LOGINLaticia tetap berdiri di sisi Lereg dengan tenang. Senyum anggun yang sejak awal menghiasi wajahnya tidak berubah sedikit pun, seolah percakapan yang sedang berlangsung sama sekali tidak memengaruhi suasana hatinya. Namun sebagai seorang wanita, ia dapat dengan mudah menangkap maksud yang tersembunyi di balik setiap ucapan Lady Eleanor.Tidak ada satu pun kalimat yang terdengar terang-terangan menggoda, itulah yang membuatnya terasa begitu jelas.Cara Eleanor memandang Lereg lebih lama dari seharusnya, senyum yang selalu mengembang setiap kali lelaki itu berbicara, hingga gerakan kecil merapikan rambutnya seolah tanpa sadar... semuanya menunjukkan bahwa perhatian wanita itu bukan sekadar rasa hormat kepada seorang Grand Duke.Laticia hanya mengembuskan napas pelan.Ia tidak menyela.Tidak pula menunjukkan ketidaksukaannya. Namun Lereg yang berdiri di sampingnya justru mulai merasa gelisah. Sesekali ia melirik ke arah Laticia, berharap menemukan sesuatu pada wajah perempuan itu. Sayang
Jawaban Lereg begitu singkat, tetapi terdengar mantap. Ia mengambil segelas minuman dari nampan pelayan, kemudian berdiri di samping Laticia sambil memandang para tamu yang masih memenuhi aula."Orang-orang selalu membutuhkan sesuatu untuk dibicarakan. Kalau bukan tentang politik, mereka akan membicarakan keluarga bangsawan. Kalau bukan tentang perang, mereka akan membicarakan kehidupan pribadi orang lain."Ia mengangkat bahu kecil."Rumor hanya akan berhenti ketika mereka menemukan korban berikutnya."Laticia memperhatikan wajahnya beberapa saat."Jadi kau benar-benar tidak keberatan?"Lereg menoleh dan menatap mata Laticia secara langsung."Aku lebih khawatir padamu daripada pada diriku sendiri."Jawabannya begitu jujur hingga membuat Laticia sedikit terdiam. Lereg melanjutkan dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat."Aku sudah hidup dengan berbagai macam gosip sejak kecil. Hanya karena aku lahir sebagai anak haram, orang-orang sudah menciptakan ratusan cerita tentangku. Aku
"Aku mendengar percakapan kalian."Nada suaranya begitu lembut hingga nyaris terdengar seperti bisikan. Namun justru kelembutan itulah yang membuat jantung para wanita itu berdegup semakin kencang.Laticia perlahan berbalik menghadap mereka. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya, tetapi sorot matanya tetap tenang, sulit ditebak apakah ia sedang marah atau justru tidak peduli sama sekali."Aku hanya ingin memastikan satu hal," ujarnya pelan. "Menurut kalian, apakah setiap pria yang memperlakukan seorang wanita dengan hormat pasti sedang jatuh cinta kepadanya? Ataukah setiap wanita yang menerima penghormatan itu otomatis dianggap sedang menggoda?"Tak ada jawaban.Para wanita itu saling melirik dengan gelisah. Laticia melanjutkan tanpa meninggikan nada bicaranya."Grand Duke Rudwick adalah penguasa wilayah ini. Aku datang sebagai tamunya sekaligus tamu kehormatan bagi seluruh bangsawan Utara. Sudah menjadi kewajibannya memastikan aku diperlakukan dengan baik selama berada di wilayahnya.
