ログインUdara di sky terrace siang itu terasa sejuk, kontras dengan hiruk-pikuk lantai kantor yang baru saja ditinggalkan Naomi. Ia duduk di salah satu kursi kayu panjang, kedua tangannya melingkari kaleng berisi matcha dingin yang baru saja ia beli dari vending machine.
Pandangannya lurus ke arah langit. Namun pikirannya jelas tidak berada di sana. Ia sedang menimbang-nimbang banyak hal. Revisi kontrak kakaknya, tatapan tajam Rahaal, dan peringatan Claudia tentang kedatangan
Mareeq berdiri di sana. Pria itu berdiri bersandar tembok dengan satu tangan masuk ke saku celana. Naomi mengernyit. Sangat terlihat dia sedang menunggunya.“Kamu belum pulang?” tanya Naomi.“Belum.” jawab Mareeq singkat."Kenapa?”Mareeq tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Naomi sejenak. Kemudian tersenyum.“Aku bisa menanyakan hal yang sama.”Naomi mengangkat tasnya sedikit. “Aku sedang menyelesaikan pekerjaan.”“Jam berapa kamu selesai?”Naomi melirik layar ponselnya. “Barusan.”Mareeq mengangguk pelan. Dia berjalan menghampiri Naomi yang masih berdiri di depannya. Wajah gadis itu tampak bingung.“Kamu menungguku?” Pertanyaan itu keluar begitu saja.Mareeq menatapnya. Kemudian, tanpa menjawab, tangan Mareeq tiba-tiba bergerak. Jarinya menggenggam tangan Naomi. Begitu saja.Naomi langsung terdiam. Matany
“Tinggal peluncuran produk,” kata Claudia.Naomi mengangkat wajah. "Itu bagus."Claudia tersenyum kecil. “Aku selalu memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.” Nada suaranya terdengar sedikit berbeda.Naomi menatapnya sebentar. Claudia melanjutkan, seolah memang sedang menunggu kesempatan untuk menjelaskan lebih banyak.“Aku sudah bicara dengan pihak Gigantic pagi tadi.”Naomi mengangguk pelan.“Mereka bahkan mengatakan koordinasinya berjalan jauh lebih lancar setelah beberapa bagian terakhir ditangani dengan lebih fokus.”Naomi menatap Claudia. “Lebih fokus?”Claudia tersenyum tipis. “Maksudku, proyek sebesar ini memang butuh seseorang yang bisa terus mengikuti perkembangannya dari awal sampai akhir.”Naomi tidak langsung menjawab. Ia tahu maksud kalimat itu. Selama proyek Gigantic berjalan, Naomi memang beberapa kali harus keluar dari alur peker
"Tidak ada." jawab Rahaal. "Kamu hanya terlihat seperti biasanya.""Bagaimana progres proyek dengan Gigantic?" tanya Naomi kemudian."Lancar. Semua sudah selesai dan tinggal produksi. Sebentar lagi peluncuran produk.""Bagus." Naomi menanggapi."Kamu ingin kembali ke proyek itu?" tanya Rahaal."Nggak." jawab Naomi tanpa ragu. "Proyek itu bukan mainan yang aku bisa keluar dan masuk. Jika semua berjalan lancar tanpaku itu bagus.""Kamu juga ambil bagian dalam proyek itu. Masih ada tahap peluncuran produk yang perlu perhatian.""Tetap saja." ujar Naomi. "Claudia pasti lebih bisa diandalkan dalam proyek ini."Naomi menggeleng sambil tertawa karena membayangkan sesuatu."Jika aku masih di proyek itu dan kamu membuatku kesal. Aku akan menyalahkan kakkku dan memerasnya."Ia memandang ke arah langit yang jauh, masih tertawa karena mengingat kejadian yang pernah terjadi. Sebenarnya Naomi memang suka membuat kakaknya
“Hai.” sapa Naomi.“Hai.” Suara Maya terdengar pelan.Naomi berdiri beberapa langkah darinya. Suasana di antara mereka langsung terasa canggung. Maya memegang kedua tangannya di depan tubuhnya. Tatapannya beberapa kali terangkat, tetapi segera kembali turun. Naomi tahu kenapa.Gosip tentang Leon dan Maya sudah mulai menyebar. Dan meskipun Naomi tidak pernah secara terbuka membicarakannya kepada siapa pun, Maya pasti tahu bahwa Naomi sudah mengetahui semuanya. Nama Maya pasti juga ikut terseret. Apalagi di sini Maya menjadi orang ketiga.“Aku tidak marah.”Maya mengangkat wajah. Naomi melihat keterkejutan yang jelas di matanya.“Apa?”“Aku tidak marah.” kata Naomi sekali lagi.Maya tampak semakin bingung.“Setidaknya, tidak seperti yang mungkin kau pikirkan.”Maya menggigit bibir bawahnya. "Aku minta maaf."Naomi menghela napas pelan. &l
“Kamu ingat Claudia pernah mengalami kecelakaan?" Mareeq mencoba mengingatkan Naomi.Naomi menoleh sepenuhnya ke arahnya. Naomi hanya mengangguk. Ya, Mareeq pernah mengatakannya dulu.“Sudah cukup lama kejadiannya. Dia mengalami masalah di punggungnya.”“Ya,” gumam Naomi. “Kamu pernah mengatakan itu.”“Menurut Claudia, rasa sakitnya mulai semakin parah.”Naomi memandang ke luar jendela. “Jadi itu sebabnya dia cuti?”“Sepertinya begitu.”“Dia perlu periksa?” tanya Naomi.“Dia tidak menjelaskan banyak. Tapi, dia emmang sering mengeluhkan sakit punggung itu.”Naomi kembali menoleh kepadanya. “Dia selalu memberi tahu kamu?”Mareeq tersenyum tipis. “Ya. Aku bertanya apakah dia baik-baik saja. Dia bilang akan menangani semuanya.”Naomi mengangguk pelan. Itu terdengar seperti Claudia. Naomi
“Kita sudah membicarakan ini.” ujar Naomi.“Aku tahu. Tapi aku tidak bisa begitu saja menyerah.”“Itu risiko atas apa yang kamu lakukan.”Leon tampak terluka. Naomi menyadarinya. Dan untuk sesaat, ada bagian dari dirinya yang merasa tidak nyaman melihat wajah pria yang pernah begitu dekat dengannya itu. Namun rasa tidak nyaman tidak sama dengan keinginan untuk kembali.“Aku masih mencintaimu, Naomi.”Naomi terdiam. Leon sedikit mendekat.“Aku tahu aku menghancurkan semuanya. Aku tahu aku membuat kesalahan yang mungkin tidak bisa kau maafkan sekarang. Tapi beri aku kesempatan.”Naomi menggeleng. “Tidak ada kesempatan.”“Kenapa kamu bahkan tidak mau memberi kesempatan?”Pertanyaan itu membuat Naomi menatapnya lebih tajam. Benar. Kenapa Naomi tidak ingin memberi kesempatan? Mungkin benar kata Kill bahwa kesalahan Leon merupakan hal yang pali
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.
Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang
"Siapa ayah anak itu?"Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya."Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut."Ini anakmu.







