LOGIN"Tetapi dia kan menculik Rowan?" Aruna berusaha berbicara kepada Rualyn melalui pikirannya.Untuk beberapa detik, tidak ada jawaban.Lalu terdengar suara tua yang berwibawa dari balik pikirannya."Bunuh Vesper. Cepat."Aruna langsung mengenali suara itu.Elandor.Matanya sedikit melebar. Jadi sejak tadi, Elandor memang sengaja menahan sihir Vesper agar mereka memiliki kesempatan.Aruna tidak membuang waktu.Ia mengangkat tangannya dan memberi kode kepada Rowan dan Russle.Russle yang melihat gerakannya langsung mengerti.Rowan juga memperhatikan arah pandangan Aruna."Apa rencananya?" bisik Rowan.Aruna hanya menunjuk ke arah kabut hitam.Vesper.Russle menggenggam pedang pusaka lebih erat.Pedang itu bergetar pelan."Akhirnya," bisiknya melalui telepati. "Saatnya."Russle mengangguk.Ia memberi isyarat kepada Rowan.Mereka berdua kemudian bergerak berlawanan arah, mengapit posisi Vesper tanpa membuat suara.Vesper masih sibuk mencoba memperluas kabutnya."Dasar Rualyn... selalu saja
Mereka akhirnya membagi tugas.Aruna menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah maju meninggalkan Russle yang berjongkok di dekat pasak tempat Rowan terikat."Aruna, jangan terlalu dekat," bisik Russle.Aruna mengangguk."Aku tahu."Ia kemudian berjalan mendekati Vesper dan Elandor.Keduanya langsung menatapnya.Aruna memasang senyum kecil."Jadi kalian berdua memang selalu bekerja sama seperti ini?"Vesper menyipitkan mata."Apa maksudmu?""Entahlah. Aku hanya berpikir..."Aruna memandang Elandor dari ujung kepala sampai kaki."...dua orang tua yang sudah hidup selama itu seharusnya punya cara yang lebih baik untuk menghabiskan waktu."Elandor terdiam.Russle yang mendengar dari kejauhan hampir tertawa.Aruna sendiri sebenarnya merasa aneh.Aku benar-benar mengatakan ini?Sifat seperti ini bukan dirinya.Namun suara Rualyn terdengar lembut di dalam kepalanya.Jangan takut menjadi berbeda dariku. Gunakan caramu sendiri.Aruna kembali tersenyum."Atau jangan-jangan kalian memang tidak p
Tiba-tiba Vesper mengangkat tangannya.Tanpa peringatan, ia melemparkan sebuah bola besi berduri ke arah Aruna."Aruna!"Aruna tersentak. Namun tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Ia segera menghindar ke belakang Russle.Brak!Bola besi itu menghantam lantai dan menggores permukaannya sebelum memantul beberapa kali.Russle langsung berdiri di depan Aruna, tatapannya berubah tajam."Vesper!"Vesper hanya tersenyum santai."Refleksmu cukup bagus, gadis."Aruna mengatur napasnya, lalu mengintip dari balik bahu Russle."Kau barusan benar-benar melempar benda itu kepadaku?""Tentu.""Tanpa peringatan?""Itulah gunanya kejutan."Aruna menatapnya datar."Orang tua aneh."Russle sampai terdiam sesaat.Bahkan Rowan yang masih terikat menahan senyum.Sementara Vesper justru tertawa kecil."Menarik. Di tengah keadaan seperti ini, kau masih sempat menghinaku."Ia mengangkat satu tangan lagi.Bola besi yang tadi tergeletak di lantai perlahan terangkat dan kembali melayang ke telapak
Beberapa waktu sebelumnya, Elandor telah tiba di ruangan utama dengan membawa Rowan seolah-olah tubuh pria itu tidak lebih berat daripada selembar kertas. Bahkan di usianya yang sudah sangat tua, tenaganya masih terasa tidak masuk akal.Ia membawa Rowan menuju sebuah pasak besar yang berdiri tepat di tengah ruangan. Dengan besi tua, ia mengikat kedua tangan Rowan pada pasak tersebut.Rowan mencoba menggerakkan tangannya, tetapi sia-sia.Elandor juga memasang sebuah pengaman sihir pada pergelangan tangan Rowan. Begitu Rowan mencoba mengumpulkan kekuatan sihir, segel itu langsung menyala dan memutus alirannya."Lepaskan aku!" teriak Rowan dengan sisa tenaga yang dimilikinya. "Siapa kau?! Kaki tangan Vesper?!"Elandor sama sekali tidak menjawab.Ia hanya terkekeh."Hihihihi..."Tawa tua itu terdengar ganjil di ruangan yang luas, seperti suara seseorang yang sudah terlalu lama tinggal sendirian.Elandor kemudian menatap Rowan dengan tatapan penuh antisipasi."Sebentar lagi pewaris Blackwo
