Share

Bab 23

Author: Aamz Kyure
last update publish date: 2026-10-19 21:53:52

"Hantu." Matthias terkesan seperti sedang melawak, namun raut wajahnya tetap datar dan suaranya tenang.

Mayra terdiam sejenak, tidak yakin apakah dia baru saja diberi candaan atau justru ditegur dengan cara yang aneh. Ia juga bingung bagaimana cara menanggapinya.

"Untukmu." Suaranya terdengar rendah dan singkat, namun ada penekan halus di ujung kalimatnya.

"Tapi Tuan—"

"Kau tidak menginginkannya?" potongnya cepat, seakan tak memberi ruang untuk penolakan.

Mayra terdiam. Di dalam hatinya ia bert
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 33

    “Saya—” Mulut Mayra terbuka, namun tak ada satu pun penolakan yang berhasil terucap.Ruang kerja Matthias hening, hanya terdengar denting jarum jam dinding yang seolah menghitung mundur detik-detik kecemasan Mayra. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia takut Matthias bisa mendengarnya.“Buka beberapa kancing bajumu.” Suara Matthias rendah, hampir seperti gumaman, namun memiliki berat yang membuat udara di ruangan terasa menyusut.‎Mayra membeku, darahnya serasa membeku di urat nadi. “Tapi ini bukan hal yang pantas untuk dilakukan.”"Pantas atau tidak, aku yang menentukan aturan di kediaman ini." Tatapannya tajam namun tenang. "Bukan kau. Sekarang, lakukan.”Rasa malu dan ketakutan bercampur menjadi satu kepal panas di dada Mayra. Ia sangat ingin pergi meninggalkan tempat itu, namun kakinya seolah dipaku ke lantai. ‎Ia perlahan mengangkat tangan gemetar menuju deretan kancing bagian atas.Setiap sentuhan jari terasa sangat berat. Satu per satu, kancing itu terlepas. Membuka celah

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 32

    "H-hanya kesalahpahaman kecil, Tuan," jawab pelayan pertama dengan suara gemetar, tangannya bahkan tak sadar meremas ujung celemeknya karena gugup. Mayra menelan ludah dengan canggung saat tatapan Matthias jatuh padanya, jantung seakan berhenti berdetak sejenak. Ia buru-buru menyisir rambutnya dengan jari, dan merapikan kerutan di bajunya. Berharap tuannya tidak terlalu memperhatikan penampilannya yang kacau. "Aku paling tidak suka ada orang yang sok berkuasa di wilayahku." Tatapan tajam Matthias tertuju lurus pada kedua pelayan itu, membuat mereka menahan napas karena takut. Tanpa banyak bicara lagi, Matthias mengirim pesan kepada Elias. Memerintahkannya untuk segera datang. "Tuan, kami benar-benar tidak bermaksud melanggar peraturan di kediaman ini," ujar pelayan kedua dengan tergesa, suaranya terdengar cemas dan berusaha membela diri. "Siapa yang memberimu izin untuk bicara?" Pertanyaan dingin itu keluar begitu saja, dan tubuh pelayan kedua seketika menegang kaku di tempat

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 31

    Matthias terdiam sejenak, lalu menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di meja. "Tidak ada.”Di mata orang lain, mungkin semuanya tampak biasa saja. Tapi bagi Mayra, ada sesuatu yang terasa berbeda, sesuatu yang tak mampu ia jelaskan dengan kata-kata. Semakin ia mencoba memahaminya, semakin ia justru merasa bingung dengan perasaannya sendiri."Soal kejadian di kedai tadi …" Kata-kata itu terhenti di bibir Mayra, ia tak sanggup melanjutkan ucapannya lebih jauh."Tidak ada yang perlu dibahas. Fokus saja pada pekerjaanmu." Matthias berbicara dengan nada datar, seakan hal itu sama sekali bukan urusan yang layak dibicarakan.Mayra menelan ludahnya kasar, rasa malu perlahan menyelimuti dirinya. Ternyata hanya ia yang membuat hal ini terasa rumit, sepertinya ia terlalu berpikir berlebihan. "Maaf, Tuan," ucap Mayra lirih sambil menurunkan pandangan,Beberapa detik terasa begitu panjang, hingga akhirnya tatapan Matthias jatuh pada Mayra. "Kenapa berdiri diam? Keluar dan kembali be

