LOGINSetelah semalam tak pulang, akhirnya Arumi dapat kembali melihat Leonard. Leonard pulang dengan sempoyongan, bajunya tampak berantakan dengan rambut kusut.
"Mas, kamu abis dari mana sih?" Arumi menghampiri dengan penuh khawatir. "Berantakan banget." Leonard menepis tangan Arumi yang hendak menyentuh keningnya, "Diam, Arumi! Aku capek, biarkan aku istirahat." Arumi perlahan mundur, ia takut mengganggu Leonard. Tugasnya sekarang hanyalah menyiapkan makan untuk suaminya itu. Tok.. tok... Arumi berjalan ke depan saat mendengar pintu diketuk. "Loh, Indah? Ada apa?" tanya Arum. Di depan pintu Indah tersenyum, di tangannya tampak ia membawa sebuah mangkuk berisi sup ayam. "Arumi, aku masak banyak hari ini. Ini sup dari aku!" Dengan senang hati Arumi menerimanya, "Wah makasih banyak ya, masih anget lagi.." "Haha iya, soalnya belum lama juga matangnya. Arumi, bisa tolong sekalian di ganti wadahnya? Mau saya bawa pulang sekalian." Arumi mengangguk-anggukkan kepalanya, ia kemudian buru-buru ke dapur untuk mengganti wadahnya. "Loh? Mas, katanya tadi mau istirahat." Arumi menatap heran, Leonard yang tadi sempat bilang ingin istirahat sekarang malah mengobrol bersama Indah. "Iya capeknya sudah hilang, Arumi." Leonard menatap Indah, kemudian tersenyum kecil. "Makasih ya sup ayamnya." "Ini wadahnya, makasih ya." Arumi tampak sedikit kesal melihat perlakuan Leonard terhadap Indah. "Sama-sama Arumi, lain kali kalo aku masak lagi kamu nggak keberatan kan kalau aku kasih? Buat kasih komentar soal rasa masakan aku." "Iya aman aja kok, tapi memangnya harus aku?" "Kan kamu yang paling dekat Arumi. Aku juga ada rencana mau buka warkop." Arumi tersenyum kecil, ia menganggukkan kepalanya. "Mas, kamu kelihatannya akrab banget deh sama Indah. Kamu kenal sejak awal ya?" Arumi kini memberanikan dirinya untuk bertanya. Leonard menggeleng, "Nggak juga, kenapa sih Arumi? Kamu akhir-akhir ini sensi banget. Ramah sama tetangga apa salahnya sih?" "Ramah sama tetangga nggak salah sama sekali Mas, asal tau batasannya." Arumi menarik napas panjang. "Mas kan laki-laki, jadi seharusnya tidak terlalu akrab sama Indah." Leonard mematikan handphone seketika, kini pandangannya tajam terhadap Arumi. "Jadi, maksudnya aku nggak tau batasan sama Indah? Pikiran kamu itu aneh sekali Arumi, jangan berasumsi yang tidak-tidak." "Mas ak-" "Sudah!" seru Leonard, "jangan banyak bicara, siapkan bajuku." "Baju? Mas mau keluar?" "Ada meeting malam ini, aku pulang terlambat. Tidur aja duluan, jangan nunggu aku pulang." ***** Rembulan malam bercahaya dengan terangnya, sunyi menguasai setiap sudut rumah. Arumi duduk di tepi ranjangnya, anaknya sudah tertidur pulas. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua, Leonard tak kunjung pulang. Bahkan tak ada kabar darinya. Merasa bosan, Arumi mencoba untuk membuka akun F******k-nya. Tak sengaja ia menemukan akun F******k Indah, matanya membulat seketika. Rasa penasaran Arumi benar-benar besar, ia tak bisa menahannya. "Hah? Indah punya suami? Bukannya kata Ika dia.. single mom?" Arumi mengerutkan keningnya saat melihat postingan Indah. Di sana tertera potret Indah dengan seorang laki-laki, namun wajah laki-lakinya tertutup oleh stiker. Kali ini mata Arumi