مشاركة

Bab 3

مؤلف: Ungu
Pertanyaannya membuat wajahku memerah. Aku tak menyangka Tante Helen akan berbicara seberani itu.

“Aku… aku nggak lihat apa-apa.”

“Bohong, tatapan matamu saja sudah seperti mau terbakar. Emangnya punya tante sebagus itu, ya?”

Dia sengaja membusungkan dadanya, membuat kelembutan di bagian depannya agak bergoyang.

“Nggak apa-apa, kok. Anak muda memang butuh diajari oleh orang dewasa. Tante sangat bersedia membantumu… jangan bilang siapa-siapa ya, tante izinkan kamu menyentuhnya.”

Aku sangat ingin merasakannya, tapi melakukan ini rasanya sangat menyakiti perasaan teman seasramaku, sekaligus sahabat baikku.

“Benaran… benaran nggak apa-apa?”

“Lihat dirimu, sudah menahan diri sampai seperti itu. Tenang saja, tante nggak akan menceritakannya pada siapapun,” ujar Helen sambil tersenyum menggoda, sengaja melirik ke arah celanaku.

Gairahku memang sudah tak tertahankan sejak tadi, hingga tonjolan di celanaku terlihat sangat jelas.

Begitu digoda seperti itu olehnya, aku tak bisa menahan diri lagi. Dengan penuh semangat, aku berkata, “Kalau begitu… aku nggak sungkan lagi.”

Sambil bicara, aku menjulurkan tangan dan langsung meremas gundukan bulatnya.

Rasanya benar-benar kenyal, teksturnya sangat bagus dan terasa nyaman sekali.

Gumpalan daging yang lembut itu berubah bentuk sesuka hati di dalam genggamanku. Seiring dengan gerakan remasanku, samar-samar aku bisa merasakan tonjolan pentil di balik bajunya bergesekan lembut dengan telapak tanganku

Karena penasaran, aku memainkan kedua ujungnya, bahkan mencubitnya sambil mengangkat gundukan bulatnya dan menggoyangkannya.

Napas Tante Helen mulai agak memburu dan wajahnya pun jadi jauh lebih merah.

Tangannya berpindah memijat di pangkal pahaku, lalu dengan pelan menurunkan celana dalamku, aku pun ikut mengikuti gerakannya.

“Lihatlah, bagian sini sampai bengkak begini. Tante bantu pijat ya, biar memarnya hilang,” ujarnya dengan lembut.

Tangan kecilnya yang putih memijat di sekitar tulang pinggulku, yang malah membuatku terangsang setengah mati.

Tubuhku memberikan reaksi yang sangat kuat, rasanya seperti sudah mau meledak.

“Anak muda memang punya modal, kekar sekali!”

Terpancar rasa terkejut dan gairah dari matanya. Dia menjilati bibir merahnya, lalu tangan kecilnya terus bergerak ke bawah!

Astaga!

Seketika rasa merinding menjalar hingga ke kulit kepalaku dan napasku rasanya hampir terhenti.

Jadi, aku juga mulai mengerahkan tenaga, meremasnya seperti sedang menguleni adonan kue, membuat Tante Helen terus menggigit bibirnya dan sesekali meloloskan desahan lembut dari celah giginya.

Suara itu terdengar sangat menggoda dan manja, mirip seperti suara kucing yang sedang birahi.

Aku sangat kegirangan. Melihat situasi yang sudah sejauh ini, aku langsung menyusupkan tangan besarku ke dalam bajunya.

Karena sejak awal dia memang tidak memakai bra, kali ini tanganku bersentuhan langsung tanpa penghalang.

Ternyata tekstur pada bagian pentilnya berbeda dengan bagian kulit lainnya. Dengan penuh takjub aku memainkan kelembutannya, sampai rasanya ingin langsung menggigitnya dengan mulutku.

“Dasar nakal, kamu makin berani saja… agak… agak pelan….”

Dia menggigit bibir merahnya, alisnya yang indah agak berkerut, sepasang mata indahnya yang berkaca-kaca menatapku dengan pandangan yang begitu mesra dan penuh gairah.

