ログインDalawang taon matapos ang kaniyang perpektong kasal, akala ni Chloe Valdez ay natagpuan na niya ang lalaking mamahalin niya habambuhay. Pero isang papel ang tuluyang gumiba sa lahat ng iyon. The marriage certificate she once cherished… was fake. Gulat at sakit ang naramdaman ni Chloe, lalo na nang malamang ang lalaking minahal niya ng anim na taon, si James Alcantara, ay matagal na palang may ibang asawa. Ang mas masakit pa, ang asawa nito ay ang kanilang guro na anim na taon ang tanda sa kanya. What’s worse? The child she thought they’d lost? It wasn’t Chloe’s to begin with. Hindi lang pala siya naging panakip-butas, kundi napagbintangan pa siyang baog at inangkin pa ang anak ng tunay na mag-asawa. “Wala akong asawa. Wala akong anak. At ako ang magmamana ng lahat,” malamig na wika ni Chloe habang pinuputol ang huling tali sa pusong minsang ibinigay niya nang buo. Everyone thought she’d run away. But Chloe stayed. Quietly, strategically, with revenge wrapped in her grace. Akala ni James, babalik si Chloe. Akala niya, mapipilit pa niyang ayusin ang nasirang kasal. Hanggang isang araw, nakita niya si Chloe sa balita. Ngunit hindi na siya ang babaeng iniwan at sinaktan niya noon. Siya na ngayon ang babaeng pinagkakaguluhan ng buong bansa. Mayaman, makapangyarihan, at nakatayo sa tabi ng isang lalaking nasa tuktok ng kapangyarihan.
もっと見る“Aku hamil.” Dua kata yang terucap dari bibir tipis milik Verana Axelia membuat Josh pacarnya menganga kaget dan bola matanya memancarkan ketakutan.
“Kita kan pakai pengaman, Ra,” elak Josh. Lelaki tampan yang bertelanjang dada dan mengenakan celana boxer itu menghela napas kesal.
Hasrat yang belum tersalurkan malam ini membuatnya kesal menahan amarah dan gejolak tubuh. Dia memandang Verana—pacarnya yang duduk di tepi kasur dengan dress selutut warna hitam. Gadis itu tidak menangis namun tatapan matanya kosong ke depan. Test pack yang semula ada di genggamannya sudah tergeletak di atas lantai lantaran Josh tidak percaya.
Josh dan Verana sama-sama mahasiswa semester enam di Universitas Indonesia. Josh mengambil jurusan Hukum dan Verana mengambil jurusan Manajemen Akuntansi. Meski berbeda jurusa, tetapi kedua sejoli ini satu perasaan. Hanya saja ketika gadis itu mengaku bahwa dia hamil membuat Josh sedikit kesal.
“Ini malam kita, Ra.” Josh mendekati gadis yang duduk di bibir kasur itu. Memeluknya dari belakang dan menciumi rambut hitam pacarnya.
“Aku enggak bisa, Jo. Pantesan aja bulanan aku gak datang,” ucap Verana. Dia takut.
“Terus, maunya apa biar mood kamu bagus, hmm?” Kini posisi mereka telah berubah, Josh memangku kekasihnya dengan mesra. Melancarkan rayuan manis agar gadis itu mau melayaninya seperti suami-istri, meskipum status keduanya belum jelas dan masih tahap pacaran.
Josh dan Verana bertemu di perpustakaan, saat di mana Josh membantu Verana mengambil buku di rak paling atas. Tubuh Verana memang mungil, tetapi menggemaskan untuk Josh waktu itu. Kenalan lebih dekat, tukar nomor ponsel, jalan-jalan dan jadian. Pacaran versi mereka juga berbeda, tidur bersama di hotel yang disewa Josh setiap malam dan setiap ada waktu.
“Kita harus nikah,” ucap Verana, keputusannya sudah bulat. Dia tidak mau menanggung malu karena ceroboh dalam pacaran.