membulat sempurna, saat ia membuka postingan terbaru Indah. "Loh? Ini Indah sama suaminya?" Arumi mencoba memperhatikan foto tersebut dengan seksama, penuh dengan teliti. Tampak Indah hanya menggunakan dress pendek, rambutnya terurai. Dengan seorang laki-laki berkemeja putih di sampingnya, dan pastinya wajahnya tertutup oleh stiker. "Kenapa kemejanya kayak nggak asing ya?" monolog Arumi, ia mencoba untuk mengingat-ingat. "Mas Leonard? Kemeja ini sama persis.." Arumi kembali memperhatikan foto tersebut, kali ini ia harus lebih teliti. Ia tak mau pikirannya merusak semua. "Ah, mungkin perasaanku saja. Toh yang punya kemeja putih seperti itu banyak." Arumi mencoba mengusir pikirannya, ia tak mau berpikir negatif tentang suaminya. **** "Hah? Jam berapa ini?" Arumi terkejut bukan main. Cahaya matahari menembus masuk ke dalam kamarnya, ia tertidur semalam. Arumi menoleh ke samping, lagi, Leonard belum pulang. "Jam tujuh, tapi mas Leonard sama sekali nggak balas chat aku. Bahkan dia nggak aktif." Arumi masih belum bisa tenang, pikirannya masih tertuju pada kemeja putih yang ia lihat semalam. Selintas ide muncul di kepalanya, Arumi begitu penasaran dengan rumah Indah. "Aku harus pergi ke rumah Indah," gumam Arumi. Arumi segera merapihkan rambutnya, ia akan segera pergi ke rumah Indah. "Indah!!" seru Arumi, ia mengetuk pintu beberapa kali. "Eh! Arumi?" Arumi menatap tajam, ia memperhatikan setiap tampilan Indah. Tak ada yang salah, semua normal. Rumahnya juga rapi, dan sepi. "Arumi? Kenapa? Kok kayaknya ada yang aneh," ucap Indah. "Eh, aduh! Aku sampai lupa, kamu ada kegiatan apa hari ini?" "Hari ini nggak ada sih, ada apa memangnya?" "Aku minta bantuan, datang ke rumahku ya nanti. Bantu masak-masak, anakku ulang tahun. Aku nggak mungkin masak semua sendiri." Indah mengangguk, "Oh itu, bisa kok! Aku datang, tapi sekarang aku bersih-bersih dulu ya." "Iya Ndah, makasih ya." Arumi merasa sedikit lega, karena ia tak menemukan yang mencurigakan dari Indah sejauh ini. Namun perasaannya masih tetap sama, gelisah, takut, semua menjadi satu. "Arumi." "Mas? Kamu kok sudah di depan rumah?" Arumi bertanya heran, baru saja ia pergi sebentar ke rumah Indah dan sekarang Leonard sudah berdiri di depan rumahnya. "Kan aku udah pulang, kamu kenapa di rumah Indah?" "Minta tolong buat bantuin aku masak. Mas semalam kenapa nggak balas chat aku sama sekali, malah nggak aktif. Memangnya ini meeting dengan siapa?" "Semalam nggak ada jaringan tiba-tiba. Sudah jangan banyak tanya, cuci baju aku." Kini rasa penasaran Arumi semakin meningkat. Mana mungkin tak ada jaringan? Memangnya meeting di dalam hutan belantara? Begitu pikirannya. Arumi segera menyisihkan baju-baju kotor, tampak lebih banyak kali ini. Kemeja putih. Saat akan memasukkan ke dalam mesin cuci, tangannya terhenti. Ia kembali teringat foto semalam. Arumi mencoba untuk mencium baunya, tak ada yang aneh sejauh ini. Parfum yang dipakai Leonard masih sama, tak ada aroma lain yang menempel di kemeja itu. Baru saja Arumi hendak membuka kancingnya, ia melihat sebuah noda. Matanya membulat sempurna, ia mencoba memperhatikan lebih teliti. "Lipstik? Ya, benar. Ini noda lipstik." Arumi menggeleng, tak ingin ia menerima fakta yang