tadi yang belum selesai didengarnya, tanpa sadar Bayu menghela nafas berat.“Ada apa?” Teo langsung menyentuh dahi Bayu seperti memeriksa suhu tubuhnya. “Apa kamu merasa tidak enak badan atau lainnya?”
“Ayo cepat bantu aku, kita angkat dia!” Dengan cepat Dahlan segera membawa teman-temannya untuk membantu agar mengangkat tubuh Bayu bersama-sama. Untuk sementara mereka meninggalkan jerigen kosong yang mereka bawa tadi. Ketiga pria termasuk pak Dahlan mengangkat tubuh Bayu yang tidak sadarkan diri. Mereka membawanya terus sampai ke rumah tempat tinggal Bayu. Di depan rumah Teo yang baru selesai mancing bersama Joni tentu sangat terkejut saat pria-pria paruh baya itu mengangkat tubuh Bayu. “Pak, ini ada apa?” tanya Joni ketika mereka menghampiri. “Eh, ini kenapa teman saya kok bisa tidak sadarkan diri?” “Bayu!” Teo segera ikut membantu mengangkat tubuh Bayu masuk bersama mereka ke dalam kamar. Setelah membaringkan Bayu barulah mereka semua kembali duduk di ruang tengah. “Pak, sebenarnya apa yang terjadi?” Joni terlihat cemas. Dahlan berusaha untuk menjelaskan, “Ka
“Sepertinya aku kejauhan,” gumam Bayu lalu ia pun mencungkil tanah yang lembab karena di sana dekat air terjun maka tanahnya sudah pasti lembab.Benar saja hanya sekali menggali saja Bayu sudah mendapatkan beberapa cacing di tanah. Ia terus mengubek-ubek tanah sampai cacing-cacing yang didapatkan cukup untuk jadi umpan hari ini.Selama setengah jam Bayu susah mendapatkan banyak cacing. Tidak lupa ia menambahkan sedikit tanah lembab ke dalam toples. Karena tangannya berlumuran tanah Bayu segera pergi ke dekat air terjun dan ia duduk jongkok di tepiannya. “Untung saja aku sudah dapat banyak sekarang tinggal dibawa pulang lalu pergi mancing bersama.” Tangan Bayu terus mengusap-usap sampai bagian siku hingga bersih hanya dengan menggunakan air saja. Di sana Bayu merasakan udara sejuk yang menyegarkan. Percikan air terjun yang jatuh terasa dingin saat berada dekat jadi ia pun segera cepat-cepat mencuci tangan lalu menjauh sedikit dari air.
Akhirnya Welas kembali diantar ibunya untuk tidur ke atas ranjang. Tapi ranjang anaknya terlihat berantakan dan ada bekas cairan di sprei terlihat seperti ompol.“Nak kamu nggak ngompol? Di sprei banyak bekas—”Dengan cepat Welas memotong, “Ah ini nggak kok Bu! Ini keringat barusan kan Ibu pegang aku memang banyak berkeringat.”“Iya juga ya, jadi ibu cuma salah sangka aja barusan. Ya udah kalau gitu kamu istirahat lagi saja, oh iya udah minum obat belum?”“Udah kok tadi,” jawab Welas dengan cepat.Mendengar itu sang ibu langsung menghela nafas lega sambil mengelus pelan dadanya.“Tidur yang nyenyak ya, Nak!” ucap si Ibu lalu di balas anggukan oleh Welas.Kemudian pintu kamar pun kembali tertutup dengan rapat. Seketika Welas langsung menghela nafas lega, ia yang sejak tadi merasa deg-degan karena takut jika salah kata atau meninggalkan bekas bercinta yang membuat ibunya mencurigainya. Sudah membuatnya sangat takut jika sa
“Kamu menjempitku dengan kuat, apa kamu berniat untuk membuat milikku putus?”Bisikan Bayu di telinga Welas membuat gadis itu semakin bergairah. Sedangkan Bayu yang merasakannya ikut membuat batangnya agak membesar di dalam sehingga Welas merasa sesak di dalam sana.“Hnggaah … aah, ahh! Enak, rasanya enak banget! Hnggh … haah, ahh!” Goyangan pinggul Bayu semakin cepat membuat Welas merem melek merasakan nikmatnya bercinta. Welas tidak pernah merasakan senikmat ini sebelumnya, Bayu benar-benar membuatnya keenakan hingga ia sudah muncrat duluan berulang kali.Saking nikmatnya tubuh Welas sampai menggeliat keenakan. Namun …Plok, plok!Bayu tetap menghujam lubang miliknya meski tahu Welas baru saja muncrat.“Aahh … Bayu! Tu-tunggu sebentar, aku baru saja muncrat dan masih sensitif ahhnghh!”Bayu sama sekali tidak mendengarkannya ia hanya mencium bibir Welas agar membuatnya diam.Bayu melepaskan ciuman. “U
Dari jarak dekat Welas dapat melihat dengan jelas wajah Bayu yang memerah, belum lagi tubuh Bayu terasa tegang saat ia menyentuh dada bidangnya lalu pindah meraih wajahnya agar menunduk ke bawah.Matanya menatap Bayu dan begitupun sebaliknya. Pantulan sinar bulan di mata Welas membuat Bayu larut dalam tatapannya. Belum lagi penerangan di sana yang agar remang-remang karena di pedesaan tidak terlalu terang, tidak seperti di kota yang mana banyak lampu-lampu.Lama kelamaan Bayu akhirnya terpikat akan godaan dan wajah cantik Welas yang sejak tadi terus mendekatinya. Sehingga perlahan wajah mereka berdekatan sampai akhirnya Bayu tidak bisa menahan dorongan untuk tidak mencium Welas.Awalnya ia coba mengecup bibir mungil gadis itu lalu menjatnya, Bayu merasa bibir Welas terasa manis akhirnya ia pun mulai membuka mulut gadis itu dan memasukkan lidahnya.Lidah mereka saling melumat satu sama lain. Perlahan membuat ciuman terasa semakin panas dan terasa g







