เข้าสู่ระบบKamar Livia...
Mesti pintu kamar itu tertutup dengan bunyi cukup pelan, namun efeknya seperti palu yang menghantam dada Livia. Kamar itu benar-benar sunyi, seolah dunia di luar berhenti bergerak. Dalam ruangan itu lampu temaram menyala redup, sehingga memantulkan bayangan tubuh gadis itu di lantai marmer hitam yang dingin. Livia menoleh ke sekeliling. Kamar itu besar, bersih, dan rapi. “Ini penjara,” gumamnya lirih. Meski kamar itu cukup besar, bersih dan rapi... Livia tak pernah merasa nyaman. Sebab posisinya di rumah itu hanyalah seorang tawanan yang berkedok saksi. Perlahan ia berjalan mendekati pintu dan mencoba memutar gagang pintu. Dan benar saja, pintu itu benar-benar terkunci. Mengetahui itu, tangan gadis itu mengepal, dengan rahangnya mengeras. Kini nafasnya mulai memburu, karena marah yang tak tahu harus dilampiaskan ke mana. “Brengsek…” desisnya. Livia menyandarkan punggung ke pintu lalu tubuhnya meluncur turun hingga duduk di lantai. Lututnya ia tarik ke dada, disertai tangan yang gemetar tanpa bisa dikendalikan. Air mata pun jatuh satu per satu. “Papa…” isaknya sembari memeluk kedua lututnya. Setelah ia terdiam cukup lama, kini pintu itu akhirnya terbuka tanpa suara keras. Refleks, Livia mengangkat kepala. Ia bangkit dan membuka pintu kamar itu. Setelah pintu terbuka, ia melihat seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu sambil membawa nampan kecil. “Aku Mara,” katanya lembut. “Aku bawain makan untukmu.” wanita bernama Mara itu bersikap ramah pada Livia dengan menyodorkan nampan berisi makanan. “Aku nggak lapar,” ucap Livia, ketus disertai tatapan yang curiga. “Kamu perlu makan. Badanmu masih syok.” ucapnya dengan lembut tanpa paksaan. Lalu ia masuk dan meletakkan nampan berisi makanan itu di meja kecil tanpa mempedulikan persetujuan Livia. “Suruh dia sendiri yang ngomong,” sahut Livia ketus. “Dasar pengecut, bisanya cuma kirim utusan.” Livia menggerutu di depan Mata. Mara terdiam sejenak, lalu menatap Livia dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Kalau Tuan Raka datang sendiri, kamu mungkin bakal lebih marah.” “Memang itu yang aku mau,” jawab Livia cepat. Wanita itu menghela napas pelan. “Marahmu nggak akan bikin kamu keluar dari sini.” Livia tersenyum miring. “Setidaknya itu bikin aku masih merasa hidup.” Mara tak membalas. Ia hanya mendorong nampan itu sedikit lebih dekat. “Makanlah. Kamu butuh tenaga.” Setelah menjalankan tugasnya itu, Mara pergi tanpa menunggu jawaban dari Livia. Sementara Livia hanya menatap makanan itu cukup lama. Ia tidak berencana mogok makan, akan tetapi kebenciannya pada Raka lebih besar. Selain itu juga, sebenarnya perut terasa perih, tapi kebenciannya lebih kuat. Hingga pada akhirnya ia pun menyentuh roti itu dengan tangan gemetar, lalu berhenti. “Dia pikir aku bakal nurut,” gumamnya. Ia mendorong nampan itu menjauh darinya, lalu ia pun berdiri. Matanya kembali menyapu ruangan. Kamera kecil di sudut langit-langit menangkap perhatiannya. “Pengecut! kamu pikir aku akan makan makanan darimu?” katanya dingin ke arah kamera. “Kamu tonton baik-baik. AKU TAK SUDI MAKAN MAKANAN INI!” ucapnya di depan kamera. Perkataan itu ditujukan pada Raka. Sementara itu, di lantai bawah, Raka berdiri di depan dinding kaca besar ruang kerjanya. Kota berkilau di kejauhan, kontras dengan ekspresinya yang gelap. Dalam ruangan itu, ia tak sendiri, ia ditemani Kael yang saat ini tengah berdiri di belakangnya dengan tangan bersedekap. “Dia belum makan sama sekali,” lapor Kael. “Biarkan,” jawab Raka singkat. “Dia keras kepala.” “Aku tahu.” Kael ragu sejenak sebelum akhirnya ia berkata. “Bos… biasanya kamu nggak bawa saksi ke rumah apalagi sampai membiarkannya hidup.” Mendengar itu, Raka tak langsung menjawab. Tangannya mengepal pelan. “Biasanya saksi nggak seberani ini.” “Dan bos tertarik padanya?” Raka menoleh tajam. “Jaga