Se connecterRuangan itu mendadak menjadi sunyi. Pricilla yang semula duduk dengan tenang perlahan menundukkan pandangannya, sementara senyum tipis masih menghiasi wajahnya. “Saya masih mengingat hari itu, Yang Mulia.”“Benarkah?”“Tentu saja. Bagaimana mungkin saya melupakannya?” Pricilla mengangkat wajahnya dan menatap Carsein dengan lembut. “Hari itu adalah hari ketika saya menyelamatkan nyawa Yang Mulia.”Carsein tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wanita di hadapannya dengan tenang, seolah sedang menunggu sesuatu. Selama bertahun-tahun, cerita tentang hari itu selalu terdengar sama di telinganya. Pricilla adalah orang yang menemukannya ketika ia terluka parah di medan perang. Pricilla adalah orang yang membawanya pergi dan menyelamatkan nyawanya ketika semua orang mengira ia tidak akan selamat.Namun entah mengapa, setelah percakapannya dengan Laticia, Carsein mendadak ingin mendengar cerita itu sekali lagi.“Ceritakan padaku.”Senyum Pricilla sedikit memudar. “Tentang apa, Yang Mulia?”
Laticia mengambil satu kelopak mawar yang terlepas dari tangkainya. Kelopak itu berwarna merah tua, masih segar dan lembut, tetapi telah jatuh dari tempatnya. Ia memutarnya perlahan di antara ujung jarinya sebelum meletakkannya kembali di atas meja, di antara tangkai-tangkai bunga yang belum sempat dirangkai.“Untuk sekarang, biarkan orang itu tetap berada di tempatnya.”Lelaki bermasker di hadapannya sedikit mengangkat kepala. “Namun, Yang Mulia, jika Kaisar terus menyelidiki perkara ini dan akhirnya menemukan keberadaan orang tersebut—”“Biarkan.”Jawaban Laticia datang begitu saja, tenang dan tanpa keraguan.Lelaki itu kembali terdiam.Laticia melanjutkan pekerjaannya. Ia mengambil satu tangkai mawar, lalu mulai membersihkan duri-duri kecil di batangnya dengan gerakan perlahan. Seolah pembicaraan mengenai rahasia yang dapat mengguncang hubungan antara Kaisar dan selirnya itu tidak lebih penting daripada rangkaian bunga di hadapannya.“Justru itu yang kuinginkan,” lanjutnya.Tatapan
Carsein membeku, lorong itu terasa begitu sunyi.“Apa katamu?”“Saya mengatakan bahwa Selir Pricilla bukan orang yang menyelamatkan Yang Mulia.”Tatapan Carsein berubah tajam.“Jelaskan.”“Selama ini informasi yang beredar menyebutkan bahwa Selir Pricilla adalah orang yang menemukan dan menyelamatkan Yang Mulia ketika keadaan itu terjadi. Namun saya melakukan penyelidikan ulang.”Pria itu berhenti sebentar.“Dan hasilnya berbeda.”Carsein menatapnya tanpa berkedip.“Siapa?”“Saya belum bisa memastikan seluruh detailnya, Yang Mulia. Namun ada seseorang yang datang lebih dahulu sebelum Selir Pricilla berada di sana.”Carsein mengepalkan tangannya.“Siapa orang itu?”“Saya masih mencari bukti yang lebih kuat.”“Tidak.” Suara Carsein terdengar tegas. “Aku tidak ingin dugaan.”Ia menatap pengawalnya dengan serius.“Cari tahu semuanya. Dari awal.”“Baik, Yang Mulia.”“Siapa yang datang lebih dulu. Siapa yang membawa bantuan. Siapa yang melihat kejadian itu. Dan bagaimana Pricilla bisa berad
“Namun saya mengandung anak Anda!”“Aku tahu.”“Anak pewaris kekaisaran!”Carsein menatap Pricilla dengan wajah yang semakin mengeras. Ia sudah mendengar kalimat itu berkali-kali, tetapi entah mengapa setiap kali Pricilla menggunakannya sebagai alasan untuk membenarkan tindakannya, kesabarannya semakin menipis.“Dan justru karena itu aku semakin tidak mengerti mengapa kau terus bertindak seperti ini.”Pricilla terdiam. Air mata masih menggenang di matanya, tetapi kali ini Carsein tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghiburnya.“Aku sudah memberikanmu perlindungan. Aku memastikan tidak ada seorang pun yang mengganggumu. Bahkan selama ini aku membiarkanmu tinggal di Istana Matahari meskipun kau hanyalah seorang selir.”Tatapan Carsein semakin tajam.“Tetapi apa yang kau lakukan dengan semua itu?”Pricilla membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.“Kau menggunakan kedekatanmu denganku untuk menekan Laticia. Kau membuat masalah di istana, berani melanggar aturan, bahkan memper