“Nikah?” beo Josh. Hal itu membuat Verana semakin kesal. “Iyalah nikah, kamu harus tanggung jawab!”
“Kita belum lulus, Sayang.”
“Terus aku gimana? Ini anak kita berdua.”
Josh terdiam, dia menurunkan Verana dari pangkuannya. Meneguk habis segelas air putih yang ada di samping ranjang. Jakunnya naik turun dan sangat seksi, itu dulu alasan Verana cinta mati pada lelaki tampan dan gagah itu.
“Mau ke mana?” Melihat Josh yang membuka pintu membuat Verana takut. Takut ditinggal dan takut Josh tidak tanggung jawab.
Namun Josh tidak menyahut, punggungnya dengan tatto burung elang menghilang di balik pintu.
“Nasib buruk!” umpat Verana kesal lalu menjambak rambutnya.
Gadis itu gelisah, ke mana pacarnya itu? Menghilang?
.
Sejak kejadian malam di mana Josh menghilang dan meninggalkan Verana sendirian di kamar hotel yang telah disewa, kini Verana harus pergi ke kampus sendirian. Hal itu membuat Jafin heran, karena biasanya kedua sejoli itu selalu bersama ke mana pun pergi, kecuali belajar di ruangan kelas.
“Josh mana, Ra?” tanya Jafin setelah mereka berdua bertukar sapa selamat pagi.“Itu dia, aku tadi mau nanya sama kamu, tapi malah tanya balik,” gerutu Verana. Dia memakai kemeja putih dan rok berwarna coklat sebatas mata kaki. Hari ini dia mengikat rambutnya seperti ekor kuda yang memperlihatkan lehernya yang jenjang. Kalau saja Jafin tidak punya pacar yang harus dijaga hatinya pasti Jafin akan menerkam gadis itu.
“Loh, kalian marahan? Tumben banget, sih.” Jafin heran, tidak biasanya Josh dan Verana seperti ini setelah mereka pacaran setahun yang lalu.
“Mm, Tiana mana?” Verana menanyakan keberadaan pacar Jafin. Mungkin dia bisa bercerita dengan gadis anggun itu.
“Dia gak masuk, Ra. Lagi demam,” jawab Jafin. Kemudian matanya menangkap siluet tubuh tegap yang berdiri beberapa meter di belakang Verana.
“Ayo ikut aku,” ucap Josh tegas dan menarik tangan Verana kuat. Jafin yang baru saja membuka mulutnya ingin menyapa sahabatnya itu harus menggerutu kesal melihat tingkah Josh.
“Kita mau ke mana aja, Jo?”
“Jangan kenceng banget, sakit.”
Josh tidak menghiraukan umpatan dan ringisan Verana. Lelaki tampan itu tetap membawa gadis itu ke parkiran. Setelah menemukan mobilnya, dengan cepat memasukkan Verana ke jok depan. Masih belum membuka suara, Josh mengendarai mobilnya dengan cepat.
“Maksud kamu apa?” tanya Verana yang masih meringis kesakitan. Josh benar-benar beda di matanya. Cekalan Josh membuat pergelangan tangannya terasa ngilu dan berdenyut.
Setelah ngebut, mereka berdua sampai di apartemen yang disewa ayahnya untuk Josh, lelaki itu membawa Verana menuju kamarnya.
“Kenapa, Jo?” Keduanya telah sampai di kamar Josh. Ini bukan pertama kalinya gadis itu ke sini. Kamar dengan nuansa hitam menyapa pemandangan dengan berbagai lukisan di dinding. Tapi ini merupakan pertama kalinya Josh marah tiba-tiba tanpa alasan.
“Kamu cinta kan sama aku?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Josh. Verana yang duduk di kasur mengangguk cepat. Kalau dia tidak mencintainya, untuk apa berpacaran?
“Kenapa?” Lipatan di dahi Verana bertambah, heran melihat sikap Josh yang berdiri di hadapannya.