Sejak sore hari, seluruh Kastil Rudwick telah dipenuhi kesibukan.Para pelayan berlalu-lalang di sepanjang koridor sambil membawa kotak-kotak perhiasan, jubah musim dingin, serta berbagai perlengkapan yang akan digunakan untuk perjamuan malam itu. Aula utama tempat pesta diselenggarakan telah dihias sejak pagi. Lampu-lampu kristal dibersihkan hingga berkilau, rangkaian bunga musim dingin memenuhi setiap sudut ruangan, sementara para juru masak sibuk menyiapkan hidangan untuk menyambut para bangsawan yang datang dari berbagai wilayah Utara.Di kamar yang kini hampir setiap hari ia tempati, Laticia telah selesai mempersiapkan diri.Ema merapikan lipatan terakhir gaunnya, sementara Melisa memasangkan sepasang anting safir yang memantulkan cahaya kebiruan setiap kali terkena sinar matahari yang mulai menghilang di balik jendela."Yang Mulia benar-benar cantik malam ini," gumam Ema dengan senyum bangga.Laticia hanya membalas dengan senyum tipis.Ia tidak terlalu memikirkan pesta itu. Bagi
Laticia terdiam karena jawaban itu terdengar begitu sederhana. Tapi karena kesederhanaannya, hatinya terasa menghangat.Tidak ada janji yang berlebihan dan tidak ada kata-kata manis yang dibuat-buat. Hanya sebuah kalimat yang diucapkan dengan penuh keyakinan oleh seseorang yang benar-benar bersungguh-sungguh.Laticia menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali tersenyum."Kalau begitu..." Ia mengambil secangkir teh hangat, lalu menyandarkan tubuhnya sedikit ke arah Lereg. "Kurasa kita harus lebih sering melakukan perjalanan seperti ini."Lereg terkekeh pelan."Aku juga berharap begitu."***Menjelang siang pada hari ketiga, puncak-puncak menara Kastil Rudwick akhirnya mulai terlihat dari kejauhan.Setelah menempuh perjalanan panjang melintasi wilayah Barat, hutan-hutan pinus, dan dataran bersalju di Utara, keduanya akhirnya kembali ke tempat yang selama beberapa minggu terakhir menjadi rumah bagi Laticia.Begitu kuda mereka memasuki gerbang utama, deretan pelayan dan para kesatri
Sirvian perlahan menganggukkan kepala. Kini ia memahami maksud keponakannya."Jadi kau tidak ingin ada yang mengetahui bahwa kau pernah datang ke wilayah Barat.""Benar." Jawaban Laticia terdengar mantap. "Semakin sedikit orang yang mengetahui pertemuan kita hari ini, semakin baik. Aku ingin Carsein tetap percaya bahwa seluruh waktuku hanya kuhabiskan di Utara."Ia menarik napas panjang."Biarkan dia merasa semuanya masih berada dalam kendalinya."Lereg yang sejak tadi memilih diam akhirnya membuka suara."Itu keputusan yang tepat." Tatapannya beralih kepada keluarga Edevane. "Selama mereka belum mengetahui kalian berada di pihak Ratu, kalian masih memiliki kebebasan untuk bergerak."Sirvian mengangguk pelan."Kalau begitu, kami akan menjaga rahasia ini."Duke Edevane tersenyum tipis, meski sorot matanya memperlihatkan rasa enggan untuk kembali berpisah."Baiklah." Ia menghela napas panjang. "Kalau memang itu keputusanmu, aku tidak akan menahanmu."Laticia menghampiri kursi sang duke.
Carsein menghela napas panjang pelan seolah sedang menahan kesabarannya sendiri. Tatapan matanya tetap tertuju pada Laticia yang berdiri tidak jauh dari pintu dengan ekspresi tenang seperti biasa.“Apakah sekarang kau senang memperbesar masalah?” Nada suaranya rendah, namun cukup membuat seluruh ru
Semua orang terdiam setelah mendengar jawaban Laticia sebelumnya. Tidak ada yang menyangka sang ratu akan menanggapi penolakan itu dengan begitu tenang, seolah semua hal yang terjadi hanyalah bagian biasa dari hidupnya di dalam istana.Dan justru ketenangan itu terasa jauh lebih menekan dibanding k
Suasana di sekitar mereka langsung berubah canggung begitu nama Grand Duke Lereg disebutkan.Beberapa bangsawan yang berdiri tidak jauh dari sana saling melirik kecil sambil berpura-pura tetap melanjutkan percakapan masing-masing. Bahkan seorang viscount tua buru-buru meneguk wine-nya terlalu cepat
Jenoh sedikit menundukkan kepala sebelum akhirnya berkata pelan,“Menurut pelayan istana utama… keputusan itu berubah mendadak setelah rapat siang tadi.”Laticia langsung terdiam dan tanpa sadar, dirinya kembali mengingat tatapan Carsein di aula rapat tadi.Tatapan dingin penuh tekanan saat dirinya