menyakitkan. "Atau jangan-jangan semalam mas Leo..." Mulai sekarang Arumi akan lebih berhati-hati, terutama terhadap Indah. Laki-laki mana yang langsung akrab dengan tetangga barunya, terlebih itu seorang perempuan. Lalu, perempuan mana yang tak akan cemburu jika melihat suaminya akrab dengan wanita lainnya? "Lihat saja mas, aku nggak akan tinggal diam kalau sampai kamu bermain api di belakangku!" seru Arumi, ia penuh tekad akan menyelidiki suaminya."Arumi, sudah?" Leonard datang menghampiri. "Kita udah keliling loh dari tadi, kamu belum ketemu yang cocok juga?" Arumi tersenyum tipis, "Maaf Mas, bajunya enggak ada yang cocok. Kita pulang aja ya?" "Ya sudah." Terdengar helaan napas Leonard yang mulai kesal. **** Angin berhembus kencang, menerpa rambut panjang Arumi yang sengaja ia gerai begitu saja. Ia duduk di teras belakang rumah, ditemani oleh Abel. "Mana sih?" Indah tampak tak sabar. "Gue mau lihat yang namanya Indah, apa kita datang langsung ke rumahnya?" "Ide buruk Bel, ngapain coba ke sana?" Arumi tertawa kecil, "lihat saja, bentar lagi dia keluar." Tak lama kemudian, benar saja yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar juga. Indah keluar dari pintu belakangnya, hendak menjemur pakaian. "Pagi, Ndah." Sapa Arumi lebih dahulu, ia sengaja. Indah mengangguk, "Pagi juga, Arumi." Terlihat dengan jelas, sepertinya ia salah tingkah sendiri. Tak kuasa untuk melihat Arumi, bukan apa-apa, melainkan karena ia takut. Bel
Senyum sumringah tergambar jelas di wajah Arumi, sudah lama rasanya ia tak tersenyum seperti ini. Ia terus memperhatikan wajahnya dari pantulan kaca. Riasan tipis itu membuat wajahnya terlihat semakin cantik, dengan warna lipstik tak terlalu merah.Cella menarik-narik roknya, mulutnya berceloteh tak terlalu jelas. "Mam-a..""Sayang!" Arumi menggendongnya, ia mencium pipinya. "Harum banget ya anak pintar ini!"Arumi berjalan ke depan, terlihat Leonard sudah menunggunya. Hari ini Leonard mengajak Arumi untuk dinner. Benar-benar hal yang menyenangkan untuk Arumi.Sekilas Arumi dapat melihat Indah, perempuan itu mengintip dari balik jendela. Tak ingin merusak suasana kali ini, Arumi memutuskan untuk segera masuk ke dalam mobil."Mas..""Kenapa, sayang?" Arumi terdiam, rasanya ingin menangis. Sudah lama kalimat itu tak keluar dari mulut Leonard, ia benar-benar merindukan. Rindu Leonard yang dulu, waktu mereka berpacaran. Rindu saat rumah tangganya baik-baik saja tanpa kehadiran orang keti
"Jadi, langkah kamu selanjutnya apa?"Arumi terdiam saat pertanyaan itu keluar dari mulut Abel. Matanya menatap lantai kafe yang terasa dingin, seolah jawaban itu terlalu berat untuk diucapkan dengan suara. Jari-jarinya saling mengait, gemetar tipis."Arumi," Abel menghela napas pelan. "Coba pikirin baik-baik. Kalau kamu mau mengakhiri semuanya, gimana nasib Cella? Dia masih kecil, dia butuh sosok ayah. Tapi kalau kamu milih buat tetap bertahan, kamu juga harus yakin… kamu kuat atau nggak. Kita nggak bisa maksa diri sendiri cuma demi kelihatan utuh."Kata-kata itu menusuk, bukan karena kasar, tapi karena terlalu jujur. Arumi menelan ludah. Bayangan Cella yang tertawa setiap Leonard pulang kerja tiba-tiba muncul di kepalanya. Bagaimana anak itu memanggil "ayah" dengan suara paling ceria, seakan dunia tak pernah menyakitinya."Kalau menurut kamu gimana?" suara Arumi nyaris bergetar saat akhirnya bertanya.Abel terdiam sejenak, menatap Arumi dengan sorot yang lembut tapi penuh kehati-hat