Tampaknya dia sudah benar-benar terangsang. Dia pun langsung berlutut di hadapanku, lalu mendekatkan wajah cantiknya ke arah sana.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 10

    Meski sadar bahwa sebenarnya diriku dan Leo sama saja dan alasannya bersama ibuku sebagian besar adalah untuk balas dendam padaku.Namun, mendengar ucapannya tetap saja membuat amarahku semakin menyala-nyala. Aku langsung menerjangnya dan kembali menghajarnya habis-habisan.Dia pun bukan lawan yang lemah. Kami berdua berguling-guling di lantai, tak ada yang mau mengalah.Ibuku yang berada di dalam mobil menjerit ketakutan. Dia bergegas memakai pakaiannya, lalu berlari turun untuk melerai kami, “Sudah! Jangan kelahi lagi!”Dia menarik lenganku, air matanya menetes, “Tyson, dengarkan ibu… ini semua salahku, ibu yang bersalah padamu….”Aku menghempaskan tangannya, lalu melototinya dengan mata berkaca-kaca, “Baru sekarang kamu tahu salah?!”Leo merangkak bangun dari lantai dengan sudut bibir yang berdarah. Dia juga melototiku dan berkata, “Kita berdua nggak ada yang berhutang satu sama lain. Kamu bermain dengan ibuku, aku bermain dengan ibumu. Jadi, nggak perlu menyalahkan siapapun!”Saat

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 9

    Aku bergegas memakai helm dan membuntutinya. Untungnya arus lalu lintas malam itu masih terhitung ramai, jadi aku masih bisa terus mengikuti mereka. Setelah berkendara sekitar dua sampai tiga kilometer, mobil sedan itu berbelok masuk ke sebuah gang.Daerah di sekitar sana adalah kawasan yang akan digusur, suasananya gelap gulita.Aku memarkir motor listrikku di dekat sebuah rumah warga yang sudah terlantar, lalu melanjutkan dengan berjalan kaki.Dari kejauhan, aku sudah bisa melihat mobil sedan itu terparkir di tengah padang rumput liar. Aku pun segera bersembunyi di balik beberapa pipa beton besar yang terletak tidak jauh dari mobil tersebut.Di kursi belakang, ibu sudah duduk saling berhadapan dengan seorang pria.Ibu memeluk kepala pria itu dan kancing kemejanya pun sudah terbuka.Si pria tampak sedang mengerahkan tenaganya di depan dada ibuku sambil terengah-engah.Ibu mendongakkan kepalanya, menunjukkan ekspresi yang begitu menikmati.Karena wajah pria itu membelakangiku, aku bel

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 8

    Kami terus bermesraan selama hampir empat puluh menit sampai akhirnya benar-benar selesai.“Nggak kusangka kamu sehebat ini, aku benar-benar puas hari ini!” ucapnya dengan tubuh dipenuhi keringat yang harum sambil bersandar di pelukanku.“Kalau nanti tante mau lagi, langsung kirim pesan saja ke aku kapan pun,” ujarku sambil tersenyum dan mengecupnya sekali.Setelah merapikan diri dan memakai baju, Tante Helen baru melangkah pergi.Menjelang siang, Leo dan teman-teman asrama lainnya pun kembali. Leo bahkan sempat bercanda denganku, katanya kamar asrama kami penuh dengan aroma protein.Aku menjawabnya dalam hati, ‘ibumu baru saja kuhabisi di sini, mana mungkin nggak ada aroma?’Saat hari jumat pulang kampus, aku langsung bergegas pergi ke salon Tante Helen. Tapi, karena Leo juga sedang berada di sana, aku dan Tante Helen tak bisa melakukannya.Ditambah lagi, akhir pekan ini dia berniat mengajak Leo pergi mengunjungi saudara. Jadi, aku tak punya kesempatan untuk berduaan dengannya. Rasany