omonganmu.” “Maaf.” ucap Kael dengan menundukkan kepalanya. “Perketat penjagaan. Tidak ada yang boleh masuk tanpa seizinku.” titahnya pada Kael dengan nada yang datar. Tanpa terasa malam makin larut. Malam itu pintu kamar Livia terbuka. Kali ini, Raka sendiri yang masuk. Pria itu datang tanpa jas, tanpa senjata yang terlihat. Akan tetapi auranya tetap membuat kamar itu terasa menyempit. “Keluar.” tegas Livia. Ia refleks berdiri dan menyuruh pria yang baru masuk itu keluar dari kamarnya. Alih-alih pergi dari kamar itu, Raka justru menutup pintu di belakangnya. “Kamu belum makan, Livia.” ucapnya dengan nada lembut. “Apa urusanmu?” timpalnya ketus. “Kalau nanti kamu mati kelaparan, aku yang rugi.” Ucapan itu membuat dada Livia terasa panas. “Jadi, kamu anggap aku ini aset?” tanya Livia dengan sorot matanya yang tajam. Raka melangkah mendekat. “Kamu ini saksi. Dan saksi harus hidup.” “Munafik,” Livia tertawa hambar. “Kamu sendiri yang bunuh Papaku tapi kamu peduli pada hidupku? Dan kamu pikir aku akan percaya?” Livia menggeleng disertai senyuman pahit. Kini jarak Raka terlalu dekat dengan tubuh gadis itu. “Aku nggak bunuh ayahmu karena emosi.” “Itu sama sekali nggak bikin kamu pantas disebut manusia.” “Dan aku nggak berusaha untuk jadi manusia.” Livia mendongak menantang. “Terus kamu ini apa?” “Orang yang masih berdiri ketika semua yang lain jatuh.” jawabnya jujur disertai tatapan yang dalam. “Keluar dari kamarku, sekarang,” ulang Livia, lebih pelan. “Ini bukan kamarmu.” Raka menolak untuk pergi. “Kau sudah lupa, kalau ini penjaraku.” Ia memalingkan wajahnya. Raka mengangguk kecil. “Akhirnya kamu paham.” Livia mendekat satu langkah, lalu kembali menatap pria itu tanpa rasa takut. “Kamu pikir aku bakal takut?” Raka menunduk sedikit agar sejajar dengan wajahnya. “Aku nggak butuh kamu takut.” “Terus?” “Aku butuh kamu hidup.” jawab Raka dengan nada rendah. Livia membeku sesaat. “Kamu salah pilih orang,” katanya lirih. “Aku nggak gampang patah.” Raka tersenyum samar. “Dan itu sebabnya kamu di sini.” Ia berbalik. “Tidurlah. Karena besok hidupmu akan lebih rumit.” Ia melangkah pergi. “Dan hidupmu?” Raka berhenti di ambang pintu. “Udah rumit sejak lama.” jawabnya sebelum akhirnya ia ditelan pintu. Pintu tertutup. Livia berdiri kaku beberapa saat sebelum akhirnya terduduk di ranjang. Nafasnya naik turun. Kepalanya dipenuhi suara, wajah, dan kematian yang sempat ia saksikan. Itulah sebabnya kenapa ia membenci Raka. Akan tetapi yang lebih menakutkan adalah ketika ia mulai sadar bahwa pria itu bukan sekadar pembunuh. Ia adalah badai yang sengaja memenjarakannya di pusat pusaran. Dan Livia belum tahu… apakah ia akan hancur di dalamnya, atau justru berubah menjadi bagian dari kegelapan itu sendiri. Bersambung...Pagi hari...Pagi ini datang tanpa nembawa cahaya yang hangat. Langit di luar jendela kamar Livia abu-abu, seperti sisa mimpi buruk yang belum sepenuhnya pergi. Ia terbangun dengan napas tersengal-sengal, dan telapak tangannya basah oleh keringat dingin.Suara tembakan masih terngiang di kepalanya.Dan wajah Raka yang dingin, tanpa ragu dan tanpa belas kasihan itu... tengah berdiri di antara dirinya dan maut.“Brengsek…” gumamnya sambil mengusap wajah.Lalu ia bangkit perlahan. Gadis itu merasa tubuhnya terasa pegal, tapi bukan itu yang mengganggunya. Melainkan ada rasa asing di dadanya. Bukan rasa takut. Bukan rasa marah sepenuhnya. Melainkan sesuatu yang lebih menjengkelkan. Satu persatu pertanyaan muncul, yang ia sendiri pun tak tau jawabannya. Kenapa aku nggak dorong dia waktu itu? Kenapa aku tak membalasnya saat itu? Dan kenapa aku nggak membiarkannya celaka? Padahal itu waktu yang tepat.Dengan langkah kakinya yang lemas, Livia berjalan ke kamar mandi. Kini air dingin membasuh
