MasukMalam itu berakhir tanpa banyak percakapan. Setelah ucapan Laticia di meja makan, suasana menjadi sunyi dengan sendirinya. Tidak ada lagi sindiran dari Count Greek ataupun Baron Harold, seolah keduanya memahami bahwa apa pun yang mereka katakan tidak akan mampu menggoyahkan wanita yang duduk di ujung meja itu. Namun di antara semua keheningan itu, ada sesuatu yang terus menarik perhatian Laticia.Cara lelaki tua itu diam-diam menuangkan sup ke mangkuk istrinya lebih dulu. Cara wanita tua itu menegur suaminya karena membawa kayu bakar terlalu banyak. Hal-hal kecil yang bagi orang lain mungkin tak berarti, tetapi bagi Laticia terasa begitu nyata.Begitulah seharusnya kebersamaan, dan karena melihat itu, ia tidur tanpa memikirkan Carsein untuk pertama kalinya.Tetapi pagi datang terlalu cepat.Kabut masih menggantung tebal di sepanjang jalan ketika rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Udara dingin menembus sela-sela tirai kereta, membuat Melisa beberapa kali menggosok kedua tangann
Carsein menatap Laticia tanpa berkata apa-apa. Ia melihat wanita itu berbalik dan dari belakang Carsein bisa melihat punggungnya.Selama ini Laticia tetap menjaga sikapnya. Ia tetap sopan, menjaga harga dirinya, dan tidak pernah membuat masalah, bahkan saat Pricilla berada di sisi Carsein. Carsein tahu itu karena Laticia masih peduli padanya. Tapi sekarang semuanya berubah.Saat sampai di depan kereta, Laticia menoleh sedikit ke arahnya lalu membungkuk singkat, seperti memberi hormat pada kaisarnya.Carsein tahu itu hanya formalitas. Tidak ada senyum atau kata-kata seperti dulu. Laticia langsung masuk ke kereta tanpa bicara. Saat pintu kereta tertutup, Carsein sadar bahwa Laticia benar-benar sudah menjauh darinya.Di belakangnya, Pricilla melangkah pelan. “Yang Mulia... mungkin karena kehilangan bayinya, hati Yang Mulia Ratu masih belum tenang.”Carsein tidak menjawab. Tatapan Carsein tetap tertuju pada pintu kereta yang tertutup rapat. Seolah ia berharap Laticia akan membuka tirai,
Pricilla datang dengan senyum yang terlalu lebar untuk sebuah pertemuan kebetulan.Bukan hanya Laticia yang sempat terdiam melihatnya. Zion di sampingnya pun mengangkat alis tipis, jelas tidak menyangka wanita itu akan muncul secepat ini, apalagi dengan wajah seolah baru saja memperoleh kemenangan besar.Lorong panjang itu terasa lebih hening.“Aku datang untuk berterima kasih, Yang Mulia.”Laticia hanya menatapnya dan tidak menjawab. Tatapan datarnya membuat senyum di wajah Pricilla sempat goyah sesaat, tetapi wanita itu cepat menutupinya dengan senyum yang lebih lembut.“Aku juga membawa hadiah. Untuk Yang Mulia Ratu... dan Yang Mulia Duke.”Dua pelayan di belakangnya maju bersamaan, masing-masing mengangkat kotak kecil berlapis beludru hitam.Zion melirik kotak itu, lalu menoleh pada Laticia. Ada sesuatu di matanya, campuran geli dan heran tetapi ia tetap mengambil hadiah itu lebih dulu.“Terima kasih,” ucapnya ringan. “Meski sebenarnya tidak perlu.”Pricilla tersenyum puas, sepert
Seluruh aula terdiam.Ucapan Zion barusan menggantung di udara, berat dan tajam, seperti bilah tipis yang baru saja menggores sesuatu yang tak terlihat. Tak seorang pun bergerak. Bahkan para pejabat yang sejak tadi saling berbisik kini hanya bisa diam, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.Carsein menatap Zion dari kursi kekaisarannya dengan tatapannya yang dingin sekali sampai beberapa orang yang duduk di dekat Zion ikut menegang, seolah tekanan itu ikut menjalar ke seluruh ruangan.Lalu, dengan suara rendah yang tertahan, Carsein akhirnya berbicara.“Duke.”Satu kata itu saja sudah cukup membuat suasana semakin berat.“Jadi kau setuju melempar adikmu sendiri ke Utara... dan pada saat yang sama mendukung wanita lain di sisiku?” Nada suaranya tenang.Beberapa pejabat menunduk. Sebagian menahan napas. Pertanyaan itu jelas bukan sekadar pertanyaan. Itu tuduhan dan tekanan. Serta sedikit ancaman yang dibungkus dengan formalitas.Zion tetap duduk dengan tenang, punggungnya tegak, wa
