LOGINSetelah tiga hari berada di rumah sakit. Yeshi di perbolehkan pulang. Namun dia tidak lagi bersedia kembali kerumah tua keluarga Maverick. Yang dia inginkan hanya hidup tenang tanpa gangguan sampai proses perceraian di lakukan."Aku sudah membeli dua apartemen berbeda. Juga rumah dengan dua lantai di tengah kota. Semua sertifikat resmi atas nama mu," ujar Ethan sembari menyetir mobil. Dia sendiri yang akan mengantarkan istrinya pergi kesalah satu rumah yang ia belikan."Aku lebih nyaman tinggal di apartemenku. Antarkan saja kau kesana," saut Yeshi."Kamu yakin?""Yakin.""Apa kamu lupa sikap mantan kekasihmu?" Ethan menatap beberapa saat kearah Istrinya sebelum melihat kedepan lagi.Ingatan betapa mengerikannya sikap mantan kekasihnya. Membuat seluruh tubuhnya membeku. "Pilihlah salah satu apartemen yang dekat dengan tempat kerjaku." Yeshi dengan cepat berubah pikiran."Baik."Ethan lebih memilih satu kediaman dengan dua tingkat. Rumah dengan halaman tidak terlalu luas namun cukup ny
Pelayan toko wanita mendekat. Wajahnya terlihat sedikit malu. Namun dia dengan tenang memberikan arahan kepada pria yang terlihat kebinggungan. "Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?""Tunjukkan." Menelan ludahnya. Suaranya seperti tertahan kuat. Tidak memiliki niat untuk di keluarkan. "Celana dalam ukuran S dan Bra ukuran 38," kata Ethan menekan suaranya dalam."Baik." Pelayan toko wanita segara mengambilkan ukuran dari setiap celana dalam juga bra yang di inginkan. "Ini semua model terbaru yang ada di toko kami. Anda bisa memilihnya untuk istri anda." Tiga puluh macam model terbaru dari bra di tunjukkan satu demi satu. Dan untuk celana dalam ada dua puluh macam model berbeda. Tuan, anda ingin model yang seperti apa?"Ethan melihat dengan canggung. "Kenapa ada begitu banyak modelnya," gumamnya pelan."Tuan, anda bisa memegangnya. Agar dapat mengetahui kualitasnya. Setiap barang yang di jual di tempat ini memiliki kualitas terbaik. Bahannya halus, dan lembut. Sangat nyaman saat di gunak
Di dalam mobil yang melaju kencang Wanita itu hanya bisa diam dengan tubuh bergetar. Dalam hatinya hanya berharap Paman kecilnya segara datang membantu dirinya lepas dari genggaman pria itu."Aaaa..." Pria yang tengah memegang kendali mobil kehilangan kendali. Tangan kirinya menekan kepalanya. "Data, data, data..."Dia terus mengulangi kata yang sama sepanjang perjalanan.Di menit berikutnya pria itu memperhatikan wanita di sampingnya. "Kamu harus menyimpan datanya. Jangan sampai ada orang yang mengetahui keberadaan data itu."Yeshi memperhatikan dengan air mata yang terus mengalir."Aku tidak akan membunuhmu. Hanya kamu satu-satunya orang yang dapat menerima data itu." Kedua mata itu sangat menakutkan. "Cari benda tajam." Suara-suara aneh terus saja berdatangan tanpa henti. Membuat isi kepala pria itu terasa hampir meledak. "Cepat."Dengan tangan yang masih terikat. Yeshi mencari benda tajam yang bisa dia berikan kepada pria itu. Dia menemukan cutter kecil di samping tempat duduknya.
Saat malam hari kediaman itu menjadi sangat sunyi. Hanya suara hewan malam yang terdengar saling bersautan.Tokk...Suara ketukan pintu terdengar.Yeshi bangkit dari atas tempat tidur meletakkan laptop yang ada di pangkuannya. "Tunggu sebentar." Dia berjalan menuju pintu. Saat dia membuka pintu itu Pak Tua Zack sudah berdiri di hadapannya."Nyonya muda, makan malam sudah siap."Yeshi keluar dengan baju casual.Di meja makan dua puluh lauk berbeda ada di atasnya."Paman Zack, apa Paman kecil sudah pulang?" Tanya Yeshi."Tuan muda masih ada banyak pekerjaan di luar. Mungkin malam ini tidak bisa kembali," ujar Pak tua Zack."Lalu, semua makanan ini?" Menatap semua makanan yang ada di depannya."Untuk anda."Jawaban sederhana dari Pak tua Zack membuat wanita itu menelan ludah kecut di tenggorokannya. Pandangan matanya teralihkan menuju pria tua di samping meja. "Paman Zack, aku tidak mungkin menghabiskan semua ini.""Tidak masalah. Nyonya bisa mengambil secukupnya," saut pria tua itu."La
Pesta pernikahan berakhir di jam dua belas siang. Semua tamu undangan juga telah meninggalkan gedung pernikahan. Hanya keluarga dari kedua mempelai yang masih berbincang di dalam gedung pernikahan. Sedangkan kedua mempelai telah berada di dalam ruangan penata rias. Di dalam ruang mereka hanya diam. Hingga Ethan memulai pembicaraan lebih dulu. "Untuk sementara kamu bisa tinggal di apartemenku. Nanti aku akan minta seseorang membeli rumah pernikahan." Mengambil satu batang rokok. Tapi tidak menyalakannya hanya di putar berulang kali di antara jari-jari tangan. "Tidak perlu. Aku tahu paman kecil menyetujui pernikahan ini karena paksaan keluarga." Menatap kearah pria di ujung ruangan bagian kanan. "Besok aku akan menyiapkan surat perceraian untuk mengakhiri pernikahan ini." Yeshi menatap dengan perasaan tidak enak. Mendengar itu Ethan langsung menatap kearah wanita berbalutkan gaun pengantin. "Tunggu sampai semua tenang. Jika kita langsung bercerai Ibu pasti akan membunuhku." Pem
Arga di seret keluar dari ruangan itu.Melihat dirinya sudah aman Yeshi justru merasakan kakinya sangat lemas. Saat dia hampir pingsan Ethan langsung menahan tubuhnya. Wanita itu di arahkan untuk duduk di kursi.Nyonya Ayas segara memeluk putrinya."Kakak pertama, sebenarnya apa yang terjadi?" Tuan Hazhi mencoba meluruskan masalah yang tidak mereka mengerti.Pintu ruangan di tutup rapat. Tidak mengizinkan orang luar masuk kedalam.Tuan Danu menceritakan semua masalah yang terjadi kepada adik sepupunya tanpa terlewat."Bocah itu memang layak mati," ujar Tuan Hazhi menggertakkan giginya. Dia menatap kearah kakak sepupunya. "Tapi tidak mungkin juga kalian membiarkan Yeshi duduk di pelaminan seorang diri.""Sebentar lagi acara akan di mulai. Ibu juga tengah menyaksikan melalui kamera yang telah di pasang di aula utama. Jika pesta gagal kami takut keadaan Ibu menjadi semakin buruk." Tuan Danu menekan kepalanya."Bukankah kakak juga masih lajang. Kenapa tidak dia saja yang menggantikan memp