MasukSementara di Arkana, Lim tidak bisa menunda lagi. Sore itu juga ia memutuskan untuk mengadakan rapat dadakan penting. Ruang rapat utama PT Arkana Food dipenuhi suasana serius sore itu.Jajaran komisaris, direksi, dan beberapa pemegang saham telah menempati kursi masing-masing. Di ujung meja, Lim duduk sebagai Komisaris Utama, sementara Kenan berada di sisi kanan meja dengan wajah tenang.Agenda rapat hari itu hanya satu. Penetapan susunan Direksi baru.Lim membuka map di hadapannya."Baik. Kita masuk ke tujuan utama, yaitu pengangkatan Direktur Utama PT Arkana Food."Beberapa pasang mata langsung tertuju kepada Kenan.Lim melanjutkan. "Nama yang diajukan untuk posisi tersebut adalah Kenan."Ruangan mendadak hening.Seorang komisaris senior mengangkat tangan. "Maaf, Tuan Lim. Saya tidak mempersoalkan kemampuan Kenan. Namun, usianya masih terlalu muda untuk memimpin perusahaan sebesar Arkana Food."Kenan tetap diam.Pria itu melanjutkan, "Direktur Utama bukan sekadar jabatan. Ada ratus
Kenan memacu mobilnya sedikit kencang siang itu. Namun, seketika rasa kesal meraja kala barisan mobil nampak di hadapannya. Pria itu terus menerus membunyikan klakson walaupun tahu cara itu tidak dapat mengurai kemacetan. "Sial!" cicitnya. Sesekali ia melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam satu. Kenan telat satu jam. Buk! Pria itu memukul setir. Kenan mengambil ponsel yang ia simpan di dashboard. Tidak ada pesan dari Rania? Apa Rania marah? Akhirnya ia mengirim pesan. "Sayang, aku masih di jalan."Pesan itu dikirim. Kenan menatap layar ponselnya berharap ada balasan dari Rania. Nihil, layar itu malah menghitam, mati. Ia yakin jika istrinya pasti marah. Tidak berhenti sama di situ, Kenan mengambil gambar kondisi jalan raya di depannya. Kirim. Pria itu mengembuskan napas kasar. Berharap Rania mengerti. ***Tepat jam dua, Kenan memarkirkan mobilnya di restoran. Pria itu bergegas turun setelah mesin mobil baru saja mati. Ia berlari. "Rania di mana?
Dua bulan berlalu. Pagi-pagi sekali Rania sudah berkutat di dapur. Pagi itu ia memasak masakan spesial untuk Kenan. Mulai dari capcay seafood, iga bakar, dan sayur bayam bening. Setelah semua terhidang di meja makan, Rania segera mandi. Dua puluh menit berlalu. Rania sudah tampil lebih segar dengan handuk kimono yang membalut tubuhnya. Melihat Kenan yang masih mengulat di balik selimut, Rania segera menghampiri. Entah, Rania sendiri merasa bingung, pria itu selalu bermalas-malasan untuk bangun setelah kebutuhan biologisnya terpenuhi. "Ken, bangun!" Rania menepuk-nepuk pipi suaminya. "Hem!" Pria itu hanya menggumam saja sambil membenarkan posisi tidurnya. Beberapa menit Rania terdiam sambil memperhatikan Kenan. Tak kunjung bangun, akhirnya Rania mengeluarkan jurus saktinya. "Kalau begitu aku mau jalan sama Danu. Bye!"Rania bangkit dari duduknya. Namun, seketika Kenan menarik tangannya. "Aaa ... Ken?!"Kenan membawa Rania ke dalam pelukannya. "Bilang apa barusan?!" tanya Kenan
Sesampainya di penthouse, Rania tidak langsung beristirahat. Begitu barang-barang yang dibeli tadi sampai, perempuan itu justru membawa semuanya ke balkon. Beberapa barang seperti meja kecil dan kursi lantai sedang dalam perjalanan. Wanita itu sibuk sendiri tanpa meminta bantuan Kenan.Karpet rumput sintetis dibentangkan memenuhi sebagian lantai, menyisakan ruang di dekat pagar agar pemandangan kota tetap terlihat jelas. Warna hijaunya membuat balkon yang semula didominasi lantai dingin dan dinding berwarna netral terasa jauh lebih hidup. Kursi gantung kemudian ditempatkan di beberapa sudut. Sebuah bantal lembut diletakkan di dalamnya, lengkap dengan selimut tipis yang sengaja ia ambil dari ruang keluarga. Setelah selesai, ia mulai menata pot bunga. Dua pot mawar diletakkan berdekatan. Pot lavender diletakkan lebih jauh diikuti beberapa tanaman berbunga kecil yang memberikan semburat warna di antara dedaunan hijau. Rania bahkan menambahkan beberapa pot kecil di sepanjang sudut ba
Setelah berkutat dengan restoran, akhirnya Rania benar-benar bisa menikmati waktu santai bersama Kenan. Hari itu hari minggu. Rania bersama Kenan mengawali hari dengan jalan pagi bersama di kawasan Gelora Bung Karno. Rania berjalan di samping Kenan dengan langkah santai. Rania mengenakan kaus putih polos berbahan lembut yang dimasukkan sebagian ke dalam celana jogger berwarna hitam. Rambut panjangnya diikat rendah dan sneakers warna putih menjadi pelengkap penampilannya. Tidak ada riasan berlebihan. Wajah segar dan penampilan sederhana membuatnya terlihat jauh lebih muda dari biasanya. Sementara Kenan, ia mengenakan kaus hitam polos dengan celana jogger berwana putih dimana sneakers hitam membungkus kakinya. Rambutnya ditata sederhana bahkan dibuat sedikit berantakan, dengan sebuah jam tangan sebagai pelengkap penampilannya. Rania menarik napas panjang. Udara pagi bercampur aroma pepohonan menguar menusuk hidung. "Nyaman juga," katanya pelan. "Sering jalan pagi di sini?"Rania
Hari berganti. Rania merasa lega karena ternyata Kenan menolak Putri sebagai calon sekretarisnya. Kenan berdalih jika dirinya sudah ada kandidat, yakni Rania. Walaupun Rania belum memberikan jawaban pasti untuk jadi sekretaris. Pagi itu, Rania dan Kenan sudah tiba direstoran. Hari itu adalah hari dimana Rania akan memulai merombak sistem restorannya. Rania duduk di sisi meja dengan beberapa berkas terbuka di hadapannya. Wajahnya tampak serius. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya melihat restoran sebagai tempat yang selama ini ia bangun dan rawat, tetapi sebagai sebuah sistem yang ternyata memiliki begitu banyak celah.Di seberangnya, Kenan membaca laporan pembelian lama dengan teliti. Luky berada di samping laptop, membuka data persediaan yang tersimpan dalam sistem.Hari itu mereka sepakat tidak mengambil keputusan apa pun sebelum melakukan pemeriksaan menyeluruh.Mereka memulainya dari internal audit.Selama berjam-jam, seluruh dokumen pembelian diperiksa. Invoice dibandingkan







