مشاركة

Bab 114

مؤلف: macaroonie
last update تاريخ النشر: 2026-07-09 19:18:24

Bita berlari secepat yang kedua kakinya mampu, menembus dinginnya malam menuju taman belakang kota. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak, sementara pikirannya dipenuhi bayangan-bayangan yang saling bertabrakan.

Kepalanya tidak berhenti membayangkan betapa hancurnya Vino saat mengetahui wanita yang selalu ia banggakan ternyata juga menyimpan pengkhianatan.

Mami yang selalu Vino cari setiap pulang ke rumah, yang paling sering ia ajak bercanda, dan yang selalu ia khawatirkan
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 157

    Tidak seperti saat pertama kali menginjakkan kaki di kediaman keluarga Fero saat rasa penasaran dan antusias memenuhi hatinya, kali ini Bita justru turun dari mobil dengan langkah yang terasa berat. Wajahnya tampak lesu. Tak ada lagi semangat yang dulu membuat matanya berbinar mengamati setiap sudut rumah megah itu. Pikirannya masih tertinggal di rumah seberang. Pada seseorang yang baru saja ia tinggalkan setelah melakukan sesuatu yang bahkan hingga kini masih membuat pipinya terasa hangat setiap kali mengingatnya. Namun keinginan untuk segera pulang harus Bita pendam begitu keluarga Fero menyambut kedatangannya dengan penuh kehangatan. Tante Fiona, dengan Fero yang mendorong kursi rodanya, bahkan langsung membukakan pintu sendiri untuk mereka, bukan lagi salah seorang asisten rumah tangga seperti saat kunjungan sebelumnya. Seolah-olah kedatangannya memang sudah ditunggu sejak tadi. Bita tak tega menunjukkan

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 156

    Vino menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang. Kamarnya sunyi. Hanya terdengar denting jarum jam, berpadu dengan embusan napasnya yang semakin berat. Namun di dalam kepalanya, suara Bram terus berputar tanpa henti. "Kalau yang mendekati Bita memang anak baik, pendidikannya jelas, dan keluarganya juga baik, kenapa harus dilarang?" Lagi. Dan lagi. Seolah kalimat itu berubah menjadi badai yang tak berhenti menghantam pikirannya. Vino menunduk. Kedua tangannya mencengkeram sisi kepalanya erat. "...Ah." Ia mengerang pelan. Kenapa suara itu tidak mau berhenti? Dan yang lebih tidak ia mengerti, kenapa ia begitu membenci kalimat itu? Vino memejamkan mata rapat. Ya karena wajar. Ia dan Bita sudah bersahabat sejak kecil. Rasa tidak rela kalau suatu hari Bita memiliki seseorang yang lebih penting darinya, bukankah itu hal yang sangat masuk

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 155

    Bita sedang asyik membaca novel di ayunan sore itu saat tiba-tiba sehelai rumput teki melayang pelan dan jatuh tepat di atas bukunya, membuatnya mengernyit. Dengan wajah bingung ia  menyingkirkan rumput itu, lalu kembali membaca.Belum sempat satu paragraf selesai, satu helai lagi jatuh. Disusul satu lagi. Lalu satu lagi. Hingga beberapa helai rumput teki mulai memenuhi halaman buku yang sedang ia baca.Bita secepatnya mendongak. Di samping ayunan, Vino berdiri santai sambil memegang segenggam rumput teki. Senyum jahilnya mengembang lebar."Vino!" seru Bita kesal. "Aku lagi baca buku. Jangan ganggu!"Vino mengangkat sebelah alis. "Siapa juga yang bilang lo lagi nyangkul sawah?"Bita mendengus sebal sambil menepuk-nepuk bukunya agar rumput-rumput itu jatuh ke tanah."Habisnya lo baca buku khusyuk amat. Sampai nggak nyadar ada gue. Lagi baca novel dewasa lagi ya pasti? Pantes muka lo mupeng begitu."Bita menggeram. Makin l

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 154

    "Aku cari ke mana-mana, ternyata kamu di sini."Setelah hampir putus asa mencari Vino di seluruh ballroom, Bita akhirnya menemukan laki-laki itu duduk di ujung teras semi outdoor di belakang ballroom.Vino mengangkat kepalanya. Raut wajahnya seketika berubah terkejut. "Bita? Ngapain lo di sini?"Bita ikut menjatuhkan diri di samping Vino lalu menoleh ke arahnya. "Harusnya aku yang tanya. Kenapa kamu di sini?"Vino terdiam beberapa saat. Pandangannya kembali lurus menatap taman hotel yang diterangi lampu-lampu temaram. "Ngadem."Bita terkekeh. "Malam-malam begini kamu gerah? Aku aja malah ngerasa dingin."Vino menoleh cepat. Sorot matanya berubah khawatir. "Lo kedinginan?"Tanpa berkata apa-apa lagi, laki-laki itu segera membuka hoodie yang dikenakannya hingga hanya menyisakan kaos singlet putih di tubuhnya.Bita mengerjap saat Vino menyodorkan hoodie itu kepadanya."Pakai ini," ujar Vino. "Biar nggak ke

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 153

    Di saat yang sama, suara MC menggema memenuhi ballroom."Selamat malam Bapak, Ibu, serta para tamu undangan yang kami hormati. Kami persilakan untuk segera menempati tempat duduk masing-masing karena acara akan segera dimulai."Reynald melirik ke arah panggung, lalu kembali menatap Vino dan Bita. "Ayo." Ia menganggukkan kepala ke arah salah satu meja. "Acara mau mulai."Bita ikut melangkah di samping Vino. Begitu tiba di meja Reynald, ia langsung menarik kursi di sebelah Vino dan duduk begitu saja. "Kamu kok bisa masuk?" bisiknya sambil mendekatkan wajah ke telinga Vino."Diajak Om Reynald." Vino ikut merendahkan suaranya. "Dia diundang. Lagian, hotel ini memang punya Om Reynald."Mata Bita langsung membulat. "Serius?"Vino mengangguk santai. "Gue juga baru tahu."Melihat ekspresi takjub Bita yang tak kunjung hilang, Vino tak kuasa menahan tawanya. "Padahal tadi gue sempat nolak. Ya kali ke pesta orang tajir begini pakai

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 152

    Sorak-sorai dan godaan dari seisi meja langsung pecah memenuhi ballroom. Sementara Bita hanya mampu menatap Fero dengan diam. Sejenak ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.Namun tanpa sengaja, pandangannya menangkap sosok yang begitu mencolok di dekat salah satu pilar ballroom.Seorang laki-laki mengenakan hoodie hitam dan ripped jeans tampak berdiri sendirian di tengah para tamu yang tampil rapi dengan jas dan gaun pesta.Dia sibuk mengamati sekeliling, jelas terlihat seperti seseorang yang salah kostum. Mata Bita langsung membulat. Tanpa sadar ia melambaikan tangan tinggi-tinggi. "Vino!"Suara nyaringnya sontak membuat beberapa kepala di meja itu menoleh. Bita segera menutup mulutnya sendiri, dan menunduk dengan pipi merah menahan malu sambil berkali-kali mengucap maaf.Bita kembali melirik ke arah Vino. Sayangnya, laki-laki itu masih belum menyadari keberadaannya. Mungkin riuh percakapan dan musik di ballroom membuat suaranya tengg

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status