Tubuh Arumi terasa lemas, seakan seluruh tenaganya terkuras habis. Ia duduk terdiam di ruang tunggu rumah sakit, punggungnya bersandar pada kursi dingin berwarna abu-abu. Langkahnya sejak tadi berhenti di sana—belum juga berani masuk untuk menjenguk sang ibu. Dadanya terasa sesak, pikirannya berantakan, seolah semua beban hidup menumpuk di satu titik yang sama. Ia menunduk, jemarinya saling menggenggam, berusaha menahan getar yang merambat hingga ke ujung tubuhnya. Arumi tak tahu harus bagaimana sekarang. Terlalu banyak hal yang datang bersamaan, terlalu berat untuk ditanggung sendirian. "Loh, Mbak? Kok di sini?" Suara itu membuat Arumi tersentak. Ia mendongak dan mendapati Gina, adiknya, berdiri di hadapannya dengan raut wajah heran. Arumi buru-buru menghapus sisa air mata yang masih menggantung di sudut matanya. Ia memaksakan senyum kecil, setipis kesabarannya. "Eh, nggak kok," ujarnya pelan. "Mbak cuma capek aja, Dek. Oh iya, Cella mana?" "Di ruangan sama ayah." Gina sempa
Dada Arumi terasa sesak, matanya panas hingga perih. Ia tak lagi mampu menahan air mata yang luruh begitu saja. Dunianya hancur hari ini, detik ini, pada waktu yang bahkan tak sempat ia siapkan. Semua yang selama ini ia pertahankan runtuh dalam satu kenyataan pahit yang menghantam tanpa ampun. Dua insan itu masih belum menyadari kehadiran Arumi. Mereka bercumbu mesra, seolah tak ada batas, seolah tak ada dosa yang sedang mereka lakukan. Tanpa memikirkan dengan siapa mereka berbuat, dan tanpa peduli akibat yang akan mereka tinggalkan. Tangan Arumi bergetar hebat. Ia menutup mulutnya dengan sekuat tenaga, menahan isak yang hampir lolos dari bibirnya. Tangan itu, yang dulu mengusap lembut air mata Arumi kini mengusap perempuan lain. Tawa itu, yang selama ini akrab di telinga Arumi kini menjadi milik orang lain. Semua itu seharusnya milik Arumi. Hanya miliknya. "MAS LEONARD!" Dengan langkah penuh amarah, Arumi maju sambil menggenggam segelas air di tangannya. Byurr! Air itu
Arumi buru-buru mencari kontak dengan nama "Tetangga" ia membuka semua pesan-pesannya. Dada Arumi bergemuruh, emosinya naik-turun. Napasnya tersengal-sengal, ia tak tahan lagi menahan ini semua. Pesan yang Arumi baca membuatnya tak bisa menahan tangis, ternyata dugaannya benar. Leo berselingkuh dengan Indah. Arumi buru-buru meletakkan handphone Leonard kembali, setelah itu ia kembali tidur. Tak mau ia ketahuan jika sedang membuka handphonenya. "Arumi, bisa kamu masakan aku sup ayam?" Sapu lantai yang dipegang Arumi hampir lepas dari genggamannya, setelah sekian lama akhirnya Leonard kembali meminta menu makanan. "Eh, sup ayam?" Leonard mengangguk, "Iya sup ayam, tapi buatkan yang sama persis seperti masakan Indah ya." Hampir saja Arumi senang, kini ia kembali merasa kesal. "Memangnya harus banget Mas, kan beda orang beda rasa. Walau resepnya sama." "Makanya itu kamu belajar sama Indah, buat sup ayam yang enak!" seru Leonard. Arumi terdiam, ia sebenarnya ingin membantah suaminy







