Share

Pantai

Author: NaoMiura
last update publish date: 2026-08-19 20:00:52

Naomi kembali menonton. Kali ini ia duduk sedikit lebih tegak agar tidak mengantuk. Dia menikmati sisa film yang diputar.

Ketika film selesai, lampu studio menyala perlahan. Naomi berdiri sambil meregangkan tubuh.

"Bagus."

Mareeq mengambil tas Naomi yang tadi diletakkan di samping kursi. "Filmnya atau tidurnya?"

"Tidurnya. Baru kali ini aku tertidur saat menonton film." ujar Naomi dengan tawa ringan.

Mareeq tertawa. Mereka berjalan keluar dari studio. Di lor

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Sentuhan Lembut

    Mareeq melanjutkan dengan suara lembut. "Aku nggak bilang Nunu harus menjadi alasan kamu memilihku."Naomi mengangkat wajah. berusaha mencerna pa yang sedang berusaha Mareeq sampaaikan."Aku cuma mau bilang kalau Nunu hadir di antara kita, aku punya kesempatan untuk memperjelas semuanya."Naomi terdiam. Lagilagi hal itu. Benarkah cinta harus memiliki?Mareeq menghela napas. "Sekarang, aku nggak tahu bagaimana akhirnya nanti." Ia menatap laut.Kemudian Mareeq kembali menatap Naomi. "Tapi yang terpenting sekarang bagiku adalah kamu. Jangan terbebani apa pun. Pilih saja yang membuatmu bahagia. Jangan pedulikan orang lain. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang."Mata Naomi mulai berkaca-kaca. Mareeq menyadarinya. Namun kali ini Naomi tidak langsung menangis. Ia hanya duduk merunduk terdiam di hadapannya. Berusaha untuk tidak menangis.Tiba-tiba Mareeq mencium puncak kepala Naomi. Naomi mendongakkan kepala. Air matanya tidak bisa lagi d

  • Bilur Bulir Bertaut   Pantai

    Naomi kembali menonton. Kali ini ia duduk sedikit lebih tegak agar tidak mengantuk. Dia menikmati sisa film yang diputar.Ketika film selesai, lampu studio menyala perlahan. Naomi berdiri sambil meregangkan tubuh."Bagus."Mareeq mengambil tas Naomi yang tadi diletakkan di samping kursi. "Filmnya atau tidurnya?""Tidurnya. Baru kali ini aku tertidur saat menonton film." ujar Naomi dengan tawa ringan.Mareeq tertawa. Mereka berjalan keluar dari studio. Di lorong bioskop, Naomi tiba-tiba berhenti. Ia menatap punggung Mareeq."Mareeq.""Hm?" Mareeq berhenti dan berbalik."Terima kasih."Mareeq mengangguk. "Saama-sama."Naomi kemudian meraih tasnya dari tangan Mareeq. Mareeq menggandeng tangan Naomi keluar dari bioskop. Meskipun ruangan sudah terang, namun kondisi bioskop yang berundak bisa membuat Naomi terjatuh. Naomi tersenyum kecil. Mereka kemudian berjalan menuju tempat parkir.Naomi duduk di kursi penumpa

  • Bilur Bulir Bertaut   Bioskop

    Naomi menatap Mareeq. "Bisakah kamu meninggalkan Freya?""Aku tidak meninggalkannya.""Mengatakan bahwa dia bukan anak kandungmu. Mengatakan bahwa kamu akan memiliki anak lain. Bukankah itu akan menyakiti hatinya?"Mareeq tidak menjawab."Aku tidak memikirkan bagiamana perasaan Raya, tapi aku memikirkan bagaimana perasaan Freya nanti."Naomi mengucapkan kalimat itu perlahan, seolah sedang mencoba mendengar bagaimana bunyinya."Naomi." Mareeq berhenti sebentar.Naomi langsung menatapnya."Jangan khawatirkan apa pun. Pilih saja apa yang menurutmu terbaik." Mareeq berbicara dengan tenang. "Apa pun pilihanmu. Aku akan tetap ambil bagian untuk membesarkan Nunu.""Aku tahu. Kamu akan selalu berusaha bertanggung jawab."Naomi menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca."Pikirkan saja dengan baik-baik. Aku akan menunggu." ujar Mareeq. "Aku akan mengatakan pada Raya apa yang terjadi. Jangan khawatirkan Freya. Aku ti

