Share

Bab 123

Author: macaroonie
last update publish date: 2026-07-13 19:18:02

"Mau lo pantengin sampai lima tahun kemudian, itu kangkung nggak bakal berubah jadi duit."

Martin tak lagi mampu menahan komentarnya. Hampir setengah jam berlalu semenjak ia kembali, tetapi Vino masih duduk bersila di atas tikar dengan pandangan yang tak pernah lepas dari tumis kangkung di hadapannya.

Melihat tidak adanya respon, Martin mendecak dan bangkit dari kasurnya. "Sini gue makan aja daripada lo anggurin."

Belum sempat jemarinya menyentuh, Vino lebih dulu me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 125

    Mata Vino sontak membulat. "Lo nolak ajakan itu bocah?" Bita mengangguk pelan. "Aku bilang, aku nggak bisa main ke rumahnya lagi." Seketika ingatan Bita kembali melayang ke rumah sakit beberapa jam yang lalu. "Aku nggak bisa main ke rumah kamu lagi." Kalimat itu membuat Fero yang semula tersenyum langsung terdiam. Bita masih ingat bagaimana laki-laki itu buru-buru mengulas senyum kecil sambil berkata tidak apa-apa, meski sorot matanya tak mampu menyembunyikan kekecewaan. Bita bahkan sempat menjelaskan kalau Papanya memang tidak mengizinkannya terlalu dekat dengan laki-laki lain. Fero mengangguk mengerti. Namun raut wajahnya, terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan harapan. Sampai-sampai Bita tak sanggup terus menatapnya dan memilih mengalihkan pandangan. Berat. Tapi Bita tahu ia memang harus melakukannya. Sebab, ia tak ing

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 124

    Bita masih tak mampu bergerak ketika Vino perlahan meregangkan pelukannya. Laki-laki itu melangkah satu langkah ke depan, lalu merendahkan tubuhnya hingga pandangan mereka sejajar. "Kita ngobrol di dalam kamar, ya?" Bibir Bita mengatup dengan netra yang tak berkedip menatap sepasang manik jelaga Vino. Entah sejak kapan, sorot dingin yang tadi berkali-kali menusuk dadanya telah menghilang. Berganti dengan tatapan lembut yang begitu dikenalnya. Tatapan yang selama ini selalu membuatnya merasa aman, seolah tak ada apa pun di dunia ini yang perlu Bita takutkan selama Vino masih berada di sisinya. Vino yang ia kenal akhirnya kembali. Pertahanan yang sejak tadi mati-matian Bita bangun runtuh begitu saja. Isak yang sedari tadi ditahannya akhirnya pecah. "Ta..." Vino sontak kembali menarik Bita ke dalam pelukannya. "Maaf... Maaf, Ta." Tangannya tak henti mengusap pelan ke

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 123

    "Mau lo pantengin sampai lima tahun kemudian, itu kangkung nggak bakal berubah jadi duit."Martin tak lagi mampu menahan komentarnya. Hampir setengah jam berlalu semenjak ia kembali, tetapi Vino masih duduk bersila di atas tikar dengan pandangan yang tak pernah lepas dari tumis kangkung di hadapannya.Melihat tidak adanya respon, Martin mendecak dan bangkit dari kasurnya. "Sini gue makan aja daripada lo anggurin."Belum sempat jemarinya menyentuh, Vino lebih dulu menepis kasar punggung tangannya. "Kalau tangan lo nyentuh ini, gue nggak segan patahin," ucap Vino datar tanpa mengalihkan perhatiannya.Martin segera menarik tangannya dan berakhir mendecak pelan. "Segitunya amat sama kangkung."Vino tetap bergeming.Melihat tak ada tanda-tanda laki-laki itu akan beranjak dalam waktu dekat, Martin akhirnya mengembuskan napas pasrah. Ia menyandarkan tubuh ke dinding lalu kembali sibuk dengan game di ponselnya.Sementara itu, pa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 122

    Tok! Tok! Tok!"Tinggal buka aja. Nggak gue kunci, Tin."Tok! Tok! Tok!Vino mendesah kasar.Martin memang sempat keluar membeli tempe penyet di warung depan kos untuk makan mereka. Sementara itu, Vino memilih menunggu di kamar.Namun bukannya langsung masuk, laki-laki itu malah sibuk mengetuk pintu yang jelas-jelas ia tahu tidak pernah dikunci.Tok! Tok! Tok!Kesabaran Vino akhirnya habis.Ia melempar ponselnya ke atas kasur, lalu melangkah lebar menuju pintu. Begitu kenop diputar, pintu itu langsung dibukanya dengan kasar."Udah gue bilang nggak dikun—"Suara Vino mendadak terhenti. Tubuhnya membeku di tempat. Semua omelan yang tadi sudah memenuhi ujung lidahnya lenyap begitu saja.Sebab, sosok yang berdiri di depan pintu bukanlah Martin. Melainkan Tante Anggun. Perempuan itu menatapnya dengan senyum tipis, sementara kedua matanya telah dipenuhi air mata. "Vino?"Vino m

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 121

    Fero ternyata tidak membawanya ke klinik, melainkan ke rumah sakit milik kampus yang menjulang tinggi di samping gerbang utama.Begitu memasuki ruang ganti perban, Bita sempat tertegun.Ruangan itu jauh lebih nyaman dari yang ia bayangkan. Dindingnya didominasi warna putih gading dengan pencahayaan hangat. Sebuah sofa kecil diletakkan di sudut ruangan, sementara pot tanaman hijau dan lukisan-lukisan sederhana membuat suasananya terasa tenang, nyaris tak menyerupai ruang tindakan.Selama perawat mengganti perbannya, pandangan Bita tak henti-hentinya menyapu setiap sudut ruangan.Namun kini, tatapannya justru bertahan lama pada layar ponsel di tangannya. Tepatnya pada rentetan pesan panjang dari Martin yang dikirim beberapa menit lalu. Bahkan setelah perawatnya selesai mengganti perban dan pergi meninggalkannya sendirian, Bita tak jua mengangkat pandangannya.'Habis kelas pagi tadi vino ngomong pengen ketemu sama lo. Dia beneran n

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 120

    Martin sudah mengabarinya bahwa hari ini Vino datang ke kampus. Maka dari itu, begitu remedial selesai, Bita segera membereskan alat tulisnya lalu bergegas keluar kelas, meninggalkan Sasha yang masih sibuk mengerjakan soal. Tujuannya hanya satu. Menuju lantai atas, tempat ruang kelas Vino berada. "Kak Bita." Mendengar seseorang memanggilnya, langkah Bita terhenti di tengah lorong. Ketika menoleh ke belakang, Bita melihat Fero menghampirinya dengan langkah setengah berlari. "Kak Bita ke kampus lagi?" tanya Fero sesampainya di hadapan Bita. Tatapannya langsung jatuh ke kaki Bita yang masih dibalut perban. "Bukannya istirahat aja di rumah?" Bita mengulas senyum tipis. "Tadi ada remedial. Jadi harus masuk." Fero mengangguk pelan. Matanya masih sempat memperhatikan kaki Bita beberapa saat sebelum akhirnya kembali menatap wajah gadis itu. "Oh..." Bita memiringkan kepala

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status