共有

Bab 2

作者: Ungu
Pertanyaan itu membuatku tersipu malu, aku tak tahu harus menjawab apa.

“Lihat tatapan matamu itu, kelihatan sekali kalau belum pernah pacaran dan nggak tahu apa-apa!” Tante Helen tersenyum manis.

Aku jadi semakin salah tingkah, untung saja dia bisa menyelesaikan cukurannya dengan cepat.

Aku membayarnya, tapi dia menolak.

Kami sempat saling sungkan sejenak, tapi melihat sikapnya yang bersikeras, akhirnya aku mengucapkan terima kasih dan bersiap pergi sambil berjalan pincang.

“Tyson, kakimu terkilir?” tanyanya padaku.

Aku mengangguk, lalu bilang kalau sendi pahaku terkilir saat bermain basket.

Tante Helen mengomeliku ceroboh, lalu menyuruhku ikut masuk ke dalam bersamanya.

Di bagian dalam salon, ada sebuah sekat ruangan kecil. Ada ranjang kecil dengan sprei yang sangat bersih di dalamnya.

Dia bilang itu tempatnya tidur siang biasanya, lalu menyuruhku berbaring di sana.

Aku sempat ragu-ragu, tak tahu apa maksudnya melakukan ini.

“Dasar kamu, dulu tante pernah buka tempat pijat. Tante bisa bantu melancarkan aliran darahmu biar nggak memar!” Dia melirikku sekilas.

Mendengar penjelasannya, barulah aku berbaring. Dalam hati aku memujinya benar-benar wanita yang berpikiran terbuka.

Dia duduk di tepi ranjang, bokongnya yang bulat dan montok bersandar di pinggangku, rasanya sangat hangat.

Kaki jenjangnya yang sangat putih disilangkan, membuat celana dalam di balik roknya tampak samar-samar terlihat, membuatku tak bisa menahan diri untuk terus mengintip.

Dia menarik lengan bawahku, lalu meletakkannya di atas pahanya.

Sentuhan kulitnya yang halus dan mulus membuat napasku menjadi lebih berat.

Tangannya dengan lembut memijat pundakku. Tangannya putih dan halus, jari-jarinya ramping, ditambah lagi hidungku bisa mencium aroma tubuh khas wanita yang samar-samar terpancar darinya, langsung membuat pikiranku melayang ke mana-mana.

Dia bilang setelah berolahraga, otot dan sendi memang harus dilemaskan, jika tidak akan mudah terasa linu.

Mendapat rangsangan seperti ini darinya membuatku agak tak bisa menahan diri. Lengan bawahku sengaja bergerak mengikuti ritme pijatannya, menggesek pelan paha putihnya yang mulus.

Helen tampaknya tidak menyadari hal itu, dia malah terlihat sangat fokus.

Setelah memijat beberapa saat, dia bilang akan menambah kekuatannya sedikit, menyuruhku untuk menahannya.

Tante Helen mulai mengerahkan tenaga, membuat tubuh bagian atasnya ikut bergoyang.

Kedua gundukan bulatnya pun ikut berguncang, seperti gelombang ombak.

Aku merasakan gejolak hasrat mulai memuncak di perut bagian bawah, jadi terpaksa mencari topik pembicaraan tentang keluarganya untuk mengalihkan perhatian.

Ternyata hubungannya dan suami sudah tidak harmonis lagi, sekarang bahkan sudah tidak tinggal serumah.

Tante Helen mendesah pasrah, bercerita betapa beratnya hidup sebagai seorang wanita.

“Apalagi kalau malam tiba, rasa hampa dan kesepian itu benar-benar menyiksa!” Dia menatapku dengan pandangan yang dalam.

Tatapannya itu membuat hatiku berdebar tak karuan. Ucapan Tante Helen hari ini punya maksud terselubung!