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 30

    "Kenapa kau diam saja? Ada hal yang sedang kau pikirkan?” Callan sedikit memiringkan kepala, menunggu Mayra berbicara, seakan tahu ada sesuatu yang sedang gadis itu simpan sendirian.Mayra buru-buru menggeleng dengan senyum yang ia usahakan terlihat tenang. "Tidak ada.”Mayra masih mencoba menenangkan hatinya. Perasaan aneh ini pasti hanya sementara, pikirnya. Tidak perlu dipikirkan terlalu dalam, nanti lama-lama juga akan lenyap begitu saja. Nyatanya, perasaan itu tak kunjung hilang."Bagaimana kalau setelah ini kita pergi ke suatu tempat?” Callan tampak antusias, pria itu seakan ingin menghibur Mayra."Maaf, aku tidak bisa.” Rasa bersalah perlahan menyelinap di hati Mayra, padahal seharusnya ia merasa senang dan bersemangat mendengar ajakan itu."Kenapa? Bosmu itu tidak mengizinkanmu pergi?" Callan menatap Mayra dengan sedikit cemas, takut Mayra diperlakukan seperti yang tak seharusnya."Setelah ini masih ada tugas yang harus aku kerjakan, jadi aku tidak bisa pergi." Mayra tersenyum

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 29

    "Kenapa tidak bilang kalau kau mau datang ke sini?" Callan bertanya dengan nada yang akrab dan hangat, senyumnya tak lepas dari wajahnya."Aku …" Mata Mayra beralih sebentar ke sosok Matthias di sampingnya, lalu kembali menatap Callan. Ia tak bisa menceritakan yang sebenarnya. "Hanya kebetulan sedang lewat, jadi sekalian mampir.”Matthias berdiri di dekat Mayra, memperhatikan interaksi mereka dengan raut wajah yang tenang dan datar. Namun siapa pun yang melihatnya lebih lama akan menyadari ada sesuatu yang tersembunyi di balik sorot matanya, sesuatu yang tak terucap namun terasa jelas.Untuk sesaat, Mayra tersadar sepenuhnya bahwa ia tidak datang seorang diri. Kehadiran Matthias di dekat sana dan pertemuan mendadak dengan Callan, seketika membuat dadanya terasa sesak. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana, seolah kedua orang itu tidak seharusnya bertemu."Dia …" Callan menatap Matthias sekilas, lalu menatap Mayra dengan pertanyaan di matanya."Tuan Hayes, bosku di kediaman tempat ak

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 28

    "Tuan …" Mayra segera menunduk hormat begitu Matthias muncul di hadapannya, suaranya sedikit tercekat.“Kau bisa masuk mobil lebih dulu.” Matthias memberikan isyarat agar Elias segera pergi.Seolah mengerti tuannya ingin berbicara berdua saja dengan Mayra, ia mengangguk singkat dan pergi meninggalkan mereka. Sementara Mayra berdiri di tempatnya, menahan napas pelan dengan perasaan yang mulai was-was."Soal cuti, apa saya bisa pergi sendirian ke tempat yang ingin saya kunjungi?” Mayra memberanikan diri untuk bertanya meskipun terkesan agak ragu."Tidak bisa." Matthias tidak memberikan alasan lebih jelasnya membuat Mayra semakin bertanya-tanya."Cuti adalah waktu pribadi seorang pegawai, jika tuannya ikut pergi apa itu masih bisa dikatakan cuti?" Mayra menegaskan, suaranya pelan tapi tak lagi gemetar.Mayra tahu seharusnya ia diam saja, tapi keberanian itu tiba-tiba muncul. Setengah hari itu mungkin tidak berarti apa-apa bagi Matthias, tapi baginya itu adalah satu-satunya waktu yang ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status