Seorang pejabat senior akhirnya angkat bicara, suaranya terdengar lebih hati-hati dibanding sebelumnya, seolah mencoba meredakan arah pembicaraan yang mulai memanas.“Yang Mulia... baik Anda maupun Yang Mulia Kaisar tidak perlu langsung menuju Utara.”Ucapan itu membuat beberapa pejabat lain segera mengangguk setuju.“Benar,” sahut yang lain cepat. “Di sana sudah ada Yang Mulia Grand Duke. Beliau lebih dari cukup untuk menangani situasi di wilayah itu.”Suasana rapat kembali dipenuhi gumaman setuju. Bagi mereka, itu adalah jalan paling aman, semua urusan berbahaya diserahkan pada orang yang memang terbiasa hidup di garis depan.Laticia mendengarkan semuanya tanpa menyela. Ia hanya menghela napas pelan, matanya jatuh pada peta Utara yang terbuka di atas meja. Lalu Laticia mengangkat wajah.Tatapannya tenang, tetapi cukup tajam untuk membuat beberapa orang yang tadi berbicara menundukkan kepala tanpa sadar.“Sudah terlalu lama Utara diabaikan,” katanya akhirnya, suaranya datar namun
“Apa keadaannya sekacau itu?” tanya Laticia akhirnya, suaranya tenang, nyaris terlalu tenang untuk situasi seperti ini.Carsein mengatupkan bibirnya sejenak, seolah sedang menimbang apakah ia harus mengatakan semuanya sekarang. “Pemberontak dari Kekaisaran Bar menyusup ke wilayah Utara.”Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti batu yang dilempar ke permukaan air tenang menciptakan gelombang yang tak terlihat, tetapi cukup untuk mengubah segalanya.Laticia tidak segera menjawab.Tatapannya tetap lurus pada Carsein, tetapi pikirannya bergerak cepat. Dan apa yang diucapkan Carsein adalah sesuatu yang sebetulnya ia sendiri tahu. Namun yang tidak diketahui Carsein adalah apapun yang terjadi di utara tidak pernah berada di bawah kendalinya.Carsein memperhatikan perubahan kecil di wajah Laticia, bagaimana mata wanita itu menjadi lebih dalam, lebih dingin, seolah sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya. Ia ingin mengatakan bahwa semuanya akan ditangani tanpa perlu dirinya terlibat,
Carsein menatap Laticia tajam. Tatapan mata biru lelaki itu terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya, sampai membuat suasana aula perlahan berubah semakin menyesakkan.Tidak ada seorang pun yang berani mengangkat kepala sekarang. Para bangsawan hanya diam sambil menundukkan pandangan, berharap
Pricilla langsung menundukkan kepalanya lebih dalam. Jemarinya yang sejak tadi berada di atas perutnya perlahan mengepal, sementara suasana aula terasa semakin menyesakkan setelah ucapan Laticia barusan.“Maafkan saya, Yang Mulia.”Suaranya terdengar kecil dan hati-hati, jauh berbeda dibanding bebe
Suara tenangnya terdengar memenuhi ruangan yang sunyi. Tidak ada yang langsung menjawab.Para pelayan hanya saling berpandangan ragu sementara beberapa pengawal tetap menundukkan kepala.Hingga akhirnya Jenoh melangkah maju sedikit sebelum berkata hati-hati, “Karena penyerangan kemarin, Yang Mulia?
Jack membungkuk lebih dalam. “Saya akan menyampaikannya, Yang Mulia.”Tidak ada lagi yang berbicara setelah itu. Angin malam berembus pelan melewati pelataran istana yang luas, membuat ujung mantel hitam Carsein bergerak samar. Entah kenapa, ucapan Carsein tadi tidak terdengar seperti rasa terima