“Tyson, kamu sedang melihat ke mana?” tanyanya tiba-tiba sambil tersenyum penuh arti.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 10

    Meski sadar bahwa sebenarnya diriku dan Leo sama saja dan alasannya bersama ibuku sebagian besar adalah untuk balas dendam padaku.Namun, mendengar ucapannya tetap saja membuat amarahku semakin menyala-nyala. Aku langsung menerjangnya dan kembali menghajarnya habis-habisan.Dia pun bukan lawan yang lemah. Kami berdua berguling-guling di lantai, tak ada yang mau mengalah.Ibuku yang berada di dalam mobil menjerit ketakutan. Dia bergegas memakai pakaiannya, lalu berlari turun untuk melerai kami, “Sudah! Jangan kelahi lagi!”Dia menarik lenganku, air matanya menetes, “Tyson, dengarkan ibu… ini semua salahku, ibu yang bersalah padamu….”Aku menghempaskan tangannya, lalu melototinya dengan mata berkaca-kaca, “Baru sekarang kamu tahu salah?!”Leo merangkak bangun dari lantai dengan sudut bibir yang berdarah. Dia juga melototiku dan berkata, “Kita berdua nggak ada yang berhutang satu sama lain. Kamu bermain dengan ibuku, aku bermain dengan ibumu. Jadi, nggak perlu menyalahkan siapapun!”Saat

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 9

    Aku bergegas memakai helm dan membuntutinya. Untungnya arus lalu lintas malam itu masih terhitung ramai, jadi aku masih bisa terus mengikuti mereka. Setelah berkendara sekitar dua sampai tiga kilometer, mobil sedan itu berbelok masuk ke sebuah gang.Daerah di sekitar sana adalah kawasan yang akan digusur, suasananya gelap gulita.Aku memarkir motor listrikku di dekat sebuah rumah warga yang sudah terlantar, lalu melanjutkan dengan berjalan kaki.Dari kejauhan, aku sudah bisa melihat mobil sedan itu terparkir di tengah padang rumput liar. Aku pun segera bersembunyi di balik beberapa pipa beton besar yang terletak tidak jauh dari mobil tersebut.Di kursi belakang, ibu sudah duduk saling berhadapan dengan seorang pria.Ibu memeluk kepala pria itu dan kancing kemejanya pun sudah terbuka.Si pria tampak sedang mengerahkan tenaganya di depan dada ibuku sambil terengah-engah.Ibu mendongakkan kepalanya, menunjukkan ekspresi yang begitu menikmati.Karena wajah pria itu membelakangiku, aku bel

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 8

    Kami terus bermesraan selama hampir empat puluh menit sampai akhirnya benar-benar selesai.“Nggak kusangka kamu sehebat ini, aku benar-benar puas hari ini!” ucapnya dengan tubuh dipenuhi keringat yang harum sambil bersandar di pelukanku.“Kalau nanti tante mau lagi, langsung kirim pesan saja ke aku kapan pun,” ujarku sambil tersenyum dan mengecupnya sekali.Setelah merapikan diri dan memakai baju, Tante Helen baru melangkah pergi.Menjelang siang, Leo dan teman-teman asrama lainnya pun kembali. Leo bahkan sempat bercanda denganku, katanya kamar asrama kami penuh dengan aroma protein.Aku menjawabnya dalam hati, ‘ibumu baru saja kuhabisi di sini, mana mungkin nggak ada aroma?’Saat hari jumat pulang kampus, aku langsung bergegas pergi ke salon Tante Helen. Tapi, karena Leo juga sedang berada di sana, aku dan Tante Helen tak bisa melakukannya.Ditambah lagi, akhir pekan ini dia berniat mengajak Leo pergi mengunjungi saudara. Jadi, aku tak punya kesempatan untuk berduaan dengannya. Rasany

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 7

    Tante Helen tampak sangat bergairah, dia mulai mengikuti irama gerakanku.“Aahh!” Aku meloloskan desahan tertahan.“Tyson, kecilkan suaramu! Seorang pria suaranya begitu besar, geli tahu!” teriak Leo dari luar.“Aku lagi memuaskan ibumu, rasanya nikmat sekali! Kalau nggak mau dengar, mending pergi saja!”Sahutku sembarangan. Melakukan interaksi intim dengan Tante Helen tepat di depan putranya memberikan sensasi menantang yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.Wajah Tante Helen merona malu. Bermesraan bersama teman asrama putranya, itu membuatnya merasa sangat memalukan.“Tyson, bagaimana kalau begini saja… ibu kita sama-sama kurang belaian laki-laki, kapan-kapan kita cari kesempatan untuk mengobrol dengan mereka, lalu kita tukaran!” ujar Leo melontarkan idenya dari luar.Tadi aku hanya mengira dia sedang bercanda, tak kusangka dia malah membahasnya lagi.“Apa yang kamu bicarakan, sih?” tanyaku sambil terengah-engah.“Aku nggak bercanda, ini seriusan. Kamu juga pernah melihat ibuku,