Aruna langsung bersembunyi di belakang Russle. Bahkan dari jarak sejauh itu, aura Vesper terasa begitu dingin dan mengintimidasi. Nada suaranya yang rendah saja sudah cukup membuat bulu kuduknya meremang."Aku tidak akan menyerahkan diri!" seru Aruna, berusaha memberanikan diri.Russle mengangguk."Jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkannya membawamu."Tangannya menggenggam erat pedang pusaka.Vesper hanya tertawa kecil."Ho... ho... ho..."Kemudian ia bertepuk tangan dua kali.Tep! Tep!Suara itu menggema ke seluruh lembah.Dari balik pepohonan, jembatan batu, dan bangunan-bangunan tua di sekitar mereka, bermunculan puluhan orang berjubah gelap. Sebagian membawa senjata, sementara yang lain menggunakan sihir untuk menghalangi jalan keluar.Aruna menelan ludah."Banyak sekali..."Russle melangkah maju, memosisikan dirinya di depan Aruna."Jangan jauh-jauh dariku."Vesper tersenyum puas melihat keduanya."Silakan."Ia mengangkat satu tangan."Kalau kalian memang mampu melawan mereka
"Buka kuncinya dengan bunga yang kelopaknya sama seperti itu. Cari di sini. Cepat."Suara Rualyn terdengar samar di dalam kepala Aruna.Aruna langsung menoleh kepada Russle."Russle, kita membutuhkan bunga. Kelopaknya harus sama persis dengan lambang di pintu itu."Russle tidak banyak bertanya."Di mana?""Aku tidak tahu. Tapi Rualyn bilang ada di sekitar sini."Russle langsung mengamati sekeliling.Ia berjalan melewati akar-akar besar, menyibak semak-semak, hingga akhirnya pandangannya tertuju pada sesuatu yang menjulang tinggi di antara pepohonan."Di sana."Sebuah pohon raksasa berdiri di tengah hutan. Batangnya begitu besar hingga mungkin diperlukan beberapa orang untuk mengelilinginya.Di antara dahannya tumbuh bunga-bunga aneh.Kelopaknya berjumlah tujuh, persis seperti lambang pada pintu.Russle mendekat.Beberapa bunga masih mekar, sementara satu bunga yang tampak paling sempurna telah jatuh di tanah.Ia mengambilnya dengan hati-hati."Yang ini?"Aruna mengangguk setelah mempe
Saat kereta kuda mereka berhenti di tengah kerumunan yang mencoba masuk ke toko roti, semua pasang mata menatap keduanya dengan tatapan histeris. Bisik-bisik mulai terdengar di telinga mereka.“Lady?” panggil Kael saat berjalan masuk. Namun Aruna melamun melihat antusiasme orang-orang yang datang.
Kereta kuda dengan emblem kerajaan melaju cepat menuju Kediaman Ardent—tempat di mana Lady Evelyne tinggal. Kali ini bukan sekadar kunjungan biasa, sebab Kael memiliki janji pada Lady itu. Ia tidak sendirian; Varian dan beberapa pengawal turut serta. "Yang Mulia, Anda yakin Lady itu tak akan menip
Kehadiran Pangeran Kael Draven di kediaman Ardent menyebar lebih cepat daripada aroma kue yang baru keluar dari oven.Dalam hitungan menit, halaman belakang yang tadinya ramai dengan antrean pelayan mendadak berubah. Para pelayan berlarian—bukan karena panik, tapi karena mereka harus rapi di depan
Istana Elarion, Sayap Timur.Pangeran Kael Draven meletakkan pulpennya dengan suara lebih keras dari yang ia rencanakan."Kamu bilang dia tidak datang?"Asisten pribadinya, Varian—pria kurus dengan kacamata emas dan ekspresi selalu datar—mengangguk. "Benar, Yang Mulia. Lady Evelyne tidak datang har