“Brengsek!” seru Livia, kesal. Bagaimana ia tak kesal, ketika mengetahui bahwa pintu kamarnya kembali terkunci. Dan sesuai dugaannya bahwa posisinya di rumah itu tak jauh beda dengan seorang tawanan. Jemarinya meremas gagang pintu, menahan emosi yang menumpuk sejak semalam. Bukan cuma marah, tapi ia juga merasa terhina karena ia tak punya kendali atas hidupnya lagi. “Aku bukan tawanan, tapi kenapa kamu menahanku seperti ini,” lirih Livia, sembari menempelkan dahinya ke pintu. Ia menarik napas panjang. Sehingga tercium bau besi dingin dari gagang pintu yang terasa begitu nyata, seperti simbol dari semua yang merampas kebebasannya. Bahkan rumah ini pun terasa terlalu sunyi untuk disebut aman.Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar. Ia melangkah mundur dan berbalik membelakangi pintu. “Masuk,” ucapnya datar, tanpa menoleh.Setelah mendengar Livia mempersilakan masuk, Mara pun membuka pintu dengan wajah tenang. “Kamu diminta turun. Sekarang.” katanya pada Livia yang tengah berdi
Kamar Livia... Mesti pintu kamar itu tertutup dengan bunyi cukup pelan, namun efeknya seperti palu yang menghantam dada Livia. Kamar itu benar-benar sunyi, seolah dunia di luar berhenti bergerak. Dalam ruangan itu lampu temaram menyala redup, sehingga memantulkan bayangan tubuh gadis itu di lantai marmer hitam yang dingin.Livia menoleh ke sekeliling. Kamar itu besar, bersih, dan rapi. “Ini penjara,” gumamnya lirih. Meski kamar itu cukup besar, bersih dan rapi... Livia tak pernah merasa nyaman. Sebab posisinya di rumah itu hanyalah seorang tawanan yang berkedok saksi. Perlahan ia berjalan mendekati pintu dan mencoba memutar gagang pintu. Dan benar saja, pintu itu benar-benar terkunci. Mengetahui itu, tangan gadis itu mengepal, dengan rahangnya mengeras. Kini nafasnya mulai memburu, karena marah yang tak tahu harus dilampiaskan ke mana. “Brengsek…” desisnya.Livia menyandarkan punggung ke pintu lalu tubuhnya meluncur turun hingga duduk di lantai. Lututnya ia tarik ke dada, disertai
“Turunin aku sekarang!” teriaknya sambil memukul kaca mobil. “Aku tidak sudi ikut bersamamu!” Livia terus berontak meminta turun dari mobil.Namun, tak ada satupun dari mereka yang menanggapi tantrumnya Livia. Saat ini, Raka hanya duduk dengan tenang, satu tangan bersedekap, wajahnya dingin seperti patung. Tatapannya lurus ke depan, seolah Livia bukan manusia, hanya barang bawaan.“Kamu denger aku, kan?” suara Livia bergetar sembari menoleh ke arah Raka.Lagi dan lagi, dalam mobil itu hening tanpa jawaban. Raka sama sekali tidak tertarik untuk menanggapi ocehan Livia. Dan hal itu membuat Livia semakin kesal.“Jawab aku, Brengsek!” bentaknya dengan penuh emosi.Akhirnya Raka melirik sekilas. “Teruslah berteriak, maka aku akan menyuruh mereka untuk mengikat serta membungkammu!" tegasnya sambil sedikit mengancam. Livia tercekat ketika mendengar ucapan itu membuat tenggorokan. Ia menelan ludah, dadanya naik turun menahan emosi yang menumpuk jadi satu antata takut, marah, dan duka.“Kam
Papa!" Livia berteriak histeris, suara tembakan memekakkan telinga, mengudara di tengah senyapnya malam."Pa, jangan tinggalin Livia, Pa." Tubuhnya ambruk, dunianya runtuh dalam satu detik. Menyaksikan tubuh ayahnya terhuyung tak berdaya, di atas lantai marmer putih yang sekarang berubah warna dengan bau anyir menyengat. Mata Livia membelalak, napasnya tercekat, sementara kakinya tak lagi mampu menyangga tubuh. Ia buru-buru melangkah mundur, memilih bersembunyi di balik lemari besar. Tangannya yang tremor ia gunakan untuk membekap bibirnya sendiri agar tangisnya tak pecah dan mereka menyadari keberadaannya. "Bos, target sudah—" "Tutup mulutmu, sialan!" Pria itu mengumpat, memotong kalimat yang belum usai anak buahnya lontarkan. Livia mencoba mengintip dari celah kecil pintu lemari. Di sana, pria itu berdiri. Tubuhnya tinggi, dan tegap. Auranya mengerikan, tak peduli dengan mayat yang tergeletak di sisinya berdiri. Tanpa merasa bersalah, pria itu mengeluarkan sapu tangan hitam d