“Kamu gugurin, ya?” pinta Josh yang membuat Verana mendelik tajam tidak setuju.
“Maksud kamu apa? Gugurin kandungan aku ini?” Josh mengangguk pasrah. Dia tidak mungkin menikah, sementara skripsi belum selesai dan harus dibebani pikiran rumah tangga dan lainnya. Dia pusing.
“Enak aja! Tanggung jawab, Jo!” teriak Verana kesal. Meskipun dia bejat, tidak akan mungkin menggugurkan bayi yang tidak bersalah itu. Walaupun akan menerima risiko besar, seperti dibenci keluarga dan mungkin akan dijauhi teman-temannya.
“Aku gak bisa, Ra.”
“Enggak bisa gimana? Ini anak kita loh, hasil perbuatan kita berdua!” tegas gadis itu penuh penekanan. Wajah gadis itu tegang dan masam.
“Tapi, aku belum kerja,” ucap Josh kemudian mengusap wajahnya kasar. Satu sisi dia tidak mau melepaskan pendidikan yang sudah diimpikannya sejak dulu. Kalau ketahuan oleh kedua orang tuanya bahwa dia menghamili anak gadis orang, pasti seluruh fasilitas akan dicabut. Meskipun terlahir sebagai anak tunggal, ayahnya tegas dalam mendidik, walau ibunya yang terkadang memanjakannya.
“Kita bisa cari kerja sama-sama,” ucap Verana meyakinkan. Dia sendiri pusing, rasanya ingin menghukum diri sendiri. Takut kalau kedua orang tuanya kecewa. Takut kalau orang tua Josh tidak menyetujui. Takut pendidikannya hilang. Takut dengan cemoohan orang.
Halos dalawampu’t apat na oras nang pinipigilan ni Chloe ang kanyang sarili.Pagsapit ng alas-diyes ng gabi, hindi pa rin umuuwi si Julian.Sa wakas, hindi na niya napigilan ang sarili at tinawagan si Julian.Matagal na tumunog ang kabilang linya, ngunit walang sumagot.Kalmadong tao si Chloe, ngunit sa sandaling ito ay hindi niya napigilang ihagis ang kanyang cellphone.Ngunit matapos kumalma nang kaunti, muli s’yang tumawag pero sa numero na ni Mark.Busy.Mahigpit na hinawakan ni Chloe ang kanyang telepono.Pagkatapos, walang pag-aalinlangan siyang tumayo, mabilis na nagpalit ng damit, kinuha ang susi ng kanyang sasakyan, at lumabas ng bahay.Samantala, sa kabilang panig, kagigising lamang ni Julian.Hindi niya alam kung dahil ba sa mga sinabi ng doktor na masyadong tumimo sa kanya, ngunit tila talagang nakaapekto sa kanyang paggaling ang kanyang emosyon.Kahit nakainom na siya ng gamot, nilagnat pa rin siya noong hapon.Buong araw siyang natulog, ngunit pagmulat niya ay pagod na p
Gabi na rin nang makaais si Vanessa.Sinadya nitong ipagpaliban ang pagpunta sa China. Isang araw siyang nahuli kumpara kay Gabriel, at madaling-araw pa kinabukasan ang flight niya.Sa totoo lang, dapat ay bumalik na siya sa hotel upang magpahinga.Ngunit sa halip, hinanap ni Vanessa si Rachel at tuluyang nagpakalasing sa isang bar.Naawa si Rachel sa kanyang matalik na kaibigan at paulit-ulit itong sinubukang aliwin, ngunit alam niyang wala ring silbi ang kanyang mga salita.Gaya nga ng inaasahan.Ang mga babaeng isinusugal ang buong buhay sa pag-ibig ay kadalasang hindi nananalo.Napakasama ni James!Lasing na lasing na sa Vanessa ngunit patuloy pa din ang pag-iinom niya..Sa huli, nagmamadali siyang pumunta sa banyo at matagal na hindi bumalik.Medyo nag-alala si Rachel at gusto sana itong puntahan.Ngunit biglang tumunog ang cellphone ni Vanessa.Nang makita ni Rachel na hindi pamilyar ana caller ID, walang gaanong pag-iisip na sinagot niya ang tawag.“Where are you now?”“Hello.
