LOGINMenurut Kiran Naomi Tanaka tidak ada yang paling penting baginya selain menjadikan Evan Davaro Saga sebagai suaminya. Sejak melihat lelaki itu datang ke rumahnya sebagai anak dari sahabat ayahnya, ia telah bertekad akan membuat Evan jatuh cinta padanya dan menjadikannya sebagai istri lelaki itu.Namun hal itu tidak mudah, sebab Evan yang sibuk dengan pekerjaannya. Lelaki itu juga cenderung bersikap dingin kepada Kiran."Kak Evan, mau tidak jadi suami Kiran nanti?" "Daripada mengajak nikah, nilai Matematikanya dibenarin dulu."
View MoreThe courtroom was too quiet. The kind of silence that crackled with tension and barely contained judgment. Sienna Blake stepped through the heavy oak doors, heels tapping across the polished floor as every eye turned toward her.
She hated this part—being watched like prey. But she wore confidence like armor, shoulders straight, chin high. She had worked too hard to let nerves win now. Dominic Hayes was already seated at the defense table, his wrists cuffed, his posture relaxed like he owned the room. He was dressed in a crisp shirt with rolled sleeves, as if prison was just another inconvenience in his schedule. Their eyes met. Sienna’s breath hitched. She wasn’t expecting him to look like that—so collected, so calm. So… dangerously composed. Something about his presence felt too deliberate, too controlled, like a man used to getting what he wanted. “You’re late,” he said, voice low and smooth. “You’re in handcuffs,” she replied evenly. “We all have our problems.” A faint smirk curved his lips. “I like you already, Miss Blake.” She ignored the way her pulse reacted and dropped her briefcase beside the desk. She opened it with precision, pulling out a folder and flipping through the contents. His case file was thinner than it should’ve been—too many redactions, too little evidence. That in itself was a red flag. “This isn’t a simple case,” she muttered, careful to keep her voice low. “Why choose me?” “I didn’t,” Dominic replied. “They did.” Sienna frowned. “The DA?” “No.” His gaze darkened slightly. “The people watching us right now.” Before she could ask what he meant, the judge entered, and the courtroom rose in practiced unison. Sienna stood tall, masking the flicker of unease blooming in her chest. Her job was to stay objective, detached. But something about Dominic unsettled her in a way no client ever had. During the hearing, her mind drifted against her will. He didn’t just speak clearly—he calculated every word. He looked at the prosecutor just long enough to appear sincere, then looked away as if bored. She’d seen skilled liars before—but Dominic made lying look like art. When the judge announced the next hearing date, Dominic didn’t react. He remained perfectly still, hands folded, eyes steady. As the room cleared, Sienna lingered. She couldn’t shake the feeling that this wasn’t about a murder trial. That she was part of something much bigger—something she didn’t yet understand. Her mind raced with questions as she packed her things. Why had she been chosen? Who were the people he hinted at? The weight of the unknown pressed on her, thick and suffocating. She watched as Dominic was led away, guards flanking him on both sides. Just before he vanished through the side doors, he glanced back at her. “Careful, Counselor,” he called out, voice low but clear. “The truth is never what it seems.” Sienna froze. That wasn’t a warning. That was a promise. And something in her gut told her… she’d already crossed a line she couldn’t come back from."Kalian berangkat saja. Evan sudah mempersiapkan segalanya seperti ini," ujar ibuku setelah aku memberitahu tentang rencana bulan madu yang telah dipersiapkan oleh Evan.Namun aku masih khawatir akan satu hal, yaitu Karin. "Tapi ini bukan libur sekolah.""Karin biar aku dan ayahmu yang jaga. Antar dia ke sekolah dan juga menjemputnya. Lagipula Kanaya dan Kenzo akan datang akhir pekan ini, jadi Karin tidak akan begitu kesepian," balas ibu telah menebak bahwa aku berniat mengikutsertakan Karin ke rencana bulan madu yang Evan susun sebelumnya."Benarkah?" Aku sebenarnya tidak ragu bahwa Karin akan melarang kami, karena anak perempuan itu sudah terbiasa
Setiap orang memiliki harapan.Awalnya aku meragukan kalimat tersebut, hingga sampai aku bisa kembali duduk, berjalan dan bahkan berlari. Bentuk fisikku juga mulai kembali seperti layaknya wanita berusia dua puluhan tanpa kekurangan apapun. Bukan usaha yang mudah dan waktu yang singkat. Setidaknya satu tahun membuatku mencoba menggenggam harapan itu agar semakin nyata."Kau menyukai tempat ini?" Suara Evan membuat lamunanku buyar."Ya?"Evan terkekeh kecil. "Aku mengajakmu melihat calon hunian baru kita dan kau mengkhayal?"
Author POV-------------------------------------------------------------------Pada sebuah toko buku di pusat perbelanjaan, tampak adanya antrean panjang di dalamnya. Pengunjung yang baru datang lalu membaca spanduk yang terdapat pada pintu depanFan Meeting With RiruNovel terbaru : Linggar (Impian, Harapan dan Cinta)Ruri telah sukses menjadi seorang penulis novel, setelah mengundurkan diri sebagai editor. Ia juga memakai nama Riru sebagai nama penanya. Hanya membalik huruf pada
Sudah tiga hari sejak Ruri membawa surat yang kutulis untuk Evan tersebut. Namun belum ada tanda-tanda kedatangannya. Aku tidak pernah meragukan bahwa Ruri akan terlambat menyerahkan surat itu. Mungkin … Evan sedang sibuk.Aku tidak membohongi diriku sendiri bahwa rasa sakit ini mulai menyiksaku. Berharap bahwa ini akan segera berakhir. Bukan hanya soal rasa sakit secara fisik, tetapi batinku tersayat melihat ayah, ibu dan Kanaya yang menangis di sampingku kala aku memejamkan mata seolah tengah tertidur, padahal mendengar bagaimana rintihan mereka.Hari ini gerimis hujan turun membasahi tanah. Aroma petrichor menyusup ke dalam kamar rawatku, sengaja aku meminta Kanaya tidak menutup jendela. Suara rinai hujan membuat ingatanku tertaut pada
08538908*** : Ini aku Evan. Besok kita berangkat jam sepuluh.Aku yang baru saja akan tidur, ketika membaca pesan dari nomor yang tidak tersimpan, tetapi begitu membaca nama Evan, hatiku menolak untuk tidak bersorak kegirangan."Assa!" Aku mengangkat kepalan tangan dengan waja
Aku kembali menulis usaha perjuanganku pada notebook yang kubeli dulu ketika mengunjungi toko buku bersama Ruri.Senyum seolah tidak mau beranjak dari bibirku kala melirik dua buah tiket yang terletak di atas meja belajarku. Namun hal itu terganggu begitu ponselku berbunyi, tanda
"Jadi kau akan menyerah kepada Kak Evan?" tanya Deril dengan suara penasaran. Ini bermula dari cuitan twitter yang kulakukan pagi ini. Sejak kapan juga Deril mengikutiku di twitter? Aku memang tidak memperhatikan orang yang mengikutiku, karena jumlahnya bisa puluhan dengan username yang
Berstatus murid kelas tiga SMA membuat tubuh dan pikiranku benar-benar lelah. Banyaknya tugas, materi kelas tambahan dan mengikuti simulasi ujian membuatku ingin segera merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.Namun apa daya kini aku malah menatap jengah kepada kumpulan murid laki-laki yan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore