Se connecterPerkataan Aksa membuat Bita tersadar.
Bita terlalu sibuk menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Takut kalau pengakuannya akan mengubah semuanya. Takut kalau setelah mengatakan perasaannya, Vino justru menjauh dan persahabatan mereka berakhir begitu saja. Tapi, bagaimana kalau selama ini ia hanya terlalu takut untuk melihat kemungkinan yang lain? Bagaimana kalau keberanian untuk melangkah justru membawa mereka pada sesuatu yang selama ini diam-diam paling iaPerkataan Aksa membuat Bita tersadar. Bita terlalu sibuk menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Takut kalau pengakuannya akan mengubah semuanya. Takut kalau setelah mengatakan perasaannya, Vino justru menjauh dan persahabatan mereka berakhir begitu saja. Tapi, bagaimana kalau selama ini ia hanya terlalu takut untuk melihat kemungkinan yang lain? Bagaimana kalau keberanian untuk melangkah justru membawa mereka pada sesuatu yang selama ini diam-diam paling ia inginkan? Sesuatu yang lebih dari sekadar sahabat. Bita menelan ludah pelan. Selama ini Bita hanya berani menyimpan perasaannya. Menunggu. Menebak-nebak. Meyakinkan diri bahwa Vino tak mungkin memiliki rasa yang sama. Namun sampai kapan ia akan terus seperti itu? Kalau memang ada kemungkinan kecil sekalipun bahwa mereka bisa menjadi sesuatu yang lebih, Bita ingin tahu. Dan untuk mengetahuinya, seseorang me
Aksa tanpa sengaja menoleh ke samping dan baru menyadari kedatangan Vino. "Vin? Udah pulang?"Bita ikut menoleh."Udah," jawab Vino singkat. Tatapannya beralih kepada Bita. Gadis itu justru langsung menundukkan pandangan, seolah tiba-tiba menemukan sesuatu yang sangat menarik di lantai.Aksa memandang keduanya bergantian sebelum sudut bibirnya terangkat tipis. "Ta."Bita mendongak dan mendapati Aksa menatapnya dengan sorot mata yang sedikit usil."Nggak pengen ngomong sesuatu sama Vino?"Mata Bita langsung membulat. "A-aku nggak ada yang mau diomongin sama Vino.""Masa nggak ada?" Aksa sengaja memperpanjang godaannya. "Itu, lho. Yang tadi kita omongin." Ia mendeham kecil. "Soal... ehm."Wajah Bita seketika memerah. Baru sekarang ia tahu ke mana arah pembicaraan Aksa. "Apaan, sih, Mas?Nggak ada apa-apa juga!" Ia buru-buru membuang muka. Aksa menyipitkan matanya. "Benar nggak ada?" Kemudian menoleh kepad
Sebenarnya, Vino sudah mengetahui sejak bertahun-tahun lalu bahwa Bita menyimpan perasaan pada kakaknya. Pertama kali Vino menyadarinya adalah setelah kejadian ketika Aksa menggendong gadis itu. Waktu itu, setelah Vino tidak sengaja menjatuhkan Bita dari sepeda, gadis itu sempat mendiamkannya. Namun jangan panggil dia Vino kalau tidak bisa membujuk Bita kembali. Semangkuk es krim warna-warni sudah cukup untuk membuat gadis itu luluh dan mau bermain dengannya lagi. Mereka kembali bermain seolah hanya ada mereka berdua. Seolah tidak ada orang lain di dunia kecil mereka. Setidaknya, begitulah yang Vino rasakan. Sampai ia mulai melihat perubahan pada Bita. Setelah lutut gadis itu mengering dan Vino mengajaknya bermain bola di halaman, ia menyadari sendiri bagaimana mata Bita berkali-kali jatuh ke teras. Kepada Aksa yang sedang asyik membaca buku di kursinya. Vino
Vino turun dari motor. Setelah melepas helmnya, ia segera melangkah masuk ke dalam rumah. Baru beberapa langkah, samar-samar suara tawa dan obrolan dari arah dapur mulai terdengar. Suara yang begitu familiar hingga tanpa sadar langkahnya semakin cepat. Sampai akhirnya ia berhenti di depan dapur. Di meja makan, Bita tengah mengobrol bersama Aksa dengan wajah yang begitu ceria. Tawa gadis itu kembali terdengar, membuat Vino berdiri mematung di tempatnya. "Ya nggak apa-apa bawa jaket bulu-bulu tebal. Terus sekop sekalian." Bita tampak serius membayangkan persiapannya. "Siapa tahu saljunya tiba-tiba turun. Lebih baik sedia sekop sebelum salju." Aksa terkekeh mendengar celotehannya. "Musim semi nggak akan ada salju, Ta. Kalau mau lihat salju, pas winter aja." "Loh, Mas juga mau bawa aku ke London pas winter juga?" Bita langsung menyambar. "Asiiik!" Tawa Aksa peca
Suara Aksa pun terdengar semakin pelan ketika melanjutkan ceritanya.Meski sudah ditolak, Aksa masih berusaha mendekati Meta. Berusaha mengambil hatinya, berharap suatu hari perempuan itu akan melihatnya lebih dari sekadar teman.Namun kemudian Meta pindah ke luar negeri dan menetap di sana. Mereka tetap berkomunikasi. Setidaknya, Aksa yang terus berusaha menjaga komunikasi itu.Sayangnya, topik pembicaraan mereka tak pernah jauh dari kehidupan percintaan Meta.Tentang seseorang yang disukainya di sana. Lalu tentang pacarnya. Kemudian tentang bagaimana hubungan itu berakhir dan berubah menjadi kisah mantan. Setelah itu, muncul lagi nama baru. Lalu patah hati lagi. Begitu seterusnya.Seolah tanpa mengatakannya secara langsung, Meta sedang berusaha membuat Aksa mengerti bahwa ia seharusnya berhenti berharap.Namun Aksa tetap bertahan. Tetap menjadi tempat Meta bercerita. Tetap hadir ketika perempuan itu membutuhkan seseorang. Dan d
Bita sebenarnya sudah berencana menghibur Aksa dan bahkan sempat memikirkan caranya. Namun, rencana itu hanya bertahan sekitar lima menit sebelum pikirannya kembali dipenuhi Vino. Dan baru teringat lagi ketika turun dari mobil Sasha yang mengantarnya pulang dan mendapati Aksa sedang menyirami tanaman serta bunga-bunga milik Mami yang tumbuh subur di pekarangan.Pemandangan yang cukup jarang. Biasanya, Aksa lebih memilih duduk tenang di teras dengan buku dan secangkir teh di tangannya."Lagi apa, Mas?" tanya Bita setelah memutuskan menghampirinya.Aksa tampak sedikit terkesiap sebelum menoleh. "Ini lagi nyiram bunga. Mami lagi sakit perut di dalam. Makanya Mas inisiatif nyiram bunganya."Bita mengangguk-angguk. Matanya tetap tertuju pada Aksa, mengamati wajah laki-laki itu yang kembali datar seperti biasa.Sekilas, pria itu memang terlihat baik-baik saja. Namun jika diperhatikan lebih saksama, sorot mata Aksa tampak kosong, seola
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung