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 6

    Belakangan ini, hubungan kami berdua memang berkembang pesat, bisa dibilang tinggal selangkah lagi.Aku mengangguk, lalu dengan tidak sabar memasukkan tanganku ke dalam baju yoganya.Tante Helen menatapku dengan pandangan menggoda, lalu bibir merahnya perlahan mendekat.Kami pun berciuman dengan mesra dan penuh gairah, saling mengecap aroma satu sama lain.Aku tak lagi merasa puas hanya dengan meremas kedua gundukan besarnya, tanganku perlahan mulai meraba ke arah bawah….“Jangan, sayang. Aku masih belum siap!” Tante Helen langsung menahan tanganku.“Tapi aku tersiksa sekali sekarang!”Sambil berkata begitu, aku menuntun tangan kecilnya untuk menggenggam benda milikku.Wajah cantik Tante Helen langsung merona, matanya memancarkan gairah yang tertahan.Namun, setiap kali aku berniat untuk memuaskannya, dia selalu menolak.“Bagaimana kalau aku hanya main-main saja di luar, nggak akan melewati batas, ya?”Tante Helen tampaknya sudah mulai terbawa suasana, dia pun mengangguk menyetujuinya.

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 5

    “Aku lagi chat dengan mamamu!”Aku tersentak kaget dan reflek mendorongnya menjauh, sambil menyembunyikan ponselku.Jika sampai tahu aku sedang bermesraan dengan ibunya, dia pasti akan langsung berkelahi denganku.“Kok panik sekali? Jangan-jangan benaran sudah punya pacar?!” Leo memutar bola matanya ke arahku sambil bergumam agak kesal, “Ya sudah kalau nggak boleh lihat, kok harus mendorongku?”Reaksiku tadi memang agak berlebihan. Aku pun tertawa canggung dan beralasan baru saja kenal dengan gadis itu, berjanji akan memberitahunya kalau hubungan kami sudah pasti.Leo mencibir, lalu kembali berbaring di ranjangnya untuk bermain game.[Bahaya sekali tadi, Leo hampir saja memergoki kita berdua.]Aku mengirimkan pesan itu pada Tante Helen.[Apa? Jangan sampai dia tahu! Kalau sampai ketahuan, aku nggak punya muka lagi untuk hidup!] Balasan Tante Helen langsung masuk detik itu juga.[Tenang saja, aku bakal hati-hati, sayang. Lihatlah, karena memikirkanmu, punyaku jadi menegang kekar begini

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 3

    Pertanyaannya membuat wajahku memerah. Aku tak menyangka Tante Helen akan berbicara seberani itu.“Aku… aku nggak lihat apa-apa.”“Bohong, tatapan matamu saja sudah seperti mau terbakar. Emangnya punya tante sebagus itu, ya?”Dia sengaja membusungkan dadanya, membuat kelembutan di bagian depannya ag

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 1

    Namaku Tyson, seorang mahasiswa semester enam.Hari ini, aku salah urat di bagian sendi paha saat bermain basket, jadi berjalan pulang dengan kaki pincang.Saat melewati sebuah salon bernama ‘Salon Helen’, aku melihat bos cantik di dalam sedang membungkuk menyapu lantai.Kerah bajunya melorot ke baw

  • Bermula Dari Salon Ibu Sahabatku   Bab 4

    Seketika itu juga, kepalaku terasa berdengung, memberikan sensasi rangsangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Jujur saja, meskipun aku seorang mahasiswa semester enam dan sudah pernah pacaran dua kali, hubungan kami paling-paling hanya sebatas bergandengan tangan dan berciuman.Ini pertama ka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status