Nagpatingin na pala si Julian sa isang psychiatrist noon. Ngunit kagabi lamang nalaman iyon nina Lola Celestina at Lolo Leandro nang makauwi sila.Ang alam lamang nila ay nakaranas si Julian ng trauma noong bata pa siya. Dahil dito, naging masungit at mailap siya, at hindi rin siya sanay magpakita ng kanyang damdamin.Tanging sina Don Armando at Liza lamang ang nakakaalam na minsan ay nagkaroon ng alitan si Julian sa isang tao at sandaling nawalan ng kontrol.Kalaunan, na-diagnose siyang may post-traumatic stress disorder, na maaaring magdulot ng biglaang galit at marahas na pagkilos nang hindi niya namamalayan.Dahil sa insidenteng iyon, kinansela ni Julian ang kanyang engagement.Noong panahong iyon, nasa ibang bansa pa sina Lola Celestina at Lolo Leandro. Upang mapanatili ang dangal ng pamilya, itinago ni Don Armando ang nangyari at kumonsulta sa isang doktor.Bagaman maaaring mawalan ng kontrol si Julian, malamang lamang itong mangyari kapag nasa sukdulan na ang kanyang emosyon.H
Samantala, hindi rin makapag-concentrate si Julian sa trabaho.Gaya ng dati, dumating ang doktor upang pakinggan ang tibok ng puso ng lalaki. Napansin nitong bahagyang mabagal ang tibok ng kanyang puso at nakakunot ang kanyang noo.Labis na kinabahan si Mark.“Doc, nitong mga nakaraang araw ay maayos naman ang pakiramdam ni Sir Julian. Ibig bang sabihin ay tuloy tuloy na ang kanyang recovery?”“Iniinom ba niya sa tamang oras ang kanyang gamot?”“Opo, Doc. Palagi siyang umiinom sa tamang oras. Palagi s’yang chinecheck ng kanyang asawa tungkol dito.”Sadyang binanggit ni Mark si Chloe.Ngunit walang nagbago sa ekspresyon ng mukha ni Julian.Maingat na pinagmasdan ng doktor ang mukha ni Julian at naisip na baka hindi ito nakapagpahinga nang maayos.Sa mga gaitong lagay, pinakamahalaga ang sapat na pahinga.Napakaganda na ng mga gamot na ginagamit niya, ngunit mahalaga rin ang pagkakaroon ng magaan at stress-free na environment para sa mabilis na paggaling.“Doc,” mahina at simpleng sagot
Binuhat siya ni Julian mula sa kabinet. Marahan niyang hinaplos ang kanyang mukha—banayad ang kilos, ngunit nananatiling malamig ang tingin, hindi pa rin humuhupa ang damdamin sa kanyang mga mata.&l
Kinusot ni Aurelia ang kanyang sentido at marahang nagmura ng pabulong.Maya-maya, nagmamadaling bumalik ang katulong ngunit wala itong dalang mushroom soup na ipinahanda niya.
Nanatiling kalmado si Lola Corazon sa gitna ng mabigat na katahimikan. Nakaupo siya sa kanyang upuan na tila isang matandang punong malalim ang ugat—matatag, ngunit puno ng mga lihim na bitak na tanging siya lamang ang nakakaalam. Tahimik niyang tinitigan si
Siya ang lalaking lantaran na binanggit ang nakaraan nila ni James sa hapunan ng pamilya Valdez kahapon!Mukhang hindi hiwalay ang nangyari ngayon kina Eleonor at Marcus.












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
評価
レビューもっと