Ekspresi Laticia yang sejak tadi terlihat lelah berubah. Ada sedikit kelegaan yang muncul di matanya.“Lereg?”“Benar, Yang Mulia.”Laticia menutup dokumen di hadapannya. “Di mana dia?”“Beliau sedang menunggu di luar. Sepertinya baru saja tiba dari kediamannya.”Laticia mengangguk kecil. Ia kemudian berdiri dari kursinya dan merapikan gaunnya.“Kalau begitu, suruh dia masuk.”Melisa tersenyum tipis sebelum membungkuk dan berjalan menuju pintu. Namun sebelum benar-benar keluar, ia sempat menoleh kepada Laticia.“Yang Mulia terlihat lebih tenang setelah mendengar Grand Duke datang.”Laticia mengangkat alis.“Benarkah?”Melisa segera menundukkan kepala, menyembunyikan senyum kecilnya.“Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat.”Laticia terkekeh pelan.“Jangan terlalu banyak mengamati.”“Baik, Yang Mulia.”Melisa kemudian membuka pintu dan keheningan kembali terasa.Laticia baru saja selesai merapikan beberapa dokumen ketika pintu ruangannya kembali terbuka. Melisa yang berdiri di dekat
Laticia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya mengambil sarung tangannya dari meja dan memasangnya dengan tenang.Sementara Carsein masih duduk di tepi ranjang, mencoba mengingat kembali malam yang terasa begitu kabur itu. Ia tidak tahu bahwa di hadapannya berdiri seseorang yang sejak awal tidak pernah menyentuh wine sedikit pun. Dan Laticia tentu tidak memiliki niat untuk memberitahunya.Sepanjang hari itu, Carsein tidak bisa benar-benar memusatkan pikirannya pada apa pun. Bahkan ketika ia duduk bersama Laticia untuk memeriksa laporan keuangan kekaisaran, pikirannya berkali-kali kembali pada kejadian malam sebelumnya. Ia masih mengingat bagaimana mereka duduk berdua, berbicara cukup lama, lalu minum wine sambil membicarakan banyak hal yang sudah lama tidak pernah mereka bicarakan. Namun semakin keras ia berusaha mengingat bagian akhir malam itu, semakin kabur ingatannya.Yang membuatnya semakin bingung adalah sikap Laticia.Perempuan itu sama sekali tidak terlihat berbeda.Sejak pa
Lereg menatap Laticia cukup lama. Tatapan birunya tajam dan berat, seolah sedang mencoba membaca isi pikiran wanita di hadapannya.“Apakah Anda secara tidak langsung sedang menyuruh saya memberontak?” Suara rendah itu memecah keheningan ruangan.Namun Laticia hanya tersenyum kecil. Ia duduk tenang d
“Apa kau kerasukan setan?”Laticia tertegun sebelum perlahan menghela napas, ekspresinya tetap tenang.“Yang Mulia,” ucapnya pelan, “saya serius.”Tatapan Carsein langsung berubah tajam. Ia melepaskan tangannya dari bahu Pricilla lalu berjalan mendekati Laticia perlahan.Langkahnya berhenti tepat di
Langkah kaki Carsein menjauh tanpa ragu, gema sepatunya perlahan menghilang di balik lorong istana. Pintu ruang makan tertutup, menyisakan keheningan yang terasa begitu berat.Laticia tetap duduk di kursinya, punggungnya masih tegak seperti seorang ratu, namun napasnya perlahan terlepas. Ia memejamk
“Aku setuju bercerai.”Suara itu memecah keheningan ruang makan yang luas, menggema di antara dinding marmer dan langit-langit tinggi yang biasanya terasa begitu megah.Laticia Valcren de Ascham, Ratu Kekaisaran Ascham, duduk dengan punggung lurus. Tatapannya terarah lurus ke depan, pada suaminya—Ka