  • Bilur Bulir Bertaut   Foto Hitam Putih

    Suara itu terus terdengar. Cepat dan teratur. Naomi tanpa sadar menggenggam sisi ranjang. Air mata akhirnya jatuh dari sudut matanya."Suara yang sangat indah, bukan? Sapaan dari si kecil." ujar dokter mencairkan suasana yang membeku."Detak jantungnya sangat bagus, iramanya teratur. Bayinya tumbuh dengan sangat baik di dalam sana."Dokter melanjutkan pemeriksaan sambil menjelaskan kondisi kehamilan Naomi. "Sejauh ini perkembangannya baik. Ukurannya juga sesuai dengan perkiraan usia kehamilan."Naomi mengangguk. Naomi menatap monitor sekali lagi. Kali ini ia tidak merasa sesesak sebelumnya. Masih takut. Masih bingung. Tetapi suara detak jantung itu membuat semuanya terasa sedikit berbeda.Setelah pemeriksaan selesai, dokter mempersilakan kembali ke meja. Naomi duduk kembali dan merapikan bajunya. Mareeq membantu Naomi turun dari ranjang periksa.Dokter memberikan beberapa catatan. Dia mengingatkan Naomi mengenai vitamin, makanan, istirahat,

  • Bilur Bulir Bertaut   Detak

    Naomi tertawa kecil karena bingung. "Di mana adeknya?"Anak itu menunjuk perut Naomi. "Aku mau elus adek bayi."Naomi terdiam. Mareeq yang sejak tadi melihat ponselnya pun perlahan mengangkat wajah. Dia tertarik dengan obrolan di sampingnya.Naomi menatap anak kecil itu. Anak itu pun mengulurkan tangannya, lalu dengan sangat hati-hati menyentuh perut Naomi. Tangannya hanya menempel sebentar."Adek bayinya masih sekecil ini." anak kecil itu menunjukkan dengan jarinya seolah ukuran bayi itu sangat kecil. "Adek bayi di perut mama cewek. Adek bayi di perut kakak itu cowok."Naomi menahan napas. Dia membayangkan bayi yang akan dia miliki itu berjenis kelamin cowok. Tentu saja itu hanya celetukan anak kecil. Tapi, Naomi bahagia mendengarnya."Menurutmu bayinya cowok?" tanya Naomi."Hmm." anak kecil itu mengangguk."Bagaimana kamu tahu?" tanya Naomi penasaran."Pokoknya cowok. Aku tahu." anakkecil itu sangat yakin.Naomi

  • Bilur Bulir Bertaut   Gadis Kecil dan Mainan

    Sabtu siang, Naomi sudah berdandan dan menunggu Mareeq menjemputnya. Leon yang awalnya bersikeras ingin mengantar Naomi pun memilih pergi betemu dengan teman-temannya.Naomi sengaja memakai blouse longgar berwarna lembut dengan celana panjang, rambutnya dibiarkan tergerai sederhana. Di tangannya hanya ada tas kecil berisi dompet, ponsel, dan beberapa dokumen pemeriksaan sebelumnya.Sebuah pesan masuk dari Mareeq. Dia memberi tahu bahwa dia sudah ada di area parkir. Naomi bergegas turun.Begitu melihat kedatangan Naomi, Mareeq menurunkan kaca jendela."Sudah lama menunggu?" tanya Naomi.Mareeq menggeleng. "Baru saja datang.Naomi pun duduk di kursi penumpang bagian depan. Dia sempat menghembuskan napas dengan keras."Aku merasa gugup." ujar Naomi."Kenapa?" tanya Mareeq."Entah. Mungkin karena tidak tahu apa yang akan terjadi."Mareeq hanya tersenyum. "Ingin makan dulu?""Aku rasa aku tidak akan bisa menelan

  • Bilur Bulir Bertaut   Samar

    Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga

  • Bilur Bulir Bertaut   Semakin Dekat

    Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.

  • Bilur Bulir Bertaut   Mendekat

    Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang

  • Bilur Bulir Bertaut   Awal Pertemuan

    Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status