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 7

    Tante Helen tampak sangat bergairah, dia mulai mengikuti irama gerakanku.“Aahh!” Aku meloloskan desahan tertahan.“Tyson, kecilkan suaramu! Seorang pria suaranya begitu besar, geli tahu!” teriak Leo dari luar.“Aku lagi memuaskan ibumu, rasanya nikmat sekali! Kalau nggak mau dengar, mending pergi saja!”Sahutku sembarangan. Melakukan interaksi intim dengan Tante Helen tepat di depan putranya memberikan sensasi menantang yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.Wajah Tante Helen merona malu. Bermesraan bersama teman asrama putranya, itu membuatnya merasa sangat memalukan.“Tyson, bagaimana kalau begini saja… ibu kita sama-sama kurang belaian laki-laki, kapan-kapan kita cari kesempatan untuk mengobrol dengan mereka, lalu kita tukaran!” ujar Leo melontarkan idenya dari luar.Tadi aku hanya mengira dia sedang bercanda, tak kusangka dia malah membahasnya lagi.“Apa yang kamu bicarakan, sih?” tanyaku sambil terengah-engah.“Aku nggak bercanda, ini seriusan. Kamu juga pernah melihat ibuku,

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 6

    Belakangan ini, hubungan kami berdua memang berkembang pesat, bisa dibilang tinggal selangkah lagi.Aku mengangguk, lalu dengan tidak sabar memasukkan tanganku ke dalam baju yoganya.Tante Helen menatapku dengan pandangan menggoda, lalu bibir merahnya perlahan mendekat.Kami pun berciuman dengan mesra dan penuh gairah, saling mengecap aroma satu sama lain.Aku tak lagi merasa puas hanya dengan meremas kedua gundukan besarnya, tanganku perlahan mulai meraba ke arah bawah….“Jangan, sayang. Aku masih belum siap!” Tante Helen langsung menahan tanganku.“Tapi aku tersiksa sekali sekarang!”Sambil berkata begitu, aku menuntun tangan kecilnya untuk menggenggam benda milikku.Wajah cantik Tante Helen langsung merona, matanya memancarkan gairah yang tertahan.Namun, setiap kali aku berniat untuk memuaskannya, dia selalu menolak.“Bagaimana kalau aku hanya main-main saja di luar, nggak akan melewati batas, ya?”Tante Helen tampaknya sudah mulai terbawa suasana, dia pun mengangguk menyetujuinya.

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 5

    “Aku lagi chat dengan mamamu!”Aku tersentak kaget dan reflek mendorongnya menjauh, sambil menyembunyikan ponselku.Jika sampai tahu aku sedang bermesraan dengan ibunya, dia pasti akan langsung berkelahi denganku.“Kok panik sekali? Jangan-jangan benaran sudah punya pacar?!” Leo memutar bola matanya ke arahku sambil bergumam agak kesal, “Ya sudah kalau nggak boleh lihat, kok harus mendorongku?”Reaksiku tadi memang agak berlebihan. Aku pun tertawa canggung dan beralasan baru saja kenal dengan gadis itu, berjanji akan memberitahunya kalau hubungan kami sudah pasti.Leo mencibir, lalu kembali berbaring di ranjangnya untuk bermain game.[Bahaya sekali tadi, Leo hampir saja memergoki kita berdua.]Aku mengirimkan pesan itu pada Tante Helen.[Apa? Jangan sampai dia tahu! Kalau sampai ketahuan, aku nggak punya muka lagi untuk hidup!] Balasan Tante Helen langsung masuk detik itu juga.[Tenang saja, aku bakal hati-hati, sayang. Lihatlah, karena memikirkanmu, punyaku jadi menegang kekar begini

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 2

    Pertanyaan itu membuatku tersipu malu, aku tak tahu harus menjawab apa.“Lihat tatapan matamu itu, kelihatan sekali kalau belum pernah pacaran dan nggak tahu apa-apa!” Tante Helen tersenyum manis.Aku jadi semakin salah tingkah, untung saja dia bisa menyelesaikan cukurannya dengan cepat.Aku membaya

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 4

    Seketika itu juga, kepalaku terasa berdengung, memberikan sensasi rangsangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Jujur saja, meskipun aku seorang mahasiswa semester enam dan sudah pernah pacaran dua kali, hubungan kami paling-paling hanya sebatas bergandengan tangan dan berciuman.Ini pertama ka

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 1

    Namaku Tyson, seorang mahasiswa semester enam.Hari ini, aku salah urat di bagian sendi paha saat bermain basket, jadi berjalan pulang dengan kaki pincang.Saat melewati sebuah salon bernama ‘Salon Helen’, aku melihat bos cantik di dalam sedang membungkuk menyapu lantai.Kerah bajunya melorot ke baw

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status