공유

Bab 115

작가: macaroonie
last update 게시일: 2026-07-10 15:14:16

Derit pintu kamar yang menutup menjadi suara terakhir yang Vino dengar. Setelah itu hening menyambutnya.

Namun justru keheningan itulah yang membuat kepala Vino kembali dipenuhi suara-suara yang sejak tadi berusaha ia abaikan.

Pengakuan Maminya terus berputar tanpa henti.

Tentang bagaimana belasan tahun lalu Maminya memaksa pernikahan itu terjadi, dan harapan naif yang terus dipelihara Mami. Berharap suatu hari nanti Papanya akan luluh dan mencintainya. Namun hingga
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Kokom Komariah
lanjut dong ka
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 139

    Mata Vino langsung membulat. Ia sampai melongo beberapa saat. Sulit menyembunyikan keterkejutannya. "Lo udah tahu Mami gue masih punya suami..." ucapnya tak percaya. "Tapi masih lancang ngelamar Mami?" Reynald menggeleng pelan. "Sebenarnya bukan melamar seperti yang kamu bayangkan. Saya tidak berlutut ataupun menyodorkan cincin. Saya hanya iseng bertanya apa dia mau hidup bersama saya." Lantas terdiam sesaat, lalu mengangguk kecil pada dirinya sendiri. "Tapi kalau dipikir-pikir, iya. Saya memang lancang. Saya berharap mereka bercerai, dan berharap setelah itu Clara mau memberi saya kesempatan." Senyumnya terasa pahit. "Mau bagaimana pun juga, saya tidak tega melihat Clara terus bertahan, padahal yang dia terima hanya luka." Tatapan Reynald perlahan jatuh ke permukaan meja, seolah kembali pada kenangan yang jauh. "Bisa-bisanya Seno memilih Dinda," gumamnya lirih. "Padahal Clara me

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 138

    Vino terdiam. Rasa kantuknya lenyap seketika. Sorot matanya yang semula sayu perlahan berubah dingin, menatap pria yang kini justru menundukkan kepala. "Temennya Mami?" Pria itu mengangguk pelan. "Mami emang punya banyak teman. Nggak cuma wanita." Vino menyandarkan punggungnya ke kursi, namun tatapannya tak pernah lepas. "Jadi, anda ini teman yang seperti apa? Sampai rela datang nyari anaknya, padahal kita bahkan belum pernah ketemu." Tak ada jawaban. Pria itu hanya terdiam. Seolah masih mencari kalimat yang tepat. "Atau," Vino menyeringai tipis. "Teman yang terlalu peduli sama Mami. Sampai tahu semua masalah keluarga kami. Terus sekarang datang ke sini buat nyeret gue pulang?" Keheningan kembali menjawab. Dan bagi Vino, diam itu sudah lebih dari cukup. Rahang Vino mengeras. "Tahu nggak? Sebenarnya ada satu kata yang lebih cocok buat ngegambarin anda. Selingkuhan."

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 137

    Bita melotot. Sesaat ia hanya menatap Sasha dengan bibir terkatup rapat. Lalu tawanya meledak."Hahahaha!" Ia sampai terpingkal-pingkal di atas kasur sambil memegangi perutnya.Sasha mengernyit. "Kenapa malah ketawa?""Nggak." Bita berusaha menghentikan tawanya. "Aku cuma heran. Kok bisa kamu kepikiran sampai situ?" Ia kembali tertawa kecil. "Vino suka sama aku? Hahaha...""Kamu nggak liat tadi? Telinganya merah waktu ngobrol sama kamu."Bita langsung menggeleng. "Itu karena dia gerah!""Gerah apanya?" Sasha mendengus. "Baru jam sembilan lewat udah gerah? Aku lebih percaya dia salting."Bita hanya tersenyum geli. "Sha..." Gadis itu menggeleng pelan. "Aku sama Vino udah sahabatan dari kecil. Nggak mungkin dia salting cuma gara-gara ngobrol sama aku.""Nggak sekedar ngobrol, tapi kamu acak rambutnya.""Ya terus?" Bita terkekeh kecil. "Mau aku acak rambutnya, peluk dia, atau bahkan cubitin dia se

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 136

    "Liburan ke Puncak pasti seru banget. Jadi pengen, deh." "Ikut aja, yuk. Orang tuaku pasti seneng kalau kamu ikut," sahut Sasha antusias sambil memasuki pekarangan rumah Bita. "Mana bisa ikut kalau kakiku masih begini." Bita menggerutu sembari turun dari motor Sasha. Sasha buru-buru meringis bersalah. "Sorry, Ta. Lupa kalau lo masih sakit." Namun sesaat kemudian wajahnya kembali berbinar. "Tapi bentar lagi jahitan kamu kan udah kering? Liburannya juga masih seminggu lagi." Bita yang sedang memasang kruknya mendelik. "Iya, sih. Nanti mungkin aku udah boleh jalan. Tapi masalahnya..." Ia mendesah pasrah. "Mau aku udah bisa salto sekalipun, Papaku nggak bakal ngizinin." Sasha ikut mengembuskan napas. "Susah sih kalau udah berurusan sama Papa kamu." "Iya." Bita mengangguk kecil. "Kayaknya liburan semester ini aku bakal di rumah terus. Sampai bosen." "Bita!"

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 135

    "Panas banget ini telinga," gerutu Vino pelan sambil mengusap daun telinganya. Ia lalu menekan dadanya sekilas. "Jantung juga ikut-ikutan dugem." Vino mendorong pintu toilet dan begitu saja langkahnya terhenti. Menemukan di depan wastafel, Fero tengah membilas kedua tangannya. Mendengar pintu terbuka, Fero lekas mendongak. Ada sedikit keterkejutan yang melintas di wajahnya begitu melihat Vino berdiri di ambang pintu. Namun hanya sesaat. Fero kembali menunduk, melanjutkan bilasannya seolah tak terjadi apa-apa. Di ambang pintu, satu sudut bibir Vino perlahan terangkat. Menarik. Dengan langkah santai laki-laki itu berjalan mendekat dan berdiri di wastafel sebelah, membuka keran, lalu membasahi kedua tangannya. Suara air mengalir memenuhi keheningan beberapa detik.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 134

    "Pegel juga dibonceng naik motor lo," keluh Vino begitu turun dari vespa tua milik Martin. Martin yang baru saja mematikan mesin motornya menoleh. Dilihatnya Vino sedang meregangkan badan seolah baru menempuh perjalanan berjam-jam. Sontak ia mendecak. "Salah siapa gue suruh naik motor lo sendiri kagak mau?" Vino mengangkat bahu santai. "Nggak ah. Hemat. BBM lagi naik." "Tau BBM lagi naik, malah seenaknya ngabisin bensin orang!" sembur Martin yang masih kesal mengingat bensin motornya yang baru dua hari lalu diisi penuh ludes tak bersisa. Vino hanya membalas dengan tawa. "Tin!" Seseorang memanggil Martin dari kejauhan, membuat kepala Martin tertoleh. "Dicari Pak Ega!"

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status